My Dearest Wife

My Dearest Wife
Aku akan menunggumu.


__ADS_3


Tanpa terasa kehamilan Anindya sudah memasuki usia tiga bulan. Anindya tampak lebih baik kini. Ia hanya muntah di pagi hari. Setelah itu ia bisa makan dengan baik. Adrian juga sudah mulai kembali ke kantor seperti biasanya.


Anindya terbangun ketika merasa geli di bagian perutnya. Ternyata Adrian sedang mencium perutnya yang tampak mulai membuncit untuk menyapa bayinya.


Pria itu selalu melakukannya ketika bangun tidur.



"Anakku sayang! Jangan merepotkan ibu mu,ya! Makanlah semua makanan yang di makan ibu mu. Jangan memuntahkannya kembali. Apa kau dengar?" Ia berbicara di atas perutnya.


Anindya tersenyum ketika mendengar perkataannya.


"Dia tidak merepotkan ku sayang! Jangan bicara seperti itu. Nanti dia bisa sedih."


"Baiklah! Maafkan ayah, ya. Tumbuhlah dengan sehat di perut ibu mu. Ayah sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu." ucapnya lagi lalu mencium perutnya juga mencium bibir istrinya.


"Kau ingin anak perempuan atau laki-laki?" tanya Anindya.


"Apa saja. Mau laki-laki atau perempuan sama saja. Yang terpenting ia lahir dengan selamat dan sehat. Terapi jika memang bisa, aku ingin anak pertama kita adalah laki-laki." jelasnya.


"Iya. Semoga Tuhan mendengar harapan mu." Anindya tersenyum lebar.


****************


"Dimana pria itu?" tanya seorang wanita yang tengah duduk di. pinggir trotoar.


Ia tampak kesal. Sudah hampir satu jam lamanya ia menunggu di sana seperti orang bodoh.


Wanita itu tak lain adalah Anne. Siang ini ia ada janji dengan Arkan. Pria itu hendak mengajaknya pergi untuk makan siang bersama.


Arkan bahkan sudah meminta izin untuk mengajaknya pada kakeknya.


Entahlah! Akhir-akhir ini mereka tampak dekat. Arkan sepertinya mulai menunjukkan perasaannya dengan jelas pada Anne. Ia bahkan pernah mengutarakan perasaannya pada Anne.


Namun sepertinya Anne masih belum yakin dengan perasaannya sendiri. Ia masih merasa ragu.


Tadinya ia ingin menjaga jarak dengan Arkan. Tetapi sepertinya pria itu malah semakin mencari cara untuk selalu dekat dengannya.


Anne tentu sangat sadar akan dirinya yang tidak setara dengan Arkan. Walaupun mungkin pria itu tak pernah memperdulikan hal itu sama sekali.


"Ck! Dimana dia? Ini kali keempat ia mengajakku jalan. Tetapi dia tak pernah tepat waktu. Dan aku dengan bodohnya selalu menunggu dia datang. Apa yang salah dengan otakku?" gerutunya sepanjang waktu.


Akhirnya sebuah mobil berhenti di depannya. Mobil sedan mewah berwarna silver yang tentunya sangat dikenalinya.


Itu Mobil Arkan. Pria itu turun dari mobil menghampiri Anne yang tampak sangat kesal. Ia terlihat menekuk wajahnya.


"Maaf! Ada pasien darurat yang harus ku tangani tadi." Anne langsung menyela Arkan yang hendak memberi penjelasan padanya.


Anne cukup hapal dengan alasan Arkan yang selalu sama jika datang terlambat.


Arkan hanya bisa tersenyum masam menghadapi Anne yang kini sangat kesal.


"Maaf!" pinta Arkan.


"Jika kau sibuk kenapa memaksa untuk pergi denganku?" tanya Anne.

__ADS_1


"Karena aku ingin punya banyak waktu berdua denganmu." jawabnya sambil tersenyum lebar.


"A-Apa!! " Anne tampak salah tingkah.


Ia tak tahu harus marah atau merasa senang. Pria ini selalu saja bisa membuat seseorang sulit marah padanya.


"Baiklah! Ki-kita mau pergi kemana hari ini?" tanya Anne.


"Tentu saja makan siang bersama. Ayo!" pria itu menarik tangan Anne, menuntunnya hingga ke mobil.


Ia selalu bersikap gentle dengan membukakan pintu untuk Anne. Dan hal itu membuat Anne sulit untuk mengabaikannya.


