My Dearest Wife

My Dearest Wife
Tidak keberatan


__ADS_3

"Adrian! Kemarin kau kemana saja? Apa kau tahu jika kau sudah mempermalukan keluargamu. Terutama Anindya. Apa kau tidak tahu betapa malunya dia kemarin? Semua orang membicarakannya. Menganggapnya sebagai pengantin yang tak diinginkan. Pernahkah kau memikirkan hal itu?" Keluh Zein saat mereka tiba di rumah.


Saat itu Zein menyuruh Adrian untuk mengikutinya kedalam kamarnya agar pembicaraan mereka tidak didengarkan oleh orang lain terutama Anindya.


"Aku merasa bosan kakek. Kakek kan tahu jika aku tidak terlalu suka berada di pesta membosankan seperti itu." bantahnya.


"Sekalipun kau merasa bosan. Tidak seharusnya kau meninggalkan Anindya seorang diri disana. Kau bisa kan menunggu hingga pesta itu selesai. Apa kau tidak punya perasaan?"


"Sudahlah kakek! Lagipula pesta itu sudah berakhir. Wanita itu juga tidak mengatakan apapun padaku. Jadi lupakan saja kakek. " jawabnya dengan santai.


"Wanita itu punya nama. Anindya! Jangan lupa jika kini dia sudah menjadi istrimu." sahut Zein mengingatkan.


"Aku tidak lupa kakek. Sudah, ya! Aku masih ada pekerjaan. Kakek istirahatlah! Sepertinya kakek kelelahan. Aku akan pergi ke ruang kerjaku dulu." pamitnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Tunggu dulu! Mulai malam ini hingga seterusnya, Anindya akan tidur di kamarmu. Bagaimanapun kini ia adalah istrimu." ucapnya pada Adrian sebelum ia pergi.


Adrian tampak menghela nafas. "Aku sudah katakan pada kakek sebelumnya jika kakek bisa melakukan apapun yang kakek inginkan. Aku tidak akan membantahnya." Adrian lalu keluar dari kamar itu.


"Dasar anak itu!" gerutunya kesal.


Kakek akan melakukan apapun untuk mendekatkan kalian. Sekalipun kakek harus mendekatkan kalian secara paksa.


*


Di luar kamar pria itu berpapasan dengan Anindya . Wanita itu membawa sebuah nampan yang berisikan obat dan cemilan. Adrian hanya melewatinya begitu saja tanpa menyapanya. Sepertinya Anindya tidak memperdulikan hal itu. Bukankah hal itu sudah biasa untuknya. Sebelum menikahpun, pria itu selalu mengacuhkannya jika tidak ada perlunya.


Anindya masuk ke dalam kamar Zein setelah mendapat izin dari pria baya itu.


Dia memang pandai mengambil hati kakekku. Tapi itu tak akan berlaku untukku. Batinnya.


****************


Beberapa hari berlalu sejak hari pernikahan mereka. Emma dan Clarissa sudah kembali ke Jerman kemarin. Begitupun dengan Sari dan keluarganya. Mereka sudah lebih dulu kembali ke kampung halamannya.


Rutinitas dirumah besar kembali seperti semula. Yang berbeda hanyalah status Anindya yang telah berubah menjadi nyonya muda keluarga itu. Setidaknya itu yang mereka lihat dari luar.


Karena yang sebenarnya terjadi, Adrian tak pernah menganggap Anindya sebagai istrinya. Anindya memang tidur dikamarnya setiap malam. Namun tidak dengan pria itu. Ia selalu tidur di ruang kerjanya, atau terkadang dia sengaja tidak pulang kerumah.


Rasanya menyedihkan, bukan. Namun lagi-lagi Anindya mengabaikan hal itu. Ia malah senang karena ia tak perlu selalu melihat tampang dingin dan arogannya itu setiap saat. Apalagi berpikir untuk tidur satu ranjang dengannya setiap malam. Itu benar-benar menggelikan.


Semenjak Anindya tidur dikamarnya, Adrian memang tidak pernah menginjakkan kakinya di kamar itu. Ia selalu meminta ibu Sofia atau pelayan yang lain untuk mengambilkan pakaiannya. Sepertinya ia juga ingin menjaga jarak dari Anindya selama pernikahan mereka.


Seperti yang terjadi pagi ini. Ia meminta Sofia untuk mengambilkan pakaiannya.


"Apa kau baik-baik saja jika seperti ini?" tanya Sofia begitu Anindya memberikan pakaian Adrian padanya.

__ADS_1


"Maksud ibu?" tanyanya balik.


"Maksud ibu dengan keadaan pernikahan yang seperti ini. Kau dimana dan dia dimana. Apa kau tidak keberatan dengan semua ini?"


