
Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di pelataran parkir sebuah rumah sakit. Seorang pria ber setelan jas berwarna hitam keluar dari dalam mobil itu. Pria itu tak lain adalah Adrian.
Ia langsung ke rumah sakit begitu mendapatkan telepon dari seorang pria asing pagi tadi. Ia bahkan tak berpamitan pada istrinya. Ia pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun padanya. Entah apa yang ada di pikiran wanita itu saat ini.
Telepon itu dari seseorang yang bernama Jackson. Ia memberitahu bahwa Natasha mencoba mengakhiri hidupnya pagi ini di apartemennya. Dan itu semua itu terjadi karena dirinya yang di tolak oleh Adrian. Namun, Adrian tak tahu apa hubungan Jackson dengan Natasha. Ia terlalu panik ketika mendengar kabar tentang Natasha.
Walau bagaimanapun marahnya ia terhadap Natasha, namun wanita itu pernah singgah di hatinya dan menjadi seseorang yang penting baginya. Tentu masih ada sedikit rasa yang masih tersimpan untuk wanita itu. Namun itu bukanlah rasa cinta. Melainkan rasa iba karena merasa kasihan pada Natasha. Bagaimanapun ia turut andil dalam usaha percobaan bunuh dirinya.
Kini cintanya sudah ia berikan sepenuhnya untuk satu wanita. Dan itu tak akan pernah berubah. Kini ia harus menyelesaikan semua ini sebelum masalah lain muncul dan merusak pernikahan yang baru saja ia bangun.
Adrian segera masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju ke kamar perawatan Natasha. Sesampainya ia di sana, ia menemukan seorang pria yang mungkin seumuran dirinya tengah duduk di depan kamar perawatan Natasha. Pria itu tampak menundukkan kepalanya dengan putus asa.
Adrian menghampirinya dan menduga bahwa ia adalah Jackson.
"Apa kau yang menelpon ku pagi ini?" tanyanya pada pria itu.
Jackson mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Adrian. Ia langsung berdiri dari tempatnya dan menarik kerah kemeja Adrian. Hendak memukulnya. Namun Adrian dengan sigap menangkis tangan pria yang kini di penuhi rasa amarah itu.
Pria itu nampak kesakitan karena tangannya yang di cengkram oleh Adrian hingga ia terpaksa melepaskan tangan yang satunya dari kerah kemeja Adrian.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Adrian kesal tanpa melepaskan tangan Jackson.
"Lepaskan tanganku! Aku... tak bisa bicara jika kau seperti ini!" serunya menahan sakit.
Adrian pun segera melepaskan tangannya dan menepisnya. Pria itu tampak mengusap tangannya yang sakit.
"Ini semua terjadi karena mu. Jika saja kau menerima Natasha kembali. Dia tidak akan berbuat nekat seperti ini." keluhnya.
"Kau siapa? Apa hubunganmu dengannya?" tanyanya.
"Kau tak perlu tahu siapa aku. Aku hanya ingin kau menerimanya kembali agar ia tak bertindak seperti ini lagi kedepannya."
"Bagaimana keadaan sekarang?" tanya Adrian lagi.
"Untung saja ia segera di bawa ke rumah sakit. Karena jika terlambat sedikit saja. Nyawanya tidak akan bisa di selamatkan lagi. Dan jika hal itu terjadi. Aku tidak akan berpikir dua kali untuk menghabisi nyawamu." jelasnya dengan nada penuh ancaman.
Adrian sepertinya mengerti akan hubungan keduanya. Ia tersenyum sinis ke arah pria itu. "Apa kau menyukainya?" tanyanya.
"Itu bukan urusanmu!" seru Jackson kesal.
"Itu memang bukan urusanku. Tapi.. aku tidak akan pernah kembali padanya apapun yang terjadi. Dialah yang sejak awal menolakku. Aku tak pernah berniat untuk kembali padanya." jelas Adrian.
"Kenapa kau begitu egois. Natasha sangat mencintaimu. Ia bahkan menolakku karena masih menaruh harapan padamu. Ia benar-benar menyesali keputusannya yang dulu menolakmu. Apa kau tak bisa melihat kesungguhan hatinya?" tanyanya pada Adrian.
__ADS_1
Adrian terdiam sesaat ketika mendengar hal itu. Jackson sepertinya akan terus berusaha untuk membuat Adrian menerima kembali Natasha dalam kehidupannya. Sekalipun hatinya sendiri terasa sakit karena hal itu.
