
Adrian tampak berbaring kembali di ranjang setelah Anindya meninggalkan kamar itu. Kepalanya terasa sakit. Ditambah lagi melihat ulah wanita itu yang mulai berani membantah perkataannya. Baru beberapa hari tidak melihatnya, ia sudah berani seperti itu.
Apakah itu memang sifat aslinya?
Ia kembali berusaha untuk memejamkan matanya. Sepertinya ia terlalu memforsir tenaganya beberapa hari belakangan ini. Ada permasalahan yang cukup rumit yang harus diselesaikannya di kantor. Ia tak bisa melepaskan masalah itu pada karyawannya begitu saja. Ini berkaitan dengan rencana pembangunan resort yang tiba-tiba saja harus dimajukan dari jadwal pembangunan yang telah ditentukan. Dan hal itu terjadi karena keputusan mendadaknya. Semua jadi tidak terkendali.
Sehingga akhirnya terpaksa rencana itu akan berjalan sesuai dengan rencana awal yang sudah mereka tetapkan. Namun, karena memikirkan tentang masalah itu, ia jadi lupa akan kesehatan dirinya sendiri. Ia akui jika hal ini adalah kesalahannya. Ia terlalu marah dengan pernikahan ini. Sehingga ia tidak bisa berpikir dengan akal sehatnya saat mengambil keputusan.
*
Anindya mengetuk pintu kamar beberapa kali sebelum ia memutuskan untuk masuk kedalam. Di tangannya membawa sebuah nampan berisi bubur, segelas air dan juga obat untuknya. Tadinya Sofia yang akan membawakannya untuk Adrian. Namun sepertinya Anindya ingin benar-benar berperan sebagai seorang istri yang baik kali ini. Sehingga ia yang membawakan makanan untuknya.
Karena tidak ada sahutan dari dalam kamar, Anindya langsung masuk tanpa mengetuk lagi.
Setelah masuk, Anindya tidak mendapati seorangpun di dalam kamar. Kemana dia?
Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Pria itu sedang mandi. Mungkin ia merasa tidak nyaman karena keringatnya.
Yah, semula Adrian ingin kembali tidur, tapi melihat sekujur tubuhnya yang basah karena keringat, ia jadi mengurungkan niatnya. Ia merasa tidak nyaman jika harus tidur dengan pakaian yang basah seperti itu. Lagi pula dia sudah merasa jauh lebih baik saat ini.
Anindya meletakkan nampan itu di atas meja. Pria itu pasti merasa lapar karena belum makan sedari pagi tadi.
Anindya segera keluar setelah urusannya selesai. Ia tak mau jika kehadirannya di ruangan itu malah membuat pria itu kehilangan selera makannya.
Tak berapa lama kemudian, Adrian keluar dari kamar mandi setelah beberapa menit Anindya keluar dari kamar. Ia masuk ke ruang ganti untuk mengambil pakaiannya. Setelah selesai berpakaian, ia keluar dari ruang tersebut. Ia melihat semangkuk bubur yang sudah tersedia di atas meja.
Karena merasa lapar, mau tak mau ia memakan bubur itu. Sebenarnya ia tak terlalu suka dengan makanan lunak tersebut karena teksturnya. Ia hanya memakan setengahnya saja karena merasa mual. Ia lalu meminum obat yang juga sudah tersedia di sana.
Apa wanita itu yang menyiapkannya. Dia benar-benar pandai berperan sebagai istriku.
Setelah selesai makan, ia keluar dari kamar. Ia ingin membicarakan sesuatu dengan Anindya. Ia mencarinya di sekitar rumah.
Hari sudah sore ternyata. Ia sudah terlalu lama tidur ternyata. Ia melihat kakeknya dan Anindya sedang bermain catur di dekat kolam renang. Pria itu segera mendekati mereka.
"Skak mat!" seru Anindya saat berhasil menghadang bidak raja pria baya itu.
"Ck! Kakek kalah lagi. Kau pasti bermain curang ya!" sahut Zein.
"Bagaimana mungkin Anin bermain curang. Kan kakek yang mengajarkan Anin bermain catur. Mengaku saja jika kakek kalah." ledeknya sambil tersenyum.
