My Dearest Wife

My Dearest Wife
Apa kau tertarik padaku?


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Arkan baru saja kembali ke rumah setelah selesai melakukan tugasnya. Perutnya terasa perih karena sedari tadi belum sempat terisi makanan.


Namun rasa kantuknya jauh lebih kuat dari rasa laparnya. Ia yakin jika semua orang sudah tertidur pulas saat ini. Ia tak mungkin membangunkan para pelayan mengingat jika mereka juga membutuhkan istirahat agar bisa melakukan pekerjaan mereka kembali di pagi hari nanti.


Kini mau tak mau ia harus memasak sendiri agar kebutuhan lambungnya terpenuhi. Dengan malas ia menuju dapur dan membuka lemari penyimpanan makanan. Biasanya ibu Sofia selalu menyiapkan makanan untuknya yang bisa di hangatkan di microwave jika saja ia terlambat pulang seperti saat ini.


Dan benar saja, ia menemukan sepiring makanan di sana. Ia hanya perlu menghangatkannya saja sebentar. Sehingga ia tak perlu repot untuk memasak. Walaupun yang bisa di masaknya hanya pasta.


Namun ketika ia hendak memasukkan makanan tersebut ke dalam microwave, seseorang memasuki dapur.


"Anne! Sedang apa kau di sini? Kenapa tidak tidur?" tanyanya pada orang itu yang tak lain adalah Anne.


"Maaf tuan! Tadi aku habis dari kamar mandi belakang. Aku lihat lampu di ruang makan menyala. Jadi aku memeriksa kemari. Siapa tahu ada yang lupa mematikannya. Ternyata tuan. Apa tuan baru saja pulang?" jelasnya sembari bertanya.


"Iya. Aku baru saja pulang dan merasa lapar. Aku tak punya waktu untuk makan malam." jelasnya lalu memasukkan piring itu kedalam microwave.


"Biar aku saja, tuan. Tuan duduk saja!" ucapnya menawarkan diri.


"Tidak apa-apa. Aku hanya memanaskannya saja. Kembalilah tidur. Pagi nanti kau masih harus bekerja, bukan!" ucapnya sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa, tuan! Aku sudah tidak mengantuk. Biar aku saja yang melakukannya. Tuan duduk saja di ruang makan. Nanti aku akan mengantarkannya."


"Baiklah jika kau memaksa. Jika sudah selesai, antarkan saja ke kamarku. Aku mau mandi dulu."


"Baik, tuan!" ucapnya.


Tak lama Arkan pun pergi dan masuk ke kamarnya di lantai dua. Sementara Anne menyiapkan makanan itu untuknya.


*


Anne mengetuk pintu kamar Arkan. Di tangannya terdapat sebuah nampan yang berisi makanan dan segelas air putih untuknya.


Anne mengetuk pintu itu beberapa kali. Tapi tidak ada jawaban.


"Apa jangan-jangan dia tertidur?" gumamnya.


Ia mencoba mengetuknya sekali lagi. Kali ini Arkan menyahuti panggilannya.


"Masuklah!" perintahnya.


Anne membuka pintu kamar itu lalu masuk ke dalam. Ia tampak ragu karena rasanya tidak sopan jika masuk ke dalam kamar seorang pria di tengah malam seperti ini.


Ketika masuk ke dalam, ia kaget karena Arkan hanya mengenakan jubah mandi yang sedikit memperlihatkan dada bidangnya.


Anne dengan cepat memalingkan wajahnya. Ini pertama kalinya ia melihat tubuh pria secara langsung. Itu sungguh membuatnya malu.


"Letakkan saja nampannya di atas meja. Lalu beristirahatlah!" ucapnya.


"Baik tuan!" ucapnya lalu secepat mungkin keluar dari sana.


Berlama-lama disana bisa membuatnya sesak nafas. Kenapa ia bisa begitu tampan. Apalagi dengan rambut yang berantakan seperti itu.

__ADS_1



****************


Matahari terlihat mulai mengintip di balik awan. Menandakan jika pagi akan segera menjelang, menggantikan malam yang telah selesai akan tugasnya.


Adrian seketika terbangun dan membuka matanya perlahan. Tatapannya langsung bersiborok dengan wajah istrinya yang masih terjaga akan tidurnya yang pulas.


Wanita itu tampak nyaman bersandar di dada telanjangnya yang hangat. Mungkin ia sedang.,bermimpi tidur di atas ranjangnya yang nyaman.


Adrian menopang kepalanya dengan sebelah tangan sambil tersenyum menatap wajah wanita yang kini telah menjadi istrinya itu.


