
"Jangan pernah menyakiti seorang wanita sekalipun kau membencinya."
*
Matahari tampak sudah meninggi di kaki langit. Menandakan pagi sudah semakin menjelang. Anindya terbangun di sisi Adrian. Hal yang dulunya mustahil untuk terjadi, kini sudah menjadi rutinitas rutin untuk kehidupan rumah tangga mereka. Namun Anindya sepertinya belum juga terbiasa dengan keadaan itu. Ia masih terlihat canggung ketika berada sedekat itu dengan suaminya.
Adrian tampak tertidur pulas. Ia berbaring tengkurap dengan wajah yang menghadap ke Anindya. Punggung mulusnya terlihat jelas karena selimut yang hanya menutupi bagian pinggang ke bawahnya saja. Tanpa ia sadari, ia seperti terhipnotis oleh wajah itu sehingga Anindya terus saja menatapnya. Ingin rasanya menyentuhkan jemarinya di sana. Namun ia masih berpikir jernih untuk tidak melakukan sesuatu yang akan membuatnya malu setengah mati jika ketahuan oleh pria itu.
Ia menghela nafasnya sesaat untuk menjernihkan pikirannya yang sudah berlarian kemana-mana.
"Sudah puas melihatnya?" tanya Adrian tiba-tiba membuka matanya.
Hal itu tentu saja membuat Anindya salah tingkah. Pipinya seketika mengeluarkan rona merah karena malu.
"Si.. siapa yang melihatmu? Aku tidak sedang melihatmu." sanggahnya gelagapan sambil memalingkan wajahnya dan membalikkan tubuhnya membelakangi Adrian.
Anindya hendak turun dari ranjang. Namun Adrian dengan cepat menindih kembali tubuh Anindya hingga wanita itu terjebak dibawahnya. Kini Adrian berada tepat diatas punggungnya. Menempel padanya namun tidak sampai menghimpitnya. Karena wanita itu tak akan sanggup menopang berat tubuhnya.
"Benarkah? Apa kau masih ingin melakukannya lagi? Jika iya, maka aku akan senang hati melayanimu." ucapnya di telinga Anindya.
Hembusan nafas Adrian yang panas terasa menyengat seluruh tubuhnya. Pipinya semakin memerah. Dan hal itu membuat Adrian semakin bergairah padanya. Ekspresinya itu terlihat menggemaskan bagi Adrian.
Ingin rasanya ia menidurinya lagi pagi ini. Tapi ia ingat ada pekerjaan penting pagi ini yang tidak bisa ia tinggalkan.
"Tidak! Aku sudah lelah. Jangan sekarang! Kau harus bekerja, bukan? Aku juga harus membantu ibu Sofia. Jika kita tidak turun, kakek pasti akan mencari kita. " Anindya benar-benar takut jika hal itu sampai terjadi lagi. Karena sejujurnya ia sudah lelah. Bahkan ia jadi kurang tidur karena nya.
Adrian tersenyum melihatnya. Lalu mengecup pundak Anindya yang terbuka. Ia merasa akan menjahilinya sedikit lagi.
"Kakek tidak akan mencari kita sekalipun kita tidak keluar dari kamar seharian ini. Malahan dia akan membiarkan kita. Karena kakek akan berpikir jika kita sedang berusaha untuk mempercepat keinginannya memiliki cicit." godanya.
"Kau sedang bercanda, kan? Jika kau benar-benar mau lagi, aku... aku sudah tak sanggup untuk melakukannya lagi." ucapnya.
Adrian tampak menyeringai. "Menurutmu... apa aku sedang bercanda?" Adrian menggigit telinga Anindya dengan lembut tanpa menyakitinya. "Apa kau lupa jika aku tak suka bercanda?"
Entah semerah apa wajah Anindya saat ini. Pria itu terlihat senang karena berhasil menggoda istrinya hingga seperti itu.
Namun tampaknya ia harus segera menghentikannya. Karena ia takut jika sesuatu akan kembali bangkit dan meminta jatahnya kembali. Rasanya sudah cukup dengan apa yang mereka lakukan semalaman.
Ia lalu tersenyum dan menggeser tubuhnya dari Anindya untuk membebaskannya.
Ia berbaring miring di sisi Anindya sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya. Ia menatap Anindya sambil menarik satu sudut bibirnya.
"Aku tidak akan melakukannya lagi. Pergilah! Kita masih punya banyak waktu untuk melanjutkannya lagi." ucapnya.
