
"Bagaimana menurutmu, sofia?" tanya Zein saat mereka hanya berdua saja di taman.
"Ehm.. saya ragu, tuan! Saya rasa ini belum saatnya." jawabnya.
"Lalu kapan lagi! Jika bisa sebelum Arkan pulang, hal itu harus terlaksana. Aku tidak ingin menundanya lagi. Aku semakin tua. Aku tidak tahu kapan Tuhan akan memanggilku. Aku hanya ingin melihat salah satu cucuku bahagia." ucapnya lirih.
"Tuan. Jangan bicara seperti itu." sahut Sofia.
"Aku akan membicarakannya dengan Adrian malam ini."
Sofia hanya diam. Dia ragu jika tuan mudanya itu akan menerima hal ini begitu saja. Karena ia tahu jika Adrian tidak menyukai Anindya.
********
Sepulang dari kantor, Adrian dan Anindya masuk kedalam kamar mereka masing-masing untuk membersihkan diri mereka. Mereka berdua memang tidak terlalu dekat, namun Adrian setidaknya sudah menerima keberadaannya di rumah ini. Sebenarnya, ia memang tak pernah mempermasalahkan jika wanita itu tinggal di rumah ini asalkan ia tak punya maksud tersembunyi pada kakeknya.
Anindya terlihat membantu Sofia menyiapkan makan malam saat selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Seperti yang biasanya ia lakukan sepulang bekerja.
"Ehm... Anin! Berapa usiamu tahun ini?" tanya Sofia saat mereka berdua berada di dapur.
"Dua puluh tahun, bu!" jawabnya sambil memotong sayuran.
"Kau masih terlalu muda." ucapnya tersenyum.
Anindya tersenyum balik padanya.
"Apa kau tidak ingin menikah?" tanyanya lagi.
"Hah! Menikah? Anin ingin menikah. Tapi sepertinya tidak sekarang. Anin rasa Anin belum siap untuk menjalin sebuah hubungan yang serius."
"Begitu, ya!" ucapnya.
"Sepertinya bukan hanya tuan muda yang akan menolak hal ini. Anindya tampaknya juga tidak akan menyetujui permintaan tuan besar." batinnya ragu.
*
Adrian, Zein, Anindya dan Sofia terlihat menikmati makan malam mereka di ruang makan. Keempatnya tampak diam. Tak ada seorangpun yang mencoba untuk membuka pembicaraan. Yang terdengar hanya suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring mereka.
Zein memutuskan untuk berbicara saat melihat semua orang sudah selesai makan. Ia tak membiarkan siapapun pergi dari meja saat itu.
__ADS_1
"Ada yang ingin kakek bicarakan? Aku masih punya pekerjaan." tanya Adrian.
"Kau selalu punya pekerjaan Adrian. Tunggulah sebentar."
"Baiklah!" sahutnya pasrah. Pria baya itu tampak menghela nafasnya. Ia seperti sedang merangkai kata untuk membuka pembicaraan.
"Adrian, Anindya! Kakek ingin meminta sesuatu pada kalian."
Anindya tampak bingung. Namun tidak dengan Adrian. Sepertinya ia sudah bisa menebak apa yang diinginkan oleh kakeknya itu.
"Apa yang kakek inginkan?" tanyanya.
"Kakek ingin kalian berdua segera menikah." jawab pria baya itu dengan serius.
"APA!!!!!!" seru Anindya tak percaya.
Sementara Adrian hanya diam. Ia sudah bisa menduga sejak awal mula kakeknya membawa Anindya tinggal bersama mereka di rumah ini.
"Aku menolaknya kakek. Aku tidak ingin menikahi siapapun. Termasuk dia." ucap pria muda itu dengan sinis sembari menatap Anindya tajam.
"Adrian! Kakek tidak pernah minta apapun kepadamu. Tolong turuti perkataan kakek. Ini demi kebahagiaanmu sendiri. Anindya pasti bisa membuatmu bahagia. Kau bersedia, kan?" Pria baya itu tampak sangat berharap padanya.
