My Dearest Wife

My Dearest Wife
sesuatu yang memalukan


__ADS_3


Quote:


Masa lalu tidak bisa menyakiti anda lagi, kecuali jika anda membiarkannya.


-Alan Moore


*


"Kita akan pergi kemana? Sepertinya ini bukan jalan menuju rumah." tanya Anindya begitu menyadari jika jalan yang mereka lalui berbeda dari jalan yang mereka lewati pagi tadi. Anindya bisa dengan cepat menghafal jalan.


Hari sudah mulai malam. Pria itu akan membawanya kemana lagi kali ini.


"Apa kau ingin pulang dengan pakaian seperti itu?" tanya Adrian balik padanya.


Anindya lalu teringat pada pakaiannya. Ia hanya menggunakan kemeja tanpa bawahan. Kemeja itu bahkan tampak kebesaran di tubuhnya. Ia seperti memakai dress selutut.


"Lalu kita akan kemana?" tanyanya.


"Nanti kau juga akan tahu." jawabnya tanpa sedikitpun menolehkan wajahnya kearah Anindya.


"Apa kau tidak punya jawaban yang lain selain " Nanti kau juga akan tahu"." ucapnya sembari menirukan suara Adrian ketika menjawab pertanyaannya.


Adrian hanya diam. Karena kau berani melawanku, maka aku tidak akan membiarkanmu begitu saja malam ini. Batinnya.


****************


"Ayo turun!" perintah Adrian ketika melihat Anindya hanya diam saja di tempatnya.


Saat itu mereka berada di pelataran parkir sebuah hotel. Adrian memutuskan membawa wanita itu ke hotel. Mereka akan menginap malam ini di sana. Saat mengetahui hal itu, Anindya terlihat langsung cemas. Mereka akan menginap di hotel malam ini. Berdua saja.


"Kita sebaiknya pulang saja. Untuk apa membuang uang hanya untuk menginap disini." jawab Anindya.


"Apa aku memakai uangmu?" tanyanya.


"Tidak."


"Lalu? Apa masalahmu?"


Anindya melirik kearah pria itu. "Aku tahu kau punya banyak uang. Tapi tidak perlu berlebihan seperti ini juga." gerutunya.


"Jangan banyak bicara. Ayo cepat turun!" perintahnya lagi. "Atau kau ingin tidur di mobil malam ini. Mungkin nanti akan ada seseorang yang datang dan melakukan sesuatu padamu. Dan aku tidak bertanggung jawab jika hal itu terjadi." ucapnya sambil menakutinya.


Anindya tampak berpikir. Benar juga apa yang dikatakan oleh Adrian. Toh, dia yang akan membayar semuanya. Jadi kenapa dia harus ambil pusing.


Saat Adrian turun dari mobil, ia pun ikut turun juga. Namun, ia malah kembali ragu setelah menyadari pakaian apa yang sedang di gunakan nya saat ini. Apa tidak apa-apa jika ia masuk dengan pakaian seperti ini.


"Ehm... tuan! Pakaianku bagaimana?" tanyanya lagi.


Adrian seketika memperhatikan penampilan istrinya ketika itu. Sial. Kenapa dia terlihat menggairahkan dengan kemeja ku.


"Tuan... tuan!" panggil Anindya karena melihat pria itu tampaknya sedang termenung.


"Hemm... Apa!" Serunya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan pakaianku? Apa tidak apa jika aku masuk seperti ini?" tanyanya.


"Tunggu sebentar!" Adrian lalu melihat kembali isi bagasinya. Apa ada sesuatu yang bisa digunakan oleh wanita itu untuk menutupi tubuhnya.


Ia menemukan sebuah cardigan berwarna coklat di sana. Ia lalu memberikannya pada Anindya. Wanita itu segera memakainya. Setelah selesai, mereka langsung masuk ke dalam hotel dan memesan kamar.


*


Anindya terlihat duduk di tepi ranjang. Memperhatikan setiap sudut kamar. Sementara Adrian sedang mandi.


Kamar hotel itu sangat luas. Bahkan ada mini bar di sana. Lengkap dengan segala macam minuman beralkohol yang tersusun rapi di atas rak.


Anindya benar-benar merasa takjub melihat kehidupan orang kaya. Mereka bisa mendapatkan apapun yang mereka inginkan dengan mudah. Sementara dirinya harus berusaha keras hanya untuk sekedar mendapatkan makanan.


Tapi kini lihatlah dirinya, ia punya suami kaya yang memanjakannya dengan fasilitas mewah. Ia pergi kemanapun dengan mobil. Menginap di hotel mewah. Makan makanan enak setiap hari. Tidur di ranjang yang nyaman. Bahkan mendapat uang setiap bulannya.