"Aku rasa justru dia yang egois. Aku tahu jika dia yang memintamu untuk membujukkku, kan? Natasha memang seorang wanita yang penuh ambisi. Ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Termasuk memanfaatkanmu. Dan kau dengan bodohnya malah menurutinya. Bukankah seharusnya kau berusaha untuk mendapatkan cintanya? Bukannya malah menuruti permintaan bodohnya." balas Adrian.
"Aku tak perduli. Aku hanya ingin dia bahagia." sahut Jackson.
Adrian kembali tersenyum sinis. "Sungguh naif! Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa di dunia ini ada pria seperti mu. Ah.. sudahlah! Terserah kau saja mau dimanfaatkan atau tidak. Yang jelas bagiku, dia hanya bagian dari masa laluku."
"Kau..!" kalimat Jackson terputus ketika menyadari seseorang keluar dari kamar perawatan.
Itu adalah Natasha. Ternyata ia mendengar semua perkataan mereka berdua. Ia keluar dengan susah payah akibat stamina tubuhnya yang masih menurun.
Ia ingin mendekati Adrian, namun tubuhnya hampir jatuh jika Jackson yang berada di dekatnya tak sigap menangkapnya.
Ia menopang tubuh lemah wanita itu. Namun Natasha menepisnya. Karena yang ia inginkan saat ini adalah memeluk tubuh pria yang dicintainya selama ini. Pria itu berada tepat di hadapannya.
Walau dengan susah payah, akhirnya ia berhasil menyentuhnya. Dan entah mengapa melihat kondisi Natasha yang lemah seperti itu, Adrian merasa luluh. Ia malah membiarkan wanita itu memeluknya. Namun, ia tak membalas pelukannya.
"Adrian! Kau masih mencintaiku, kan? Jika tidak, kau pasti tidak akan datang dan perduli padaku. Tapi kau datang. Kau masih perduli padaku. Jadi ku mohon, kembalilah padaku. Kita mulai lagi hubungan kita dari awal. Aku minta maaf karena dulu pernah menolakmu. Aku sungguh menyesal. Seharusnya saat itu aku tidak menolakmu. Aku mohon! Kembalilah padaku. Tinggalkan wanita itu. Aku mohon!" pinta wanita itu setengah memaksa.
Adrian terdiam sejenak..... Apa hatinya akan goyah?
****************
Arkan baru saja beristirahat setelah menangani beberapa pasien di ruangannya. Jam masih menunjukkan pukul sebelas siang. Masih tersisa satu jam lagi sebelum ia beristirahat untuk makan siang.
Ia memanggil seorang perawat yang membantunya memeriksa pasien.
"Apa masih ada pasien lagi?" tanyanya pada perawat wanita itu.
"Ada satu pasien lagi dokter. Setelah itu anda bisa beristirahat." jawabnya sambil tersenyum.
Perawat itu tampaknya sedang mencari perhatian Arkan. Siapa tahu ia beruntung bisa mendapatkan hati sangat dokter pujaan.
Perawat itu hanya satu dari belasan perawat wanita lainnya yang terpesona akan ketampanan dokter baru mereka. Sejak kedatangan Arkan di rumah sakit itu, ia dapat banyak sekali surat misterius dari para pengagum rahasianya.
Namun, Arkan tak terlalu menanggapi serius hal itu. Ia hanya ingin fokus pada pekerjaannya agar kerja kerasnya dan kakaknya tidak sia-sia selama ini.
Ia selalu bersikap profesional pada semua dokter dan tentu saja para perawat di sana.
"Baiklah! Bawa masuk pasien itu." perintahnya.
__ADS_1
"Baik dokter! Ehm... dokter! Apa kita bisa makan bersama siang ini?" tanyanya ragu.
Arkan tersenyum ramah padanya. "Maaf! Sepertinya tidak bisa. Saya sudah ada janji dengan seseorang siang ini." jawabnya.
"Baiklah dokter. Tidak apa-apa. Saya akan panggilkan pasien itu."
Perawat itu lalu keluar dengan wajah masam dan memamggil pasien terakhir untuk masuk ke dalam.
Seorang wanita paruh baya dan seorang wanita muda masuk ke dalam.
"Anne!" ucap Arkan begitu mengenali wanita muda itu.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
__ADS_1
Terima kasih😘💕