My Dearest Wife

My Dearest Wife
Siapa Bimo?


__ADS_3

"Kenapa kau selalu menganggap dirimu pengganggu? Kau memang seorang pengganggu, tapi hanya di atas ranjang saja." kalimat terakhir sengaja ia bisikkan di telinga Anindya, sehingga membuat wanita itu lagi-lagi tersedak ketika mengetahui maksud dari kalimat itu.


Ia meminum kembali minumannya. Rasanya pria ini memang sengaja kemari untuk menggodanya. Apa ia tak tahu jika kehadirannya saja bisa membuat Anindya sesak nafas.


"Adrian!" serunya.


Pria itu tampak menyeringai. Ia selalu merasa puas jika berhasil menggoda istri kecilnya itu.


"Dari tadi ku perhatikan kau tidak henti-hentinya makan. Apa kau tidak takut gemuk?" tanyanya sembari memperhatikan wanita itu.


"Tidak. Tubuh ku ini punya metabolisme yang cepat. Aku tidak akan gemuk walaupun banyak makan." jawabnya.


Adrian tampak tersenyum simpul. "Iya aku rasa kau benar. Kau kan selalu olahraga setiap malam denganku. Metabolisme tubuh mu sudah pasti cepat." Lagi-lagi pembicaraan itu mengarah ke sana.


"Adrian!" serunya kesal.


Adrian terkekeh ketika melihat semburat merah muda muncul di pipi istrinya.


Anindya memilih untuk mengalihkan perhatiannya pada kue di hadapannya. Ia melanjutkan makannya kembali dan mengabaikan Adrian. Bicara dengannya hanya akan berakhir ke arah yang sama. Entah kenapa pria itu semakin terlihat mesum akhir-akhir ini.


Namun Adrian kembali mengganggunya. Ia merampas garpu yang ada di tangan Anindya dan mengambil alih piring kue tersebut lalu memakannya.


"Kue ku!" serunya.


"Tidak masalah!" sahut Adrian tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Apanya yang tidak masalah. Itu punya ku. Jika kau mau aku bisa mengambilkannya lagi untukmu."


"Tidak masalah. Hanya berbagi makanan apa salahnya. Lagipula kita juga sudah berbagi yang lainnya, bukan!" Adrian tampak menyeringai.


"Iya! Iya! Terserah kau saja." ia seketika mengerucutkan bibirnya.


Kenapa dia selalu mengarah ke sana. Ini kah sifatnya yang sebenarnya? Batinnya.


Anindya yang merajuk membuat Adrian semakin menyukainya. Wanita itu terlihat sangat menggemaskan.


"Dasar anak kecil!" serunya sambil mencubit gemas pipi Anindya.


"Sakit!" serunya sembari mengusap pipinya.


Sementara Adrian tersenyum lebar.


****************


Anne baru saja keluar dari toilet. Ketika ia hendak kembali ke tempat acara, ia secara tak sengaja menabrak seorang pria. Atau lebih tepatnya pria itulah yang menabraknya karena sepertinya ia tak melihat jalan dengan benar.


"Anne!" seru pria itu.


Sepertinya ia mengenalinya. Anne yang terkejut begitu namanya disebutkan, langsung melihat kearah pria itu.


"Bimo, Apa itu kau?" ucap Anne setelah mengenali pria itu.


Bimo adalah teman satu kelasnya di sekolah menengah atas dulu bersama Anindya. Dan dia adalah orang yang paling menyebalkan. Dia suka sekali merendahkan orang lain. Terutama pada Anindya.

__ADS_1


Sial! Kenapa dari sekian banyak siswa aku malah harus bertemu dengannya? Batin Anne.


"Iya, ini aku! Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini? Kau terlihat bagus dengan gaun itu. Apa itu asli? Ehm... tapi sepertinya tidak mungkin. Itu pasti hanya tiruan saja, kan?" tanyanya sambil tertawa meremehkan.


Tentu saja ini asli. Bagaimana bisa seorang pria menanyakan masalah keaslian gaun padaku? Apa dia seorang wanita? Anne sama sekali tidak menyangka jika ia akan bertanya seperti itu padanya.


Anne tersenyum simpul. "Bagaimana kau bisa berada di sini?" tanya Anne menyelidiki.


"Aku bekerja sebagai Manager personalia di perusahaan tuan Adrian. Jadi sudah sangat jelas kenapa aku bisa di undang ke sini. Bagaimana denganmu? Kenapa kau bisa berada di sini?" tanyanya setelah membanggakan dirinya.


