
Seorang wanita cantik tampak berdiri di persimpangan jalan. Ia sepertinya sedang menunggu seseorang. Sedari tadi ia melihat kearah kananya.
"Anne!" seru seorang wanita melambaikan tangannya dari arah kanannya.
"Anindya!" sahutnya sambil ikut melambaikan tangannya juga.
Hari ini kebetulan Anne sedang libur. Jadi ia bisa mengajak Anindya untuk pergi jalan-jalan hari ini. Hari ini Anindya ingin sekali pergi ke taman hiburan. Sejak ibu dan ayahnya berpisah, ia tak pernah sekalipun pergi ke tempat seperti itu.
Tadinya ia ingin mengajak Sofia, namun sepertinya itu bukanlah tempat yang cocok untuk wanita seumurnya. Untung saja Anindya mau menemaninya.
"Ayo kita pergi! Kakek meminjamkan mobilnya padaku. Ayo!" ajaknya sambil menarik tangan wanita itu.
Mereka pun pergi diantar oleh supir. Karena Anindya tidak bisa membawa mobil.
Perjalanan hanya memakan waktu setengah jam jika ditempuh dengan mobil.
Sesampainya disana, Anindya seperti orang yang hilang kendali. Ia mencoba berbagai permainan yang ada di taman bermain itu. Ia merasa senang sekali hari ini. Apalagi suasana taman bermain itu minim pengunjung. Sehingga mereka tidak perlu terlalu lama mengantri untuk menaiki satu wahana. Mungkin dikarenakan hari ini bukanlah akhir pekan. Jadi tidak banyak pengunjung yang datang.
"Bagaiamana jika kita membeli ice cream. Sekalian beristirahat. Aku lelah sekali. " usul Anne setelah mereka mencoba beberapa wahana permainan disana.
"Aku juga merasa lelah. Ayo! Kita istirahat dulu."
Mereka berdua mencari stand yang menjual ice cream disana. Setelah mendapatkannya, mereka segera membelinya. Anindya membeli rasa vanilla, sementara Anne membeli rasa coklat.
Mereka berdua duduk di salah satu bangku yang tersedia di sekitarnya.
"Hah! Aku senang sekali hari ini. Rasanya sudah lama aku tidak merasa bebas seperti ini. Terima kasih ya, karena sudah mau menemaniku kesini. " ucap Anindya pada sahabatnya itu.
"Iya. Kau tidak perlu merasa sungkan seperti itu. Kita sama-sama perantau di kota ini. Sudah seharusnya kita berbagi suka dan duka bersama-sama, bukan?" sahut Anne sambil memakan ice cream nya. "Lagipula kau yang mentraktirku hari ini. Jadi aku tidak keberatan menemanimu seharian." candanya sambil terkekek.
"Tenang saja. Aku masih punya banyak uang untuk mentraktirmu hari ini." sahutnya.
"Wah! Apa tuan sombong itu memberikan banyak uang untukmu?" tanyanya penasaran.
"Tidak. Ini uang yang ku hasilkan sendiri." jawabnya.
"Oh ya! Darimana kau mendapatkan uang? Kau kan tidak bekerja. Apa kau mencuri? "tanyanya semakin penasaran.
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Apa kau pikir aku seberani itu." Anindya segera membantahnya.
"Lalu?"
"Ini uang yang ku hasilkan sendiri. Waktu itu, kan aku sempat bekerja di perusahaan tuan sombong itu." jelasnya.
"Iya, ya. Aku ingat. Ehm.. aku ingin bertanya sesuatu. Apa tuan sombong itu tidak memberikanmu uang? Bagaimanapun juga kau adalah istrinya. Apa dia tidak memberikanmu nafkah?" tanya Anne.
Anindya tampak terdiam sejenak. "Tentu saja dia memberikan uang untukku. Dia mengirim sejumlah uang ke rekeningku setiap bulannya. Dia bilang itu untuk keperluanku. Tapi, aku takut untuk menggunakannya."
"Kenapa? Itu kan memang untukmu. Jadi kenapa kau harus takut?"
"Iya aku tahu. Tapi, aku takut jika suatu hari nanti, dia akan menagihnya." jelas Anindya.
Anne terkekeh mendengarnya. "Dia itu punya banyak uang. Jadi tidak mungkin jika dia menagih uang yang sudah diberikan padamu. Kau ini terkadang terlalu polos." Anne tampak geram melihat sikap polos sahabatnya itu.