__ADS_1
Zein tampak menghela nafas. Ia melihat Adrian yang sedang berdiri di pintu sambil mengperhatikan mereka.
"Kau sudah sehat?" tanyanya.
"Sudah kakek." sahutnya.
"Baguslah! Sepertinya Anindya berbakat menjadi seorang perawat." ucap Zein sambil melihat wanita itu.
Anindya tersenyum pada pria baya itu.
Lihat senyumannya itu. Dia benar-benar bisa merebut hati kakek. batinnya kesal.
"Kau mau menggantikan kakek bermain catur. Kakek merasa sedikit lelah."
"Aku tidak berminat kakek. Aku kemari, karena aku ingin berbicara dengannya." ucapnya sambil menunjuk wanita itu.
"Oh.. baiklah! Anindya pergilah dengannya."
"Baik kakek!" sahutnya.
Adrian lalu mengajak Anindya masuk ke ruang kerjanya. Ia menyuruhnya duduk. Begitupun dengan dirinya.
"Apa yang ingin tuan bicarakan?" tanyanya penasaran.
"Apa ini tuan? " tanyanya bingung.
"Buka dan lihatlah sendiri." jawabnya semakin membuat Anindya bingung.
Kenapa tidak langsung bilang saja.
Anindya membuka amplop itu dan menemukan sebuah kartu sekaligus beberapa brosur tentang universitas.
"Apa maksudnya ini?"
"Kau tidak bisa membaca. Bukankah disitu sudah jelas tertulis."
"Tentu saja aku bisa membaca. Maksudku kenapa tuan tiba-tiba memberikan ini padaku?" tanyanya semakin bingung.
"Kau lulusan Sekolah Menengah Atas, kan?" tanya Adrian balik.
__ADS_1
"Iya! Lalu? "
"Kau bisa mulai mencari Universitas yang sekiranya sesuai dengannmu. Aku akan membiayai semuanya. Aku tidak mau jika kau menyia-nyiakan masa mudamu begitu saja. Anggap saja itu sebagai kompensasi yang kuberikan padamu sebagai istriku. Dan kartu itu untuk keperluanmu. Aku akan mengisinya setiap bulan. Pakailah untuk membeli apapun yang kau inginkan." jelasnya.
"Apa! Tu... tunggu dulu tuan! Kenapa kau tiba-tiba melakukan ini untukku. Aku tidak ingin kuliah. Dan aku juga tidak perlu kartu ini. Lagipula kebutuhanku sudah terpenuhi dirumah ini. Jadi simpan saja semuanya." jelasnya sambil memberikan amplop itu kembali pada Adrian.
Adrian tersenyum sinis. "Jangan munafik. Aku tahu kau ingin sekali melanjutkan pendidukanmu. Kau juga butuh uang untuk peganganmu. Jadi ambillah! Karena aku tidak suka mengambil kembali apa yang sudah aku berikan." ucapnya ketus.
"Aku tidak membutuhkannya, tuan. Ambillah kembali." tolaknya.
Ia tertawa sinis. "Baiklah! Jika kau tidak ingin kuliah, aku tidak akan memaksamu. Tapi ambillah kartu ini. Karena ini adalah hak mu." ucapnya sambil memberikan kartu itu kembali pada Anindya.
"Tapi aku tidak membutuhkannya."
"Itu terserah padamu. Aku tidak perduli apa kau membutuhkannya atau tidak. Yang terpenting adalah aku sudah memberikan hak mu padamu." jelas Adrian.
Anindya tampak berpikir. Ia ragu untuk menerima kartu itu.
"Ambil dan pergi dari sini. Aku masih harus melakukan pekerjaanku."
Akhirnya Anindya terpaksa membawa kartu itu bersamanya. Sekalipun ia tak akan pernah menggunakannya. Ia akan mengembalikannya saat mereka bercerai nanti.
Anindya segera keluar dari ruangan itu. Setelah melihatnya pergi, Adrian tampak tersenyum sinis.
Dasar wanita munafik. Aku akan lihat sejauh apa permainanmu. Kau mungkin bisa mengelabui kakek, tapi tidak dengan ku.
****************
*
*
*
*
*
*
__ADS_1