Namun, ia tetap harus tahu diri. Karena semua ini hanya sementara dan akan segera berakhir.


Saat memikirkan hal itu. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa sedih. Seperti akan kehilangan sesuatu yang berharga. Tentu saja, ia akan kehilangan beberapa orang yang sudah sangat disayanginya.


Apakah ia benar-benar harus pergi? Ia sendiri mulai bimbang atas perasaannya sendiri. Ia mulai merasa ragu dengan niatnya.


Ia tampak menghela nafasnya. Ia mengambil remote TV yang ada di atas meja. Lalu menyalakan televisi. Sekedar untuk mengalihkan pikiran dan menunggu Adrian yang belum juga selesai mandi. Entah apa saja yang dilakukannya di dalam kamar mandi.


Anindya memilih salah satu chanel yang memutar film luar. Sepertinya film komedi. Ia mencoba memahami jalan ceritanya melalui teks terjemahan yang tersedia di sana.


Sesekali ia tertawa saat melihat adegan lucu. Namun, semakin lama ia semakin aneh saat melihat adegan mesra para pemainnya. Mereka melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh suami istri. Anindya seketika menutup wajahnya dengan telapak tangannya karena malu. Ia berusaha untuk meraih remote TV yang ada disampingnya. Namun, ia terlalu gugup untuk menemukannya. Ia takut jika Adrian tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan melihat tayangan itu.


Setelah berhasil mendapatkan remote nya, ia malah semakin bingung menekan tombol yang mana. Tangannya gemetar. Ia malah salah menekan tombol. Yang ia tekan justru tombol volume. Sehingga suara para pemain itu menggema di seluruh ruangan.


Bahkan Adrian yang baru saja keluar dari kamar mandi, sedikit kaget ketika mendengarnya. Namun pria itu bukannya marah malah tertawa melihat ekspresi gugup istrinya.


"Apa yang kau tonton, huh? Ingin belajar sesuatu dari mereka?" tanyanya sambil mematikan televisi tersebut.


Ia lalu duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


"Hei! Kenapa menutupi tubuhmu seperti itu? Apa kau malu?" tanya Adrian lagi.


Anindya tak menjawab. Ia ingin sekali menghilang dari pandangan pria itu.


Adrian terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian terdengar ketukan dari arah luar. Sepertinya itu layanan kamar.


Adrian memesan makanan untuk mereka. Ternyata dugaannya benar. Itu memang pelayan yang mengantarkan makan malam untuk mereka.


Adrian membawa troli berisi makanan itu masuk dan meletakkannya di dekat meja.


Ia lalu menarik paksa selimut yang menutupi tubuh istrinya itu. Namun Anindya menahannya. Ia benar-benar malu pada menunjukkan wajahnya saat ini.


"Hei! Ayo makan! Apa kau tidak lapar?"


"Aku ti... tidak lapar. Aku akan makan nanti." jawabnya dari balik selimut.


"Tidak ada nanti. Jika aku bilang sekarang, ya sekarang." ucapnya.


"Nanti saja. Kau makan saja lebih dulu."

__ADS_1


"Kau berani membantahku, ya?"


"Tidak. Nanti saja makanan. Aku masih kenyang." Namun ternyata, perut Anindya tiba-tiba saja berbunyi.


Hal itu membuat Adrian sampai harus menahan tawanya. "Perutmu tidak bisa berbohong ya?"


Akhirnya Adrian menarik paksa kembali selimut itu, hingga terlepas dari tangan Anindya. Kini Adrian bisa melihat jelas wajah Anindya yang memerah karena malu.


"Bangun dan mandilah! Setelah itu makan. Ayo cepat!" perintahnya.


Akhirnya Anindya menuruti perintah suaminya itu. Ia masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Saat melihat Anindya sudah masuk kedalam kamar mandi, Adrian melepaskan tawa yang sedari tadi di tahannya.


"Dasar gadis bodoh!" gumamnya.


****************


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Maaf ya. update dua bab dulu. Gak sanggup nulis banyak. Besok ditambahin lagi ya... 🙏🙏😊


Tetap sertakan:


like


komentar


vote


rate ya 😄


Tambahin juga sebagai salah satu list favorit kamu ya. Biar gak ketinggalan up terbarunya. 😊😊❤🍒


Terima kasih buat semua pembaca yang udah kasih dukungan.


salam hangat dari

__ADS_1


Thiea 🥰🌹🍎❤



__ADS_2