
Perpisahan selalu mengajarkan kita untuk menghargai, bahwa setiap detik bersama orang yang kita cintai adalah anugerah yang tidak boleh kita sia-siakan.
-Anonim
****
♥
Anindya kini punya rutinitas baru yang dilakukannya setiap hari. Menjadi seorang ibu. Ia tampak berusaha keras untuk menjadi ibu yang baik untuk anaknya. Ia beruntung punya keluarga yang siaga untuk membantunya. Termasuk seorang suami yang selalu ada setiap waktu untuknya.
Seperti pagi ini ketika ia kerepotan mengurus Arya. Rossa membantunya untuk memandikan Arya dan memakainya pakaiannya. Anindya merasa beruntung karena ia memiliki Rossa di sisinya saat ini. Ia bisa menggantikan peran ibu yang sudah lama meninggalkannya selama ini.
"Terima kasih, bibi! Maaf jika Anin jadi merepotkan bibi!Anin sama sekali belum mengerti bagaimana mengurus bayi!" ucap Anindya kepada Rossa yang sedang memakaikan pakaian Arya.
"Tidak masalah, Anin! Bibi senang bisa mengurus Arya! Walaupun awalnya bibi merasa canggung karena sudah lama sekali bibi tidak mengurus bayi."
Rossa lalu menyerahkan Arya pada Anindya untuk di susui karena bayi itu sudah lapar.
"Baiklah! Bibi akan keluar dulu. Jika kau perlu bantuan bibi, panggil saja!" ucapnya pada Anindya.
"Bibi! Tunggu sebentar!" ucap Anindya menghentikan langkahnya.
Sudah saatnya Anindya memperjelas segalanya pada Rossa. Hubungan mereka terlihat membaik sejak kehamilan Anindya. Mungkin sudah saatnya ia mengatakan kebenarannya.
"Ada apa, Anindya?" tanyanya.
"Duduklah dulu, bi! Anin ingin membicarakan sesuatu pada bibi!" jawabnya.
Rossa lalu duduk di sampingnya.
"Anin...!" ia tak tahu harus memulainya dari mana.
Rasanya sungguh tidak nyaman.
"Bibi sudah tahu kan jika Anin ini adalah anak paman!"
"Kau sudah mengetahuinya?" tanya Rossa.
"Iya! Sejak awal Anin sudah mengetahuinya, bibi. Adrian yang mengatakan hal itu pada Anin."
"Benarkah! Maafkan bibi, Anin! Bibi sama sekali tidak mengetahui keberadaan dirimu ketika menikah dengan ayahmu. Jika bibi tahu, maka bibi tidak akan mungkin menikahinya." jelasnya.
"Anin tahu itu, bibi! Bibi tak perlu meminta maaf. Itu semua sudah terjadi. Kita tidak bisa mengulanginya bukan." ucap Anindya.
"Bibi tahu. Tetapi tetap saja bibi salah. Karena kehadiran bibi, Rian mengusir kalian begitu saja dari rumah. Bahkan kau masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi."
"Iya! Tetapi sudahlah! Anin senang karena sudah meluruskan segalanya pada bibi. Dan lagi kehadiran bibi membuat Anin merasakan kembali sosok ibu di kehidupan, Anin. Terima kasih, bibi!"
"Kenapa kau berterima kasih lagi. Jika kau menganggap bibi sebagai ibumu, maka kau tidak perlu mengucapkan terima kasih."
Rossa memeluknya dengan penuh kasih sayang. Ia lega karena sudah meluruskan masalah ini.
__ADS_1
Keduanya tidak menyadari jika seseorang tengah mendengar dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Seorang pria baya yang tersenyum menatap mereka.
"Syukurlah!" ucapnya dalam hati.
"Semuanya sudah selesai. Termasuk pria itu. Kini tak akan ada lagi yang mengganggu kebahagiaan mereka!" Batinnya.
****************
"Dimana kakek?" tanya Adrian pada semua orang yang ada di ruang makan.
"Oh! Mungkin tuan besar masih tidur. Tadi setelah berjalan-jalan di taman, ia merasa kelelahan. Lalu dia berkata jika dia akan tidur sebentar. Biar saya lihat ke kamarnya." jelas Sofia.
"Tidak usah, bu! Biar aku saja yang membangunkannya." cegah Adrian.
