
Setelah Zein merasa puas dengan gaun pengantinnya, mereka pergi ke toko perhiasan langganan mereka untuk membelikan cincin pernikahan untuk Adrian dan Anindya.
Zein sebelumnya merasa kesal pada Adrian karena pria itu tiba-tiba saja pergi keluar kota untuk meninjau proyeknya. Ditambah lagi ia hanya bisa menghubungi Romi karena Adrian tidak juga menjawab telponnya setelah beberapa kali pria baya itu mencoba untuk meneleponnya.
Romi akhirnya terkena imbas dari perbuatan atasannya itu. Zein memarahinya habis-habisan dan memaksanya untuk mengingatkan Adrian akan pernikahannya yang akan diselenggarakan dua minggu lagi. Bagaimanapun caranya, pria itu harus hadir tepat pada waktunya tidak perduli jika ia harus diseret sekalipun.
Romi mengiyakan permintaan tuan besarnya itu dengan pasrah. Apa yang di cemaskannya akhirnya terjadi juga.
*
Mobil sedan hitam itu berhenti di sebuah toko perhiasan yang menjadi langganan keluarga mereka sejak dulu. Anindya tampak cemas karena sudah pasti harga perhiasan di toko itu tidaklah murah. Mengingat bagaimana keluarga itu begitu royal jika mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu. Mereka tidak memperdulikan harganya terlebih dahulu. Anindya tentu ingin sekali menolak. Tetapi Zein sudah lebih dulu mengultimatum dirinya jika ia tidak boleh membantah sedikitpun.
Akhirnya ia lagi-lagi hanya bisa pasrah menerima semua pemberian pria baya itu padanya.
Zein mulai melihat desain-desain perhiasan yang ditawarkan oleh pemilik toko. Semua perhiasan itu terbuat dari berlian yang sudah bisa dipastikan jika harganya pasti berkisar puluhan juta keatas.
Apa dia benar-benar harus memilikinya? Sementara pernikahannya nanti hanya akan bertahan selama satu tahun saja. Ia bisa mengembalikannya saat ia berpisah nanti dengan Adrian.
Setelah memilih desain perhiasan yang diinginkannya, Zein, Anindya dan juga Sofia memutuskan untuk pulang karena Zein sudah merasa kelelahan setelah seharian mengunjunginya beberapa tempat.
"Kakek! Apakah aku boleh mengundang temanku untuk menjadi pendampingku nanti?" tanya Anindya begitu mereka sudah berada di dalam mobil.
"Tentu saja sayang. Kau boleh mengundang temanmu. Kakek juga akan membawa Sari beserta keluarganya ke acara pernikahanmu nanti. Mereka pasti senang bisa bertemu denganmu lagi." jelas Zein.
"Benarkah kakek?" Tanyanya tak percaya.
"Tentu saja, sayang. Keluargamu harus hadir saat penikahammu." ucap Zein sambil mengusap kepalanya dengan lembut.
"Terima kasih, kakek!" ucap Anindya sambil tersenyum.
*************
__ADS_1
Tak terasa dua minggu berlalu begitu saja. Tibalah saat yang dinantikan oleh keluarga Wiguna. Pernikahan cucu tertuanya. Pemilik Wiguna grup. Pernikahan itu akan diadakan di ballroom sebuah hotel bintang lima terbesar di kota ini. Segala persiapan tengah dilakukan sedari dini hari tadi. Zein tidak ingin melihat sedikit kesalahanpun terjadi hari ini.
Namun, disaat semua orang sedang sibuk melakukan persiapan termasuk pengantin wanita, pengantin pria belum terlihat juga sedari dua minggu yang lalu. Pria itu masih belum kembali ke kota ini.
Zein benar-benar dibuat pusing oleh pria itu. Ia bahkan sudah menghubunginya sejak kemarin, namun pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal acara akan diadakan beberapa jam lagi. Zein cemas jika Adrian tiba-tiba berubah pikiran dan lari dari pernikahannya.
Sofia sudah mewanti-wanti pria baya itu agar tidak terlalu stres memikirkan Adrian.
"Tuan harus tenang. Saya yakin tuan muda pasti akan menepati janjinya. Tentu tuan tahu pasti akan hal itu. Dia pasti datang tuan!" Sofia tampak meyakinkan pria itu agar tidak berpikir yang tidak-tidak.
Sofia mencemaskannya karena kondisinya yang sempat memburuk beberapa minggu yang lalu.
"Baiklah! Aku tahu ia pasti tidak akan mengingkari janjinya." ucap Zein yakin.
"Pergilah! Temui Anindya! Wanita itu pasti sangat gugup saat ini. Ia butuh banyak dukungan untuk menguatkannya." perintah Zein pada Sofia.
"Anda yakin tidak ingin ditemani tuan?" tanyanya memastikan sebelum ia pergi.
Sofia meninggalkan Zein di sana. Namun ia terlebih dahulu meminta seorang pengawal untuk berjaga di sana sambil memperhatikan kondisi Zein.
**************
Waktu terasa cepat sekali berlalu. Anindya merasa sangat gugup. Terlepas pernikahan ini terjadi karena perjanjian ataupun tidak, baginya ini adalah saat yang penting baginya.
Untungnya Sari dan Ayu yang sudah tiba sedari kemarin, menemaninya saat ini. Mereka dengan setia menunggunya di kamar hotel yang sudah disulap menjadi ruang ganti untuknya. Begitu juga dengan Anne, sahabatnya. Ia sudah merias diri dan memakai gaun panjang berwarna peach.
Kini Anindya sedang dirias oleh penata rias profesional yang di pilih langsung oleh Zein. Anindya masih terlihat memakai kimono berbahan satin sebelum menggunakan gaun pernikahannya.
Beberapa saat kemudian, Sofia masuk ke ruangan itu untuk melihat persiapan Anindya.
"Kau terlihat sangat cantik hari ini. Pasti kau akan menjadi pusat perhatian di pesta nanti." puji Sofia begitu melihatnya.
__ADS_1
Anindya hanya tersenyum menanggapi pujiannya.
"Tentu saja bibi, sahabatku ini harus menjadi pusat perhatian karena ini hari pernikahannya." timpal Anne.
Sari juga tak ketinggalan memberikan pujian pada wanita yang sudah dianggapnya putri kandung sendiri.
"Ibu dan nenekmu pasti akan merasa senang melihatmu menikah, sayang!" ucap Sari sambil mencium keningnya.
"Anin juga berharap seperti itu, bu!" ucap Anindya.
Sejujurnya, ia tak ingin ibu dan neneknya bahagia hari ini, karena pernikahan ini hanyalah kebohongan semata. Ini hanyalah sebuah kesepakatan antara dirinya dengan Adrian. Jadi ia sama sekali tak mengharapkan kebahagiaan seperti itu dari orang-orang terdekatnya.
Namun, setelah ini ia harus menguatkan hatinya untuk memulai hidup bersama pria itu. Yah, inilah jalan takdirnya.
**************
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1