My Dearest Wife

My Dearest Wife
Kemarahan Adrian


__ADS_3

"Rumor apa?" tanya Arkan ketika Anne mulai menceritakan kejadian kalau itu.


Saat itu mereka sedang duduk di kursi yang ada di taman belakang hotel.


"Kau mungkin sudah mendengar bagaimana kisah hidup Anindya ketika ia kecil."


Arkan mengangguk. Ia memang sudah mendengar cerita itu dari kakeknya. Nasib kakak iparnya itu hampir sama dengannya. Walaupun nasibnya jauh lebih beruntung darinya.


"Saat itu orang-orang mulai berpikiran buruk tentangnya juga ibunya. Karena ia tak punya ayah, mereka jadi menduga-duga bahwa Anindya terlahir dari hubungan terlarang. Atau mungkin ibunya itu simpanan seseorang. Ada banyak rumor tentang mereka. Kau tahu bagaimana mulut seseorang jika sudah termakan rumor. Semua menjadi tidak terkendali. Mereka bahkan hampir di usir dari desa karena masalah itu. Namun ketika ibunya meninggal, rumor itu seakan ikut menghilang. Mungkin karena rasa iba mereka kepada Anindya." Anne tampak menghela nafas. Ia sebenarnya tak sanggup untuk menceritakannya.


"Bimo kebetulan juga tinggal tak jauh dari rumah Anindya. Ia pernah mendengar rumor itu dari orangtuanya. Lalu ketika tahu bahwa Anindya juga bersekolah di sekolah yang sama dengannya, ia kembali menyebarkan rumor itu di sekolah. Kau mungkin bisa menebak apa yang terjadi setelah itu. Semua orang mulai menjauhi Anindya. Ia dikucilkan oleh semua siswa. Mereka bahkan mengejeknya sebagai.... anak haram." Anne tak sanggup menyebut kata itu.


"Lalu?" tanya Arkan.


"Semua wali siswa meminta agar Anindya dikeluarkan dari sekolah. Mereka beralasan jika Anindya bisa membawa pengaruh buruk untuk anak-anak mereka. Termasuk orang tuaku. Namun pihak sekolah masih berbaik hati padanya. Anindya masih diberi kesempatan untuk bersekolah karena ia salah satu murid yang berprestasi."


"Apa kau juga menjauhinya?" tanya Arkan.


"Awalnya ibu ku juga memintaku agar menjauhinya. Namun aku tidak melakukannya. Aku berteman dengan Anindya karena aku memang ingin berteman dengannya. Bukan karena orangtuanya atau hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Anindya itu gadis yang baik. Ia selalu bekerja keras agar tetap bisa melanjutkan sekolahnya. Ia tak pernah perduli dengan perkataan buruk tentang dirinya. Baginya asalkan bisa melanjutkan sekolah dan melihat neneknya bahagia, itu sudah cukup baginya. Bahkan nenek Kirana juga tidak mengetahui apa yang terjadi padanya di sekolah. Ia menutup rapat masalah itu dan menyimpannya seorang diri. Dia pernah putus asa dan berniat untuk mengakhiri hidupnya, namun ia tidak melakukan itu karena neneknya. Dia berpikir jika ia tak ada nanti, apa yang akan terjadi pada neneknya? Ia bertahan sekuat tenaganya. Hingga akhirnya ia bisa lulus sekolah dengan nilai terbaik." Tanpa sadar Anne meneteskan air matanya.


"Aku tak sanggup membicarakannya lagi. Aku rasa cukup." Anne menghapus air mata yang mulai membasahi wajahnya.


Mereka terdiam sesaat.


"Apa menurutmu dia bisa hidup bahagia bersama kakakmu?" tanya Anne kemudian.


"Entahlah! Hanya mereka yang bisa menjawabnya. Apa yang kita pikirkan belum tentu sama dengan apa yang mereka pikirkan. Semua orang memiliki caranya masing-masing untuk merasa bahagia, bukan? Yang bisa kita lakukan hanya mendoakan mereka agar mereka bisa bahagia." Jawab Arkan.


"Iya. Kau benar. Aku harap dia tidak bertemu dengan pria itu." ucap Anne.


****************


"Ternyata memang benar kau, si anak haram." ucap Bimo setelah memastikan bahwa wanita di hadapannya itu adalah Anindya.


Anindya yang tampak kaget, berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia berharap jika tak ada seorangpun yang mendengar ucapan pria itu tentang dirinya.


Anindya lalu mengabaikannya. Pura-pura tidak mengenalnya. Ia mengambil makanan dengan cepat tanpa melihatnya.


"Ternyata jika di rawat dengan baik, kau terlihat lumayan juga. Pakaian mu pun terlihat mahal. Apa kau menjadi simpanan pria kaya sekarang?" tanyanya dengan nada menyindir.


Tenang Anindya! Kau tidak boleh terpancing dengan kata-katanya. Itu hanya akan memancing keributan. Batinnya.


Anindya tak menghiraukannya. Ia memilih untuk segera pergi dari sana. Namun ketika hendak pergi, pria itu malah menariknya dan membuat piring ditangannya jatuh hingga menimbulkan bunyi yang keras. Beberapa orang tampak mengalihkan perhatian mereka padanya.


