My Dearest Wife

My Dearest Wife
Kehilangan.


__ADS_3

"Bagaimana kondisi kakek?" tanya Adrian pada adiknya ketika tiba di ICU.


Anindya juga ikut bersamanya. Ia menitipkan Arya pada Sofia.


Arkan tampak pucat dan lemas. Ia terdiam ketika Adrian bertanya padanya.


Adrian yang tak sabaran langsung mengguncang bahu adiknya itu agar merespon pertanyaannya.


"Arkan! Katakan pada kakak bagaimana keadaan kakek?"


"Kak! Ka-kakek...! Maafkan aku kak! Aku tak bisa menolongnya! Maafkan aku kak!" bibirnya tampak bergetar ketika menjelaskannya.


"Tidak! K-kau pasti bercanda, kan?" tanyanya tak percaya.


Melihat Arkan yang tak berdaya, ia lalu memaksa masuk kedalam ruangan.


Pria tua itu tampak terbaring kaku diatas ranjang pasien. Para dokter sedang mencabut segala alat bantu yang terpasang di tubuh tuanya.


"Kenapa kalian mencabutnya? Pasang kembali! Kakekku masih hidup! Cepat pasang kembali!" perintahnya kasar.


Samuel tampak berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu. Tetapi kemarahan Adrian tak bisa di redamnya. Pria itu tak hentinya memarahi setiap petugas medis yang berada di ruangan tersebut.


"Adrian! Jangan seperti itu! Kakek sudah tenang sekarang!" bujuk Samuel.


"Diam kau! Kakek ku masih hidup! Dia tak mungkin meninggalkan aku. Dia masih hidup!" Perlahan Adrian mulai mengerti. Tetapi ia tak bisa membendung air matanya lagi.


Ia tak bisa menerima kepergian kakeknya. Ia belum siap.


Sementara Anindya terlihat membeku di ambang pintu. Ia baru saja memimpikan pria itu. Kenapa sekarang mimpinya menjadi kenyataan?


"Kakek!" Air mata mulai mengalir di kedua sudut matanya.


...****************...


Pemakaman umum.


Prosesi pemakaman Zein baru saja selesai. Ia dimakamkan tepat di sebelah istrinya. Ia pernah mengatakan hal itu pada Adrian dan Arkan.


Semua orang yang hadir tampak bersedih. Terutama Arkan dan Anindya. Mereka tak kuasa menahan kesedihan mereka. Berbanding terbalik dengan Adrian. Pria itu tampak diam dengan ekspresi wajahnya yang datar. Padahal kemarin malam ia masih meluapkan emosinya dengan meluap-luap.


Anindya dan yang lainnya bahkan harus bergantian menenangkannya. Tetapi ia tak mau mendengarkan siapapun saat itu.


"Sayang! Ayo kita pulang!" ajak Anindya pada Adrian.


Tetapi Adrian malah menyuruhnya untuk pulang bersama yang lainnya. Adrian duduk diam di samping nisan kakeknya.


"Kakak! Jangan seperti ini! Ikhlaskan kepergian kakek! Apa kakak ingin melihat kakek bersedih di atas sana?" Arkan mencoba untuk membujuknya.


"Aku bilang kalian pulang saja terlebih dahulu!" ia tetap bersikeras.


"Kakak!" Seru Arkan.

__ADS_1


Anindya memegang bahu Arkan. Ia menggeleng mengisyaratkan untuk tidak membujuknya lagi.


"Biarkan kakakmu berada di sini dulu! Ayo kita pulang!" Ajak Anindya pada Arkan.


Dengan berat hati akhirnya Arkan ikut pulang bersama Anindya dan yang lainnya.


Anindya tahu jika suaminya sangat terpukul dengan kehilangan kakeknya itu. Pria itu membesarkannya dan menggantikan sosok orang tua dalam hidupnya juga Arkan. Mungkin Arkan masih bisa mengontrol emosinya karena ia seorang dokter. Walaupun rasa kehilangannya mungkin setara dengan Adrian.