Apa ini alasan kakek membawaku tinggal disini? Untuk menikahi pria ini. Tidak! Aku tidak bisa. Jika aku menerimanya, maka aku akan semakin terikat dengan keluarga ini. Lagipula aku tidak mencintainya begitupun dengannya. Jadi aku tidak mungkin menerimanya. batinnya.
"Anindya! Bagaimana denganmu, nak? Kau Bersedia?" tanya Zein padanya.
"Aku... Maaf kakek! Tapi Anin tidak bisa melakukannya. Anin rasa pernikahan tidak bisa di paksakan begitu saja. Anin ingin menikah dengan seseorang yang mencintai Anin bukan sebaliknya kakek. Maafkan Anin karena tidak bisa memenuhi keinginan kakek." ucapnya lirih.
"Kakek sudah tahu jawabannya, kan? Jadi jangan bicarakan itu lagi. Aku ke atas dulu kakek." pamitnya lalu berdiri dari tempatnya.
"Apa sebegitu sulitnya untuk membuat kakek bahagia? Anggaplah ini keinginan terakhir kakek. Mungkin setelah ini kalian tidak akan..."
"Kakek! Berhenti bicara yang tidak-tidak seperti itu. Jangan membuatku seolah-olah menjadi cucu yang kejam bagimu. Kakek boleh meminta apapun dariku. Tapi tidak untuk yang satu itu. Apapun yang terjadi, aku tidak akan menyetujuinya." ucapnya lalu berjalan mengarah ke tangga.
Pria baya itu tampak memegangi dada kirinya. Ia merasakan nyeri yang tak tertahankan. Ia bahkan meremasnya. Tak terasa air mata mengalir dari sudut mata keriput pria baya itu.
Sofia dan Anindya mendekat kearahnya dengan panik. Bahkan Adrian tampak berlari dari atas saat mendengar teriakan dari kedua wanita itu. Jantungnya serasa akan terlepas dari tubuhnya saat itu juga.
Pria baya itu hanya terdiam sembari meremas dadanya yang sakit. Detik berikutnya, ia sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1
**************
Mobil ambulance itu tiba di halaman sebuah rumah sakit. Beberapa perawat sudah siap dengan ranjang untuk menyambut pasien yang dibawa mobil putih itu. Seorang dokter pria juga berada disana. Pria itu adalah Samuel. Sebelumnya Adrian sudah menghubunginya untuk berjaga disana.
Beberapa orang keluar dari mobil itu. Mereka Segera memindahkan pasien ke ranjang dorong yang mereka bawa.
Pasien itu akan dibawa ke Unit Gawat Darurat untuk penanganan segera.
Tak lama sebuah mobil hitam menyusul dari arah belakang. Seorang pria dan dua orang wanita tampak keluar dari dalam mobil. Mereka tak lain adalah Adrian, Anindya dan Sofia.
Tanpa pikir panjang mereka pergi ke ruang tempat Zein dirawat. Namun, mereka tidak bisa masuk kedalam. Hanya menunggu di luar saja.
Samuel tampak menangani Zein dengan segera. Kondisinya sudah sangat kritis. Ia harus memacu jantungnya agar bisa berdetak kembali.
Sementara di luar ruangan, ketiga orang itu tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan orang yang mereka sayangi.
************** My dearest wife
*
*
*
*
*
*
*
Maaf ya karena gak bisa update tiap hari, karena lagi mau fokus tamatin novelku satu lagi. Tapi diusahain untuk selalu update walaupun gak tiap hari.
Terima kasih karena masih jadi pembaca setiaku. Buat like, komen dan rare, votenya, Terima kasih juga ya.
Jangan lupa dukung terus ya. Soalnya novel ini aku ikutkan lomba "You're writer season 4" 😊
love u all 😍😍
__ADS_1