My Dearest Wife

My Dearest Wife
Menahan diri.


__ADS_3


Beberapa hari kemudian....


Adrian masih berada di luar kota menyelesaikan urusan pekerjaannya. Ia akan membangun beberapa villa di kota ini.


Namun tampaknya ia tidak berada dalam suasana hati yang baik. Ia tampak kesal dan menyalahkan semua pegawainya. Bahkan Romipun tak bisa menghindarinya.


"Apa ini? " Bentaknya pada salah satu karyawan sambil membanting sebuah map di atas meja kerjanya.


"Hanya ini desain yang bisa kau pikirkan dalam sebulan?" Lanjutnya.


"I-iya, tuan! Sa-saya sudah memikirkan setiap detailnya dengan baik tuan." Jawabnya takut.


"Seperti ini yang kau bilang bagus? Aku beri waktu sehari! Buat ulang desainnya! Aku mau desain yang terbaik. Apa kau mengerti? Jika kau tidak sanggup, maka kau bisa mengajukan surat pengunduran dirimu! Kau mengerti? " Adrian semakin meninggikan suaranya.


"I-iya, tuan! Saya mengerti! " Ucapnya lalu segera keluar dari ruangan tersebut sebelum atasannya itu semakin murka padanya.


"Dasar orang-orang tidak berguna! Buat apa aku menggaji mereka tinggi jika tidak bisa diandalkan. Seharian hanya bisa membuatku kesal!" Gerutunya pada Romi yang sedari tadi hanya diam di sampingnya.


Pria itu tak bergeming sedikitpun ketika Adrian memarahi satu persatu staff pegawainya. Karena dirinya sendiri sudah mengalaminya sejak kemarin.


Pemicu utama kemarahannya adalah karena ia belum mengetahui penyebab pamannya tiba-tiba berubah pikiran terhadap Anindya.


Yang tadinya tak mengakui keberadaan Anindya sebagai putrinya kini malah berbalik ingin pengakuan dari Anindya.


Sepertinya ini bukanlah hal yang mudah. Apalagi sudah hampir seminggu ia jauh dari Anindya. Tentu hal itu semakin memperparah keadaan.


Romi berharap Anindya bisa berada di sini untuk meredakan amarah atasannya tersebut.


"Romi! Apa kau juga tak bisa menyelesaikan masalah yang ada di sini? Apa gunanya kau sebagai asisten pribadi ku? Apa gajimu kurang banyak?" tanyanya kesal.


"Tidak, tuan! Gaji saya sangat cukup. Saya akan segera menyelesaikan masalah ini. Permisi, tuan!" pamitnya hendak berjalan keluar ruangan.


"Tunggu!" panggilnya seketika menghentikan langkah Romi.


"Iya, tuan!" sahut Romi.


"Siapa yang menyuruhmu pergi? Apa kau sudah berani berbuat sesuka hatimu sekarang?" tanyanya semakin kesal.


"Maaf, tuan!" Romi terlihat sabar menghadapi sikap tuannya tersebut karena ia sudah mengenalnya luar dalam.


Sehingga ia tak terlalu ambil pusing dengan sikap Adrian yang sering berubah-ubah. Atau bahkan sampai memarahinya.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara dering ponselnya berbunyi nyaring.


Adrian melihat layar ponsel nya. Itu adalah panggilan video dari istrinya.


Kali ini Romi sepertinya bisa sedikit bernafas lega. Setidaknya ia akan selamat untuk beberapa jam ke depan.


"Pergilah!" perintahnya pada Romi sebelum mengangkat teleponnya.

__ADS_1


Setelah Romi pergi...


"Halo, sayang! Apa kau sibuk?" tanya Anindya begitu panggilan videonya di terima.


"Tidak, sayang! Aku tidak sibuk. Ada apa? Apa kau merindukan ku?"


"Sangat! Tapi aku hanya ingin menanyakan pendapat mu saja."


"Pendapat apa?" tanyanya penasaran.


"Kemarin aku baru saja membeli beberapa pakaian tidur baru. Aku akan memakainya lalu kau harus memberikan pendapat mu. Oke?


