
Anindya terbangun dari tidur pulas nya. Ia tampak senang karena orang yang dilihatnya untuk pertama kali ketika dia bangun adalah orang yang sama setiap harinya. Senyum lebar seketika menghiasi bibir tipisnya.
Ia teringat kembali bagaimana Adrian mengungkapkan perasaannya padanya. Hal yang selalu dinantinya selama ini.
Ia sungguh tak percaya jika perasaan cintanya akhirnya mendapat balasannya.
Ia memandangi wajah Adrian yang masih terlelap. Ia mengangkat kepalanya agar lebih leluasa memandangi wajah itu. Perlahan ia mulai menyentuh wajah itu dengan tangannya. Adrian terlihat semakin tampan ketika sedang tertidur. Ia beruntung karena bisa melihatnya setiap hari.
Ia menggerakkan jemarinya menelusuri setiap bagian wajah Adrian lalu mengecup satu persatu bagian itu dengan lembut. Matanya, hidungnya, dan terakhir bibirnya.
Adrian lalu membuka mata. Mata keduanya kini saling bertemu.Pria itu tersenyum.
"Bonjour chΓ©r**i !" Sapa Anindya. (selamat pagi sayang dalam bahasa Perancis).
"Sudah pandai mengatakannya?" tanya Adrian.
"Sedikit. Aku belajar melalui ponsel ku. Sudah benar, kan?"
Adrian mengangguk. Adrian kembali menatapnya.
"Apa kau sedang menggoda ku?" tanya pria itu.
"Mungkin! Anggap saja seperti itu." ia tersenyum.
"Kau menantang ku? Sudah berani, ya? "
"Aku mencintaimu suami ku!"
Adrian tersenyum. "Aku juga mencintai mu."
Ketika Adrian hendak mencium Anindya, wanita itu tiba-tiba saja....
"Hoek.... hoek... " ia tampak ingin muntah.
"Ada apa? Kau sakit? " tanya Adrian cemas membantu wanita itu duduk.
"Entahlah! Hoek... hoek.. " seketika ia merasa perutnya terada penuh dan sesuatu memaksa keluar melalui tenggorokannya.
Ia berlari ke dalam kamar mandi. Memuntahkan cairan berwarna kuning di atas wastafel kamar mandi.
Adrian tampak menyusul di belakangnya. Ia memijat pelan pundaknya.
Anindya tampak merasa lega setelah muntah. Walaupun perutnya masih terasa begah.
Adrian membantunya keluar dari kamar mandi. Lalu mendudukkannya di atas sofa.
Ia juga mengambilkan segelas air hangat untuknya. Dan membantu wanita itu untuk minum.
"Sudah lebih baik? " tanyanya pada Anindya.
"Iya."
"Ini pasti karena kau terlalu banyak makan makanan ringan kemarin malam. " gerutunya.
"Tidak mungkin. Biasanya juga baik-baik saja. " bantahnya.
"Dasar keras kepala. Aku akan membawamu ke rumah sakit. Bersiaplah!" Ajaknya.
"Tidak perlu. Aku sudah baik-baik saja. Mungkin aku hanya salah makan saja." tolaknya.
"Anindya!" serunya.
"Tidak perlu. Aku tidak mau ke rumah sakit. Lagipula ini hanya muntah biasa saja. " Ia tetap bersikeras menolak.
__ADS_1
Adrian sungguh tak bisa berdebat dengannya. Istrinya terlalu keras kepala.
"Baiklah! Tapi jangan makan sembarangan lagi. Aku tidak akan memberikannya padamu." pesannya serius.
"Iya.Ehm... aku lapar. Aku ingin makan." pintanya dengan manja.
"Kau ingin makan apa?"
"Ehm.... apa ya? Pasta saja dengan bola daging di atasnya. " jawab Anindya sambil tersenyum manja.
"Baiklah!"
Adrian lalu memesan makanan pada pihak hotel. Ia terlihat fasih berbicara dalam bahasa Perancis.
Anindya merasa suaminya itu terlihat seksi ketika berbicara dalam bahasa Perancis. Ia jadi senyum sendiri ketika melihatnya.
