
"Apa yang sedang kau lakukan,Anindya?" tanya Sofia kepada Anindya ketika melihat wanita itu berada di dapur sedang membuat kopi.
"Aku hanya membuat kopi, bu! Ini juga sudah selesai! Aku akan mengantarkannya kepada Adrian." jelas Anindya.
"Kenapa membuatnya sendiri? Kau kan bisa minta ibu membuatkannya." keluh Sofia.
"Tidak apa-apa, bu. Lagipula dokter mengatakan jika aku perlu banyak bergerak agar proses persalinan ku bisa lancar."
"Ibu tahu itu. Tetapi cukup berjalan-jalan saja. Jangan membuat hal yang sekiranya dapat membahayakan mu."
"Ibu terlalu berlebihan. Aku hanya membuat kopi. Aku juga sangat berhati-hati. Terima kasih karena sudah mencemaskan ku." ucap Anindya.
"Kau ini!"
Anindya lalu mengantarkan kopi tersebut kepada suaminya. Adrian berada di kamar.
"Sayang!Ini kopinya." ucap Anindya sambil meletakkan kopi itu di atas meja.
"Kenapa kau yang membuatnya? Kenapa bukan ibu Sofia?" tanya Adrian mendadak kesal.
"Aku hanya sedang ingin membuatkan kopi untukmu. Semenjak hamil, kau tidak memperbolehkan aku untuk melakukan apapun. Aku jadi sedikit bosan. Kau bahkan tidak memperbolehkan aku untuk mengurus mu. " Anindya terlihat sedih.
Semenjak hamil emosi Anindya sangat tidak stabil. Terkadang ia bisa tiba-tiba sedih, marah, kesal dan lainnya. Adrian benar-benar harus bersabar ketika menghadapinya.
"Aku hanya tidak ingin kau lelah. Kau sudah cukup lelah mengandung anakku. Jadi cukup urus dirimu sendiri dan juga calon anak kita. Selebihnya biar di urus oleh orang lain. Aku memperkerjakan banyak pelayan di rumah ini. Jadi jangan membuat uangku terbuang sia-sia." jelas Adrian.
"Huh! Baiklah!" ucap Anindya.
****************
"Ayolah! Aku tidak pergi sendirian. Ada bibi, Clarissa juga Anne yang menemaniku. Hanya sebentar! Aku janji akan menjaga diriku dengan baik.Boleh, ya!" Anindya sedang merengek kepada Adrian untuk meminta izin kepadanya melalui sambungan telepon.
Sudah hampir satu jam Anindya meminta izin padanya, tetapi pria itu bersikeras untuk melarangnya pergi mengingat usia kandungan Anindya yang tinggal menghitungnya hari. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada istri dan juga calon bayinya.
"Tidak, Anindya! Jangan membantahku. Kau tidak boleh pergi kemanapun tanpa pengawasan dariku. Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu. Apa kau tak memikirkan perasaanku? Sudah! Jangan merengek lagi. Jika kau sudah melahirkan nanti, kau bebas pergi kemanapun yang kau mau. Aku tidak akan melarang mu. Tetapi untuk saat ini, dengarkan perkataan ku. Dan jangan coba-coba pergi tanpa sepengetahuan ku. Apa kau mendengar ku?" Adrian memberi peringatan dengan tegas seperti ultimatum yang harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar.
Tidak terdengar apapun setelahnya. Tampaknya Anindya merasa kesal karena dilarang seperti itu. Tetapi ia juga mengerti kenapa Adrian melarangnya.
"Anindya!" seru Adrian merendahkan suaranya.
Ia tampaknya sudah menyinggung Anindya.
"Baiklah!" jawab Anindya mengalah.
"Kau marah padaku?" tanya Adrian merasa bersalah.
Butuh beberapa saat untuk Anindya menjawabnya. "Tidak! Sudah, ya! Maaf sudah mengganggumu." pintanya lalu mengakhiri pembicaraan.
__ADS_1
Ia memutuskan sambungan telepon begitu saja.
"Wanita ini!" keluh Adrian. "Ia terlalu sensitif."