" Baiklah, sayang!"


"Tapi tidak ada siapapun di dekatmu, kan?" tanya Anindya memastikan.


"Tidak ada. Aku hanya seorang diri di sini. Cepatlah! Kau membuatku tidak sabar!"


"Oke! Tunggu, ya!" ucap Anindya lalu menghilang dari layar ponsel.


Beberapa saat kemudian, ia muncul dengan sebuah gaun tidur yang ternyata membuat Adrian tidak bergeming menatap layar ponselnya. Itu bukan gaun tidur biasa, tetapi sejenis lingerie yang tentunya sangat menggoda Adrian.


Walaupun dengan perut yang membuncit, terapi Anindya malah terlihat lebih menggoda dari biasanya.


Itu sungguh menyiksa bagi Adrian.


"Bagaimana, sayang? Apa aku terlihat pantas memakainya?" tanyanya sembari berputar-putar memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya pada suaminya itu.


" Tidak. Aku tidak sedang menggoda mu. Aku hanya ingin memperlihatkan pakaian ini saja." bantahnya.


"Anindya!" serunya geram.


"Apa? Aku masih punya beberapa pakaian lagi. Boleh aku mencobanya?" tanya Anindya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Sayang! Nanti saja kau tunjukkan jika aku pulang. Jangan menggodaku terus. Apa kau tak tahu jika aku berusaha menahan diri disini?"


"Itu salahmu sendiri. Kenapa kau pergi begitu lama. " ledeknya sambil menjulurkan lidah.



Adrian tersenyum gemas melihat sikap istrinya itu.


Pembicaraan tentunya tidak berhenti sampai di situ saja. Banyak hal yang mereka bicarakan.Termasuk perkembangan bayi mereka. Kehamilan Anindya sudah memasuki usia kandungan lima bulan. Walaupun belum terlalu terasa, tetapi bayi mereka terkadang mulai aktif di dalam perutnya.


Adrian benar-benar merindukan wanita itu. Ia tak pernah merindukan seseorang seperti ia merindukan Anindya. Anindya benar-benar telah mengikat hatinya hingga ia tak sempat berpikir untuk membaginya pada wanita lain lagi.


****************


Universitas X.


"Anne! " Seorang pria paruh baya berkepala plontos menyerukan nama Anne ketika keduanya berada di sebuah ruangan.

__ADS_1


"Iya, pak!" jawab Anne.


"Saya ingin membahas perihal pengajuan beasiswa program S2 mu ke Amerika." jelasnya.


Wajah Anne seketika berubah cemas. Ia sangat mengharapkan beasiswa ini untuk melanjutkan pendidikannya.


"Selamat! Pengajuan beasiswa mu sudah di terima. Tetapi kau harus lulus tahun ini untuk mendapatkannya. Apa kau sanggup? Kau termasuk mahasiswa psikologi terbaik yang kami miliki. Kau berada di peringkat pertama di Fakultas ini. Saya yakin anda pasti bisa melakukannya." ucapnya meyakinkan Anne.


"Tentu saja, pak! Saya akan berusaha melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan pihak kampus dan juga pihak yayasan." ucapnya yakin.


"Baiklah! Kami percaya padamu. Ini surat persetujuan beasiswa mu. Kau akan mendapatkan beasiswa penuh dari Universitas untuk pendidikan mu nanti." jelasnya sambil menyerahkan sebuah amplop putih padanya.


Anne lalu membuka surat tersebut dan membaca detail nya dengan serius.


Tetapi tiba-tiba saja ia terlihat sedih. Paling tidak jika ia bisa lulus tahun ini, itu artinya ia hanya punya waktu setahun untuk menyelesaikan S1 nya. Tetapi yang paling membuatnya sedih, itu artinya ia harus siap berpisah jauh dari Arkan. Mungkin untuk waktu yang cukup lama.


Perasaan yang baru saja muncul di hatinya, apakah harus ia pendam. Arkan mungkin bersedia untuk menunggunya. Tetapi apakah pria itu akan sanggup menunggunya untuk beberapa tahun?



****************


*


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.

__ADS_1


Terima kasih😘💕


__ADS_2