"Aku juga bekerja untuk tuan Adrian." jawabnya singkat.


"Oh ya! Kau ada di bagian apa? Aku tak pernah melihatmu di kantor?" tanyanya bingung.


"Ah itu.... itu..." Anne tampak ragu. Apa yang harus ku katakan padanya. Jika aku bilang sebagai pelayan di rumahnya, dia pasti akan meremehkan ku.


"Ehm.... aku rasa aku harus pergi. Aku sudah terlalu lama di sini!" Anne berusaha untuk menghindari pertanyaan yang lainnya.


Ia hendak pergi. Namun, pria itu malah menarik tangannya untuk menghentikannya.


"Kau datang bersama siapa? Kenapa terburu-buru seperti itu." tanya Bimo penasaran.


"Dia datang bersama ku!" jawab seorang pria yang tak lain adalah Arkan.


Entah sejak kapan pria itu ada di sana. Ia tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.


"Apa kau bisa melepaskan tangannya?" tanyanya sinis.


Ia menatap Bimo dengan tajam. Seakan-akan Bimo adalah mangsa yang tersedia untuk disantapnya.


"Anne! Apa pria ini kekasih mu? Ternyata kau boleh juga." tanyanya dengan nada meremehkan.


Ia tahu betul seperti apa keluarga Anne. Wanita itu bukan berasal dari keluarga yang berada. Jika dilihat dari penampilan Arkan yang menggunakan barang-barang mewah, pasti Anne ini hanyalah wanita simpanannya saja. Gaun yang dipakainya pasti pemberian pria ini. Begitu yang di pikirkan Bimo saat ini.


"Dia bukan... " Anne ingin membantah, namun Arkan dengan cepat menyelanya.


"Dia memang kekasih ku. Apa kau ada masalah?" tanya Arkan sinis.


"Tentu saja tidak. Tapi kenapa selera mu begitu buruk. Dia sama sekali tidak cocok dengan mu." Ia berusaha untuk memprovokasi Arkan dengan menjelekkan Anne.


Pria sialan! Kenapa mulutnya bahkan melebihi seorang wanita. Apa dia tak malu bersikap seperti itu." Umpat Anne dalam hati.


"Apa itu masalah buatmu!" ucap Arkan kesal.


"Sudahlah! Sebaiknya kita segera pergi dari sini. Tidak ada gunanya berurusan dengan pria ini. Itu hanya akan membuang waktumu yang berharga." Anne berusaha untuk mengalihkan perhatian Arkan pada pria itu.


Arkan berusaha untuk sabar. Ia memilih untuk pergi bersama Anne meninggalkan pria itu.


"Bagaimana kau bisa mengenal pria seperti itu? Sifatnya sungguh menjijikkan." Arkan tampak menggerutu setelah mereka pergi dari hadapan pria itu.


"Dia teman sekolah ku dulu. Anindya juga mengenalnya. Astaga! Aku harap dia tidak bertemu dengan Anindya. Entah apa lagi yang akan ia katakan pada Anindya." ucap Anne.


"Memangnya dia pernah melakukan apa pada kakak ipar?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Anindya meminta ku untuk merahasiakan masalah itu dari siapapun. Bahkan neneknya juga tidak tahu tentang hal itu." jelasnya.


"Tentang apa itu?" tanyanya semakin penasaran.


"Ehm... Tapi kau tidak boleh mengatakannya pada siapapun. Termasuk tuan Adrian. Aku takut jika Anindya akan sedih jika mengetahuinya." ucap Anne memastikan.


"Baiklah! Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun." Arkan meyakinkannya.


"Pria itu pernah menyebarkan rumor tentang Anindya." Anne mulai menceritakan rahasia itu pada Arkan.


****************


Di sisi lain, Anindya terlihat sedang berada di meja prasmanan. Ia sedang mengambilkan makanan untuk Adrian. Karena terlalu asyik mengobrol dengan teman-temannya, ia melupakan makan siangnya.


Namun ketika ia sedang memilih makanan, seseorang menghampirinya. Pria itu menatapnya dengan serius. Seperti bertemu dengan seseorang yang sudah lama tak dilihatnya.


"Astaga! Ternyata si anak haram. Aku kira wanita cantik darimana." ucap pria itu.


Anindya merasa mengenali suara itu. Suara yang tidak ingin kembali didengarnya seumur hidup. Suara yang telah memberikan kenangan buruk untuknya. Suara yang membuat semua teman sekolahnya menjauhinya. Suara itu....


"Bi... Bimo!" serunya tak percaya.


****************


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕


__ADS_1



__ADS_2