"Baiklah, tuan!"
Adrian lalu pergi ke kamar Zein untuk membangunkan.
Sesampainya di kamar pria baya tersebut.Ia melihat kakeknya memang sedang tertidur. Sepertinya pria baya itu sangat lelah hingga tertidur pulas seperti itu.
"Kakek sepertinya sangat lelah." gumamnya ketika menghampiri Zein.
Ia berdiri tepat di sampingnya. Lalu tersenyum memandangi wajah tuanya yang lelah.
Ia membangunkan pria baya itu dengan perlahan.
"Kakek! Ayo bangun! Ini sudah waktunya makan malam. Kakek mau tidur sampai kapan! " ucapnya.
"Kakek!" panggilnya sekali lagi. Kali ini lebih keras dan sedikit mengguncang bahunya.
Tetapi tetap tidak ada tanggapan. Ia semakin cemas. Ia lalu memeriksa denyut nadi di lengannya. Masih berdenyut. Ia lalu memanggil semua orang.
Tak berapa lama, semua orang masuk.
"Ada apa, kak? " tanya Arkan cemas.
"Kakek tidak bangun! Cepat periksa dia!" perintahnya pada Arkan.
Arkan dengan segera memeriksa Zein. Sebelumnya ia meminta Adrian untuk segera menghubungi Ambulance. Ia juga melakukan pertolongan pertama pada penderita sakit jantung sebelum Ambulance datang.
"Sepertinya kakek terkena serangan jantung. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." Arkan tak kalah cemas dari yang lainnya.
"Apa!" Seru Adrian tak percaya.
******
Rumah sakit kota.
"Mengapa mereka lama sekali?" tanya Adrian cemas.
Ia terlihat mondar-mandir di depan ruang IGD. Ia hanya di temani oleh Sofia. Sementara Anindya tidak bisa ikut karena ia tak bisa meninggalkan Arya. Rossa dan Clarissa menemaninya di rumah.
__ADS_1
"Tenanglah, tuan! Tuan Arkan pasti akan melakukan yang terbaik untuk tuan besar." Sofia berusaha untuk menenangkannya.
Tetapi Adrian sama sekali tidak bisa tenang. Ia tidak siap menerima hal ini.
Sementara itu di dalam ruangan IGD. Arkan di temani oleh Samuel untuk menangani kakeknya.
Mereka kini sedang mengupayakan segala cara untuk membuat pria baya itu kembali sadar. Arkan tampak pucat. Walaupun ia sudah sering menghadapi masalah seperti ini, namun kali ini berbeda. Yang harus ia selamatkan adalah kakeknya. Ia hampir frustasi. Untungnya ada Samuel yang menemaninya. Pria itu terus berusaha untuk menguatkannya.
"Tenanglah, Arkan! Jika kau panik seperti ini, bagaimana kau bisa menolong kakek mu. Kau seorang dokter! Kita akan lakukan yang terbaik untuknya. Ayo! Kuatkan dirimu!"
Arkan mulai tenang. Ia berusaha untuk melakukan yang terbaik semampunya.
"Kakek harus hidup! Aku tidak akan membiarkan kakek pergi!" ucap Arkan. Ia bahkan menahan air matanya sekuat tenaga.
Dua jam kemudian.......
Pintu ruang IGD terbuka. Adrian dan Sofia langsung berdiri. Arkan terlihat keluar dari sana. Pria itu tampak pucat dan kelelahan.
"Bagaimana kondisi kakek?" tanya Adrian cemas.
"Untuk saat ini kondisi jantungnya sudah stabil. Tetapi kakek belum sadarkan diri. Kami masih memantau perkembangan selanjutnya." jelasnya sambil berusaha untuk bersikap tenang.
"Apa kakek akan baik-baik saja?" tanyanya memastikan.
"Aku akan berusaha semampuku, kak! Tetapi aku tidak bisa menjamin ia akan baik-baik saja. Kakak tentu tahu bagaimana kondisi kakek saat ini. Ia semakin tua. Fisiknya juga semakin lemah. Apapun yang mungkin terjadi nanti, kita harus bersiap." jelas Arkan lirih.
Hatinya seakan tersayat ketika mengatakan hal itu pada Adrian. Ia merasa putus asa ketika tahu bahwa Zein tidak akan selamat.
****************
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
__ADS_1
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