"Aku sama sekali tidak keberatan, bu. Dia bebas melakukan apapun yang dia inginkan, begitu juga denganku. Kami berdua memang terikat secara negara dan agama. Tetapi tidak dengan hati kami. Menyatukan dua hati yang tak sejalan itu sangat sulit. Dan aku rasa itu tidak akan pernah terjadi diantara kami. Jadi aku merasa tidak keberatan sekalipun dia mengabaikanku." jelasnya.


"Kau yakin?" tanyanya memastikan.


"Iya. Aku sangat yakin." jawabnya yakin.


****************


"Sepertinya tidak ada perkembangan didalam hubungan mereka, tuan. Keduanya masih biasa saja. Tuan muda juga tidak pernah tidur dikamarnya semenjak Anindya pindah kesana." jelas Sofia saat Zein menanyakan tentang perkembangan hubungan kedua cucunya.


Zein tampak menghela nafasnya. "Biarkan saja dulu seperti itu. Mereka masih butuh waktu untuk saling beradaptasi. Seiring berjalannya waktu, rasa itu pasti akan perlahan tumbuh dihati mereka." ucap Zein.


"Semoga saja tuan." ucap Sofia.


"Di mana Anindya sekarang?"


"Ehm.. sepertinya dia ada dihalaman belakang. Mungkin dia sedang menyiram tanaman. Apa perlu saya panggilkan, tuan?"


"Jangan! Tidak perlu. Aku akan pergi kesana untuk melihatnya."


Benar apa yang dikatakan Sofia, wanita itu sedang menyirami bunga di kebunnya. Kebun bunga itu didominasi oleh mawar putih, bunga kesukaannya dan juga mendiang ibunya.


Zein sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Ia membiarkan Anindya melakukan apapun yang disukainya di rumah ini.


Zein lalu menghampirinya dan menyapanya.


"Kau tampak senang pagi ini?" tanyanya.


"Kakek!" sapanya. "Bukankah Anin selalu seperti ini setiap harinya?"


Zein tampak tersenyum. "Kau sangat pintar merawat tanaman. Kebun ini jadi terlihat indah dan segar."


"Terima kasih kakek. Tapi Anin tidak sepintar itu. Anin hanya tahu sedikit tentang merawat tanaman." bantahnya.


Zein tersenyum menanggapi perkataannya. Ia lalu melihat-lihat segala jenis tanaman yang sudah ditanam oleh wanita itu. Ia tiba-tiba teringat sesuatu.


"Ehm... Anindya!" panggilnya.


"Iya kakek!" sahutnya.


"Kau lulusan Sekolah Menengah Atas, kan?" tanyanya memastikan.

__ADS_1


"Iya. Kenapa, kek?"


"Apa kau tidak ingin melanjutkan ke perguruan tinggi? Kakek rasa akan sangat disayangkan jika kau hanya berhenti di Sekolah Menengah Atas saja." ucapnya sambil memberi usul.


"Ehm.. sepertinya tidak perlu, kek!" tolaknya.


"Kenapa?" tanyanya penasaran.


Aku tidak ingin lebih tergantung pada keluarga ini nantinya.


"Tidak kenapa-kenapa kek. Anin hanya belum kepikiran untuk melanjutkan kuliah. Mungkin nanti saja kek." "setelah aku berpisah dengannya."


"Baiklah! Kakek tidak bisa memaksa jika kau tidak mau. Tapi pikirkanlah terlebih dahulu. Kau sangat pintar dan cepat belajar. Rasanya akan sia-sia jika kau tidak ingin melanjutkan pendidikanmu." ucap Zein.


"Iya kakek. Anin akan memikirkannya nanti." sahut Anindya.


Sejujurnya ia ingin sekali melanjutkan pendidikannya. Namun, ia tak ingin merepotkan orang lain untuk membiayai pendidikannya. Seandainya saja ia masih bekerja di perusahaan itu, mungkin ia bisa menabung untuk biaya kuliahnya nanti. Sayang sekali karena ia harus resign. Ia sama sekali tidak punya pemasukan sejak tinggal di rumah ini. Semua kebutuhannya sudah disediakan oleh Sofia.


Untungnya kemarin ia masih menerima gaji pertamanya saat sebulan bekerja di perusahaan. Hanya itu saja yang ia miliki saat ini. Bagaimanapun juga, ia harus punya pegangan uang saat keluar dari rumah ini.


****************


*


*


*


*


*


*


*


Terima kasih kepada para pembaca yang sudah mendukung karyaku ini ya. Semoga kalian tetap suka sama jalan ceritanya ya.


Jangan lupa untuk tetap like, komen, vote dan ratenya setelah habis baca. Boleh kritik dan saran juga. 😆🙏


Untuk saat ini, tetap pakai masker, selalu mencuci tangan dan jaga jarak jika berpergian ya. Stay save ❤



__ADS_1


__ADS_2