Mimpi apa dia bisa menikah dengan pria sempurna seperti Adrian. Sudah tampan, kaya, pintar dan sangat bertanggung jawab.
Adrian terlihat menutup teleponnya. Ia menghampiri Anindya yang sedari tadi terus menatapnya.
Ia lalu mengambil selimut dan menyampirkannya di pundak Anindya.Adrian lalu duduk bersamanya di atas sofa.
"Hal kotor apa yang sedang kau pikirkan di otak kecilmu ini?" ia menunjuk kepalanya pelan.
"Aku hanya berpikir jika kau terlihat seksi ketika berbicara dengan bahasa Perancis." jawab Anindya.
Adrian seketika terkekeh mendengar perkataan Anindya.
"Coba katakan sesuatu padaku dengan bahasa Perancis."
"Mengatakan apa?"
"Apa saja! "
"Kau mencintaiku, kan?" tanyanya karena sedikit familiar dengan perkataannya.
"Hampir benar! Lebih tepatnya, " Kau menyebalkan, tetapi aku mencintaimu." jelasnya menerangkan artinya.
"Aku menyebalkan? " tanyanya cemberut.
"Iya! Kau menyebalkan ketika kau bersikap keras kepala dan selalu membantah perkataan ku." jelasnya sambil mencubit gemas kedua pipi Anindya.
"Sakit!" keluhnya sambil mengusap kedua pipinya.
Mereka tampak asyik mengobrol dan saling bercanda satu sama lain.
Pagi itu salju pertama mulai turun. Anindya tampak senang karena ini kali pertama dirinya melihat salju turun.
Ia menarik tangan Adrian dan mengajaknya berdiri di balkon untuk bisa melihatnya lebih jelas.
Ia menampung salju tersebut dengan tangannya. Tersenyum lebar dan menyandarkan kepalanya di lengan Adrian.
****************
Berlin, Jerman. Beberapa hari kemudian.
"Ibu mau kemana? " tanya Clarissa ketika melihat ibunya mengemas pakaiannya di dalam koper.
"Ibu mau mengunjungi kakek. Kau juga harus menyiapkan pakaian mu. Kita akan berangkat besok pagi dengan penerbangan pertama." jelasnya.
"Mengunjungi kakek? Kenapa tiba-tiba sekali. Lagipula ayah juga sedang berada di luar kota." ia tampak bingung.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, sayang! Ibu sudah memberitahu ayah mu. Ibu ingin melihat kondisi kakek. Ibu dengar kesehatan tidak begitu baik belakangan ini. " jelasnya.
"Ayo! Cepatlah! Jangan banyak bertanya. " perintahnya kemudian pada Clarissa.
"Baiklah bu!"
Clarissa lalu pergi ke kamarnya. Ibunya tampak bingung dan takut saat ini.
"Aku tak bisa diam saja dan membiarkan Rian berlaku seenaknya pada ku juga Clarissa. Hanya Adrian dan paman saja yang bisa membantu ku. Aku tak ingin Clarissa bernasib sama seperti Anindya. Tidak akan pernah." gumamnya marah.
****************
Anindya dan Adrian tampak berjalan-jalan di sekitar hotel sambil bergandengan tangan. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara.
Inginnya hanya berdua saja setiap harinya.
Ini malam terakhir mereka berada di Paris. Besok mereka akan kembali ke kehidupan nyata. Waktu sangat cepat berlalu bila dinikmati dengan senang.
Salju yang turun perlahan membuat suasana kota malam itu tampak sangat indah. Saat ini setiap sudut kota di lapisi oleh salju.
"Ini malam terakhir kita di sini. Rasanya waktu berlalu begitu cepat." ucap Anindya.
"Kau sendiri kan yang minta pulang. Jika kau masih betah di sini, kita bisa menetap lebih lama."
"Tidak. Aku sudah rindu pada kakek. Kita sudah hampir dua minggu berada di sini. Itu sudah cukup." jelas Anindya.
"Baiklah! Terserah kau saja. Nanti kita bisa ke sini lagi jika kau mau. " ucap Adrian.
Anindya tersenyum senang.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. ππ
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like π
komentar π¬
vote
dan rate β ya.
Serta jadikan salah satu list favorit β€ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
__ADS_1
Terima kasihππ