
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Anindya keluar dari kamar mandi. Ia memakai lingerie yang dibawakan Sofia untuknya. Hanya itu pakaian tidur yang tersisa didalam koper. Selebihnya hanya ada satu set pakaian yang akan dipakainya besok saat pulang kerumah.
Untungnya Adrian sudah terlelap dalam tidurnya hingga tak menyadari kehadiran Anindya di kamar itu. Besok ia bisa bangun lebih awal agar pria itu tidak melihatnya dalam balutan lingerie yang minim kain itu.
Anindya mendekat ke ranjang. Ia tampak berpikir sambil memperhatikan Adrian yang sudah tertidur pulas dengan nyaman di ranjang besar itu. Dimana aku harus tidur malam ini? Anindya lalu melihat sofa dan berpikir untuk tidur disana. Ia lalu mengambil bantal dan selimut untuk di pakainya. Ia merebahkan tubuhnya diatas sofa itu dan menutupi tubuhnya dengan selimut hingga menutupi lehernya agar tidak kedinginan.
Untungnya dia bisa dengan mudah tidur dimanapun. Sofa ini masih lebih baik dari kasur tipis yang sering digunakannya dulu saat tidur sewaktu ia masih tinggal di rumahnya.
Malam semakin larut. Anindya segera memejamkan matanya karena rasa kantuk yang tidak bisa ditahannya lagi. Esok masih sangat panjang. Setelah malam ini, ia akan menghadapi hari-hari yang sulit. Ia butuh energi yang besar untuk menghadapinya.
...****************...
Matahari tampaknya masih malu-malu menampakkan dirinya. Suasana diluar masih lumayan gelap. Waktu masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Masih terlalu dini untuk memulai aktivitas apapun.
Adrian terbangun dari tidur pulasnya. Ia tampak berusaha untuk duduk karena kepalanya yang terasa berat. Ia mencoba menstabilkan diri dan penglihatannya yang masih samar-samar. Sesekali ia memijat pangkal hidungnya untuk mengurangi sakit kepala yang dialaminya.
Ia mencoba untuk mengingat hal yang terjadi kemarin malam. Dia sedang minum di bar bersama Samuel. Itu adalah pertama kalinya ia menyentuh minuman beralkohol. Entah apa yang membuatnya terpaksa meminum minuman itu. Bahkan sebelumnya, saat putus dengan Natasha, ia juga tak pernah menyentuh minuman itu. Tapi entah kenapa ia ingin sekali mencobanya dan ia malah ketagihan saat meminumnya.
Ia memperhatikan keadaan sekitarnya. Ia tentu tahu jika saat ini ia tidak sedang berada dikamarnya. Ini pastilah kamar hotel. Ia menduga jika Samuel yang membawanya kesini karena ia tak ingin keluarganya melihat kondisinya yang mabuk ketika pulang ke rumah.
Apalagi jika kakeknya yang melihatnya, pasti akan terjadi bencana besar dirumah. Setelah sepenuhnya sadar, tercium bau aneh dari tubuhnya. Baunya terasa sangat pekat. Sepertinya ada sesuatu yang dilupakannya. Ia menciumnya.
Bau muntahan. Apa aku muntah kemarin malam? Tapi hanya ada baunya saja. Bekasnya tidak ada. Apa aku memuntahi seseorang? Apa itu Samuel? Ia mencoba untuk mengingat apa saja yang sudah terjadi kemarin malam. Mungkin saja ia sudah melakukan sesuatu yang memalukan.
Akhirnya setelah berusaha keras, ia mengingat sesuatu. Wanita itu. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ia menemukan orang yang dicarinya tengah tertidur di atas sofa dengan nyaman.
"Aku memuntahinya. Sepertinya ini akan menjadi yang pertama dan terakhir kalinya aku menyentuh minuman itu." gerutunya.
Ia pun beranjak dari tidurnya untuk membersihkan diri karena sudah tidak tahan dengan bau yang menyengat itu. Ia berjalan melewati Anindya yang masih tampak pulas.
Setelah selesai membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi yang tersedia di sana. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Ia kembali melihat kearah Anindya. Wanita itu masih tidur. Namun tiba-tiba Anindya terlihat memiringkan tubuhnya, dengan cepat Adrian menahan tubuh wanita itu agar dia tidak terjatuh ke lantai.
Apa yang kulakukan sekarang?
Ia lalu membalikkan kembali tubuh Anindya hingga tetap berada di atas sofa. Tetapi pemandangan yang didapatinya setelah itu membuatnya sedikit tergoda hingga tanpa sadar ia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
Karena kejadian tadi, selimut yang menutupi tubuh Anindya jadi tersingkap hingga akhirnya memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak boleh dilihat olehnya.
