
Anindya tampak bersiap bersama seorang penata rias yang dipesan khusus untuknya oleh Adrian karena tahu jika istrinya itu tak pandai dalam urusan merias wajah.
Setelah selesai merias wajah dan menata rambutnya, penata rias itu langsung berpamitan untuk keluar. Anindya mengambil gaun berwarna putih yang dibelikan oleh Adrian untuknya, lalu memakainya.
Namun ia tak bisa menutup resleting yang ada di punggungnya . Sepertinya tersangkut sesuatu karena tak bisa ditarik sama sekali. Anindya terlihat bingung karena tak ada seorangpun yang bisa diminta bantuan. Penata rias tadi juga sudah terlanjur pergi.
"Tidak mungkin aku keluar untuk mencari bantuan!" gumamnya.
Anindya mencobanya terus walaupun dengan susah payah. Namun ia tampak terkejut ketika merasa ada seseorang yang menarik resleting gaunnya dari belakang.
Ia menoleh dan melihat Adrian lah yang kini membantunya.
"Kapan kau masuk? Kenapa aku tidak mendengar mu masuk?" tanyanya.
"Sudah sejak tadi. Kau saja yang tidak melihatnya."
"Sejak tadi? Tapi... aku sama sekali tidak melihatmu." gumamnya.
"Sudah!" seru Adrian ketika selesai menutup resleting gaunnya.
"Terima kasih!" ucap Anindya.
Ia lalu melihat penampilannya melalui pantulan di dalam cermin besar yang ada di hadapannya.
"Ternyata aku cantik juga jika berias seperti ini." pujinya pada dirinya sendiri.
Adrian juga menyadari hal itu. Anindya memang terlihat cantik sekalipun tanpa riasan wajah. Tapi hari ini ia akui jika wanita itu terlihat lebih cantik dari biasanya. Ia hampir saja tak bisa berpaling dari wanita itu saat ini.
Jika ini bukan acara yang penting, mungkin wanita itu akan berakhir di atas ranjang bersamanya.
Kenapa ia bisa sangat menggemaskan seperti ini. batinnya sambil terus menatap Anindya yang masih terlihat kagum akan penampilannya sendiri.
Setelah puas mengagumi dirinya, ia mengambil heels berwarna senada lalu memakainya.
"Sudah siap?" tanya Adrian.
"Iya!" jawabnya.
"Ayo!" ajaknya lalu menggandeng tangan wanita itu.
Adrian sendiri juga terlihat sangat tampan dengan gaya formalnya. Ia memakai setelah jas tiga potong berwarna coklat. Walaupun di hari-hari biasa dia juga terlihat tampan. Sekalipun ia hanya memakai pakaian biasa.
Mereka berdua keluar dari kamar dan segera turun ke bawah. Rumah itu terlihat sepi. Sepertinya hanya mereka saja yang masih tertinggal di sana.
Zein dan yang lain sepertinya sudah berangkat terlebih dahulu ke tempat acara akan berlangsung.
Di luar mereka berpapasan dengan Arkan yang baru saja pulang dari rumah sakit.
__ADS_1
"Kau baru kembali?" tanya Adrian.
"Iya kak. Tadinya aku mau kembali lebih cepat, tapi tiba-tiba saja ada pasien yang harus ditangani segera. Sehingga terpaksa aku baru bisa kembali sekarang." jelasnya.
"Iya sudah! Pergilah mandi dan berpakaian! Setelah itu langsung datang ke hotel. Kakak pergi duluan." perintahnya.
Adrian dan Anindya naik ke dalam mobil. Mereka lalu segera pergi dari sana.
****************
Suasana di ballroom sudah mulai tampak ramai. Zein dan yang lainnya sudah lebih dulu hadir di sana, disusul para tamu lainnya.
Adrian dan Anindya terlihat memasuki ruangan sambil bergandengan tangan. Puluhan pasang mata langsung mengawasi mereka dari ujung rambut hingga ujung m
kaki. Terutama kepada Anindya. Sebagian terlihat merendahkan, sebagian lagi mungkin masih tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Sebagian besar tamu yang hadir hari ini, mungkin pernah hadir dalam pernikahan mereka beberapa bulan yang lalu. Tentu mereka masih mengingat jelas bagaimana si pengantin wanita ditinggalkan oleh pengantin prianya di tengah-tengah acara begitu saja.
