My Dearest Wife

My Dearest Wife
Pengakuan cinta


__ADS_3

Dini hari mulai merayap menuju penghujungnya. Adrian tampak masih terjaga. Ia duduk bersandar sambil memangku laptopnya. Sementara Anindya sudah jatuh terlelap dalam balutan selimut tipis yang menutupi tubuh polosnya.


Adrian sedang melihat isi file yang dikirimkan oleh Romi ke email-nya. Ia tampak serius. File itu berhubungan dengan pamannya. Di dalam sana berisi tentang aset-aset berharga yang dimiliki oleh Rian. Baik yang terdaftar atas namanya maupun yang sengaja di daftarkan atas nama lain atau samaran.


Adrian sempat bingung kenapa ia menyembunyikan sebagian besar asetnya. Yang di sembunyikan cukup banyak. Mencakup beberapa tanah dan rumah. Juga sebuah apartemen mewah di Bali.


"Darimana dia mendapatkan semua ini? Apa itu dari Anindya? Romi pernah mengatakan jika mendiang ibunya memiliki sejumlah tanah yang di jual paman tanpa sepengetahuannya. Jika itu benar, maka Anindya berhak untuk mendapatkannya kembali." gumamnya.


"Tapi bagaimana caranya?"


Ia tampak berpikir sambil terus mengamati. Namun konsentrasinya seketika pecah karena mendengar gumaman Anindya.


"Adrian!" seru wanita itu dalam tidurnya.


Adrian menoleh ke arahnya. Adrian terdiam sesaat. Ia tampak memperhatikan wanita yang masih terlihat memejamkan matanya. Sudah pasti wanita itu masih tertidur pulas saat ini.


"Aku cinta padamu!" gumamnya.


Wanita itu tampak bergelung di balik selimutnya. Adrian tersenyum ketika mendengarnya. Ia menutup layar laptopnya dan meletakkannya di atas meja samping ranjangnya.


Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Memandang wajah istrinya yang sedang tertidur.


"Apa kau benar-benar mencintaiku?" tanya Adrian berharap jika wanita itu menjawabnya.


Namun tidak ada respon darinya. Anindya hanya tampak sedikit menggeliat di balik selimutnya. Mencari posisi yang paling nyaman.


"Jika sudah mencintaiku, maka aku tidak akan pernah melepaskan mu." Adrian menarik tubuh Anindya agar ia bisa mendekapnya.


Ia memeluknya dengan erat seakan tak ingin kehilangan wanita itu. Ia mencium puncak kepalanya dengan lembut.


"Terima kasih karena sudah mencintaiku."


****************


Anindya baru saja selesai mandi setelah ia bangun lebih dulu pagi ini. Sementara Adrian masih tampak pulas di peraduannya yang nyaman.


Ia keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk berwarna putih. Di tangannya ada sebuah handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.


Ia berdiri di depan cermin, melihat pantulan dirinya sehabis mandi. Ia tampak mengusap rambutnya yang sudah setengah kering dengan handuk.


Sesaat ia tampak bergumam sambil mengingat sesuatu yang diimpikannya kemarin malam.


"Bagaimana bisa aku bermimpi seperti itu. Menyatakan cinta padanya. Untungnya itu hanya mimpi. Jika Adrian mendengarnya, ia bisa jadi besar kepala." Ia tampak tersenyum geli ketika mengingat hal itu. "Tapi, apa aku memang sudah jatuh cinta padanya?" Ia menatap pantulan diri suaminya yang masih tampak tertidur.


Ia mencoba untuk mengabaikannya. Ia kembali mengeringkan rambutnya. Mencoba untuk menenangkan hatinya yang sedang bergejolak.


Namun saat sedang fokus mengeringkan rambutnya, ia tampak terkejut saat dirinya tiba-tiba ada yang memeluk dari belakang.


"Kau sudah bangun?" tanyanya kepada Adrian yang saat ini sedang memeluknya.


Entah sejak kapan ia bangun. Anindya bahkan tak mendengar suara langkah kakinya.

__ADS_1


"Hemm!" serunya sembari mencium pundak Anindya yang terbuka.


Pria itu tampak mengendus lehernya yang jenjang. Aroma tubuh wanita itu bagai candu yang membuatnya selalu ketagihan.


"Apa kau tahu, seseorang baru saja menyatakan perasaannya padaku kemarin malam!" bisik nya dengan suara parau.


Anindya tampak tersipu malu. Bagaimana ia bisa tahu? Apa yang kemarin malam itu bukan mimpi?


"Apa kau mencintaiku?" tanyanya sambil menatap pantulan diri Anindya di dalam cermin besar itu.


"A-aku... " ia tampak gelagapan.


Melihat wanita itu terdiam dengan pipi yang merona, membuatnya tersenyum. Ia mulai memainkan tangannya dengan sesuka hatinya. Menjelajahi setiap inci tubuh Anindya yang di rasa bisa di jangkaunya.


Tubuhnya seketika meremang akibat sentuhan yang diberikan Adrian. Ketika tangan Adrian hendak membuka balutan handuknya, Anindya menahannya.


"Aku baru saja selesai mandi." ucapnya bermaksud untuk menghentikannya.


