
Malam semakin larut. Anindya tampak sudah tenggelam dalam mimpinya. Ia tampak bergulung di bawah hangatnya selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Acara mandinya telah dirusak oleh Adrian. Pria itu dengan seenaknya menggerayangi tubuhnya hingga hasratnya terpuaskan. Sementara Anindya terkulai lelah dalam pelukannya.
Adrian sendiri tampak masih terjaga dari rasa kantuknya. Ada hal penting yang harus ia ketahui.
Ia duduk di samping Anindya yang sudah tertidur pulas. Di tangannya ada sebuah amplop berwarna coklat yang di berikan Romi padanya.
Ia membuka amplop itu dan melihat isinya. Ada beberapa lembar kertas. Ia membacanya satu persatu.
"Apa ini?" Ia membaca kertas terakhir.
Itu adalah hasil tes DNA dari rumah sakit. Ia melihatnya dengan seksama. Hasil itu menyatakan bahwa Anindya dan pamannya adalah ayah dan anak.
"Itu artinya paman adalah.... " Ia menatap wanita yang sedang tertidur pulas di sampingnya.
Adrian terlihat marah. Ia bahkan meremukkan kertas yang ada di genggamannya.
"Ini tidak mungkin!"
****************
Matahari tampak sudah meninggi di atas sana. Anindya terbangun dari tidur lelapnya.
Ia tampak merenggangkan tubuhnya, hingga tak sadar menjatuhkan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Dengan cepat ia menaikkan selimut itu kembali, berharap jika Adrian tak melihatnya.
Teringat tentang Adrian, ia langsung menolak ke sampingnya. Ia terkejut melihat pria itu duduk menyandar sambil memegang kertas yang sebagiannya terlihat remuk. Dan ia tidak tidur. Mungkin sepanjang malam. Ia terlihat sangat marah.
"Adrian! Apa kau baik-baik saja?" tanyanya ragu dengan menyentuh tangannya.
Pria itu menoleh ke arahnya.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanyanya.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu."
Ia tampak kesal karena tak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Ia seketika mencengkram bahu Anindya dan memaksanya untuk segera menjawab pertanyaannya.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanyanya sekali lagi.
"Adrian ka-kau menyakitiku!" Anindya tampak ketakutan melihat Adrian yang marah seperti itu.
Ini kali pertama pria itu marah kepadanya. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Apa hubunganmu dengan paman? Katakan padaku!"
Bagaimana ia bisa tahu?
"Adrian!" ia terlihat sangat kesakitan.
Sepertinya Adrian mencengkram bahunya dengan sangat kuat. Melihat Anindya yang mulai menangis, Adrian seketika tersadar akan perbuatannya. Ia melepaskan tangannya.
"Maafkan aku ! Aku tidak bermaksud untuk menyakiti mu." ia mulai tenang.
Melihat wajah Anindya yang ketakutan, ia langsung merasa bersalah. Perlahan ia mendekati wanita itu dan memeluknya.
__ADS_1
"Maafkan aku, sayang! Aku kehilangan kendali. Tolong jangan menangis!" pintanya lalu mencium lembut puncak kepalanya. "Kenapa kau menyembunyikan hal itu dariku. Kenapa kau tidak mengatakannya padaku." ucapnya.
"Apa kau marah karena aku adalah anaknya?" tanyanya ragu.
"Tidak. Aku marah karena aku terlambat mengetahuinya. Aku tidak bisa melindungi mu darinya. Kau pasti sangat tersiksa melihatnya, bukan?"
Anindya hanya menangis. Ia tak tahu apa yang harus dikatakannya pada Adrian.
"Apa dia tahu tentangmu?"
Anindya hanya menggeleng.
Adrian seketika melepaskan pelukannya. "Aku akan mengatakannya pada kakek. Aku juga akan memberitahu pria itu. Dia tak bisa dibiarkan begitu saja. " Adrian memakai pakaiannya dan turun dari ranjang.
Anindya seketika merasa takut. "Tidak Adrian! Jangan katakan apapun pada kakek."
Ia mencoba untuk menghentikannya. Anindya turun dari ranjang dengan tergesa-gesa. Ia berlutut memeluk kaki Adrian ketika pria itu hendak membuka pintu.
"Aku mohon Adrian, jangan katakan pada siapapun. Jangan katakan apapun pada kakek. Aku mohon padamu! Jangan katakan!" ia menangis memohon padanya.
Adrian tampak geram karena Anindya tidak membiarkannya pergi. Tapi ia juga tak tega melihat Anindya memohon seperti itu padanya. Kenapa wanita ini sangat keras kepala.
