My Dearest Wife

My Dearest Wife
Melampiaskan kemarahan dengan cara berbeda


__ADS_3


Malam semakin larut. Hujan tidak juga kunjung berhenti malah semakin deras. Anindya dan Adrian masih nampak berteduh dibawah pohon sambil berpelukan. Jika mereka memutuskan untuk menunggu hujan reda, mungkin hingga pagi menjelang mereka baru bisa pulang kerumah.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berlari ke rumah tanpa menunggu hujan reda.


Setelah berlari beberapa saat, akhirnya mereka sampai juga dirumah. Anindya segera membuka pintu rumah itu.


"Sebaiknya buka pakaianmu terlebih dahulu. Aku akan memasakkan air panas untukmu. Kau akan flu jika mandi dengan air dingin malam-malam seperti ini." ucapnya pada Adrian.


Adrian lalu pergi ke kamar untuk membuka pakaiannya. Ia lalu melilitkan handuk di pinggangnya.


Tak lama kemudian, Anindya hendak memanggil Adrian karena air mandinya sudah siap. Ia mengetuk pintu kamarnya. Pria itu langsung keluar dari dalam kamar.


Anindya sontak saja merasa kaget ketika melihat pria itu hanya memakai handuk saja saat itu. Ia dengan cepat memalingkan wajahnya. Sejujurnya ia tak pernah sekalipun melihat pria bertelanjang dada seperti itu.


"Ehm.. airnya sudah siap. Kau bisa mandi sekarang." ucapnya.


Adrian segera berlalu dari sana. Ia sudah sangat kedinginan. Ia mandi dengan cepat karena ingin segera bergantian dengan Anindya. Ia yakin jika wanita itu juga butuh untuk segera mandi.


**


Anindya sedang menyedu teh yang dicampur jahe dengan air panas. Ia membuatkan dua cangkir. Satunya akan diberikan pada Adrian. Ia sedang berada di ruang tamu sambil mengerjakan sesuatu di laptop yang memang sengaja dibawanya.


Anindya merasa jika pria itu akhir-akhir ini lumayan ramah padanya. Tidak seperti saat mereka masih dirumahnya dulu. Walaupun terkadang sisi sombong dan arogannya masih terlihat. Namun setidaknya mereka jadi banyak mengobrol sejak berada disini.


Anindya meletakkan cangkir teh itu di sampingnya. "Ehm.. aku tidak yakin apa kau akan menyukainya atau tidak. Tapi nenekku bilang ini bisa mencegah kita terkena flu dan menghangatkan tubuh. Cobalah!" jelasnya pada Adrian saat pria itu melihat apa yang diberikan Anindya padanya dengan bingung.


Adrian lalu meminum teh jahe itu dengan ragu. Ia meneguknya sedikit.


"Rasanya lumayan. Terima kasih." ucapnya pada Anindya.


Ini pertama kalinya ia mengucapkan Terima kasih padanya. Anindya lalu tersenyum dan hendak masuk ke kamarnya.


"Kau mau kemana?" tanya Adrian.


"Aku ingin minum ini di dapur." jawabnya.


"Kenapa harus didapur. Duduklah disini." perintahnya pada wanita itu.


"Baiklah!"


Suasana hening seketika. Anindya tampak memperhatikan pria yang sedang duduk dihadapannya itu sekilas. Pria itu terlihat sangat tampan dengan tampilan sederhananya. Tanpa setelan jas tiga potongnya yang mewah. Ia hanya menggunakan kaos lengan panjang dan celana panjang.

__ADS_1


Ia jadi terpikir akan satu hal. Mereka terlihat seperti sepasang suami istri sungguhan, bukan. Iya secara negara dan agama mereka memang suami istri. Namun secara hubungan, mereka terlihat seperti dua orang asing yang hanya tinggal di bawah atap yang sama.


Tapi kini, ia merasa Adrian sudah jauh lebih manusiawi. Mereka bisa mengobrol dengan nyaman. Tidur dalam kasur yang sama. Tinggal dirumah kecil dan sederhana seperti sekarang ini. Jika saja diantara mereka ada rasa cinta, pasti akan terasa lebih lengkap.


Namun, itu sangat mustahil. Baik Adrian maupun dirinya tidak akan pernah saling jatuh cinta. Pernikahan yang hanya tersisa beberapa bulan lagi saja akan segera berakhir. Setelah itu mereka akan saling melupakan satu dengan lainnya. Mereka akan kembali seperti saat mereka belum bertemu. Jika Anindya memikirkan tentang itu, ia merasa sedikit sesak.