Namun sepertinya pria itu salah mengartikan maksud perkataannya. "Tidak apa-apa. Kita bisa mandi bersama setelah ini." bisik nya.


Ia menarik handuknya dan mengulangi apa yang terjadi kemarin malam. Rasanya ia tak pernah puas dengan tubuh wanita itu.


***


Percintaan itu diakhiri dengan kecupan yang cukup lama di dahi Anindya. Adrian lalu berbaring di sampingnya. Ia menarik tubuh Anindya dan memeluknya.


"Aku mencintaimu!" seru Anindya.


"Sangat mencintaimu." ulangnya sembari memeluk Adrian dengan erat. Seakan takut kehilangannya.


Ini kali pertama ia jatuh cinta. Berharap jika orang yang dicintainya juga membalas perasaannya.


Namun melihat Adrian tidak mengatakan apapun padanya, ia merasa ragu. Pria itu tidak menolak ataupun membalas perasaannya. Anindya jadi bertanya-tanya. Mungkin karena ia tidak sedang bertanya. Apa ia harus bertanya?


Ia memberanikan diri untuk menatap wajahnya. Adrian tampan bingung. Apa yang sedang dipikirkan olehnya?


Adrian beranjak bangun. Ia duduk sambil memalingkan wajahnya. Anindya semakin bingung. Ia ikut beranjak dan duduk. Menutup tubuh polosnya dengan selimut.


" Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya.


"Aku.... belum bisa membalas perasaanmu. Maafkan aku!" Adrian tampak sedih dan merasa bersalah.


Pria yang biasanya tampak arogan dan selalu mendominasi, ternyata seperti ini jika sedang bersedih. Terlihat sedikit imut.


Sebelumnya Adrian pernah sangat mencintai seorang wanita, namun wanita itu mengecewakannya. Butuh waktu yang lama baginya untuk bisa menerima kehadiran wanita lain dalam hidupnya. Mungkin Anindya menyadari hal itu. Ia mungkin bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Adrian saat ini. Walaupun sebenarnya ia kecewa karena tak mendapatkan balasan dari perasaannya.


Namun ia tak mungkin memaksakan perasaan Adrian kepadanya. Itu hanya akan semakin menyakiti dirinya.


Anindya menyentuh wajahnya, agar pria itu berpaling melihatnya.


"Apa aku meminta balasan padamu? Aku hanya sedang mengutarakan perasaanku padamu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Hanya itu! Jika kau belum bisa membalas perasaanku, tidak apa! Aku akan tunggu hingga kau merasa siap. Asalkan kau tetap berada di sisiku, itu sudah cukup bagiku!" jelasnya.

__ADS_1


Mendengar hal itu justru membuat Adrian merasa semakin bersalah. "Maafkan aku, Anindya! Maafkan aku!"


"Kenapa kau jadi terus meminta maaf. Kau tidak salah apa-apa." ia tersenyum padanya.


Adrian memeluknya dengan erat. "Kenapa kau tidak marah atau memaksaku. Kenapa hanya pasrah menerima semuanya. Jika kau bersikap seperti itu, aku malah semakin merasa bersalah padamu." geramnya.


Anindya lagi-lagi tersenyum. "Ini kali pertama aku mencintai seorang pria. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap. Aku pikir hanya dengan mengutarakan perasaanku saja sudah cukup. Aku sama sekali tidak mengharapkan balasan dari perasaanku." jelasnya.


Adrian melepaskan pelukannya. "Apa kau sama sekali tidak merasa kecewa padaku?" tanyanya penasaran.


"Mungkin ada. Tapi ibuku pernah berkata, mencintai bukan berarti harus memiliki. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Semua harus datang tulus dari hati. Jika kita memaksakan perasaan kita pada orang lain, itu namanya egois. Sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir dengan baik. Dulu ibu dan ayah juga menikah tanpa cinta. Tapi hanya ibuku saja yang mencintai ayahku. Sekalipun ayahku membencinya, namun hatinya tetap terisi oleh ayah. Awalnya aku berpikir kenapa ibuku begitu bodoh karena mencintai pria sepertinya. Saat itu aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran ibuku. Bahkan di akhir hayatnya pun ia masih menyebut nama ayah. Ia masih berharap bisa meninggal di pangkuannya. Namun walaupun itu tidak terjadi, ia tetap tersenyum ketika menutup mata untuk selama-selamanya. Tapi setelah mengalaminya sendiri, aku jadi mengerti kenapa ibu bersikap seperti itu. Karena ibu terlalu mencintai ayah. Bahkan ia tak perduli walau hatinya tersakiti sekalipun." ia terdiam sejenak.


"Mungkin seperti itu juga yang kurasakan saat ini padamu. Aku tidak memikirkan bagaimana perasaanmu nantinya padaku. Aku hanya ingin kau tetap berada di sisiku selamanya sekalipun kau tidak punya perasaan apapun padaku. Itu sudah lebih dari cukup untukku. Lagipula kau tidak mengatakan bahwa kau tidak bisa membalas perasaanku, tapi kau hanya belum bisa membalasnya. Bukankah itu berarti kau punya sedikit perasaan padaku?"


Adrian hanya terdiam. Wanita seperti apa yang ia nikahi?


****************


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕



__ADS_1


__ADS_2