Ia memejamkan matanya sejenak dan menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya.
Ia menarik tubuh Anindya agar wanita itu berdiri. Lalu memeluknya.
"Jangan katakan pada siapapun. Aku mohon!" pinta Anindya.
"Kenapa kau begitu keras kepala."
Anindya hanya bisa menangis di pelukan Adrian.
****************
Zein dan Arkan sudah lebih dulu duduk di sana. Rian dan keluarga sudah kembali ke Jerman dini hari tadi.
Adrian baru saja bergabung dengan mereka. Ia duduk di kursinya di samping Zein. Anindya menatap cemas kearahnya. Ia benar-benar takut jika Adrian memberitahukan tentang Rian pada semua orang. Adrian sepertinya menyadari hal itu.
Anindya sepertinya masih tidak percaya padanya. Padahal ia sudah meyakinkannya berulang kali.
"Dimana paman dan bibi? Kenapa tidak ikut sarapan?" tanya Adrian ketika menyadari jika mereka tidak ada di sana.
"Mereka sudah kembali ke Jerman dini hari tadi. Ada masalah darurat yang harus diurus oleh Rian." jawab Zein.
"Baguslah jika ia sudah kembali. Aku tidak perlu repot untuk menyapanya pagi ini." Ucap Adrian sambil menatap ke arah Anindya.
Anindya seketika paham akan maksud perkataannya.
****
"Kenapa? Masih tidak percaya padaku?" tanya Adrian ketika Anindya terus menatapnya dengan cemas.
Saat itu Anindya sedang mengantarkan Adrian ke mobil untuk pergi bekerja.
Anindya hanya menjawabnya dengan anggukan.
__ADS_1
"Aku tidak pernah mengingkari janjiku. Kau bisa memegang kata-kataku. Sudahlah! Jangan memikirkan hal itu terus. Aku tidak mau kau jatuh sakit karena memikirkannya. Bahkan kau tidak makan dengan benar pagi ini."
"Aku percaya padamu. Aku hanya merasa sedikit cemas." ucap Anindya.
"Baiklah! Aku pergi!" pamitnya lalu tak lupa mencium keningnya.
Anindya tersenyum. Ia memperhatikan mobil itu hingga tak terlihat lagi di pandangannya.
Sementara di dalam mobil, Adrian tampak berbicara dengan Romi.
"Romi! Cari semua informasi yang berkaitan dengan paman. Cari tahu juga mengenai aset yang dimilikinya. Baik yang tercatat di notaris maupun tidak. Aku yakin dia punya sesuatu yang di sembunyikan dari bibi."
"Baik tuan. Saya juga sudah menyuruh seseorang untuk memeriksa rumah lama nyonya ketika masih tinggal dengan tuan Rian. Kata mereka, tuan Rian sudah menjual rumah itu kepada orang lain beberapa hari setelah dia mengusir nyonya dan ibunya dari rumah. Ia juga menjual beberapa tanah yang tersisa milik ibu nyonya. Dan itu dilakukan tanpa sepengetahuannya. Oh ya tuan, pemilik rumah yang baru juga menyerahkan berkas-berkas penting ini pada saya. Dia bilang jika tuan Rian meninggalkan rumah itu begitu saja. Ia hanya membawa beberapa barang berharga saja ketika menjual rumah itu. Mereka menyimpannya karena berpikir jika itu adalah barang yang penting dan beranggapan mungkin suatu hari nanti tuan Rian akan datang untuk mencarinya kembali." jelasnya sambil menyerahkan sebuah tas kepadanya.
Adrian melihat isi tas itu. Ada surat-surat penting di dalamnya. Akta lahir Anindya juga ada didalamnya. Ia juga menemukan sebuah album foto yang berisi kumpulan foto-foto Anindya ketika kecil.
Adrian tersenyum ketika melihat wajah istrinya yang ternyata sudah menggemaskan ketika kecil. Ia tampak bahagia berfoto dengan ayah juga ibunya. Ia mengusap foto yang berisi wajah Anindya yang sedang tertawa lebar.
"Romi! Kirim seseorang untuk memantau gerak-geriknya selama di Jerman. Jangan sampai terlewat satupun." perintahnya.
"Baik tuan!"
Dia hanya menyuruhku untuk tidak mengatakannya pada siapapun, kan? Anindya! Aku tidak akan membiarkan pria itu hidup damai selamanya. Biarkan aku membuatnya membayar segala rasa sakit yang kau derita bersama ibumu.
****************
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1