Diusia muda harus menjadi seorang janda. Bukankah itu sangat menyedihkan. Padahal ia ingin menikah untuk sekali saja seumur hidupnya. Rasanya benar-benar menyakitkan.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Adrian membuyarkan lamunannya.


"Hah! Tidak.. aku tidak sedang memikirkan apa-apa." jawabnya.


"Apa kau punya impian?" tanyanya lagi namun sambil menatap layar laptopnya.


"Impian?" Anindya tampak berpikir.


Ia bahkan tak berani untuk bermimpi. Karena ia tahu jika mimpi itu bisa terwujud. Namun ia pernah memikirkan akan bagaimana ia dimasa depan nanti. Saat ia sudah lebih dewasa, ia akan menemukan seorang pria yang sangat mencintainya dan membentuk keluarga kecil bahagia bersamanya. Walaupun hidup sederhana tanpa kemewahan apapun.


Namun, ia mengubur impiannya itu dalam-dalam dan tak berani untuk memimpikannya lagi.


"Aku.. tidak punya impian. Aku takut tidak akan bisa mewujudkannya." jelasnya.


Adrian memperhatikan wanita itu ketika menjawab pertanyaannya. Lalu kembali diam dan menatap layar laptopnya kembali.


Adrian seketika menghentikan aktivitasnya. Ia tampak berpikir.


Apa ia punya impian. Ada. Menikah dengan kekasih yang telah dipacarinya beberapa tahun belakangan. Namun, bukannya menerima lamarannya, wanita itu malah menolak dan lebih memilih karirnya.


Sejak saat itu ia tak ingin memimpikan apapun lagi. Mimpinya sudah hancur bersamaan dengan penolakan dari wanita itu.


"Aku tidak punya impian. Aku sudah punya segalanya." jawabnya datar.


"Iya. Kau beruntung karena memiliki segalanya. Tapi... ada satu hal yang tidak kau miliki." ucap Anindya.


Adrian mengerutkan keningnya. "Apa yang tidak kumiliki?"


"Ehm... aku rasa kau sendiri tahu jawabannya." jawab Anindya sambil tersenyum.


Hal itu membuat Adrian penasaran. Memangnya apa yang tidak dimilikinya.


"Sudah larut malam. Lebih baik kau beristirahat. Terlalu banyak bergadang tidak baik untuk kesehatanmu. Aku duluan ya!" pamitnya.


Ia hendak masuk ke dalam kamar, namun Adrian tiba-tiba menarik tangannya dan menyandarkan tubuh wanita itu hingga merapat ke dinding.

__ADS_1


"Kau.. ma.. mau apa?" tanya wanita itu gugup.


"Katakan apa yang tidak ku miliki. Aku tidak suka menebak-nebak." jawabnya kesal.


"Aku yakin kau tahu. Tapi kau tidak menyadarinya atau bahkan sengaja menghindarinya. Jadi lupakan saja. Nanti kau juga akan tahu. Tolong lepaskan aku." jelas Anindya.


Namun pria itu tidak melepaskannya juga. Ia malah semakin menghimpitnya dengan tubuh tegapnya itu. Memaksa Anindya untuk mengatakan padanya.


"Kau tidak punya cinta! Kau memiliki semuanya selain cinta." Akhirnya ia menjawab karena pria itu tak kunjung melepaskannya.


Pria itu seketika melepaskannya. Ia marah saat Anindya mengucapkan kata itu di hadapannya. Ia memang sudah tak percaya lagi dengan yang di sebut cinta. Karena ia pernah merasakannya namun ia juga tersakiti karena kata itu.


Ia menatap Anindya dengan tajam. Anindya jadi takut. Ia pikir jika ia sudah salah bicara. Pria itu sepertinya sangat marah padanya.


Ia memilih untuk pergi dari hadapan pria itu. Namun lagi-lagi, saat ia hendak pergi, pria itu menarik tubuhnya hingga kembali berhadapan dengannya.


Bagaimana ini? Sepertinya aku sudah salah bicara.


"Tu... tuan! Kau mau apa? Apa kau marah padaku?" tanyanya cemas.


Pria itu menatap wajah Anindya dalam-dalam. Memperhatikan bagian wajahnya dengan seksama. Entah apa yang terjadi padanya saat ini. Ia memang marah, namun kemarahannya itu malah ia lampiaskan dengan cara lain.


Ia... mencium bibir tipis wanita yang sedap di tahannya itu. Anindya membulatkan matanya karena kaget. Pria itu sudah kehilangan akal.


****************


*


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1



__ADS_2