My Dearest Wife

My Dearest Wife
Sakit karena rindu?


__ADS_3


"Kenapa lama sekali? Apa toilet sedang penuh?" tanya Anne begitu melihat Anindya kembali ke meja.


"Iya. Tadi kebetulan toiletnya sedang penuh. Apa kau sudah selesai? Aku harus segera kembali." jawab Anindya.


"Iya. Aku sudah selesai. Ayo! Aku juga harus ke bank untuk segera mentransfer uang ini." ucap Anne.


Mereka lalu pergi dari sana setelah membayar. Sebelum pulang ke rumah, Anindya lebih dulu mengantarkan Anne ke bank untuk mentransfer uang itu pada ibunya.


*


Boston, pukul 12.00 am


"Kau sedang apa, kak? Memikirkan kakak ipar ya?" tanya Arkan pada kakaknya yang sedang berdiri di balkon apartemen.


"Aku tidak sedang apa-apa. Hanya menatap bulan." jelasnya.


"Sejak kapan kau menyukai hal-hal seperti itu. Apa kau masih punya waktu untuk menatap bintang?" ledek Arkan.


Adrian hanya diam.


"Oh ya! Kemana saja kakak siang tadi? Apa kakak menemui seseorang?" tanya Arkan penasaran ketika tidak menemukan kakaknya siang tadi di manapun.


"Hemm.. aku ada urusan tadi. Apa kau sudah selesai membereskan barang-barang mu?" tanyanya.


"Sudah, kak! Aku hanya bawa sedikit barang." jawabnya.


"Jika begitu kerjakan yang lain. Jangan menggangguku dengan semua pertanyaan mu itu." keluhnya.


"Kau ini!" seru Arkan.


Namun ia tidak pergi. Ia malah ikut berdiri di sana bersama kakaknya itu. Ikut memandang bintang.


"Kak! Terima kasih!" ucapnya.


"Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih untuk segalanya. Jika bukan karena mu, aku tak mungkin bisa seperti sekarang ini. Terima kasih karena sudah menjadi kakakku." Arkan benar-benar tulus saat mengucapkannya.


Baginya kakak dan kakeknya adalah orang yang sangat penting baginya. Tak ada hal lain yang dapat menggantikan mereka di hatinya. Ia masih terlalu kecil ketika kehilangan orangtuanya. Hal itu sempat membuatnya stress. Namun, kehadiran kakaknya membuatnya perlahan-lahan bisa semangat kembali. Sekalipun ia tahu jika kakaknya mungkin juga merasa hal yang sama saat itu. Namun, ia berusaha menguatkannya sekaligus menguatkan dirinya sendiri. Pengorbanan kakaknya tak akan bisa ia balas sampai kapanpun.


"Tidak perlu berterima kasih. Kau adalah adikku. Itu sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengurus mu. Yang perlu kau lakukan hanyalah menjaga apa yang sudah kuberikan padamu. Jangan pernah membuatku kecewa." ucapnya sambil merangkul bahu adik kesayangannya itu.


Arkan tersenyum padanya. "Iya kak! Aku tidak akan pernah mengecewakanmu." ucap Arkan dengan yakin.


Mereka lalu kembali menatap langit malam itu.


"Kak!" panggilnya.


"Hem..!" sahutnya singkat.

__ADS_1


"Apa kau tidak merindukan ayah dan ibu?"


"Iya. Aku merindukan mereka." jawab Adrian tanpa memalingkan pandangannya.


Aku juga merindukannya.


****************


Anindya baru saja kembali ke rumah. Ia masih memikirkan apa yang dikatakan Natasha padanya tadi. Sejujurnya ia merasa aneh ketika Natasha memberitahukannya tentang sejarah tato itu padanya. Ternyata tato itu punya kesan yang istimewa untuk mereka. Wajar saja jika Adrian masih membiarkan tato itu menghiasi tubuhnya.


Lalu apa artinya Anindya baginya. Ia sudah merebut miliknya yang paling berharga. Sementara hatinya masih menjadi milik wanita lain. Apa benar yang dikatakan Natasha, bahwa dirinya hanya dijadikan sebagai pelarian saja. Atau mungkin sekedar penghangat ranjangnya saja.


Rasanya ingin sekali ia menangis saat itu. Namun lagi-lagi ia berusaha sebisa mungkin untuk menahannya. Ia tak ingin orang lain melihat kesedihannya sebagai kelemahannya. Ia harus kuat dengan semua yang terjadi.


