
"Ini sudah waktunya, tetapi anak itu belum juga menampakkan wajahnya. Sofia! Hubungi Romi sekarang juga!" Perintah Zein pada Sofia.
Mereka berdua tampak cemas karena hingga kini Adrian belum juga muncul. Sofia tampak berusaha untuk menghubungi Romi untuk memastikan keberadaan mereka saat ini.
"Bagaimana?" tanya Zein ketika Sofia selesai menelpon.
"Mereka sedang dalam perjalanan ke sini tuan!" jelasnya.
"Baiklah! Dasar anak itu. Selalu saja membuat orang cemas." Zein tampak menggerutu.
Tak lama kemudian, Adrian masuk kedalam kamar itu. Ia tampak bersikap biasa. Seperti sedang tidak terjadi apa-apa.
"Kau darimana saja! Apa kau ingin membuat kakek masuk rumah sakit kembali!" gerutunya saat melihat Adrian tiba disana.
"Tenangkan dirimu kakek. Aku sudah ada disini, kan!" ucap Adrian terlihat tenang.
Adrian meminta pelayan untuk memberikan pakaiannya. Ia lalu masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk bersiap. Dalam beberapa menit ia sudah selesai dengan pakaiannya begitu juga dengan tatanan rambutnya yang terlihat rapi. Memang tidak ada seorangpun yang bisa menandingi ketampanan pria itu.
Setelah selesai, mereka langsung pergi ke ballroom untuk segera memulai acaranya.
*
Sementara itu Anindya sudah selesai dengan dandanannya. Ia tampak sangat cantik hari itu. Semua orang tampak memujinya. Ia tampil anggun dengan gaun pernikahan yang dikenakannya. Tatanan rambut dan riasan yang sederhana menambah kesan anggun pada penampilannya.
"Kau sudah siap sayang?" tanya Sari padanya.
Ia tampak menghela nafas sekejab sebelum menjawab pertanyaannya. "Aku sudah siap, bu!" jawabnya berusaha untuk tampak tegar.
Mereka keluar dari ruangan itu. Anindya didampingi oleh Sari, Ayu dan juga Anne. Mereka berempat berjalan beriringan. Ballroom tersebut berada di lantai dua. Sementara mereka berada di lantai empat.
Anindya tiba-tiba teringat ucapannya sewaktu kecil pada ibu dan neneknya saat mereka berjalan.
"Ibu! Nenek! Jika aku menikah nanti, ibu dan nenek akan mendampingi aku, kan?" tanya Anindya pada dua wanita yang dicintainya itu.
"Tentu saja, sayang! Kami akan mendampingimu. Kau pasti akan terlihat cantik saat memakai gaun pengantinmu." ucap ibunya sambil tersenyum.
"Iya sayang! Suamimu nanti pasti akan sangat menyayangimu dan mencintaimu. Tentunya dia tidak akan menyakitimu dan membiarkanmu menangis." timpal neneknya.
"Benarkah bu, nenek?"
__ADS_1
"Iya sayang. Kau pasti akan bahagia." jawab ibunya.
Apa yang dikatakan ibu dan neneknya hanyalah sebatas penghiburan semata baginya. Karena saat ini, tidak ada satupun yang sesuai dengan apa yang mereka katakan.
Mereka tidak ada disini untuk mendampinginya. Ia juga tidak bahagia dengan pernikahannya karena suaminya tidak mencintainya apalagi menyayanginya.
Namun, ia berusaha untuk menguatkan dirinya. Hanya satu tahun. Yah, pernikahan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun saja. Ia terus merapalkan kalimat itu sebagai penguat dirinya. Setelah itu ia akan terlepas dari semua ini.
Mereka tiba di ballroom. Ruangan itu sudah dipenuhi oleh para undangan. Tampaknya sebagian dari mereka adalah rekan bisnis dan para teman. Arkan, adik Adrian, tidak dapat hadir hari ini karena ia masih disibukkan dengan sidang skripsinya. Beberapa bulan lagi ia akan menyelesaikan sekolahnya dan kembali ke kota ini untuk bekerja disini.
Dari pihak keluarga Adrian hanya ada bibinya yang tinggal di Jerman dan sepupunya, Clarissa. Gadis muda itu masih berusia enam belas tahun. Hanya selisih empat tahun saja dari Anindya.
Namun, Anindya tak terlalu memperhatikan siapa saja yang datang ke acara itu. Ia terlalu gugup untuk memikirkan orang lain saat ini.