****************



"Pesankan makanan untukku!" pinta Arkan.


Saat itu mereka ada di sebuah cafetaria.


"Baiklah!"


Anne memesan dua porsi nasi komplit kepada pelayan.Pelayan segera pergi begitu selesai mencatat pesanan mereka.


Arkan sedari tadi hanya memperhatikan Anne sambil tersenyum. Ia terlihat seperti remaja yang sedang kasmaran.


"Kenapa kau terus menatapku? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Anne ketika menyadari hal itu.


"Aku hanya sedang berpikir kapan kau mau ku nikahi." jawabnya.


"Kau sudah tahu alasanku, kan? Aku ingin lulus kuliah dan meniti karir ku. Aku ingin membuat ibu ku bahagia terlebih dahulu. Baru setelah itu aku berpikir tentang menikah. " jelas Anne.


Anne terdiam.


"Iya, aku tahu! Tetapi aku hanya ingin meraih impian ku. Lagipula hubungan kita ini palsu. Kau bisa bebas mencari wanita lain yang ingin kau nikahi. Tidak perlu memikirkan reaksi ibu nanti jika dia tahu bahwa kita membohonginya. "jelas Anne.


Arkan tersenyum kecil. " Tetapi apa kau tahu, aku tidak pernah menganggap jika hubungan ini palsu. Bagaimana jika aku benar-benar ingin menikahi mu? Apa kau keberatan?" tanya Arkan tampak serius.


"Jangan bercanda, Arkan! Itu tidak lucu." seru Anne.


"Apa aku terlihat sedang bercanda?"


Anne terdiam lagi. Ia tampak memperhatikan raut wajah Arkan yang terlihat serius.


"Aku serius ingin menikahi mu. Jika kau bersedia, hari ini juga kita bisa menikah." ucap Arkan.


"H-hari ini! Jangan menggampangkan sebuah pernikahan. Kau tidak bisa seenaknya seperti itu."


"Aku tidak pernah menggampangkan pernikahan. Aku hanya ingin menunjukkan keseriusanku."


Anne terdiam. Ia tak bisa berkata-kata. Pembicaraan mereka terhenti karena pelayan datang. Ia meletakkan pesanan mereka di atas meja. Setelah itu ia pergi.


Arkan meminta Anne untuk memakan makanannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembicaraan mereka.


Tetapi wanita itu tak menyentuh makanannya. Ia masih penasaran akan satu hal.


"Kenapa? Kenapa kau ingin menikah dengan ku?" tanya Anne.

__ADS_1


"Karena aku menyukaimu. Aku rasa kau sudah menyadari hal itu sejak awal, bukan? Aku bahkan sama sekali tidak pernah menyembunyikan perasaan ku padamu. Aku menunjukkannya dengan jelas padamu."


Anne terdiam lagi. Ia mungkin sudah bisa menebaknya, tetapi hatinya sendiri berulangkali menyangkal hal itu.


Arkan menggenggam kedua tangan Anne.


"Kau tak perlu menjawabnya sekarang. Aku memberikan banyak waktu untukmu. Kau pernah bilang jika kau ingin menikah di usia tiga puluh tahun, bukan? Maka itu yang akan terjadi. Aku akan menunggu hingga kau bersedia menikah dengan ku, Anne!" ucap Arkan bersungguh-sungguh.


"Menunggu? Tetapi hati seseorang bisa berubah, kan? Kau mungkin bisa menyukai wanita lain. Aku mungkin juga akan begitu. Lalu bagaimana kau akan menyikapi hal itu seandainya itu terjadi?" tanya Anne.


"Aku bisa menjamin jika perasaanku tidak akan berubah kepadamu. Aku benar-benar mencintai mu. Aku bukan tipe pria yang bisa begitu saja memalingkan hatiku untuk wanita lain. Kau bisa memegang perkataan ku. " ucapnya yakin.


"Lalu bagaimana jika aku yang berpaling? Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya lagi.


"Maka aku akan membuatmu terlena hingga kau tak bisa memperhatikan pria lainnya selain aku." Arkan tampak serius.


Anne terdiam lagi.


"Apa kau masih belum yakin?" tanya Arkan.


"Aku... aku tidak bisa menjawab sekarang. Aku harus memikirkannya." jawab Anne.


"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, aku akan menunggumu. Selama apapun itu. "


****************


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕


__ADS_1



__ADS_2