__ADS_1
Apa yang mereka pikirkan dengan memberikannya pakaian seperti ini? Adrian segera menutupi kembali tubuh Anindya dengan selimut. Ia takut akan melakukan sesuatu yang memalukan jika terus menerus melihatnya.
...****************...
Anindya akhirnya terbangun dari tidur pulasnya saat dirasa hari mulai terang. Ia terduduk di atas sofa dan menurunkan kakinya ke lantai.
"Sepertinya ini sudah pagi. Pukul berapa sekarang?" gumamnya sembari menguap dan menggaruk kepalanya.
Ia duduk sebentar sambil mengumpulkan nyawanya yang baru kembali. Ia langsung teringat pada Adrian. Ia melihat kearah ranjang. Namun, ia tidak menemukan siapapun disana.
Apa pria itu sudah pulang? batinnya.
Tak lama seseorang datang dari arah balkon masuk kedalam kamar. Orang itu tak lain adalah Adrian. Anindya tanpa sadar terus menatapnya. Ia sepertinya terpesona dengan penampilan pria itu yang terlihat tampan walaupun hanya menggunakan jubah mandi. Dengan rambut yang masih berantakan.
"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Adrian yang seketika membuyarkan rasa terpesonanya.
"Aku! Aku tidak melihat apapun. Memangnya apa yang bisa kulihat?" tanyanya balik.
"Pergi mandi! Kakek sedang menunggu kita di bawah untuk sarapan." perintahnya.
"Iya!" sahutnya sambil bergegas ke kamar mandi.
Namun tidak bagi Adrian. Ia seketika merasa panas saat melihat wanita itu berkeliaran dengan pakaian minim seperti itu. Ia dengan cepat memalingkan wajahnya untuk mengalihkan perhatiannya.
Wanita itu masih terlalu kecil untuknya.
...****************...
Seluruh keluarga tampak berkumpul di meja makan begitu juga dengan pengantin baru. Mereka sedang menyantap hidangan yang telah disediakan oleh pihak hotel.
Zein tampak memperhatikan Adrian yang baru saja kembali. Ia ingin sekali marah kepadanya, namun ia masih berusaha untuk menahannya mengingat jika keluarganya sedang berkumpul saat ini.
Ia akan memarahinya nanti. Tapi mengapa ia turun bersama Anindya? Apakah mereka berada di satu kamar kemarin malam?
Adrian seketika menghentikan kegiatannya karena merasa diperhatikan kakaknya sedari tadi.
"Ada apa kakek? Apa ada yang mau kakek tanyakan?" tanyanya dengan wajah datar.
"Kau tahu apa kesalahanmu, kan?" tanya Zein pada cucunya itu.
__ADS_1
"Tidak!" jawabnya dengan santai. Merasa tidak punya kesalahan sedikitpun.
Zein menatapnya tajam. Cucunya yang satu ini memang tergolong langka. Ia selalu merasa benar sekalipun ia telah melakukan kesalahan yang fatal. Ia bahkan tak menyadari jika ia telah membuat Anindya merasa dirinya tak dihargai oleh suaminya sendiri.
Namun saat melihat Anindya ia jadi merasa sedikit lega karena seperti wanita itu sudah jauh lebih baik saat ini. Wanita yang malang. Sebenarnya ia juga merasa bersalah terhadap wanita muda itu karena terlalu memaksakan kehendaknya padanya. Namun hanya itu satu-satunya jalan agar janjinya pada Kirana, sahabatnya bisa ia penuhi.
"Oh ya Adrian! Bibi minta maaf karena pamanmu tidak bisa menghadiri pernikahanmu. Bisnisnya sedang berkembang akhir-akhir ini. Jadi ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Bibi harap kau bisa mengertikannya." ucap Emma, bibinya Adrian padanya.
Emma itu adalah adik kandung ibunya Adrian. Mereka selama ini tinggal di Jerman dan membuka sebuah bisnis furniture disana. Mereka hanya punya seorang anak yaitu Clarissa. Gadis itu masih duduk di Sekolah Menengah Atas.
"Ternyata dia belum berubah. Masih mementingkan bisnisnya daripada keluarga." Sindir Adrian.
"Adrian!" tegur Zein.
"Kenapa? Yang aku katakan memang benar, kan!" Adrian tak mau kalah.
"Adrian! Jaga ucapanmu." tegur Zein lagi. Kali ini pria baya itu tampak meninggikan suaranya.
Adrian tampak tak perduli dengan keadaan. Ia juga tak memperdulikan perasaan bibinya. Sepertinya ia tak menyukai pamannya!" batin Anindya.
...****************...
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1