
Wanita itu berjalan dengan langkah gemulainya. Ia terlihat sangat cantik dan anggun. Anindya tampak berdecak kagum saat melihat wanita itu. Ia benar-benar terpesona. Ia seperti sedang melihat seorang artis yang biasanya ia lihat di layar televisi.
Wanita itu menaiki lift khusus yang hanya diperuntukkan untuk pemilik perusahaan saja. Bagaimana dia bisa begitu berani? Dia pasti tamu penting di perusahaan ini. Begitu yang terlintas di pikiran wanita polos itu. Ia langsung menuju ke kantin karena ia sudah merasa lapar. Lagipula wanita itu juga sudah pergi.
*
Wanita itu menuju lantai tiga bangunan ini. Ia datang bersama seorang pria. Sepertinya pria itu adalah asisten pribadinya. Ia langsung menuju ke sebuah ruangan begitu menginjakkan kakinya dilantai tiga. Ia bahkan melewati meja Maura. Maura yang melihat wanita itu tiba-tiba datang, langsung menghampirinya.
"Maaf, nona! Anda siapa? Dan apakah anda sudah membuat janji dengan tuan Adrian hari ini?" Tanyanya sopan.
Wanita itu menoleh padanya. Ia membuka kacamatanya. Ia tersenyum sinis pada Maura.
"Aku tidak memerlukan janji untuk bertemu dengannya. Kau mengerti?" wanita itu hendak membuka pintu ruangan itu.
"Tapi nona. Tuan sedang istirahat siang saat ini. Ia berpesan bahwa tidak ada seorangpun yang boleh mengganggunya. Bisakah anda menunggu hingga tuan selesai beristirahat?" jelasnya.
"Dia pasti tidak keberatan jika aku mengganggunya. Oke!" ucapnya dengan penuh percaya diri.
"Tapi nona!" Maura kehabisan akal untuk mencegahnya.
Wanita itu langsung membuka pintu itu dengan seenaknya. Maura mengikutinya dari belakang. Ikut masuk kedalam. Ia benar-benar takut jika dirinya akan disalahkan oleh atasannya itu.
Adrian paling tidak suka diganggu pada jam istirahat seperti saat ini. Ia adalah waktu pribadinya.
Wanita itu tampak memasang senyum termanisnya. Adrian tampak menoleh kearahnya begitu melihatnya masuk. Terlihat jelas ekspresi ketidaksukaan di wajah tampannya. Namun, tampaknya wanita itu tidak memperdulikannya. Ia tetap masuk dengan penuh percaya diri.
"Maaf tuan! Saya sudah melarang nona ini untuk masuk. Tapi nona ini tetap memaksa masuk tuan." jelas Maura begitu melihat wajah masam atasannya itu.
"Pergilah!" perintah Adrian pada Maura.
"Baik tuan!" wanita itu segera keluar dari ruangan itu.
Sementara wanita cantik itu juga menyuruh asistennya untuk keluar setelah mengambil tas bekal yang dibawanya. Asisten pria itu langsung menurutinya. Ia keluar dari ruangan itu.
"Apa kau tidak ikut keluar?" tanya Adrian sinis pada wanita yang tak lain adalah Natasha. Mantan kekasihnya.
Wanita itu tak memperdulikan pertanyaan Adrian. Ia mendekati mejanya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dibawanya. Sebuah kotak bekal berwarna hitam. Ia membuka kotak bersusun dua itu dan memperlihatkan isinya kepada Adrian. Kotak itu berisi makanan kesukaan Adrian.
"Aku membuatkan makanan kesukaanmu. Kau pasti ingatkan, dulu aku sering membuatkannya untukmu." ucapnya sambil tersenyum.
Adrian menatapnya tajam. Ia sedang dipenuhi oleh amarah saat ini.
__ADS_1
"Pergilah!" Pria itu tampak berusaha untuk menguasai emosinya.
"Kau mau coba salad sayurannya?" tanya Natasha sambil mencoba untuk menyuapi pria itu.
Adrian yang sudah merasa geram, menepis kasar tangan wanita itu.
"PERGI! KELUAR DARI SINI!" bentaknya.
Natasha tampak kaget. Wajahnya sedikit memucat. Ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih, Adrian tak pernah sekalipun marah kepadanya. Tapi bagaimana mungkin pria itu bisa membentaknya dengan kasar seperti ini.
"Adrian!" air matanya mulai mengalir dari kedua sudut matanya.
"Aku tahu jika saat ini kau.. kau sedang marah kepadaku. Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu. Aku tahu jika kau masih mempunyai perasaan kepadaku. Tidak bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi?"
