My Dearest Wife

My Dearest Wife
Merasa tidak tenang


__ADS_3

Langit seketika tampak menggelap, menandakan bahwa malam sudah menyapa. Anindya dan Adrian baru tiba pukul tujuh malam di rumah.


Romi langsung menghampiri mereka. Entah apa yang membuat asisten kepercayaan suaminya tersebut ada di sini saat ini. Bukankah ini akhir pekan.


"Apa dia sudah datang?" tanya Adrian pada pria itu.


"Sudah tuan! Tuan Rian sudah menunggu anda di ruang kerja." jawabnya.


Anindya tampak membeku begitu mendengar nama tersebut.


"Baiklah! Kau sudah mengurus kontrak perjanjiannya?" ucap Adrian.


"Saya sudah mengurusnya, tuan! Dia sedang mempelajarinya saat ini. " jawabnya


"Baiklah! Terima kasih. Kau boleh pergi. Maaf karena sudah mengganggu akhir pekanmu."


"Tidak masalah, tuan! Itu sudah menjadi tugas saya."


Romi lalu berpamitan pulang.


"Kenapa paman bisa tiba-tiba datang?" tanya Anindya cemas.


"Ia hanya memerlukan sedikit bantuan dariku."jawabnya sambil tersenyum.


" Bantuan apa?" tanyanya penasaran.


"Hanya urusan bisnis. Sudah tidak perlu cemaskan hal itu. Ayo!" ajaknya.


***


"Adrian!" serunya sebelum ia dan Adrian keluar dari kamar mereka setelah selesai mandi.


"Kenapa sayang?" tanya Adrian kembali sambil membelai pipinya. Terlihat jelas kecemasan yang masih menghiasi wajah cantiknya.


"Sebenarnya kau ada urusan apa?"


"Hanya urusan bisnis. Apa kau tidak percaya padaku? Aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk pada ayah mertuaku. Aku tidak ingin menjadi menantu yang durhaka." candanya berusaha untuk meyakinkan istri kecilnya itu.


Adrian tersenyum lalu mengecup bibirnya. "Sudah! Tidak usah cemas. Lagipula kenapa kau harus merasa cemas setiap kali bertemu dengannya."


"Aku bukan mencemaskannya! Aku mencemaskan mu. Aku hanya takut ia melakukan sesuatu yang buruk padamu." ia memeluk pria itu.


"Tenang saja! Itu tidak akan pernah terjadi. Aku bisa menjaga diriku sendiri." ia membalas pelukannya dan mencium puncak kepalanya.


Lalu mereka berdua keluar dari kamar.


"Turunlah lebih dulu. Nanti aku akan menyusul." ucapnya kepada Anindya.


"Baiklah!"


Setelah memastikan Anindya sudah menjauh darinya, ia pun segera masuk ke dalam ruang kerjanya.

__ADS_1


Ekspresi wajahnya seketika menggelap.



"Maaf paman! Sudah membuatmu menunggu lama. Istriku tidak bisa jauh dariku. Ia selalu bersikap manja ketika aku hendak pergi." jelas Adrian ketika melihat pamannya. Sepertinya ia sengaja mengatakan hal itu padanya.


Adrian tahu pasti bahwa saat ini pria paruh baya itu pasti sudah sangat kesal karena menunggunya. Apalagi setelah melihat kontrak perjanjian yang saat ini sedang dibacanya.


Beberapa hari yang lalu kakeknya tiba-tiba saja meminta dirinya untuk membantu Rian. Pria itu membutuhkan beberapa miliar untuk kelancaran bisnisnya. Daripada menjual segala aset yang dimilikinya, ia lebih memilih untuk merendahkan diri meminjam uang tersebut pada Adrian. Mungkin dia berpikir, Adrian akan bermurah hati memberikan jangka waktu yang tak terbatas untuk pelunasannya. Atau mungkin jika ia beruntung, Adrian akan memberikannya secara cuma-cuma. Kehilangan tiga miliar mungkin tidak akan berpengaruh apapun padanya.


"Tidak masalah! Aku bisa mengertikan hal itu." sahutnya sambil tersenyum masam.


Adrian lalu duduk di atas sofa dengan menyilangkan kakinya.


"Lalu bagaimana? Apa paman keberatan dengan perjanjian yang ku ajukan?"


"Apa batas pengembaliannya tidak bisa diperpanjang lagi. Dua bulan rasanya terlalu singkat. Pinjaman yang ku ajukan tidaklah sedikit." jawabnya ragu.


