
...My dearest wife...
Beberapa minggu kemudian,
Ting.... tung... ting... tung...
Terdengar suara bunyi bel di depan pintu masuk sebuah apartemen.
Seorang wanita cantik yang sedang sarapan beranjak dari kursi yang di dudukinya dengan malas.
Siapa yang sepagi ini sudah menggangguku. Gumamnya.
Ia membuka pintu itu. Dan melihat seorang pria yang tak asing baginya.
"Jackson! Ternyata kau. Sepagi ini sudah mengangguku." gerutunya.
Pria itu malah tersenyum dengan manisnya. Ia memang selalu seperti itu pada wanita yang tak lain adalah Natasha.
Natasha terlihat masuk kembali ke dalam apartemennya dan melanjutkan sarapannya yang tertunda. Ia bahkan tidak mempersilahkan Jackson untuk masuk. Namun pria itu sudah tahu jika ia selalu di terima di sini tanpa perlu ia pertanyakan lebih dulu.
"Apa yang kau bawa?" tanyanya pada pria itu ketika ia meletakkan sebuah tas kertas di atas meja, persis di hadapannya.
"Sarapan favoritmu. Salad dan mashed potatoes. Aku pesan di restoran favoritmu." jelasnya sambil mengeluarkan isi dari tas kertas itu.
"Kau tidak lihat jika aku sedang makan. Jadi kau saja yang habiskan makanan itu." ucapnya.
"Tidak masalah. Kau bisa menyimpannya di kulkas dan memakannya nanti." sahutnya sambil tersenyum.
"Dasar keras kepala. Kau mau apa sepagi ini ke sini?" tanyanya.
"Tidak ada. Ini hari libur dan aku tidak punya rencana apa-apa. Apa kau mau menemaniku hari ini?" tanyanya balik.
"Aku ada jadwal pemotretan hari ini. Jadi aku tak bisa menemanimu."
"Apa pemotretannya seharian?"
"Tidak. Hanya sampai sore. Ada dua produk yang harus aku bintangi." jelas Natasha.
"Jika begitu. Kita bisa jalan-jalan setelahnya. Hari ini biar aku saja yang mengantarmu. Bagaimana?"
"Kau ini. Pergilah cari seorang wanita! Jadi kau tidak selalu merepotkanku."
Jackson terus saja tersenyum penuh harap padanya. Akhirnya Natasha terpaksa menerimanya.
****************
Anindya terbangun dari tidur lelapnya. Ia tampak mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menstabilkan penglihatannya yang masih samar-samar.
Ia terduduk di atas ranjang. Ia bahkan tak sadar jika saat itu tubuhnya hanya tertutup oleh sehelai selimut. Ia hanya sadar jika sekujur tubuhnya merasa sakit. Seperti habis di tindih oleh benda berat.
Ia hendak beranjak dari atas ranjang, namun tertahan oleh sesuatu. Ada tangan yang memeluk erat pinggangnya.
Ia menoleh ke sampingnya, ia baru sadar jika Adrian masih berbaring di sampingnya. Punggungnya terbuka. Saat melihat hal itu ia baru sadar dengan apa yang terjadi kemarin malam di antara mereka.
Ia melihat tubuhnya yang hanya berbalut selimut. Astaga! Ia merasa malu sekali melihat hal itu. Apalagi melihat bekas ciuman yang ditinggalkan oleh suaminya itu di tubuhnya.
Ia lalu mencoba untuk melepaskan pelukan Adrian. Namun kedua tangan itu terlalu erat mengunci pinggangnya.
"Kau mau kemana?" tanya pria itu setengah sadar saat merasa seseorang menggoyangkan tangannya.
Adrian bahkan semakin mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Aku mau ke kamar mandi. Lepaskan tanganmu." pinta Anindya sambil berusaha melepaskan pelukan itu kembali.
"Tidurlah sebentar lagi." pinta Adrian.
"Tapi ini sudah pagi. Aku benar-benar ingin ke kamar mandi."
"Ck.. Baiklah!" ucapnya kesal lalu melepaskan pelukannya. Ia lalu kembali tidur memunggungi Anindya.
Anindya langsung beranjak dari ranjang dan setengah berlari ke kamar mandi.
*
Anindya sudah terlihat segar pagi itu setelah mandi. Ia mengenakan dress selutut berwarna hijau muda. Ia terlihat cantik dengan rambutnya yang baru saja dikeringkan dengan hairdryer.
Adrian masih tertidur pulas di atas ranjang. Punggungnya yang polos terlihat jelas karena tidak tertutupi dengan selimut.