Bahkan ia juga tak memperhatikan pria tampan yang kini berada disisinya. Pria yang beberapa saat lagi akan menjadi suaminya.
Ia juga tak menyadari jika Adrian sekilas menatapnya dengan tatapan takjub melihat kecantikan calon istrinya itu. Namun ia tak membiarkan siapapun mengetahui hal itu.
Acara pun segera di mulai. Para tamu undangan tampak duduk di kursinya masing-masing.
***********
Acara itu berlangsung hingga sore hari. Beberapa jam sebelum acara berakhir, Adrian sudah tak terlihat lagi di acara itu. Entah kemana ia pergi. Zein sudah menggerutu saat mengetahui jika Adrian pergi begitu saja meninggalkan pesta.
Anindya berusaha untuk menenangkan pria bayar itu agar tidak terlalu stres. Ia mengatakan jika mungkin saja Adrian mempunyai urusan penting yang mengharuskannya untuk pergi saat ini juga.
Zein mencoba untuk mengerti akan hal itu walaupun ia tahu Anindya juga merasa kecewa dengan Adrian karena pergi begitu saja dan mempermalukannya.
*************
Sameul melajukan mobilnya begitu mendapatkan telepon dari Adrian. Tadinya setelah selesai dengan pekerjaannya, ia akan menemui sahabatnya itu untuk memberikannya ucapan selamat padanya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Adrian memintanya untuk menemuinya di barat yang biasa mereka kunjungi.
Sesampainya disana, Samuel masuk kedalam ruangan yang di pesan oleh Adrian.
"Apa yang sedang kau lakukan disini? Apa kau masih waras? Dan apa ini? Sejak kapan kau menyentuh alkohol?" tanyanya setelah melihat beberapa botol minuman beralkohol yang sudah kosong ada di atas meja.
"Ssttt! Diamlah! Aku memintamu datang untuk menemaniku bukan untuk memarahiku. Ayo duduklah dan minum bersamaku." ajak Adrian.
Pria itu terlihat mulai mabuk. Entah sejak kapan dia menyentuh minuman keras itu. Bukankah ia selalu berusaha untuk menjauhinya. Bahkan saat berpisah dengan Natasha, ia juga tak pernah minum seperti ini.
__ADS_1
"Tidak. Terima kasih. Jika kita berdua mabuk, maka kita terpaksa menginap disini malam ini. Lagipula aku tidak boleh mabuk karena besok aku harus melakukan operasi." tolaknya.
"Dasar kau!" ucapnya.
"Adrian! Apa yang sedang kau lakukan disini? Ini adalah hari pernikahanmu. Dan kau malah duduk disini sementara istrimu seorang diri disana. Kau ingin membuatnya dan keluargamu malu?" tanya Samuel.
"Aku bilang diam dan jangan bertanya apapun. Lagipula aku tak menyukainya. Aku tidak perduli jika dia malu sekalipun. Yang terpenting aku sudah mengabulkan permintaan kakekku untuk menikah dengannya. Aku rasa itu sudah cukup. Jadi tidak masalah jika aku melarikan diri sejenak, bukan. Ayo! Minumlah!" ucapnya setengah tidak sadar karena sudah berada di bawah pengaruh alkohol yang dikonsumsinya.
"Kau saja yang minum." ia hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Adrian yang seperti itu.
Bisa-bisanya dia mempermalukan istrinya seperti itu. Sungguh wanita yang malang. batin Samuel sambil melihat sahabatnya yang mulai mabuk.
Adrian meminta pelayan untuk membawakannya sebotol minuman lagi karena botol lainnya sudah kosong.
Samuel mencoba untuk menghentikannya dengan menyingkirkan botol itu darinya. Namun Adrian dengan cepat menepis tangan Samuel yang hendak mengambil minumannya.
"Kenapa kau mengambil botol minumanku. Jika kau mau, mintalah pada pelayan. Bukankah kau tidak mau minum." Adrian tampak semakin meracau.
"Adrian! Sudah cukup. Kau sudah mulai mabuk. Aku akan mengantarkanmu pulang. Ayo!" ajaknya sambil membantunya untuk berdiri dari tempat duduknya.
Adrian tampak berontak, ingin melepaskan diri dari Samuel. Namun Adrian kalah tenaga. Di menit berikutnya, ia tertidur tak sadarkan diri karena sudah terlalu mabuk. Samuel segera mengantarkannya pulang setelah membayar semua pesanan Adrian.
"Aku akan minta ganti rugi padamu nanti." gumamnya.
**************
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1