
Semua orang terlihat sudah masuk dan duduk di ruang makan. Kecuali Adrian. Ia sepertinya tidak ada di sana. Santap malam juga sudah tersaji di atas meja. Anindya, Sofia dan juga Rossa memasak berbagai menu untuk malam ini.
Anindya sempat mengobrol banyak dengan Rossa perihal keluarganya. Bagaimana ayahnya dan juga kehidupannya selama ini. Walaupun ia sangat kecewa karena pada kenyataannya keluarga itu sangat bahagia.
"Dimana Adrian? Apa di masih bekerja di ruangannya?" tanya Zein pada Anindya.
"Tidak kakek. Anin rasa dia masih tidur di kamar. Anin akan melihatnya dulu."
Anindya lalu pergi dari sana.
"Apa yang membuat paman menyukai wanita itu?" tanya Rian pada Zein setelah Anindya pergi.
"Maksudmu Anindya? Dia wanita yang baik dan tulus. Jika kau mengenalnya lebih dekat, kau pasti juga akan menyukainya." jelasnya sambil tersenyum.
"Tapi.. dia tidak sebanding dengan..."
"Rian! Jangan selalu mengukur seseorang hanya dari hartanya. Kau bahkan baru mengenalnya beberapa hari tapi kau sudah bisa menilai bagaimana dia!" sela Zein.
"Bukan begitu paman! Aku hanya... " Rian ingin berkata lagi namun Rossa memberikan kode padanya agar berhenti.
Ia takut jika pembicaraan ini akan memicu penyakit jantung Zein karena sifat keras kepala suaminya yang selalu memandang rendah orang lain.
***
Anindya membuka pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia masuk dan menutup kembali pintu kamarnya karena Adrian masih tertidur pulas di atas ranjang. Pria itu tampak tidur telungkup.
Anindya duduk di tepi ranjang. Ia sejenak memperhatikan wajah Adrian.
"Sepertinya ia sangat kelelahan. Aku tidak tega untuk membangunkannya. Tapi... jika tidak dibangunkan, ia bisa terlambat untuk makan malam dan bisa-bisa asam lambungnya akan naik kembali seperti waktu itu." gumamnya.
"Adrian!" ia memanggilnya sambil mengguncang pelan bahunya.
Tapi tidak ada jawaban dari pria itu. Anindya memanggilnya sekali lagi. Pria itu masih tak bergeming. Anindya lalu menepuk pelan pipinya sambil memanggilnya lebih keras. Akhirnya pria itu merespon panggilannya.
"Hmm..!!" sahutnya masih dengan mata terpejam.
"Adrian! Bangunlah! Ini sudah waktunya untuk makan malam. Kakek dan yang lainnya sudah menunggu di ruang makan."
"Aku masih mengantuk. Kalian makan saja. Nanti aku akan menyusul." sahutnya.
"Tapi... " ia tampak ragu.
"Pergilah! Nanti aku akan turun. Aku hanya ingin tidur sebentar lagi." jelasnya tanpa berniat untuk membuka mata sedetikpun.
Tampaknya ia memang benar-benar mengantuk.
"Adrian! Sehabis makan kau kan bisa tidur kembali. Aku hanya takut jika kau melewatkan makan malam mu. Kau akan sakit lagi seperti waktu itu. Dokter Samuel bilang kau harus makan tepat waktu." Ia tak mau menyerah.
Adrian akhirnya membuka matanya dan memiringkan tubuhnya.
"Kenapa kau cerewet sekali. Nanti aku juga akan bangun."
"Aku tidak percaya kau akan bangun. Ayo bangunlah!" perintahnya sambil menarik tangan pria itu agar ia bangun.
Dengan terpaksa akhirnya ia bangun. Bisa-bisanya wanita ini memaksaku.
__ADS_1
"Baiklah! Aku akan bangun. Tapi kau harus melakukan sesuatu agar rasa kantukku hilang."
"Apa?"
Ia menunjuk bibirnya. "Cium aku." ucapnya.
Anindya seketika menjauh. Merasa jika hal ini tidak akan berakhir mudah jika Adrian sudah meminta hal-hal seperti itu padanya.
"Ayo cepat! Atau kau akan membuat kakek dan yang lainnya kelaparan karena menunggu kita." ancamnya sambil menyeringai.
Anindya menggelengkan kepalanya.
"Baiklah! Jika begitu aku akan tidur lagi. Dan pastinya aku akan terlambat makan sehingga lambungku akan....." Adrian tak melanjutkan perkataannya karena Anindya membungkam mulutnya dengan ciumannya.