Pipi Anindya seketika merona karena merasa malu dengan pemandangan indah pagi itu. Padahal ia sudah beberapa kali melihatnya bahkan menyentuhnya, namun rasanya ia masih saja malu dan belum terbiasa dengan hal itu.
Ia seketika menolehkan wajahnya ke arah lain. Ia membuka tirai yang menutupi jendela kamarnya. Sinar matahari pagi langsung menyambutnya.
Hari ini kebetulan adalah akhir pekan. Adrian tampaknya ingin bermalas-malasan hari ini.
Hingga saat ini, ia masih tak menyangka jika ia dan Adrian bisa sedekat ini. Apa ini akan bertahan untuk selamanya?
Saat ia sedang asyik menatap keluar jendela, ia dikagetkan ketika seseorang memeluknya dari belakang. Anindya jelas mengetahui siapa orang itu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Adrian sambil mencium aroma tubuh istrinya itu melalui lehernya.
"A... aku tidak memikirkan apa-apa. Ka... kau sudah bangun?" tanyanya gelagapan karena merasa risih di ciumi seperti itu.
Adrian masih saja menciumnya seperti orang yang sedang candu.
"Ka.. kau mau sarapan apa pagi ini?" tanyanya berbasa-basi.
Anindya semakin merasa tak nyaman dengan hal itu.
"Ehm... aku rasa kakek sudah menunggu kita di bawah." ucapnya mencoba untuk mengalihkan perhatian Adrian.
Namun sepertinya itu tidak berhasil. "Biar saja. Kakek juga akan mengerti kenapa kita tidak segera turun."
"Ehm... aku... aku.. " untungnya di detik berikutnya terdengar suara ketukan dari luar kamarnya.
"Ada yang mengetuk pintu. Biar aku membukanya." ucap Anindya hendak pergi. Namun, Adrian tak melepaskannya.
"Biarkan saja." ucapnya sambil menciumi bagian leher dan tengkuknya dengan penuh hasrat. Ia begitu merasa candu dengan aroma khas tubuh istrinya itu.
"Tapi... "
"Ssst.. diamlah!"
"Adrian! Anindya! Apa kalian sudah bangun?" tanyanya.
" Itu kakek!" ucap Anindya.
"Ck.. ada apa kakek tiba-tiba ke sini. Tidak biasanya." gerutu Adrian.
Adrian menghentikan aktivitas nya itu dan melepaskan Anindya. Anindya lalu segera membuka pintu kamarnya dan menemui kakeknya.
"Kakek! Ada apa?" tanya Anindya begitu membuka pintu.
Zein lalu masuk ke dalam kamar. Ia melihat Adrian sedang bertelanjang dada dan hanya memakai celana panjang saja. Ranjang mereka juga tampak berantakan. Ia tampak tersenyum tipis hingga tak seorangpun dari mereka menyadarinya. Sepertinya apa yang diinginkannya sudah terjadi.
__ADS_1
"Apa yang kakek lakukan? Tidak biasanya kakek mengunjungi kamarku." tanya Adrian.
"Tidak. Kakek hanya ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa kau tidak bekerja hari ini?" tanyanya berbasa-basi.
"Tidak kakek. Apa kakek lupa jika ini akhir pekan." jelasnya.
"Ah iya! Kakek lupa jika ini akhir pekan. Jika begitu apa kau punya waktu hari ini?" tanyanya.
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Kakek merasa bosan sekali berada di rumah. Kakek ingin jalan-jalan. Apa kau mau membawa kakek ke pantai. Sudah lama sekali kakek tidak melihat pantai." jawabnya.
"Iya baiklah! Kita akan ke pantai hari ini. Aku akan bersiap terlebih dahulu." ucap Adrian.
"Benarkah kita akan ke pantai hari ini? Apa Anindya boleh mengajak teman Anin, kakek?" tanya Anindya dengan antusias.
"Tentu saja kau boleh mengajak temanmu." jawab Zein.
"Terima kasih kakek." ucapnya sambil tersenyum senang.
Adrian ikut tersenyum melihat istrinya bahagia seperti itu.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Maaf baru sempat update ππ. Tapi diusahakan up banyak untuk hari ini ya. Semoga kalian gak kecewa.
Jika suka dengan cerita ini jangan lupa berikan
Like π
komentar π¬
vote
dan rate πΉya.
jangan lupa juga jadiin novel ini sebagai salah satu list favorite kalian ya. biar gak ketinggalan updatenya. Tekan tanda hati β€ .
Thieaπ₯π₯β€
__ADS_1