Ia menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajahnya. Bisa-bisanya mereka tertidur di atas sofa. Setelah puas menangis semalaman, akhirnya Anindya tertidur karena kelelahan. Adrian juga ikut terlelap karena tak bisa bergerak dari tempatnya. Ia takut membuat wanita itu terbangun.


"Seperti apa kehidupannya dahulu? Apa saja yang dialaminya? Bagaimana jadinya jika kakek tak membawanya kemari? Ia akan hidup sebatang kara, bukan? Apa ia sanggup? Jika ia pria, mungkin akan lain ceritanya. Namun ia seorang wanita yang masih terlalu muda. Hidup seorang diri itu sangat menakutkan. Aku masih terbilang beruntung karena masih punya keluarga dan harta yang berlimpah. Namun dirinya hidup dalam kesusahan dan kesendirian. Tentu saja hal itu sangat menakutkan, bukan."


Ia membelai wajahnya dengan lembut. Namun ternyata hal itu membuat Anindya bergeming. Ia membuka matanya perlahan. Samar-samar ia melihat Adrian sedang menatapnya. Mungkin ia berpikir jika itu hanya mimpi. Ia memejamkan matanya kembali lalu membukanya. Pria itu masih menatapnya.


"Hei tukang tidur! Sampai kapan kau mau tidur di pangkuanku?" Tanyanya yang segera menyadarkan Anindya dari angannya.


Dia tidak sedang bermimpi. Ini nyata.


Ia sedang bersandar pada dada bidangnya yang telanjang. Dan duduk di pangkuannya. Situasi seperti apa ini? Posisi ini membuatnya canggung. Ia ingin bangkit, namun Adrian menahannya. Memeluk erat pinggangnya hingga ia tak bisa bergerak kemanapun.


Adrian sangat menyukai wajahnya yang tersipu malu seperti itu. Terasa menggemaskan baginya.


"Maaf! Aku tidak sadar jika tidur dipangkuan mu kemarin malam. Lagipula kenapa kau tidak membangunkan ku?" tanyanya menatap ke sembarang arah karena tak sanggup menatap mata Adrian dari jarak sedekat ini.


Adrian mencubit dagunya, memaksanya untuk melihat wajahnya. "Aku sudah katakan padamu sebelumnya, jika berbicara denganku, kau harus menatapku." ucapnya sambil menarik satu sudut bibirnya.


"Karena aku menginginkan tanggungjawab mu. Berikan aku kompensasi."


"Kompensasi? Maksudnya?"


"Kau harus mengganti kerugian ku."


"Dengan apa?"


"Kau masih bertanya dengan apa?" Adrian menatapnya dengan tajam. Seperti ingin menerkamnya hidup-hidup.


Ia sudah menahan hasratnya semalaman. Ia tak ingin menahannya lagi. Apalagi dengan tampilan istrinya yang terlihat menggairahkan baginya.


Anindya seketika berpikir dengan maksud pertanyaan suaminya itu. Ia tampak bingung karena kepolosannya.


Melihat istrinya yang kebingungan, Adrian terpaksa mengambil inisiatif sendiri. Ia mencium bibirnya dengan paksa dan meninggalkan bekas kemerahan di sana.


"Bayar aku dengan itu." ucapnya.


Anindya lagi-lagi salah tingkah. Entah kenapa ia masih juga tidak terbiasa dengan keintiman suaminya itu. Mungkin karena ia tak berpengalaman sama sekali sebelumnya dengan seorang pria. Pipinya merona karena rasa malunya.


Adrian lagi-lagi tersenyum melihat hal itu.

__ADS_1


"Kenapa kau masih merasa malu setelah apa yang kita lakukan. Aku bahkan sudah menyentuh setiap inci bagian tubuhmu tanpa terkecuali." ucapnya santai.


Lain halnya dengan Anindya yang malu mendengar hal itu secara langsung keluar dari mulut Adrian.


"Mungkin ka... karena aku tak punya pengalaman. Aku tak pernah berhubungan dengan pria manapun sebelumnya."


"Jadi aku adalah pria pertamamu?"


Anindya menganggukkan kepalanya.


"Baguslah! Aku akan menjadi satu-satunya pria dalam hatimu. Tidak akan ada pria lainnya. Aku tidak akan memberinya kesempatan."


Kenapa dia berbicara seperti itu. Apa dia benar-benar tertarik padaku?


"Apa aku boleh bertanya satu hal padamu?" Anindya tampak ragu.


"Apa?"


"A... apa kau tertarik padaku?" tanyanya.


****************


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕

__ADS_1




__ADS_2