Walau singkat, namun Adrian merasa puas karena berhasil mendapatkan keinginannya.
"Cepatlah turun! Dasar menyebalkan!" gerutunya lalu segera pergi dari sana.
Adrian tersenyum ketika melihat istrinya merasa kesal seperti itu.
****************
Besok adalah hari ulang tahun Zein. Acara itu akan diselenggarakan di hotel yang biasa mereka gunakan jika akan melangsungkan sebuah acara penting.
Semua orang turut andil dalam acara itu. Tanpa terkecuali para pelayanan yang bekerja untuk mereka. Biasanya mereka akan diberi izin libur satu hari agar dapat menghadiri acara tersebut Mereka juga akan di beri bonus tambahan karena sudah mengabdi pada keluarga mereka selama ini. Semua itu terjadi atas keinginan Zein. Pria itu ingin berbagi kebahagiaan pada semua orang.
Anne yang baru bekerja beberapa hari juga ikut mendapatkan bonus. Sebenarnya ia merasa tak enak dengan pekerja lainnya. Tapi karena Sofia memaksa, akhirnya ia mau juga menerimanya. Rasanya sungguh beruntung bisa bekerja di sini.
Acara itu akan berlangsung pukul sebelas siang besok. Malam ini semua pelayan yang mengurusi dapur tengah sibuk mempersiapkan hidangan dan dessert yang akan di hidangkan besok.
Zein memang selalu mempercayakan hal itu pada pelayannya. Ia tak pernah memesan makanan dari luar untuk acara khususnya. Ia juga punya koki yang handal di rumah ini. Yang tak lain adalah Sofia.
"Kita bisa membuka toko kue jika seperti ini terus." celetuk Anindya sambil tersenyum.
"Mungkin kita bisa memikirkannya." timpal Sofia.
"Biar aku yang mencicipinya." timpal Clarissa dengan mulut penuhnya.
"Kerjamu hanya makan saja sedari tadi. Apa tidak bisa membantu sedikit." Rossa tampak menggerutu melihat tingkah putrinya itu.
"Ini kan juga lagi membantu, ibu. Membantu menghabiskan." celetuknya sambil tertawa.
Yang lain juga ikut tertawa. Termasuk Anindya.
"Dasar rakus." keluh Rossa.
Mereka terus bekerja hingga hampir dini hari baru selesai. Kini waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Sebagian sudah meninggalkan dapur, yang tersisa hanya beberapa pelayan yang masih terlihat membersihkan dapur yang berantakan. Termasuk Anne. Wanita itu masih terlihat mengepel lantai yang kotor.
Setelah memastikan semua bersih dan tertata rapi, mereka keluar dari dapur untuk beristirahat.
Anne keluar paling terakhir. Ketika ia sedang mematikan lampu dapur, seseorang menarik tangannya hingga membuatnya terkejut dan berteriak.
Tapi orang itu langsung membekap mulut Anne karena takut membangunkan seisi rumah yang mungkin sebagian besar dari mereka sudah terlelap.
__ADS_1
"Diamlah! Ini aku, Arkan!" ucap orang itu.
Anne tampak lega karena orang tersebut adalah Arkan. Lalu Arkan melepaskan tangannya dari mulut Anne.
"Kau mengagetkan aku saja, tuan! Aku pikir tadi hantu atau perampok." ucapnya.
"Kau ini!" keluhnya.
"Ada apa tuan?" tanyanya.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memberikan ini padamu." jawabnya sembari memberikan sebuah kantung kertas padanya.
"Apa ini, tuan?" tanyanya semakin bingung.
"Ini hanya gaun. Pakailah untuk acara besok. Aku tahu kau tidak punya gaun, kan?"
Anne menerima kantung kertas itu dan melihat isinya. Sebuah gaun panjang berwarna hitam yang sangat cantik.
Bagaimana ia bisa tahu? Aku juga sedang bingung memikirkan hal itu. Tadinya aku ingin meminjam dari Anindya. Batinnya.
"Tapi gaun ini pasti mahal, kan? Ehm... sebaiknya berikan saja pada orang lain tuan. Aku rasa aku tidak pantas untuk memakainya." tolaknya.
"Jika kau tak mau, maka buang saja. Aku tidak biasa menerima pengembalian barang yang sudah kuberikan.
Ia lalu berpamitan dan pergi ke kamarnya.
Sementara Anne terlibat bingung dengan gaun yang ada digenggaman nya.
****************
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
__ADS_1
Terima kasih😘💕