"Itu cukup paman. Biasanya aku hanya memberikan satu minggu saja kepada si peminjam. Tapi mengingat kita adalah keluarga, maka aku berbaik hati untuk memberikan sedikit keringanan pada paman."


Keringanan apanya? Bagaimana bisa aku mengembalikan tiga miliar dalam waktu tiga bulan? Keuntungan yang ku hasilkan dalam sebulan saja paling besar hanya lima ratus juta. Tidak mungkin aku menjual asetku untuk menutupi pinjaman. Aku meminjam uang juga karena ingin menghindari hal tersebut. Aset yang sudah susah payah kudapat tidak mungkin ku jual begitu saja. Ah! Sudahlah! Aku bisa menyetujuinya dulu. Nanti aku bisa menyuruh Rossa agar membujuknya. Pria ini sangat menyayangi bibi bodohnya itu bukan?"


"Bagaimana, paman? Apa kau masih perlu waktu untuk berpikir? Kebetulan aku sangat lapar saat ini. Kau bisa memikirkannya salama kita makan malam."


Pria paruh baya itu benar-benar terlihat frustasi. Keningnya tampak mengkerut.


"Baiklah! Aku setuju!" ucapnya.


"Oke! Tapi paman tahukan apa konsekuensi nya jika tidak bisa melunasi pinjaman itu tepat waktu?" tanyanya memastikan.


Sial! Aku melupakannya? Tapi sudahlah! Aku bisa menggunakan Rossa nanti. Itu satu-satunya mata pencaharian ku. Dia tak mungkin tega mengambilnya." Batinnya yakin.


"Iya! Aku tahu." ucapnya berpura-pura yakin.


"Baiklah! Paman bisa menandatangani perjanjian itu."


Rian menandatanganinya. Adrian tampak menyeringai.


Sepertinya ini akan menyenangkan.


****************


Anindya tersentak hingga membuatnya terbangun dari tidurnya. Ia sepertinya selalu merasa gelisah sejak kedatangan ayahnya di rumah ini.


Ia memindahkan tangan Adrian dari pinggangnya dengan perlahan agar suaminya itu tidak terbangun. Ia ingin sekali minum karena kehausan. Namun ia sepertinya kehabisan air minum.


Ia terpaksa harus pergi ke dapun untuk mengambil minum. Karena ia sangat kehausan saat ini. Ia lalu turun dari ranjang. Saat hendak membuka pintu kamar, Adrian memanggilnya.


"Kau mau kemana?" tanyanya dengan mata yang terbuka setengah.


"Aku haus. Aku hanya ingin mengambil air minum di dapur." jawabnya.

__ADS_1


Pria itu selalu tahu jika istrinya tidak ada di sampingnya.


"Ehm.. setelah minum segera kembali!" perintahnya lalu kembali memejamkan mata.


"Iya!" sahutnya sambil tersenyum.


Lalu membuka pintu dan keluar dari kamar. Namun suasana ruangan yang terlihat gelap membuatnya sedikit takut. Biasanya lampu di sekitar tangga tidak pernah dipadamkan karena mengingat jika sewaktu-waktu seseorang perlu menggunakan tangga tersebut di malam hari. Tetapi entah kenapa malam ini semua lampu dipadamkan.


"Apakah pelayan lupa untuk membiarkan lampu tetap menyala." Anindya melangkah dengan hati-hati agar tidak terpeleset. Pencahayaan yang kurang membuatnya susah untuk melihat anak tangga yang di pijaknya. Kini ia hanya bisa mengandalkan pantulan cahaya dari luar yang terpantul melalui kaca jendela rumah.


Namun ketika tiba dilantai dua, ia tiba-tiba merasa tidak tenang . Jantungnya tiba-tiba saja berdebar dengan kencang.


"Ada apa ini?" tanyanya sambil meletakkan tangan di dada kirinya.


Ia merasa sangat cemas. Pada detik berikutnya, entah apa yang terjadi, ia merasa di dorong dengan kuat oleh seseorang. Hingga membuat dirinya jatuh terguling ke ujung tangga.


Seketika pandangannya kabur. Kepalanya berdenyut hebat. Samar-samar ia melihat selintas bayangan seseorang di atas sana sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.


****************


*


*


*


*


*


*


*


Hai! Terima kasih untuk semua komentar, like, vote dan gift yang kalian berikan, ya. Tetap semangat jalani hari-hari kalian dan tetap jaga kesehatan dimanapun berada.


Boleh juga kasih masukan dan saran untuk novelku ini.


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.

__ADS_1


Terima kasih banyak-banyak semuanya. 😘💕



__ADS_2