
Jalanan sore itu tampak macet. Mungkin karena ini sudah jamnya para pekerja pulang dari kantor. Sebuah mobil sedan berwarna hitam tampak berhenti di tengah jalan akibat kemacetan yang terjadi. Sepertinya akan butuh waktu yang lama untuk sampai ke rumah.
"Apa dia sudah pulang?" tanya seorang pria pada pria di depannya.
Pria itu adalah Adrian. Dan ia bertanya pada Romi, asisten pribadinya yang duduk di depannya. Adrian tampak fokus pada sisi kiri jalan.
"Sudah tuan. Nyonya muda sudah kembali kerumah sejam yang lalu." jawab Romi.
Adrian tersenyum sinis. "Kau tampak sangat fasih menyebutnya 'nyonya muda'. " sindir Adrian pada bawahannya itu.
"Maaf tuan. Maksud saya nona Anindya." sahut Romi.
"Apa saja yang dilakukannya seharian ini? Dia bahkan tidak menggunakan kartu yang ku berikan padanya." tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangannya.
"Nona Anindya hanya berada di taman bermain saja seharian ini. Ia tak pergi kemanapun selain tempat itu. Tadi sebelum kembali ke rumah, ia mengantarkan temannya terlebih dahulu ke rumahnya. Hanya itu saja tuan. " jelas Romi.
Hanya itu saja informasi yang diberikan supir Anindya padanya.
Adrian tidak bertanya lagi setelah itu. Ia hanya fokus pada apa yang dilihatnya.
*
Seperti yang sudah diduga. Karena macet, mereka harus sampai rumah lebih lama dari biasanya. Adrian segera masuk kedalam rumah begitu mobil berhenti di depan teras rumah. Romi juga pamit pada atasannya itu setelah mendapatkan izin darinya karena sudah tidak ada urusan lagi yang harus dikerjakannya. Ia pulang menaiki mobilnya sendiri yang diparkir di garasi rumah itu.
Adrian berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai paling atas rumah ini. Saat ingin menaiki tangga, ia berpapasan dengan Anindya. Wanita itu menggunakan dress berwarna hijau. Ia membiarkan rambut panjangnya terurai begitu saja.
"Tuan sudah pulang! Apa ada sesuatu yang ingin tuan makan malam ini?" tanyanya ramah sambil tersenyum padanya.
Tapi sayang pertanyaannya itu tidak mendapat jawaban dari Adrian. Pria itu hanya meliriknya sekilas lalu pergi ke kamarnya.
"Huh! Dasar pria sombong. Aku kan bertanya baik-baik. Tapi dia malah bersikap seperti itu. Seharusnya aku tidak perlu bertanya tadi." Anindya menggerutu kesal setelah melihat pria itu pergi.
Ia lalu pergi ke dapur untuk membantu Sofia menyiapkan hidangan makan malam.
****************
Malam semakin larut. Setelah selesai makan malam dan mengobrol sejenak dengan Zein hingga mengantar pria itu untuk beristirahat di kamarnya, Anindya juga masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat.
Tapi tiba-tiba saja ia tak jadi masuk kedalam kamar. Ia malah pergi ke balkon untuk mencari udara segar.
Ia duduk di kursi yang ada disana sambil menatap bintang dilangit. Malam ini sungguh indah dan cerah. Banyak bintang yang bisa ia lihat diatas sana. Bahkan rembulan tampak membulat sempurna hingga cahayanya terlihat lebih terang.
Anindya merasa tenang saat menatapnya. Ia jadi merasa mellow. Tiba-tiba Anindya teringat dengan ibunya. Ketika ibunya akan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya, ia pernah berkata pada Anindya.
"Sayang! Jika kau ingin bertemu dengan ibu, maka pandanglah bintang dilangit. Ada yang bilang jika seseorang meninggal, maka ia akan menjadi salah satu dari bintang ibu. Mungkin jika kau bisa memetik salah satu bintang itu, ibu akan kembali bersamamu."
"Ibu pikir aku anak kecil berusia lima tahun? Jangan bicara yang tidak-tidak ibu."
Anindya tersenyum setiap kali mengingat hal itu. Namun tentunya dibalik senyuman itu ada kesedihan yang dipendamnya.
__ADS_1
You're my sunshine, my only sunshine.