Dan tentunya Anindya masih mengingat jelas tentang hari itu. Bagaimana tamu-tamu yang hadir kala itu memandangnya dengan tatapan yang merendahkan. Sementara dirinya hanya mampu menundukkan wajahnya agar menghindari bertatapan dengan mereka.
Seperti yang dilakukannya saat ini. Namun sepertinya Adrian menyadari hal itu. Tatapan aneh yang ditujukan pada istrinya. Ia lalu teringat pada hari pernikahannya dimana ia pergi begitu saja di tengah-tengah acara. Meninggalkan Anindya seorang diri. Ia juga ingat bagaimana marahnya Zein padanya karena ulahnya itu.
Dirinyalah yang membuat istrinya jadi bahan gunjingan orang-orang yang hadir pada waktu. Itu salahnya. Kesalahan terbesar yang pernah dilakukannya pada Anindya.
Mungkin hal itu yang membuat Anindya menundukkan wajahnya sedari tadi. Ia tentu saja tidak bisa membiarkan hal itu terus terjadi. Sepertinya ia harus mematahkan tudingan miring tentang istrinya hari ini.
Ia melepaskan gandeng tangannya, lalu memeluk pinggang istrinya dengan mesra. Sepertinya beberapa orang tampak kaget. Begitupun dengan Anindya.
"Angkat wajahmu dan tersenyumlah! Apa kau tak menyadari jika hari ini kau terlihat sangat cantik? Jika saja tidak ada acara ini..... mungkin aku akan memakan mu saat ini juga." Adrian sengaja berbisik di telinganya agar semua orang dapat melihat hal itu.
Adrian ingin menunjukkan jika ia dan istrinya memiliki hubungan yang bahagia saat ini. Namun berbeda halnya dengan Anindya. Ia meremang ketika hembusan nafas Adrian yang terasa panas di telinganya yang sensitif. Entah sudah semerah apa wajahnya kini.
Adrian tampak menyadari rona wajah wanita itu. Apalagi melihat telinganya yang merah seketika. Ia rasanya ingin sekali membawanya ke suatu tempat yang tak ada siapapun didalamnya. Namun, ia tentu saja harus menahannya. Mengingat seberapa penting acara ini baginya.
Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah memberi kecupan kecil di pipi Anindya yang sepertinya berhasil membungkam mulut-mulut jahil di sekitar mereka.
Anindya menjadi semakin salah tingkah dibuatnya.
"Ehm.... aku rasa... sebaiknya kita segera menemui kakek." ajaknya terlihat salah tingkah.
Adrian tersenyum lalu mengikutinya. Namun seorang pria memanggilnya. Ia menghentikan langkahnya. Itu adalah Lim. Ia datang bersama Samuel dan Jonathan. Juga seorang wanita yang entah siapa.
"Ternyata kalian. Kapan kalian tiba disini? Kenapa tidak memberitahu ku?" tanyanya.
"Kami baru saja tiba pagi tadi. Kami belum sempat untuk memberitahu mu." jelas Lim.
Jonatan dan Lim seketika melirik kearah Anindya yang berdiri canggung di samping Adrian.
"Ehm... apakah ini nyonya Adrian yang cantik itu?" tanya Jonathan penasaran.
"Seperti yang kau lihat." Adrian merengkuh pinggangnya hingga Anindya semakin dekat dengannya.
__ADS_1
"Iya aku melihatnya dengan jelas. Jadi tidak perlu pamer pada kami!" keluh Lim kesal.
Adrian tersenyum puas melihat sahabatnya itu kesal.
"Carilah seorang wanita Lim! Agar kau tidak kesal padanya." Ledek Samuel.
" Iya! Seperti aku!" Jonathan ikut memamerkan seorang wanita cantik yang sedari tadi ikut bersama mereka.
Ternyata wanita itu adalah kekasih Jonathan. Bulan depan rencananya mereka berdua akan bertunangan.
Lim terlihat semakin kesal. Ketiga pria itu malah kompak menertawakannya.
Adrian meminta Anindya pergi lebih dulu menemui kakeknya. Tak lupa ia kembali mencium pipinya dengan lembut sebelum wanita itu pergi dari sana.
Anindya terlihat canggung dan salah tingkah. Bisa-bisanya pria itu melakukan hal seperti itu di depan teman-temannya.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1