****************


Beberapa hari kemudian.


Anindya terbangun ketika menyadari ada cahaya yang begitu mengganggu matanya. Ia membuka mata dan terkejut ketika mendapati dirinya berada di atas balkon kamarnya.


"Astaga! Apa aku ketiduran kemarin malam?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil mengingat kejadian kemarin malam.


Ia ingat jika kemarin malam ia sedang berada di balkon untuk melihat langit. Ia pasti ketiduran saat duduk di sana.


Hatchii!


Tiba-tiba Anindya bersin. Ia merasa tubuhnya tidak enak. Sepertinya ia terkena flu karena semalaman berada di luar. Ia seketika menyentuh wajahnya. Rasanya hangat. Ia lalu segera masuk ke kamarnya untuk mandi air hangat. Ia yakin itu bisa membantunya.


*


Ketika berada di dapur, Sofia menghampirinya dan menanyakan sesuatu padanya.


"Kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Sofia karena menyadari raut wajahnya yang sedikit pucat.


Ia juga meletakkan punggung tangannya di dahi Anindya untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Tubuhmu agak panas. Apa kau demam? Apa mau ibu panggilkan dokter?" tanyanya cemas.


"Tidak usah, bu! Aku baik-baik saja. Nanti setelah sarapan aku akan meminum obat. Ibu tidak perlu memanggil dokter." tolaknya.


"Baiklah! Setelah minum obat kau harus segera beristirahat. Jika panas mu tidak turun juga, maka ibu akan panggilkan dokter untukmu." ucapnya sambil mengancam.


"Iya bu."


*


Setelah selesai sarapan dan minum obat, Anindya merebahkan tubuhnya sejenak di atas ranjang. Tadinya setelah mengetahui Anindya sakit, Zein segera menghubungi dokter untuk memeriksa Anindya. Namun, Anindya berusaha untuk menolak hal itu. Karena menurutnya itu hanya merepotkan dokter saja.


Akhirnya dengan penolakan berkali-kali, Zein menuruti perkataannya dan tidak jadi memanggil dokter.


Anindya seketika merasa lega. Ia akhirnya istirahat di kamar. Ia mencoba untuk memejamkan matanya. Pengaruh obat juga semakin memperkuat rasa kantuknya. Hingga tak butuh waktu yang lama baginya untuk tidur.

__ADS_1


****************


Beberapa jam kemudian, Sofia masuk ke dalam kamar Anindya. Ia bermaksud membangunkan wanita itu untuk makan siang terlebih dahulu. Setelah itu ia bisa beristirahat kembali.


Anindya masih tampak tertidur pulas. Sofia lalu duduk di tepi ranjang untuk membangunkannya. Namun, ketika ia menyentuh dahinya, Sofia merasa suhu tubuhnya semakin panas. Sepertinya paracetamol yang di minumnya tidak bekerja.


Ia mencoba untuk membangunkannya, namun wanita itu tidak bangun juga. Ia jadi semakin cemas dan segera memberitahu Zein.


Tanpa pikir panjang, Zein langsung menghubungi dokter untuk segera datang ke rumah.


Tak lama kemudian, Dokter datang dan segera meneriksa keadaan Anindya. Zein dan Sofia tampak cemas.


Setelah di periksa, dokter mengatakan jika Anindya hanya terkena demam biasa. Itu akan sembuh dalam waktu 2-3 hari. Zein seketika merasa lega saat mendengarnya.


Sofia lalu mengantarkan dokter itu keluar dari kamar. Sementara Zein masih duduk di tepi ranjang mendampingi Anindya.


Ia tampak begitu mencemaskan Anindya. Selama ini zein sudah menganggap Anindya seperti cucu kandungnya sendiri. Wajar saja jika ia begitu mencemaskan Anindya.


Ia mengganti handuk yang tertempel di dahi Anindya dengan handuk baru yang hangat.


"Kenapa kau bisa jatuh sakit? Apa kau sakit karena merindukannya? " gumamnya.


****************


*


*


*


*


*


*


*


*


Apa kalian suka dengan bab ini? Jika suka jangan lupa berikan


Like πŸ‘


komentar πŸ’¬


vote


dan rate 🌹ya.


jangan lupa juga jadiin novel ini sebagai salah satu list favorite kalian ya. biar gak ketinggalan updatenya. Tekan tanda hati ❀ .

__ADS_1


ThieaπŸ₯€πŸ₯€β€



__ADS_2