Bukan ditagih dalam bentuk uang. Melainkan hal lainnya. Batin Anindya.
"Sudahlah! Berhenti membahas tentang pria itu. Bicarakan yang lain saja. Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Anindya.
"Pekerjaan ku lancar-lancar saja. Aku mulai menikmati pekerjaanku. Setiap hari aku bertemu dengan banyak orang. Sedikit banyak, aku jadi bisa mempelajari karakter mereka. Aku jadi tahu bagaimana sifat asli seseorang saat mereka minum bersama teman-temannya." jelasnya.
"Tentu saja hal seperti itu pasti ada. Tapi, keamanan para pelayan terjamin disana. Jadi para tamu tidak bisa berbuat sesuka hati mereka disana. Jika ketahuan, maka para keamanan akan langsung turun tangan." jelas Anne.
"Oh ya! Baguslah jika seperti itu. Tapi, kau tetap saja harus waspada. Terkadang sesuatu tidak seperti kelihatannya." Anindya mewanti-wanti sahabatnya itu.
"Iya aku tahu. Aku akan menjaga diriku." sahut Anne sambil tersenyum.
Anin, jika saja kau tahu apa yang kudengar waktu itu. Aku tidak bisa membayangkan jika aku berada di posisimu saat itu. Aku harap kebahagiaan akan selalu berpihak padamu. Kau sudah cukup menderita. Anne menatap sahabatnya itu dengan tatapan sendu.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya.
"Tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa. Aku.. hanya tiba-tiba rindu pada ibuku." jelasnya mengalihkan pandangannya.
Anindya tiba-tiba ikut teringat pada ibu dan neneknya. Ia menjadi sedih. "Aku juga rindu pada ibu dan nenek!" ucapnya lirih sambil bersandar di bahu sahabatnya itu.
"Anin!" seru Anne lirih.
"Maaf! Aku jadi terbawa suasana. Seharusnya kita bersenang-senang hari ini. Sudah! Ayo kita main lagi. Aku hanya izin sampai sore hari. Aku harus pulang sebelum tuan sombong itu pulang." ucapnya kembali ceria.
__ADS_1
Mereka berdua melanjutkan acara mereka. Anindya benar-benar ingin bersenang-senang hari ini. Ia ingin melupakan pernikahan paksunya sejenak. Karena setelah kembali ke rumah besar itu, ia harus menjalankan perannya sebagai seorang istri yang baik di hadapan semua orang.
*
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Anindya dan Anne terlalu menikmati waktu mereka hingga tak sadar jika hari sudah sore. Sudah saatnya Anindya kembali ke rumah. Mereka pergi ke parkiran untuk menemui supir yang tadi mengantarkan mereka.
Setelah bertemu dengannya, mereka segera masuk kedalam mobil. Anindya meminta supir itu untuk terlebih dahulu mengantarkan Anne pulang ke rumah sewanya. Anindya juga ingin tahu dimana rumah sahabatnya itu. Karena jika sewaktu-waktu ia ingin pergi, ia tahu kemana tempat yang harus ditujunya.
"Terima kasih, ya karena sudah menemaniku seharian. Kapan-kapan jika ada waktu, aku bisa mengajakmu lagi, kan?" tanyanya setelah sampai ke rumah Anne.
"Tentu saja. Jika aku bisa, aku pasti akan menemanimu." jawabnya.
Anne lalu turun dari mobil itu setelah berpamitan dengan Anindya. Setelah memastikan Anne masuk ke rumahnya, mereka segera kembali ke rumah sebelum mendapatkan masalah nantinya.
Sesampainya dirumah, Anindya segera turun dari mobil itu. Ia mencari mobil sedan hitam yang biasa digunakan Adrian. Tapi sepertinya ia belum kembali kerumah.
"Untung saja dia belum kembali. " gumamnya lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
****************
*
*
*
*
*
*
*
Hai.. maaf ya karena telat up. Soalnya mau namatin cerita yang satunya dulu. Biar bisa fokus sama cerita yang ini. Kalian juga bisa mampir ke cerita satunya sambil nungguin up selanjutnya. Ceritanya saling berkaitan.
Terima kasih buat semua yang udah dukung ceritaku ini ya. Untuk like, komentar, vote dan rate yang udah kalian berikan. 🙏🙏🌹
Senang sekali rasanya 😘💕
__ADS_1