Tetapi Adrian tidak. Ia berjuang dari nol bersama kakeknya. Luka yang sudah susah payah sembuh, kini harus terbuka lagi dan bertambah perih.


Adrian hanya menatap nanar batu nisan dihadapannya itu. Ia diam seribu bahasa. Air mata perlahan jatuh dari sudut matanya yang sembab.


"Kakek!"


...****************...


Malam semakin larut, tetapi Adrian belum juga kembali ke rumah. Anindya tampak cemas. Ia terus menerus mencoba menghubungi ponsel Adrian. Tetapi tidak aktif. Arkan dan Romi mencarinya ke setiap tempat yang mungkin dikunjungi oleh Adrian ketika sedang sedih seperti ini. Mereka sebelumnya mencari di pemakaman, tetapi Adrian sudah pergi dari sana.


"Anindya,kau tidur saja dulu! Istirahatlah! Ingat kesehatanmu! Kau baru saja melahirkan. Jangan cemas seperti ini! Itu akan berpengaruh pada bayimu. " bujuk Rossa.


"Iya, kak! Jika kak Adrian pulang, kami akan memberitahumu!" timpal Clarissa.


"Aku tidak bisa tidur, bibi! Aku benar-benar mencemaskannya. Aku takut ia berbuat sesuatu diluar akal sehatnya."


"Jangan berpikiran negatif. Adrian pasti baik-baik saja!"


Tetapi kemudian tiba-tiba Adrian muncul di ruangan itu. Ia tampak muram. Pakaiannya kotor bahkan ia tidak menggunakan alas kakinya. Ia terlihat seperti mayat hidup saat ini. Kulit putihnya tampak pucat. Matanya terlihat sembab. Ia benar-benar jauh berbeda dari biasanya.


"Sayang! Kau darimana saja? Aku benar-benar mencemaskan mu!" ucap Anindya cemas.


"Aku hanya ingin menenangkan diri sebentar! Kenapa kau belum tidur! Ayo kita tidur!" ajaknya dengan nada datar.


"Adrian! Kau baik-baik saja?" Tanyanya lagi.


"Aku baik-baik saja! Ayo!" ajaknya sambil menarik tangan Anindya.


Anindya menatap yang lainnya. Semua merasa Adrian terlihat aneh saat itu. Mereka yakin jika Adrian tidak baik-baik saja.


Di dalam kamar, Adrian membaringkan Anindya di atas ranjang. Sementara ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak lama kemudian, ia ikut berbaring di samping Anindya. Ia bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi pada dirinya.


Anindya merasa semakin cemas sekaligus bingung. Ia lalu bertanya padanya.


"Adrian! Apa kau yakin baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja! Ku mohon tidurlah!" ia setengah memaksa.


"Baiklah.....!" sahutnya.


...****************...

__ADS_1


Anindya terbangun dua jam kemudian karena mendengar tangisan Arya yang kelaparan. Namun, ia tak mendapati Adrian di sampingnya.


Kemana ia pergi?


Anindya lebih dulu menyusukan Arya sebelum mencari Adrian.


Beberapa saat kemudian, ketika Arya sudah kembali terlelap, Anindya perlahan meninggalkan kamar untuk mencari suaminya tersebut.


Ia lantas berpikir untuk mencari di ruang kerja Adrian. Dan benar saja, ia melihat cahaya lampu yang menyala di ruangan itu.


Ia menebak jika Adrian sedang berada di sana. Namun ia tidak langsung masuk, ia mengetuk pintu tersebut lebih dulu untuk memastikan.


"Sayang! Kau ada di dalam?"


Tidak ada sahutan. Ia memanggilnya lagi agak kencang. Tetapi beberapa kali tetap tidak ada jawaban. Akhirnya ia memilih untuk masuk dan memeriksanya.


Ia membuka pintu tersebut karena Adrian tak menguncinya.


Ia melihat Adrian terduduk di lantai. Ia tampak kacau. Anindya perlahan mendekatinya.



Ia mencoba berbicara padanya.


...****************...


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.

__ADS_1


Terima kasih😘💕


__ADS_2