My Dearest Wife

My Dearest Wife
Mengganti kenangan


__ADS_3

Anindya mencoba untuk menenangkan dirinya setelah apa yang di perbuat Natasha kepadanya. Lagi-lagi ia mencoba untuk memprovokasinya. Kenapa ia harus melakukan hal itu padanya? Apa kesalahannya?


Ia menunggu Adrian yang belum juga kembali dari toilet. Ia melihat ke arah belakang dan menemukan Adrian ternyata sedang berjalan ke arah pintu belakang restoran ini.


"Kenapa ia keluar dari pintu belakang? Mau kemana dia?" tanyanya.


Anindya lalu mengikutinya tanpa sepengetahuan Adrian. Ia melihat Adrian tengah berbicara dengan Natasha di luar. Natasha sedang mencoba berbicara padanya agar Adrian mau kembali menjalin hubungan dengannya.


Ketika melihat Natasha terduduk di tanah dan menangis, Adrian hanya terdiam sejenak di tempatnya sambil memandang wanita itu.


Anindya tampak cemas. Ia tengah menduga-duga dengan jawaban Adrian pada Natasha.


"Natasha! Ketika kau menolak ku, aku sempat berpikir untuk menunggumu dan menerimamu kembali jika seandainya saja kau berubah pikiran. Tapi penantian ku selama ini ternyata hanyalah sia-sia. Kau tidak pernah kembali. Kau tetap pada pendirian mu. Aku kecewa padamu, Natasha. Hingga setelahnya aku berhasil melupakanmu dan menata hidupku kembali seperti semula. Kini tak ada lagi yang tersisa diantara kita. Semua kenangan itu sudah berakhir. Jadi jangan pernah mencoba untuk merusaknya. Aku ingin memulai hubungan yang baru dengan istriku. Kini hanya dialah yang akan berada di sisiku hingga akhir. Terlepas siapa dia dan bagaimana statusnya. Aku tidak memikirkan semua itu. Jadi pergilah! Jangan pernah mengganggu istriku lagi. Apa kau mengerti?" Adrian tampak sangat serius dengan perkataannya.


Natasha tampaknya belum mau menyerah. Ketika Adrian hendak kembali ke restoran, Natasha tiba-tiba saja bangkit dan memeluknya dari belakang dengan sangat erat.


"Tidak Adrian! Kau hanya milikku. Selamanya akan menjadi milikku. Aku mohon padamu jangan tinggalkan aku. Aku akan berusaha untuk jadi yang terbaik bagimu. Beri aku satu kesempatan. Aku tidak akan menyia-nyiakannya kali ini." pintanya sambil terisak.


Anindya yang melihat hal itu tampak merasa sakit. Namun ia tak tahu rasa sakit itu karena hal apa. Mungkinkah karena ia melihat Natasha memeluk Adrian? Apa tanpa ia sadari ia mulai menaruh hati pada Adrian? Tanpa ia sadari, air matanya mulai mengalir ketika melihat hal itu.


Adrian tampak melepaskan pelukan Natasha dan menjauhkannya dari tubuhnya. Natasha tampak putus asa.


"Jangan menyentuhku." Adrian lalu meninggalkannya.


Natasha terduduk kembali di tanah. Ia begitu putus asa karena Adrian menolaknya. Tak lama kemudian, seorang pria tampak menghampiri Natasha. Pria yang sedari tadi mengawasinya dari kejauhan. Jackson.


Ia berjongkok dan memeluk wanita yang dicintainya itu. Berharap dengan pelukannya, wanita itu bisa merasa tenang.


*


Sementara di sisi lain, Adrian kaget ketika melihat Anindya juga berada di sana. Sedang mengintipnya. Adrian sudah bisa menebak jika wanita itu sudah mendengar semua pembicaraannya dengan Natasha.


"Apa yang kau lakukan di sini? Ayo masuk! Di sini sangat dingin. Kau bisa sakit nanti." ucap Adrian mengalihkan suasana.


Adrian menarik tangan Anindya. Namun ia melihat sesuatu di wajah istrinya itu. Ada tetesan air mata di sana.


"Kau menangis? Kenapa?" tanyanya penasaran.


__ADS_1


"Apa yang kau katakan tadi adalah benar? Bahwa ka... kau hanya ingin bersamaku hingga akhir?" tanyanya ragu.


Adrian terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Anindya. Ia menatap wanita itu dengan tatapan mata yang sendu.