"Kenapa kau pergi? Apa ingin menghindari ku?" tanyanya.

__ADS_1


"Lepaskan aku! Apa yang kau inginkan sebenarnya?" tanya Anindya balik.


"Aku tidak ingin apa-apa darimu. Aku hanya tidak suka jika wanita sepertimu bisa hidup dengan bahagia. Kau tidak pantas berada di sini. Kau bisa membawa pengaruh buruk untuk orang lain. Apa kau tahu itu?" ia mencibirnya. "Kau tidak lupa kan jika kau adalah seorang anak haram." lanjutnya.


Anindya mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia berusaha menahan amarahnya.


"Sudah cukup Bimo. Memangnya apa salahku padamu, kenapa kau mempermalukan ku seperti ini?"


"Kau memang tidak punya salah kepadaku. Tapi aku tidak suka jika orang sepertimu mengotori tempat ini. Lihatlah dirimu! Aku yakin jika kau kini menjadi wanita simpanan seseorang. Entah pria bodoh mana yang sudah terpikat olehmu. Bisa-bisanya dia menerima seorang anak haram menjadi simpanannya. Aku rasa dia sangat bodoh." ucap Bimo.


"Aku bukan anak haram!" serunya kesal.


"Jika kau bukan anak haram, lalu dimana ayahmu? Kau bahkan tidak memiliki akta lahir. Lalu apa yang bisa membuktikan jika kau bukan anak haram. Aku yakin ibumu pun tidak akan bisa membuktikannya. Atau mungkin dia juga tak tahu siapa ayahmu karena begitu banyak pria yang tidur dengannya."


Sebuah tamparan langsung membekas di pipi Bimo.


"Aku bisa menerima semua penghinaan yang kau tuduhkan padaku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menghina ibuku dengan seenaknya. Aku tidak terima. Ibuku bukan wanita seperti itu. Kau tidak tahu apapun tentang ku. Jadi jangan beranggapan jika dirimu tahu segalanya." bentaknya.


Ia tak bisa menahan amarahnya lagi. Sudah cukup semua penghinaan terhadapnya selama ini. Apalagi jika itu menyangkut ibunya, maka ia tidak akan tinggal diam. Ia tak perduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya.


"Kau berani menamparku!" ancamnya sambil mengangkat tangannya, hendak membalas tamparan Anindya.


Namun tiba-tiba saja pria itu jatuh tersungkur di hadapannya. Seseorang menendangnya dari belakang. Anindya melihat orang itu, dia adalah Adrian, suaminya.


"Adrian!" seru Anindya.


"Tu.... tuan Adrian!" seru Bimo. Wajahnya seketika memucat.


Adrian menarik kerah baju pria itu dengan kasar hingga membuat pria itu terpaksa memandangnya. Terlihat jelas amarah yang memuncak di wajahnya.


Kakek Zein dan yang lainnya juga berada di sana karena mendengar keributan. Ibu Sofia segera menghampiri Anindya dan merangkul pundaknya untuk menenangkannya.


"Katakan sekali lagi padaku, kau menyebutnya apa?" bentak Adrian dengan kasar.


"Tuan Adrian! Kenapa kau tiba-tiba marah padaku? Memangnya apa salahku padamu?" tanya Bimo takut.


"Salahmu karena sudah membuatnya marah. Apa kau tidak tahu jika dia adalah istriku?" ucapnya.


"A... apa!! Anak haram itu istrimu!" serunya tak percaya.


Adrian melayangkan satu pukulan ke wajahnya karena kembali mengatakan kata-kata itu di hadapannya.


"Kau berani menyebutnya seperti itu lagi. Apa kau sudah bosan hidup?" ia tampak geram. Lalu memukul wajahnya kembali hingga pria itu kembali tersungkur di lantai.


Adrian tak berhenti begitu saja. Ia tampak meradang. Ia tak henti memukulinya. Bahkan ia tak melepaskan Bimo yang sudah tak sadarkan diri. Arkan yang baru saja masuk, segera menghentikan kakaknya.

__ADS_1


"Sudah cukup, kak! Dia bisa mati jika kau pukuli terus menerus. Kau yang akan mendapatkan masalah nantinya!" ucap Arkan sambil memeluknya untuk menahannya agar berhenti.


"Romi! Keluarkan pria itu dari sini!" perintah Arkan pada Romi yang sedari tadi hanya menonton.


Romi beserta beberapa orang lainnya membawa pria itu keluar dari sana. Wajahnya sudah tak berbentuk.


"Anin! Kau baik-baik saja?" tanya Anne cemas ketika menyadari wajah Anindya yang berubah pucat.


Anindya tak menjawab. Ia melepaskan tangan Sofia dari pundaknya. Ia lalu berjalan mundur dan lari keluar dari ruangan itu. Ia benar-benar merasa malu. Ia takut semua orang akan berpikir bahwa apa yang dikatakan Bimo itu adalah benar.


Yang ia pikirkan saat itu hanyalah sesegera mungkin keluar dari ruangan itu. Ia bahkan tak memperdulikan seruan Anne dan Sofia yang memanggil namanya. Bahkan Anne ikut berlari untuk mengejarnya.


Anindya tak ingin apa yang dialaminya beberapa tahun lalu terulang kembali.


****************


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕


__ADS_1



__ADS_2