My Dearest Wife

My Dearest Wife
Hampir saja.


__ADS_3


Adrian hanya diam saja menanggapi kehadiran wanita itu disana. Ia bahkan tidak mempersilahkannya untuk duduk. Sementara Anindya merasa bingung harus mempersilahkannya untuk duduk atau malah membiarkannya.


Namun untungnya wanita itu cukup pintar untuk memahami suasana canggung yang tercipta diantara ketiganya.


"Baiklah! Sepertinya kehadiranku mengganggu makan siang kalian. Kebetulan aku masih ada urusan lain. Ehm.. mungkin kapan-kapan kita bisa makan siang bersama untuk lebih mengenal satu sama lainnya, Anindya!" ucap Natasha sambil tersenyum kepadanya.


"Ehm... iya!" jawab Anindya sambil tersenyum juga.


"Oh iya. Ini kartu namaku. Simpanlah! Mungkin suatu hari, kau akan membutuhkannya." ucapnya sembari memberikan sebuah kartu yang diambilnya dari dalam tas jinjingnya.


Anindya menerimanya. Lalu wanita itu pergi dari hadapan mereka. Tapi sekilas ia tampak menatap Adrian sebelum pergi. Namun sepertinya Adrian mengabaikannya. Ia hanya fokus pada makanannya sedari tadi sambil sesekali menatap wajah istrinya. Anindya sepertinya tidak menyadari hal itu.


Setelah wanita itu pergi, Adrian meminta kartu nama yang diberikan Natasha padanya.


Anindya tentu saja memberikannya. Mungkin Adrian ingin menyimpannya. Namun dugaannya salah. Pria itu malah merobek kartu nama itu menjadi beberapa bagian lalu membuangnya kedalam asbak yang ada diatas meja.


"Kau tidak perlu menyimpannya." ucapnya sinis.


****************


Hari menjelang sore, mereka kembali kerumah setelah berjalan-jalan sebentar di pantai sehabis makan siang tadi. Mereka berdua terlihat seperti pasangan yang sedang berbulan madu jika seperti itu.


Sesampai dirumah, Anindya lebih dulu mandi baru kemudian Adrian.


Malam ini mereka akan makan malam di rumah, tidak di rumah ibu Sari karena mereka sekeluarga sedang pergi.


Anindya memasak dua jenis lauk di dapurnya yang sempit. Ia hanya memanggang ikar dan memasak capcay. Sebelum kembali kerumah, mereka singgah ke pasar untuk membeli sayuran.


Aroma masakan yang matang langsung menyeruak di seluruh sudut rumah. Iya karena tempat itu tidak luas. Juga tidak ada penyaring asap di dapurnya. Adrian langsung keluar dari kamar mandi begitu selesai mandi dan berpakaian.


Ia melihat Anindya tengah menyiapkan makanan diatas meja berukuran kecil berwarna coklat. Ada dua kursi berwarna senada di sisi kanan dan kiri meja itu. Ia memperhatikan istrinya sejenak. Rambut wanita itu masih tampak basah dan ia memakai gaun tidur motif bunga.


"Ayo makan! Aku hanya memasak ini saja. Semoga sesuai dengan seleramu." ajak Anindya.


Pria itu duduk disalah satu kursi itu. Anindya meletakkan nasi di piring Adrian seperti yang ia lakukan semenjak menjadi istrinya. Lalu ia juga mengambilkan lauk juga untuknya. Baru setelah itu dia duduk di kursinya dan mengambil nasi untuknya.


Adrian tampak memperhatikan wanita itu. Apa kurangnya wanita itu dimatanya, sehingga ia tak bisa melihat sisi baiknya. Selama ini yang ia perdulikan hanya sisi buruknya saja.


Entahlah, Adrian mulai ragu dengan penilaiannya selama ini terhadap wanita itu.

__ADS_1


****************


Cuaca akhir-akhir ini tidak bisa diprediksi. Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Atap kamar tidur mereka bocor tepat diatas ranjang yang ditiduri Adrian. Anindya meminta pria itu untuk menggeser ranjang hingga merapat ke dinding.


Dengan terpaksa, Adrian menggeser ranjang tersebut.


"Rumahmu menyusahkanku saja!" keluh pria itu.


"Menyusahkan! Bukankah sebelumnya aku sudah menawarkanmu untuk tidur di penginapan saja. Tapi, siapa yang bersikeras untuk tetap menginap disini. Jadi jangan mengeluh." ucap Anindya sinis sambil meletakkan sebuah wadah untuk menampung air tetesan hujan.


"Jadi kita akan tidur dimana?" tanya Adrian.


"Di luar." jawabnya singkat.