"Apa itu benar? " tanyanya lagi memastikan.


"Itu benar! Aku ingin menghabiskan sisa umurku hanya denganmu. Kini aku sudah yakin. Apa kau bersedia?"


Anindya menatap mata suaminya itu. Melihat kedalamnya untuk memastikan bahwa pria itu tidak sedang mempermainkannya.


Anindya menganggukkan kepalanya. Adrian lalu memeluknya dengan erat. Namun, entah kenapa Anindya merasa belum yakin dengan semua ini. Tampaknya ia masih ragu.


****************


Setelah selesai makan, Adrian tidak langsung pulang ke rumah. Ia dan Anindya pergi ke suatu tempat. Bukan ke pantai seperti sebelumnya. Melainkan ke sebuah bukit yang sangat indah. Dari atas kita bisa melihat pemandangan kota pada malam hari dengan lampu-lampu yang menyala di setiap sudutnya.


Anindya terlihat bingung kenapa Adrian membawanya ke tempat itu. Sejujurnya ia juga belum pernah ke sana. Tapi tampaknya ia menikmati pemandangan yang di suguhkan di hadapannya.


Adrian tak lupa memakaikan sweater padanya karena udara malam yang terasa cukup dingin.


"Kenapa kau membawaku ke sini? Apa tempat ini juga punya kenangan bagimu?" tanyanya.


Anindya tampak bingung. Kenangan apa yang ia miliki di tempat ini? Apa kenangannya dengan Natasha?


"Tempat ini menjadi saksi ketika aku memutuskan untuk melamarnya. Namun, tempat ini juga menjadi saksi ketika ia menolak lamaranku." jelas Adrian yang menjawab pertanyaannya.


Ia melamar Natasha di sini. Hati Anindya terasa sakit kembali ketika mendengar hal itu.


"Tapi semua itu sudah berlalu. Karena itu aku ingin mengganti kenangan itu dengan kenangan yang baru. Sehingga aku tidak perlu ragu lagi jika ingin ke sini."


"Menggantinya?" tanya Anindya bingung sekaligus penasaran.


"Aku ingin menggantinya dengan mu."


"Aku?"


"Iya. Dengan ini." ucapnya lalu menangkup kedua pipi Anindya dan mencium bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan.


Adrian ingin mengganti memorinya akan tempat ini. Anindya yang tiba-tiba dicium seperti itu, merasa kaget. Ia tak membalasnya. Yang ia lakukan hanya diam dan pasrah menerima serangan mendadak dari suaminya itu.

__ADS_1


Adrian seketika melepaskan ciumannya ketika merasa Anindya sudah hampir kehilangan nafasnya. Wanita itu tampak mengambil nafas ketika Adrian melepaskannya.


Ia tersenyum. "Sudah beberapa kali aku menciummu, tapi kau tetap saja tidak ada kemajuan." ledeknya.


"Kau meledekku? Aku kan tidak pernah berciuman sebelumnya. Kau... pria pertama yang menciumku." ucapnya dengan pipi yang merona karena malu.


"Apa kau pikir, aku sudah sering berciuman dengan banyak wanita?" tanyanya.


"Memangnya tidak pernah? Jangan bilang jika aku ini adalah wanita pertamamu."


"Menurutmu?"


Anindya tak percaya dengan apa yang sedang di dengarnya. Dia adalah wanita pertamanya. Itu artinya bahkan dengan Natasha pun, mereka tak pernah melakukannya.


Anindya semakin salah tingkah di buatnya. Pipinya semakin merona. Namun ia berusaha untuk menutupinya demi harga dirinya.


Suasana yang tiba-tiba sunyi diantara keduanya. Menciptakan atmosfer yang aneh. Udara yang semakin lama semakin dingin membuat Adrian kembali mencium istrinya itu. Kali ini Anindya membalasnya walaupun masih terlihat canggung.



Malam itu terasa begitu hangat. Tempat itu menjadi saksi kisah mereka yang baru saja di mulai. Hari masih sangat panjang. Banyak hal yang akan mereka lalui di depan sana.


****************


Jika kalian suka dengan bab ini. Jangan lupa berikan


Like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Juga jadikan cerita ini salah satu list favorit kamu biar kamu nggak ketinggalan update terbarunya.


Terima kasih untuk semua reader yang baik hati ❤💞


__ADS_1


__ADS_2