
"Natasha! Apa yang sedang kau lakukan disini? Kau minum lagi?" tanya seorang pria pada Natasha.
Saat itu ia berada di sebuah bar. Ia sudah menghabiskan dua botol wine. Pria yang menghampirinya adalah Jackson. Mereka berdua menjalin hubungan pertemanan beberapa tahun belakangan ini semenjak wanita itu putus dengan Adrian.
"Aku hanya minum sedikit!" ucapnya sambil meninum minumannya kembali.
Jackson merampas gelas itu dari tangannya. "Sudah cukup! Kau sudah menghabiskan dua botol." ucapnya.
"Berikan padaku! Aku mau minum lagi. Kembalikan!" perintahnya ingin merebut kembali gelas itu dari tangan Jackson.
"Aku bilang sudah cukup. Sampai kapan kau mau hidup seperti ini. Lupakan dia. Dia sudah menikah."
"Tidak! Aku sangat mencintainya. Dia hanya milikku. Sekalipun dia sudah menikah, dia tetap milikku. Lagipula dia tidak pernah mencintai wanita itu." sanggah Natasha dalam keadaan setengah sadar karena sudah dipengaruhi oleh alkohol.
"Sampai kapan kau seperti ini. Ini hanya merugikan dirimu sendiri. Sementara pria itu bahkan tidak perduli padamu." gerutunya.
"Diamlah! Itu bukan urusanmu. Aku tidak akan menyerah. Kembalikan gelasku." bentaknya sambil sempoyongan.
Ia bahkan hampir terjatuh jika Jackson tidak cepat menangkap tubuh rampingnya.
Akhirnya ia menemani wanita itu minum sampai ia tidak sadarkan diri. Lalu membawanya pulang setelah membayar semua minumannya.
Jackson adalah pria yang baik. Mereka bertemu ketika Natasha sedang merintis karier modelling nya di Paris. Kebetulan saat itu Jackson sedang melihat pergelaran busana yang dibawakan oleh Natasha.
Awalnya ia tertarik pada Natasha. Namun setelah ditolak oleh wanita itu, ia memutuskan untuk menjadi sahabat baiknya saja. Ia bahkan memutuskan untuk ikut pulang ke Indonesia ketika wanita itu ingin mengejar mantan kekasihnya kembali.
Jackson memang sejak lahir tinggal di Paris. Ia seorang manajer di sebuah perusahaan swasta. Namun, orangtuanya adalah orang Indonesia asli. Mereka sudah lama tinggal di sana karena pekerjaan ayahnya yang merupakan seorang akuntan di Paris.
Walaupun Natasha hanya menganggapnya sebagai sahabat saja, namun jauh di lubuk hatinya, ia masih mencintai wanita itu.
****************
Malam ini terasa sunyi. Semua orang sudah tidur sedari tadi. Namun Anindya malah tidak bisa tidur. Ia merasa takut jika tiba-tiba saja Adrian pulang lalu kembali melakukan hal itu kepadanya seperti kemarin malam.
Ia memilih untuk pergi ke kolam renang dan duduk di kursi yang ada disana. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
Anindya belum siap untuk bertatap muka kembali secara langsung pada Adrian. Ia masih terkejut dengan apa yang terjadi kepadanya kemarin malam. Ketika Adrian merampas miliknya yang paling berharga secara paksa. Padahal ia sudah menjaganya dengan hati-hati. Ia berencana melepaskannya untuk orang yang ia cintai. Bukan kepada pria yang hanya menjadikannya sebagai pelampiasan semata.
Disaat pria itu belum bisa melupakan mantan kekasihnya, ia malah menjadikan Anindya sebagai pelariannya. Bukankah itu terlalu menyedihkan.
Kini ia tak tahu bagaimana melanjutkan hidupnya setelah berpisah dari suaminya tersebut. Ia sudah tak suci lagi. Namun, Adrian mengatakan jika ia ingin mempertahankan pernikahan ini. Apakah itu adalah kebenaran atau itu hanya alasan agar ia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.
*
Adrian baru saja kembali dari kantor. Ia harus lembur malam ini untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena besok pagi ia harus berangkat ke Amerika untuk waktu yang cukup lama. Mungkin sekitar satu bulan.
__ADS_1
Adrian lalu masuk kedalam kamarnya. Namun, ia tak mendapati Anindya di sana. Ia mencari ke setiap sudut ruangan itu. Namun tetap saja ia tak menemukannya.
Kemana dia?
Adrian membuka jas serta dasinya dan melemparkannya ke sembarang tempat. Ia lalu keluar untuk mencari istrinya itu.
