My Dearest Wife

My Dearest Wife
Kabar baik.


__ADS_3

Rossa dan Clarissa baru saja tiba pagi ini di kediaman Adrian.Mereka berdua pergi tanpa sepengetahuan Rian, karena pria itu sedang berada di luar kota. Ia perlu bicara dengan Anindya terkait masalah ini. Ia tak bisa hanya diam saja melihat Rian bersikap seenaknya padanya juga pada putrinya.


Tadinya ia berpikir untuk memberitahukan masalah ini pada Zein. Tetapi mengingat kesehatan Zein yang tidak baik. Ia mengurungkan niatnya. Ia akan memberitahu Anindya dan Adrian saja.


"Kapan mereka akan kembali Sofia? " tanya Rossa.


"Mungkin pagi besok mereka aka tiba di sini. Ayo! Saya sudah menyiapkan kamar untuk anda dan nona Clarissa." ajak Sofia.


"Iya! Baiklah! "


****************


Adrian bangun lebih dulu dari Anindya.Ia sudah bersiap dengan memakai setelan kemejanya. Pria itu tampak sedang menghubungi seseorang melalui ponsel genggamnya.Ia tampak berbicara dengan serius di balkon kamarnya.


"Begitu! Baiklah! Aku akan urus masalah itu nanti. " ia tampak mengakhiri panggilannya.


Ia lalu kembali ke kamar. Lalu duduk di samping Anindya yang masih terlelap.


"Anin! Sayang! Ayo bangun!" ia membelai pipinya dengan lembut untuk membangunkan istri kesayangannya itu.


Anindya hanya bergumam tak jelas.Ia tak juga membuka matanya.


"Istriku sayang! Bangun! Atau kau akan ku tinggal nanti." ia berpura-pura untuk mengancamnya.


Tetapi wanita itu bahkan tidak bergeming sedikitpun. Ia terlalu malas untuk membuka matanya.


"Haih! Istriku ini berubah jadi pemalas sekarang. Aku rasa aku terlalu memanjakan mu belakangan ini. Baiklah! Sepertinya kau minta di hukum." gumamnya.


Ia membangunkannya dengan cara yang lain. Ia mengecup bibirnya. Anindya tampak mengernyitkan dahinya. Tetapi ia masih belum juga membuka matanya. Adrian terus menciumnya hingga akhirnya Anindya terbangun. Ia tampak kesal karena tidurnya terganggu.


"Pergilah! Biarkan aku tidur sedikit lebih lama. Kau selalu mengganggu ku di malam hari. Aku tak punya cukup waktu untuk tidur." ia kembali memejamkan matanya.


Apa yang di katakan Anindya memang benar. Adrian selalu lepas kendali jika menyangkut wanita itu. Apalagi saat ini. Adrian benar-benar memanfaatkan waktu bulan madunya hanya untuk berdua saja dengan Anindya.


"Baiklah! Kita masih punya waktu beberapa jam. Aku akan membiarkan mu tidur sebentar lagi. Oh iya! Aku ingin pergi keluar sebentar. Jika ada masalah segera telepon aku. Apa kau dengar?"


"Iya! Cepatlah kembali." ia tampak kembali terlelap.


Adrian tersenyum lalu mengecup dahinya sebelum ia pergi.


****


Beberapa saat setelah kepergian Adrian, Anindya tiba-tiba terbangun karena merasa sesuatu memaksa keluar dari perutnya.


Ia berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. Dan kembali memuntahkan cairan kuning di wastafel. Ia kali kedua ia muntah.


Ia membasuh mulutnya dengan air kran setelah merasa tak ingin muntah lagi. Perutnya benar-benar terasa tidak nyaman.


"Kenapa aku muntah lagi? Apa aku salah makan lagi? Atau mungkin karena aku tidak terbiasa dengan rasa masakan di sini. Aku rasa mungkin begitu. "


Ia memilih untuk tak terlalu memperdulikan hal tersebut.


****


Sejam kemudian Adrian kembali ke kamar. Anindya sudah terlihat rapi. Ia sedang duduk di lantai sambil mengemas beberapa barang yang masih tertinggal di kamar itu.


"Kau sudah siap?"


"Iya! Aku sudah siap. " jawab Anindya sambil mengunci kopernya.

__ADS_1


"Sayang! Apa kau baik-baik saja. Kau terlihat sedikit pucat?" tanya Adrian ketika memperhatikan wajah istrinya yang tiba-tiba memucat.


Ia bahkan menyentuh dahi Anindya dengan punggung tangannya.


"Aku baik-baik saja. Mungkin karena aku kurang istirahat." jawabnya.


"Apa karena aku?" ia tampak merasa bersalah.


"Tidak. Tadi aku tiba-tiba muntah lagi. Aku rasa aku benar-benar tidak cocok dengan makanan di sini." jawabnya sambil tersenyum.


"Muntah lagi? Apa kita sebaiknya pergi ke rumah sakit? Kita bisa menunda kepulangan kita."usulnya cemas.