Natasha menyelidiki kehidupan asmara pria itu belakangan ini. Dari informasi yang ia dapatkan, Adrian tidak pernah sekalipun terlihat menggandeng wanita manapun setelah mereka berpisah. Natasha berpikir jika mungkin saja Adrian masih menyimpan hatinya untuk dirinya. Karena hal itulah, maka wanita itu dengan penuh percaya diri mendekati Adrian kembali. Ia mengubur rasa malunya dalam-dalam demi hatinya yang masih mencintai pria itu.
Saat ini ia memang marah. Namun, seiring berjalannya waktu, ia pasti mampu untuk mencairkan hatinya yang beku. Sekalipun ia harus mengemis cinta padanya. Ia rela.
"Kau tentu masih ingat jika aku tidak suka memungut barang yang sudah ku buang, bukan! Jadi jangan berharap sedikitpun." ucapnya sinis.
Natasha akan mengalah kali ini. Ini baru permulaan. Ia masih punya banyak waktu untuk menaklukkan hatinya.
"Baiklah! Aku akan pergi. Kau pasti sedang lelah hari ini. Aku akan datang kembali nanti. Aku pergi dulu, ya!" pamitnya sambil tetap tersenyum padanya.
"Ini terakhir kalinya aku melihatmu menginjakkan kaki di perusahaan ini. Tidak ada nanti ataupun lain kali." Itu adalah peringatan untuknya.
Natasha tetap senyum padanya. Ia tak perduli dengan segala peringatan yang ditujukan padanya. Yang ia tahu, ia hanya ingin memiliki pria itu kembali. Itulah tujuannya kembali ke kota ini.
*
Setelah melihat wanita itu pergi, Adrian mengerang dan melemparkan kotak makanan di hadapannya itu ke pintu masuk. Dalam sekejap kotak itu hancur berkeping-keping.
Bukankah kau yang menolakku saat itu. Kenapa sekarang kau kembali? Begitu senangnya dirimu mempermainkan aku?
*************
Anindya baru saja kembali setelah makan siang, dan bermaksud untuk mengantarkan laporan keuangan yang diminta oleh Maura. Namun, ia tampak terkejut saat melihat Maura tampak pucat sedang berdiri di depan mejanya.
Akhirnya Anindya memberanikan diri untuk bertanya pada Maura yang sudah sedikit akrab dengannya beberapa minggu belakangan ini.
"Nona Maura! Ini file yang kau minta." ucapnya sembari menyodorkan file itu kepadanya.
__ADS_1
"Ah, iya! Terima kasih!" ucapnya lalu menerima file itu.
"Ehm... ada apa? Apa kau sedang sakit? Kenapa wajahmu terlihat pucat? " tanyanya sambil berbisik.
Wanita itu malah memeluknya sambil menangis. Anindya tampak semakin bingung.
"Nona Maura, kenapa kau malah menangis? Ada apa?" tanyanya lagi.
Maura seketika menghentikan tangisnya dan menceritakan semuanya pada Anindya. Tentang kedatangan Natasha dan kemarahan atasannya. Ia takut jika dirinya akan di pecat karena masalah ini. Apalagi tuannya itu tidak keluar sama sekali dari ruangannya setelah kepergian wanita itu. Hanya terdengar sesuatu yang dilempar dan hancur. Ia bahkan tak berani untuk mencaritahu.
"Tenanglah! Ini bukan salahmu nona. Itu salah wanita itu. Kau tidak akan di pecat hanya karena masalah ini." Anindya berusaha untuk menenangkannya.
Tapi wanita itu masih saja menangis. Tak lama terdengar suara pintu ruangan Adrian terbuka. Pria itu keluar dari ruangannya dengan tampang dinginnya. Membuat kedua wanita itu seketika melepaskan pelukan mereka. Maura terlihat menghapus air matanya.
Namun, bukannya menatap Maura dan bertanya perihal wanita itu yang menangis. Ia malah menatap tajam Anindya yang kini berdiri menatapnya.
"Buatkan aku kopi!" perintahnya.
"A... aku!" ucap Anindya.
Adrian tak mengulangi perkataannya dan langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Hei! Cepat buatkan kopi untuk tuan!" ucap Maura.
Anindya terlihat masih bingung. Ia pergi ke pantry untuk membuatkan kopi untuk pria itu sebelum ia terkena kemarahannya.
******************
*
*
*
*
Maaf ya karena gak bisa sering updete tiap hari. Kadang suka hilang ide untuk nulis. Tapi diusahakan untuk selalu updete kok. Makasih buat yang masih sabar nungguin kelanjutan ceritanya.
Oh ya novelku ini aku ikut sertakan dalam lomba. Jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa kasih like, komen dan vote nya. Terimakasih untuk pembaca setiaku.
Tetap jaga kesehatan ya.
__ADS_1