Setelah mencari ke seluruh ruangan, akhirnya ia menemukannya sedang duduk di tepi kolam renang.
Apa yang sedang dilakukannya malam-malam begini disana? Apa dia ingin cari penyakit? batinnya.
Ia melihat sebuah selimut yang tergantung di sofa. Lalu mengambilnya. Ia mendatangi istrinya itu.
Anindya tampak kaget ketika melihat ada seseorang yang menutupi tubuhnya dengan sebuah selimut. Dan orang itu tak lain adalah Adrian. Ia reflek menggeser tubuhnya. Ia benar-benar masih trauma dengan kejadian kemarin malam.
Dan sepertinya Adrian menyadari hal itu. Ia lalu duduk di kursi sebelahnya.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Adrian.
Anindya hanya diam. Ia menundukkan wajahnya.
"Baiklah! Aku tahu jika kau marah padaku. Dengan apa yang sudah kulakukan kepadamu, kau pantas untuk marah. Tapi aku tidak sedang mempermainkanmu. Aku serius ketika mengatakan jika aku ingin mempertahankan pernikahan ini dan memulainya dari awal bersamamu. Aku minta maaf jika sudah menyakitimu. Tapi aku benar-benar serius dengan perkataanku." jelasnya.
Anindya masih diam, ia tak memberi respon atas penjelasan Adrian.
"Besok aku akan pergi. Mungkin sekitar satu bulan. Kau bisa memikirkannya selagi aku pergi. Ketika aku kembali, aku harap kau memberikan jawaban yang aku inginkan." ucapnya.
Anindya masih terdiam di tempatnya. Ia merasa pria itu benar-benar tulus saat mengatakan semua hal itu. Namun lagi-lagi ia diingatkan dengan nama itu.
Apa yang harus dilakukannya? Apa ia benar-benar tulus padanya?
****************
Adrian sedang bersiap-siap di dalam kamar. Ia hanya seorang diri di sana. Anindya bahkan tidak terlihat ketika ia masuk kedalam kamar. Kamar itu bahkan terlihat rapi. Mungkin wanita itu sudah bangun lebih dulu darinya.
Adrian merasa jika wanita itu masih marah kepadanya. Ia menyadari jika semua ini perlu waktu. Apalagi ia memberikan serangan yang tiba-tiba seperti itu. Tentu bukan hal yang mudah baginya untuk menerimanya. Apalagi usia wanita itu jauh lebih muda darinya.
Namun saat ia hendak memakai dasinya, Anindya tiba-tiba masuk. Mereka saling menatap satu sama lain. Namun, tidak ada di antara mereka yang berniat untuk memulai pembicaraan.
Adrian melihat tatapan istrinya yang terlihat sendu. Area di sekitar matanya juga terlihat menghitam. Sepertinya wanita itu kurang tidur.
Anindya lalu berjalan mendekat kearahnya. Ia mengambil dasi yang berada di tangan Adrian. Adrian hanya diam mengamatinya saja. Anindya lalu memakaikan dasi itu di lehernya.
Setelah selesai Anindya menurunkan tangannya, namun Adrian menahannya. Ia menggenggam tangan itu dengan erat. Untuk sesaat mata mereka kembali bertemu.
Tanpa pikir panjang Adrian kembali mengecup bibir tipis itu dengan lembut. Dan kali ini istrinya itu tidak menolaknya, ia malah menikmatinya. Ia tidak meronta ataupun berusaha untuk mendorongnya.
Ia mencoba untuk mengikuti kemana Adrian membawanya. Ia bahkan memejamkan matanya.
__ADS_1
Ciuman itu berlangsung cukup lama. Jika saja ia tak ingat jika ia akan pergi, mungkin ia akan kembali melakukan hal yang lebih daripada itu. Tapi, ia memilih untuk tidak melakukannya.
Setelah beberapa saat Adrian melepaskan pertautan bibir mereka. Keduanya tampak berusaha untuk mengatur nafas mereka yang tidak karuan. Dahi mereka saling menempel satu sama lainnya.
Apa yang terjadi pada Anindya? Apakah itu artinya ia menerima untuk memulai semuanya dengan Adrian?
Mungkin.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Makasih buat reader yang masih setiap nungguin updatenya setiap hari. Terima kasih juga buat semua yang udah mendukung karyaku ini.
Tetap sertakan:
like
komentar
vote
rate ya π
Tambahin juga sebagai salah satu list favorit kamu ya. Biar gak ketinggalan up terbarunya. ππβ€π
-Thieaπ₯π₯π₯
__ADS_1