__ADS_1
Anindya tersenyum masam. Ia lalu turun dari ranjang dan segera masuk kedalam kamar mandi sebelum Adrian berubah pikiran.
Adrian tak berhenti menatapnya bahkan hingga pintu kamar mandi itu tertutup.
"Gadis kecil itu memang menggemaskan!" ucapnya sambil tersenyum tipis.
****************
"Nanti siang bersiaplah! Aku mau mengajakmu untuk membeli gaun baru." ucap Adrian pada istrinya yang tengah mengikat dasi di lehernya.
"Gaun baru? Untuk apa? Aku masih memiliki banyak gaun yang bahkan belum terpakai sama sekali." tanya Anindya bingung.
"Tentu saja untuk ulang tahun kakek. Aku tak ingin kau terlihat biasa di acara itu. Jadi ikuti saja perkataanku. Jangan banyak bertanya apalagi membantah. Kau mengerti?" ucapnya dengan tegas karena ia tahu betul dengan sifat Anindya yang selalu mencegahnya membelikan sesuatu untuknya hanya karena ingin menghemat uangnya.
"Inikan ulang tahun kakek. Bukannya ulang tahunku. Jadi aku rasa tidak masalah jika aku tampil biasa saja. Karena semua tamu pasti ingin melihat kakek. Bukannya melihatku." sanggahnya.
Adrian memegang dagu Anindya. Memaksanya untuk menengadah agar memandang wajahnya.
"Apa kau lupa dengan statusmu. Kau adalah istriku. Nyonya di rumah ini. Jadi sudah seharusnya kau terlihat menonjol di pesta nanti. Aku tak ingin kau merendahkan dirimu dihadapan siapapun begitupun sebaliknya. Aku tak ingin siapapun merendahkan mu nantinya. Karena aku ingin kau terlihat istimewa. Jadi ikuti saja perkataan ku dan jangan membantahnya." ucapnya.
"Ba... baiklah! Terserah kau saja."
Adrian tampak menyeringai ketika melihat Anindya menurutinya.
"Bagus! Aku suka ketika melihat kau menjadi gadis penurut." sebuah kecupan singkat mendarat di bibir tipisnya membuat pipi Anindya kembali merona.
"Ehm... baiklah! Aku akan turun ke bawah." ia tampak salah tingkah.
Ketika Anindya keluar dari kamar, ia merasa sesuatu yang beda ketika Adrian menyebutkan kata "istriku" di hadapannya.
Bukankah itu artinya ia sudah benar-benar diakui. Tapi hingga kini masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya.
Apakah pria itu mencintainya?
****************
Setelah selesai bersiap, Adrian keluar dari kamarnya. Hendak menyusul istrinya ke ruang makan. Namun saat keluar kamar, ia melihat Arkan sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Raut wajahnya terlihat serius.
"Ada apa?" tanyanya heran.
" Kak! Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Apa kau masih berhubungan dengan Natasha?" tanyanya.
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu. Seharusnya kau yang paling tahu bagaimana hubungan ku dengannya. Hubungan kami sudah berakhir sejak lama. " jawabnya.
"Jangan bohong, kak! Aku tahu jika kemarin yang kakak temui di rumah sakit adalah Natasha. Karena kebetulan aku melihatnya sedang terbaring di kamar perawatan. Aku benarkan?"
__ADS_1
Adrian hanya diam. Ia merasa tak perlu menjelaskan apapun pada adiknya itu.
"Kakak masih berhubungan dengannya, kan? Apa kakak masih mencintainya? Lalu bagaimana dengan Anindya? Kakak tidak sedang mengkhianatinya, kan?" Arkan mengajukan serentetan pertanyaan pada kakaknya yang lagi-lagi hanya diam.
"Itu bukan urusan mu Arkan. Jangan campuri kehidupan rumah tanggaku. Urus saja pekerjaanmu. Seharusnya tanpa bertanya pun kau tentu sudah bisa menebak jawabannya. Aku tak mungkin mengkhianatinya. Aku bukan jenis pria yang mudah berpaling kepada wanita lain." jelasnya.
Arkan terdiam.
"Berhenti membahas tentang wanita itu. Dan jangan mengungkit-ungkit tentangnya lagi. Apa kau mengerti?"
"Baiklah, kak! Aku mengerti! Tapi.. jangan menyakiti Anindya, kak! Sekalipun jika kakak tidak mencintainya. Itu yang selalu di ajarkan kakek kepada kita. Jangan pernah menyakiti seorang wanita sekalipun kita membencinya."
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
__ADS_1
Terima kasih😘💕