Anindya lalu membuka lemari dan mengambil beberapa selimut dan juga kain. Beruntung kasurnya tipisnya tidak basah, sehingga mereka bisa menggunakannya.


Anindya membuka lipatan kasur tipis itu. Lalu melapisinya dengan beberapa helai kain dan juga selimut agar kasur itu cukup tebal untuk ditiduri. setelah itu ia meletakkan bantal. Adrian akan tidur disana. Sementara dirinya mungkin akan tidur di kursi panjang yang ada di rumah itu. Walaupun keras, tapi itu tidak masalah untuknya. Ia sudah terbiasa tidur dimanapun.


Tidak mungkin jika dia tidur satu kasur dengan pria itu, bukan?


Adrian tidur diatas kasur itu. Rasanya sangat tidak nyaman. Namun, dia tidak bisa menolaknya. Dengan terpaksa ia tidur disana.


Mungkin besok ia akan mempertimbangkan untuk tidur di penginapan saja.


"Hei! Tidurlah bersamaku." ajaknya yang langsung disalah artikan oleh Anindya.


"Apa maksudmu? Kau ingin kita tidur.... bersama?" tanyanya ragu.


"Iya. Cepatlah! Sebelum aku berubah pikiran. Kenarilah!"


"Tidak usah! Nanti kau mengambil kesempatan ketika aku sedang tidur. Lebih baik aku tidur disini saja." tolaknya.


"Kau pikir aku tertarik dengan tubuhmu itu. Jangan terlalu percaya diri. Kau bukan tipeku. Cepat kemari! Tidak usah banyak bicara." ucapnya sinis.


"Tidak usah. Aku sudah terbiasa tidur dimana saja. Kau tidak perlu mencemaskanku." sahutnya.


"Siapa yang mencemaskanmu! Terserah kau." Adrian lalu memejamkan matanya. Berusaha untuk tidur.


Begitupun dengan Anindya. Namun sebelumnya, ia tampak mengejek Adrian denga menjulurkan lidahnya. Namun hal itu tentu saja tidak diketahui oleh Adrian.


*

__ADS_1


Malam semakin larut. Hujan juga sepertinya bertambah deras. Bahkan sesekali terdengar bunyi petir yang menggelegar. Hingga membuat Anindya merasa sedikit takut.


Anindya lalu melirik ke arah Adrian yang sepertinya sudah tertidur pulas. Dengan ragu, ia beranjak dari tempatnya dan tidur disamping pria itu dengan perlahan. Ia kembali mendengar suara petir yang menggelegar, ia kaget lalu menutupi wajahnya dengan selimut.


Adrian sebenarnya belum tidur. Ia tahu jika akhirnya wanita itu tidur disampingnya. Samar-samar terlihat lengkungan di bibirnya. Ia lalu melanjutkan tidurnya kembali.


*


Adrian merasa terganggu dengan Anindya yang sedang mengigau. Ia memanggil-manggil ibunya. Mau tak mau ia akhirnya bangun. Ia melihat ke arah wanita yang sedang tertidur disampingnya itu.


Wanita itu memang sedang mengigau. Karena ia masih memejamkan matanya. Dahinya mengkerut. Entah apa yang sedang diimpikannya saat ini.


Adrian memiringkan tubuhnya lalu memperhatikan wajah wanita itu dengan seksama. Ia baru menyadari jika wanita itu ternyata cantik juga walaupun sedang tidur.


Entah sadar atau tidak, tangannya mulai menelusuri wajah Anindya. Ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya. Sepertinya wanita itu kini mulai merasa tenang akibat sentuhan Adrian. Ia tak mengigau lagi memanggil ibunya.


Adrian segera menyingkirkan tangannya dari wajah wanita itu sebelum wanita itu bangun dan menyadari tindakannya. Namun, ia tak berhenti menatapnya. Bahkan tatapan itu kini beralih ke bibir tipis wanita itu lalu turun ke lehernya yang jenjang. Rasanya ia ingin sekali merasai bagian itu.


Sejujurnya ia memang tak pernah berciuman sepanjang hidupnya. Bahkan saat berhubungan dengan Natasha sekalipun. Mungkin tidak akan ada seorangpun yang percaya padanya jika ia menceritakan hal itu.


Namun, memang seperti itulah kenyataannya. Pria manapun pasti akan merasakan hal yang sama jika melihat ada seorang wanita yang berbaring di sampingnya.


Saat ia hendak mendekatkan bibirnya ke bibir wanita itu, Anindya tiba-tiba saja memunggunginya. Membuat Adrian seketika sadar akan tindakannya.


Akhirnya ia ikut membalikkan tubuhnya agar tak menatap wanita itu lagi. "Hampir saja!"


****************


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*



__ADS_2