My Dearest Wife

My Dearest Wife
Jangan menolakku!


__ADS_3

Maaf jika slow update ya. Tapi akan diusahakan untuk tetap up walau tidak setiap hari. 😊😊 Kasih dukungan terus ya biar makin semangat nulisnya.


*


*


*


"Kau di pecat! Keluar dari sini!"


Kata-kata itu masih terngiang jelas di ingatan Anne. Karena kesalahan yang ia perbuat, ia dipecat dari pekerjaannya. Padahal itu bukanlah kesalahan yang besar menurutnya. Ia tak sengaja menumpahkan minuman ke pakaian salah satu pengunjung bar. Pengunjung itu lantas mengamuk dan memarahi Anne. Terjadi keributan besar hingga akhirnya penanggung jawab di bar itu memutuskan untuk memecat Anne . Karena pengunjung tadi merupakan pelanggan VIP di bar itu.


Kini Anne benar-benar bingung. Ia tak tahu bagaimana caranya ia bisa mendapatkan pekerjaan lain untuk membiayai kuliahnya. Belum lagi untuk membayar hutangnya pada Anindya yang baru ia lunasi seperempatnya saja.


Ia terduduk lesu di atas trotoar. Ia bahkan belum pulang ke rumah sewanya untuk istirahat. Rasanya ia tidak punya nafsu untuk melakukan apapun. Bahkan untuk mengisi perutnya yang mulai terdengar keroncongan saat ini.


"Dimana lagi aku harus mencari pekerjaan?" gumamnya.


"Punya banyak uang memang menguntungkan. Mereka bisa berbuat sesuka hati pada orang kecil sepertiku. Aku jadi iri pada Anindya. Ia bisa seberuntung itu bertemu dengan keluarga kaya dan hidup berkecukupan saat ini. Sementara aku harus berjuang sekuat tenaga agar bisa menyambung hidup dan melanjutkan kuliah ku."


Anne tampak terlihat semakin lesu. Ia tak tahu harus meminta bantuan pada siapa. Karena tak mungkin ia merepotkan Anindya kembali. Tanpa ia sadari air matanya jatuh membasahi pipinya.


"Anne! Apa yang kau lakukan disini?" tanya seorang pria yang menghampirinya.


Anne lalu menengadahkan kepalanya yang tertunduk lesu. Ia sepertinya mengenali si pemilik suara itu.


"Tuan Arkan!"


****************


Sebuah mobil sedan berwarna hitam terparkir rapi di area parkir sebuah mall di tengah kota. Dari dalam mobil keluar sepasang pria dan wanita. Mereka tak lain adalah Adrian dan Anindya.


Siang ini Adrian menepati janjinya untuk mengajak Anindya membeli gaun baru . Ia tampak masih memakai setelan kemejanya. Sementara Anindya hanya mengenakan kaos putih polos yang dipadukan dengan rok bermotif floral. Sepatu heels berwarna hitam tampak menghiasi kaki jenjangnya. Rambut panjangnya ia kuncir kuda . Tampilannya itu terlihat manis dan menggemaskan dimata Adrian.



Mereka berdua memasuki salah satu butik yang berada di lantai dua mall tersebut. Sepertinya itu bukanlah butik yang sembarangan. Harga yang ditawarkan pastilah sangat mahal.


Dan benar saja, Anindya begitu terkejut ketika melihat harga yang tercantum di salah satu gaun yang dilihatnya ketika Adrian memintanya untuk memilih. Ia seketika meletakkan kembali gaun itu ke tempatnya karena takut merusaknya.


"Ehm... sebaiknya kita pergi ke tempat lain saja." ucapnya pada Adrian yang berdiri di sampingnya sambil bersedekap.


"Kenapa? Apa kau tidak menyukai gaunnya?" tanya Adrian.

__ADS_1


"Suka. Tapi harganya terlalu mahal." bisiknya.


"Apa! Kurang mahal? Baiklah! Aku akan mencari yang lebih mahal. Tunggu disini!"


"Hei! Bukan itu yang aku.... " ucapnya terhenti karena Adrian tak mendengarkannya dan malah memamggil pegawai toko lalu menyuruhnya membawakan beberapa gaun termahal yang ada di butik tersebut.