You make me happy when skies are gray
You'll never know dear how much I love you
Please don't take my sunshine away
The other night dear, as I laid sleeping
I dreamed I held you in my arms
When I awoke dear, I was mistaken
So I hung my head and I cried
Terjemahan:
Kaulah sinar mentariku, Satu-satunya
Kau buatku bahagia ketika langit kelabu
Kau tak pernah tahu sayang betapa besar aku mencintaimu
Kumohon jangan ambil sinar mentariku
Kemarin malam sayang, Ketika aku terpejam
Ketika aku terjaga sayang, aku bingung
Maka kupegangi kepala dan menangis.
Anindya menaikkan kedua kakinya diatas kursi dan membenamkan kepalanya diantaranya. Ia benar-benar merindukan ibu dan juga neneknya.
Anindya kembali menengadahkan kepalanya. Menatap kembali langit malam itu. Seandainya ia bisa memetik satu bintang. Ia tampak berpikir. Mungkin saja ia bisa jika ia mencobanya...
Ia beranjak dari tempatnya dan menggeser kursi itu merapat ke tembok pembatas balkon itu. Entah apa yang merasukinya saat itu. Ia menaiki kursi dan memanjat tembok itu. Setelah berhasil naik, ia perlahan-lahan berusaha untuk berdiri diatasnya.
Setelah berhasil menyeimbangkan tubuhnya dan berdiri disana, ia mengacungkan tangannya kelangit. Seakan-akan ia ingin memetik satu bintang dan mendekapnya erat dipelukannya. Mungkin ia sudah tak waras karena terlalu merindukan ibunya.
Ia tersadar dan tersenyum ketika mengingat tindakan bodohnya itu. Ia lalu mencoba untuk turun sebelum ada seseorang yang melihatnya dan berpikir jika ia mencoba untuk mengakhiri hidupnya.
Namun, saat ia mencoba untuk turun, ia kehilangan keseimbangannya dan jatuh dari sana. Beruntung ada seseorang yang dengan cepat menangkap tubuhnya. Dan Untungnya juga ia mengarah ke tempatnya tadi, bukan kearah satunya yang sudah pasti akan membuatnya menyusul ibu dan juga neneknya.
Anindya tampak kaget saat melihat wajah orang yang menangkapnya. Itu adalah Adrian. Apa dia melihat semuanya? Betapa bodohnya dia karena melakukan hal yang nyaris membuatnya kehilangan nyawanya.
Namun, bukan itu saja yang dipikirkannya. Ini adalah pertama kalinya ia berada sedekat itu dengan Adrian. Bahkan bertatapan mata dengannya secara intens.
Adrian seperti biasa, dengan wajah datar tanpa ekspresi. Mereka seperti itu untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Apa kau sudah tidak waras. Jika ingin mati, jangan lakukan dirumah ini. Karena itu akan menyusahkanku." ucapnya sinis lalu menurunkan Anindya dari gendongannya.
Anindya seketika menjauh darinya. "A.. aku bukan ingin mati." bantahnya.
"Lalu apa yang sedang kau lakukan tadi? Bermain dengan nyawamu?"
"Aku tidak sedang bermain dengan nyawaku. Aku hanya sedang mencoba untuk memetik bintang." jawabnya jujur.
Adrian tersenyum sinis. "Aku rasa kau harus memeriksakan otakmu ke psikiater. Kau sudah tidak waras. Apa kau pikir itu bunga yang bisa kau petik sesuka hatimu." Gerutunya kesal.
"Tentu saja tidak. Aku pikir jika aku bisa memetik bintang, maka ibuku bisa kembali padaku." Anindya tampak sedih lalu menundukkan kepalanya.
"Kau pikir kau anak kecil." Adrian tampak tak tega ketika mendengar hal itu.
Anindya hanya diam. Tidak berkata apa-apa lagi.
"Huh! Sudah. Pergi ke kamar dan tidurlah. Bicaramu sudah melantur kemana-mana." perintahnya.
Anindya lalu pergi ke kamarnya dan menuruti perkataan suaminya itu. Sementara Adrian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena pusing melihat kelakuan istri kecilnya itu.
"Benar-benar sudah tidak waras!" gumamnya.
Ia lalu ikut masuk ke dalam, menyusul Anindya.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
Maaf baru bisa update. Kemarin udah nulis 2 bab. Tapi tiba-tiba kehapus. Jadi terpaksa nulis ulang dari awal. Cuma bisa setor 1 bab dulu ya.
Makasih buat para pembaca yang masih setia nungguin ceritanya. Terima kasih juga buat like, komen dan rare vote nya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1