Adrian lalu memanggil Romi. Ia ingin pulang ke rumah saat ini juga. Hatinya benar-benar merasa tak tenang ketika membuat istrinya merajuk seperti ini.
Ia meminta Romi untuk mengambil alih pekerjaannya untuk sementara waktu ini.
"Tapi tuan...! Ada rapat penting dengan jajaran direksi siang ini. Saya tidak mungkin menggantikan anda, tuan." jelas Romi.
"Jika begitu ganti saja ke hari berikutnya. Batalkan saja untuk hari ini."
"Tidak bisa, tuan! Rapat ini sudah dibatalkan berkali-kali. Ini sangat penting, tuan!"
"Astaga! Kenapa jadi sulit sekali. Begitu saja tidak bisa kau urus! Untuk apa aku menggaji mu tinggi jika ini saja tak bisa kau urus." gerutunya kesal.
Romi tampak santai. Ia sudah terbiasa dengan perasaan atasannya yang sering berubah-ubah.Apalagi beberapa bulan belakangan ini. Jadi ia sama sekali tidak merasa tersinggung sedikit pun dengan tuannya itu.
Sementara Adrian tampak berpikir sejenak. "Baiklah! Lanjutkan sesuai jadwal." ucapnya.
"Baik, tuan! " Saat Romi hendak keluar ruangan, Adrian memanggilnya karena terlupa sesuatu.
"Kirimkan sebuket mawar putih ke rumah. Pesan saat ini juga!" perintahnya.
"Baik, tuan! Akan segera saya kirimkan." Romi sepertinya mengerti kegelisahan atasannya tersebut.
****************
"Suamimu tidak mengizinkan kau pergi?" tanya Rossa.
"Iya, bibi!Dia melarang ku pergi. Tapi aku ingin sekali pergi. Adrian selalu sibuk. Waktu untukku juga sangat sedikit. Beberapa hari lagi aku akan melahirkan. Aku hanya ingin pergi untuk menenangkan diriku. Dia tidak mengerti hal itu." jelas Anindya kecewa.
"Itu juga kan demi kebaikan mu. Adrian pasti tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Iya, sudah! Kita bisa pergi lain kali. Atau begini saja. Bagaimana jika kita piknik di halaman belakang? Kita bisa membawa semua orang untuk ikut. Kita akan memanggang di sana. Apa kau mau?" tanyanya memberi usul.
"Benarkah! Tentu saja aku mau, bi!" Anindya menerima usulannya dengan antusias.
***********
Sofia dan para pelayan tampak mempersiapkan kebutuhan piknik. Mereka akan membuat Barbeque di halaman belakang.
Anindya dan Zein hanya duduk di tempat mereka sambil memperhatikan yang lainnya bekerja.
Namun saat sedang mengobrol dengan Zein, Anindya tiba-tiba merasa kencang di bagian perutnya, seperti biasa.
"Ada apa? Perutmu terasa mengencang?" tanya Zein cemas.
"Iya kakek. Seperti biasa. Tapi saat ini sudah lebih baik." jelasnya.
"Istirahat saja dahulu. Nanti kakek akan memanggilmu ketika makanan sudah siap." usul Zein.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kakek. Anin sudah baik-baik saja." jelas Anindya.
"Baiklah!"
****
"Makanan sudah selesai! Ayo kita makan!" ajak Rossa setelah meletakkan beberapa hidangan yang sudah di bakar di atas meja.
"Anin! Ayo makan!" ajak Rossa kemudian pada Anindya dan juga Zein.
"Iya, bibi! Tetapi aku pergi ke toilet sebentar." ucap Anindya
"Baiklah! Apa perlu bibi teman kan?" tanya Rossa.
"Tidak apa-apa bibi! Aku pergi sendiri saja." jelas Anindya lalu pergi ke toilet.
Anindya lalu pergi ke toilet yang di dalam kamarnya. Ia tampak sedikit tergesa-gesa karena sudah tidak bisa menahannya.
Beberapa saat kemudian. Anindya berjalan keluar dari toilet. Tetapi entah apa yang tumpah ke lantai kamar mandi hingga membuat Anindya terpeleset.
Ia hampir saja terjatuh jika pada saat itu ia tidak berpegangan pada dinding.
"Hampir saja!"
****************
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1