"Tidak perlu! Aku benar-benar tidak apa-apa. Aku rasa aku hanya perlu istirahat sebentar." tolaknya.


"Baiklah! Tetapi kita akan tetap ke rumah sakit nanti setelah kita pulang. Atau aku akan meminta Arkan untuk memeriksa mu."


"Iya, baiklah!"


"Iya, sudah! Duduklah dulu ! Sebentar lagi sarapan kita akan datang."


Anindya lalu duduk di sofa. Adrian menemaninya.


****************


Selama di pesawat, Anindya menggunakan waktunya untuk tidur. Adrian tetap berada di sampingnya. Ia merasa cemas.


Setelah belasan jam berada di atas awan, akhirnya pesawat tersebut mendarat mulus di sebuah lapangan.


Mereka di jemput oleh supir. Anindya tampak semakin pucat. Ia merasa sangat lemah.


"Adrian! Kepalaku sakit sekali! Aku ingin muntah!"


Akhirnya Adrian membawa Anindya langsung ke rumah sakit untuk di periksa.


***


"Bagaimana keadannya?" tanyanya pada Arkan.


"Ehm! Aku juga tidak begitu yakin. Jika di lihat dari gejalanya, mungkin sebaiknya aku merujuk kalian untuk mengunjungi poli Obgyn."


"Obgyn?" tanya Adrian bingung.


"Iya. Bagian kandungan. " jelas Arkan.


"Kandungan? Kenapa? Apa Anindya terkena penyakit serius? " tanya Adrian semakin bingung dan cemas.


"Tidak kakak. Jika dugaan ku tidak salah, kakak ipar sedang mengandung saat ini." jelas singkat.


"Apa? Mengandung?" tanya Anindya kaget.


"Iya! Itu baru dugaan ku. Akan lebih baik jika kalian memastikannya kepada orang yang lebih ahli mengenai hal itu. Aku akan menuliskan surat rujukan ke bagian kandungan. Kalian berdua pergilah ke sana. Aku akan menyusul nanti." ucap Arkan.


****


"Bagaimana dokter?"


Dokter wanita tersebut sedang membaca hasil tes urine Anindya. Ia lalu meminta Anindya untuk berbaring diatas ranjang pasien. Dokter tersebut menyingkap sebagian blouse yang di kenakan Anindya lalu mengoleskan gel bening di atas perut bagian bawahnya.


Ia menempelkan sebuah alat di atas gel tersebut lalu menggerakkannya.

__ADS_1


Dari layar monitor terlihat bagaimana kondisi rahimnya. Ada bulatan kecil berwarna hitam di sana. Samar-samar terlihat bulatan lagi di dalamnya.


"Baiklah Nyonya! Ini adalah bayi anda. Perkiraan usianya sekitar lima minggu masuk ke enam minggu!" Dokter tersebut mulai menjelaskan kepada Anindya dan Adrian.


Ia menunjuk gambar rahimnya yang di tunjukkan oleh layar tersebut.


"Bayi? Apa istri saya hamil?" tanya Adrian tak percaya.


"Iya tuan! Istri anda sedang mengandung saat ini."


"Saya hamil, dokter?" Anindya tampak memastikan jika ia tidak salah dengar.


"Iya, Nyonya! Anda sedang hamil!" Dokter itu tampak sabar menghadapi pertanyaan pasangan tersebut yang tampaknya belum percaya dengan perkataannya.


Ia lalu melanjutkan penjelasannya.


"Kondisi bayinya sehat. Hanya saja anda perlu menghindari aktivitas intim berlebihan untuk beberapa minggu ke depan. Karena kehamilan anda masih berada di trimester pertama."


Adrian tampak canggung ketika mendengar hal tersebut.


Bagaimana dokter ini tahu mengenai hal itu? Apa Anindya memberitahukannya tadi ketika ia memeriksanya?


"Lalu bagaimana dengan muntah-muntah yang di alaminya?" tanya Adrian.


"Itu tidak masalah selama tidak terjadi terus menerus dalam satu hari.Mual, muntah, sakit kepala adalah gejala umum yang dialami setiap wanita hamil. Biasanya terjadi pada trimester pertama saja. Tetapi ada juga yang mengalaminya pada trimester berikutnya. Bahkan ada yang sama sekali tidak mengalaminya. Setiap wanita hamil memiliki kondisi yang berbeda-beda. Jadi anda tidak perlu cemas." jelasnya.


Selama di sana Adrian tak hentinya bertanya.Bahkan lebih lama dari konsultasi pasien lainnya. Ia terlihat begitu antusias. Ia merasa sangat senang dengan kehamilan Anindya. Hal yang sudah sangat lama di nantikan olehnya.


Anindya juga merasakan hal yang sama. Ia sempat menangis ketika mendengar hal itu. Rasanya ia masih belum percaya jika saat ini di dalam rahimnya ada seorang bayi mungil yang akan terus bertumbuh.


****************


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.

__ADS_1


Terima kasih😘💕


__ADS_2