Ckk... Dia itu tuli apa hanya pura-pura.


*


Anindya sudah tampak lelah setelah mencoba beberapa gaun yang Adrian pilihkan untuknya. Sepertinya Adrian memang sengaja ingin mengerjainya. Sedari tadi pria itu hanya merespon dengan gelengan, "terlalu terbuka", "tidak bagus" , "terlalu pendek" dan lainnya.


Sebenarnya dia ingin aku berpakaian yang bagaimana? Sungguh menyebalkan.


Entah sudah semasam apa wajahnya saat ini. Namun Anindya tetap saja menurutinya.


Akhirnya setelah sejam lebih berkutat pada gaun-gaun itu, Adrian menjatuhkan pilihannya pada sebuah gaun putih yang sangat cantik. Namun Anindya sudah bisa menebak jika harga gaun itu tidaklah murah. Mungkin bisa untuk membeli sebuah sepeda motor keluaran terbaru.


Namun bukan itu saja yang ia permasalahkan saat ini. Ia juga bertanya-tanya apakah dirinya pantas mengenakan gaun indah itu dan berdampingan dengan Adrian di pesta nanti.


Pikirannya lalu berlarian ke beberapa bulan yang lalu sewaktu hari pernikahan mereka. Saat itu Adrian meninggalkannya di tengah acara seorang diri. Hingga akhirnya ia menjadi bahan gunjingan seluruh tamu yang hadir.


Apakah hal itu akan terjadi lagi? Ia terus saja memikirkan segala kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi padanya. Ini kali keduanya ia tampil di muka umum sebagai istri Adrian. Dan ia harus mempersiapkan dirinya lagi ketika di permalukan.


****************


Saat ini mereka berdua sedang berada di kantin rumah sakit untuk makan siang.


Tadi ketika Arkan melihat Anne sedang terduduk lesu di atas trotoar, ia sebenarnya akan kembali ke rumah sakit karena tiba-tiba mendapatkan kabar bahwa ada pasien yang harus ia tangani segera di rumah sakit. Karena itu ia terpaksa akhirnya membawa Anne ke rumah sakit dan menunggunya selesai mengurus pasien.


"Entahlah! Aku juga tidak tahu. Mungkin aku akan mencari pekerjaan lain yang tidak mengganggu waktu kuliahku." jelasnya sambil memainkan makanannya. Ia bahkan belum terlihat makan sesuap pun sedari tadi.


"Hei! Pikiran mu boleh kacau saat ini. Namun kau juga harus tetap memperhatikan asupan nutrisi mu. Jadi jangan hanya memainkan makananmu. Tapi makanlah makananmu! Apa kau ingin jadi pasienku nantinya?" ucapnya sambil menyentuh tangan kanan Anne yang tengah mengaduk-aduk makananya.


Anne tersenyum masam ketika memperhatikan hal itu. Ia memberi kode agar Arkan menjauhkan tangannya.


"Maaf! Aku hanya refleks. Habiskan makananmu. Setelah itu aku akan mengantarkan mu pulang." perintahnya.


"Tidak perlu, tuan! Aku bisa pulang sendiri. Aku tidak ingin merepotkanmu dan mengganggu pekerjaanmu. Kau pasti sibuk." tolaknya halus.


"Aku tidak repot. Jadi kau tak perlu cemas. Aku punya banyak waktu luang." ucapnya sambil tersenyum.


"Tapi kau pasti lelah dan butuh istirahat. Jadi daripada mengantarku pulang, kau lebih baik mempergunakan waktu luangmu untuk beristirahat. Aku bisa pulang sendiri. Karena biasanya juga seperti itu." tolaknya lagi.

__ADS_1


"Jangan menolakku! Aku tidak biasa ditolak sebelumnya. " ucapnya sambil menatapnya tajam.


Anne hanya tersenyum masam menanggapi perkataan pria itu. Ia jadi merasa serba salah. Seharusnya ia bisa bersikeras untuk menolaknya, namun entah kenapa ia malah tak bisa melawannya sama sekali. Apa yang terjadi?


****************


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕


__ADS_1



__ADS_2