My Dearest Wife

My Dearest Wife
Mengunjungi panti asuhan


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Adrian terlihat sedang berada di salah satu ruangan khusus di rumahnya yang ia desain sebagai ruang olahraga. Ia tampak sedang berlari di atas treadmill miliknya dengan kecepatan sedang. Ia sudah hampir dua jam lebih berada di sana pagi ini. Kebetulan ini adalah akhir pekan. Semenjak menikah ia memang tak pernah lagi berada di kantor setiap akhir pekan seperti sebelumnya. Seandainya ada pekerjaan pun biasanya ia memilih mengerjakannya di ruang kerja yang ada dirumahnya.


Saat dirasa tubuhnya sudah cukup memanas, ia mematikan treadmill dan turun dari sana. Ia rasa sudah cukup untuk hari ini. Ia duduk di salah satu kursi yang ada di sana untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah bermandikan peluh saat ini.


Di detik berikutnya seseorang masuk kedalam ruangan itu. seseorang itu tak lain adalah Anindya, istri kecil tersayangnya. Wanita itu terlihat membawa handuk kecil dan air mineral dalam kemasan botol untuknya. Ia berdiri tepat di hadapan Adrian.


Adrian mengambil botol minuman itu dan meminumnya karena sudah sangat kehausan. Namun ia tak memalingkan wajahnya sedikitpun dari istrinya yang semakin hari terlihat semakin cantik di matanya. Anindya sepertinya juga sudah mulai terbiasa ketika di tatap seperti itu oleh suaminya. Tidak ada kecanggungan lagi di dirinya. Apalagi semenjak dirinya mengakui perasaannya pada Adrian.


Ia mengambil handuk kecil untuk menyeka keringat yang membasahi wajah suaminya dengan tepukan lembut. Adrian meletakkan botol minuman itu di kursi sampingnya. Lalu merengkuh pinggang ramping istrinya dan memeluknya erat. Wanita itu tampak merapat masuk diantara kedua pahanya yang terbuka.


"Aku sangat merindukanmu." ucap Adrian.


"Rindu apanya? Kita hanya tidak bertemu kurang dari dua jam." Anindya tersenyum melihat tingkah suaminya yang sangat manja.


"Apa kau tidak tahu, bagiku dua jam itu seperti dua tahun." Adrian mendongakkan kepalanya dan menunjukkan tatapan memelasnya.


"Jangan berlebihan!" Anindya yang gemas seketika memberikan kecupan singkat di bibirnya.


"Lagi!" tqgihnya ketika istrinya melepaskan ciumannya.


Anindya terkekeh dan menciumnya kembali. "Sudah puas?"


Adrian menggelengkan kepalanya dan meminta lagi. Karena gemas Anindya mengecupnya sebanyak tiga kali.


"Sudah, ya!" pintanya.


"Ehm... baiklah! Aku senang karena kau sekarang tidak merasa malu dan canggung lagi kepadaku. Walaupun aku juga suka ketika kau terlihat malu-malu dan canggung ketika aku menatapmu. Kau yang seperti itu terlihat menggemaskan. Sementara kau yang sekarang tampak sangat menggairahkan. Jika aku tak ingat bahwa kau sedang datang bulan, mungkin aku akan meminta hal lainnya kepadamu." pujinya.


Anindya hanya tersenyum melihat pria itu memujinya.


"Sekarang pergilah mandi! Setelah itu turun ke bawah untuk sarapan. Kakek sudah menunggu di ruang makan." perintahnya sambil menangkup kedua pipi suaminya itu.


Anindya lalu melepaskan pelukannya. Ia hendak meninggalkannya lebih dulu. Namun sebelum wanita itu membuka pintu, Adrian memanggilnya.


"Apa?" tanya Anindya.


"Setelah sarapan, segeralah bersiap! Aku akan membawa mu ke suatu tempat." perintahnya.


"Kemana?"


"Nanti kau juga akan tahu."


"Kenapa kau suka sekali berteka-teki denganku." kesalnya karena tak mendapatkan jawaban.

__ADS_1


****************


Jalan itu tampak asing bagi Anindya. Namun pemandangan yang tersaji di sepanjang jalan sangat menenangkan. Di sisi kanan dan kiri jalan masih di penuhi oleh pepohonan yang belum tersentuh oleh tangan manusia. Anindya bahkan membuka kaca jendela mobil untuk menghirup udara yang masih sangat bersih tersebut.


Namun ia masih penasaran kemana tujuan mereka saat ini. Adrian tidak juga menjawab ketika ia bertanya untuk kesekian kalinya.


Perjalanan itu sendiri memakan waktu hampir dua jam lamanya. Sesekali Anindya tampak memakan makanan ringan yang di bawanya untuk mengisi waktu. Ia juga tampak menyuapi Adrian sesekali.


Akhirnya setelah beberapa saat, mobil itu akhirnya berhenti di suatu rumah yang cukup besar walaupun terlihat sederhana. Rumah itu juga di kelilingi oleh lahan yang luas dengan berbagai pohon besar yang mengelilinginya.


Hanya ada bangunan itu saja yang terlihat di sana. Tidak ada rumah penduduk lainnya di sekitar bangunan itu.


Di depan gerbang ada sebuah papan besar bertuliskan "Yayasan kasih Riana." Jika Anindya tidak salah itu adalah nama mendiang ibu mertuanya.


"Kau mengajakku ke panti asuhan?" tanyanya setelah mengetahui tujuan mereka.


"Iya. Bukankah kau sangat ingin melihat tempat ini?"


"Iya. Aku sangat ingin!" wanita itu tersenyum lebar. Ia tampak sangat bahagia.


Adrian benar-benar merasa takjub melihat istrinya. Wanita itu bisa merasa sangat bahagia dengan hal sederhana seperti ini.


"Ayo masuk!" Ajaknya ketika mereka turun dari mobil.


Mereka tampak tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka. Terutama Adrian. Pria itu sepertinya di kenal baik oleh kedua wanita tersebut. Terbukti dari cara mereka menyapanya.


"Selamat datang, Tuan! Akhirnya anda datang berkunjung. Anak-anak sangat merindukan anda. Mereka juga tak henti bertanya kapan tuan akan datang." ucap wanita paruh baya itu pada Adrian.


"Maaf nyonya Dewi! Saya sangat sibuk akhir-akhir ini. Apalagi saya baru menikah beberapa bulan, jadi tidak bisa datang berkunjung." jelasnya.


"Ah iya! Saya juga sudah mendengar tentang pernikahan anda dari Nyonya Sofia. Selamat atas pernikahan anda. Apakah nyonya ini istri anda?" tanyanya setelah melihat Anindya.


"Iya! Namanya Anindya. Kedepannya mungkin dia akan sering berkunjung bersama saya nantinya." jawab Adrian.


Anindya memperkenalkan dirinya pada kedua wanita itu.


Kedua pengurus panti tersebut mengajak Adrian dan Anindya untuk berkeliling. Dewi mengatakan jika dalam satu bulan ini ada lima bayi yang ditinggalkan di depan pintu yayasan.


Anindya seketika membeku ketika melihat bayi-bayi tersebut. Rasanya sungguh menyesakkan dada. Mereka terlihat sangat kecil bahkan masih merah. Apa yang ada di pikiran mereka?


"Apa semua bayi ini tidak di inginkan oleh orangtuanya?" tanya Anindya tak berhenti menatap mereka dengan tatapan iba.


Ia sendiri merasa sakit ketika ayahnya membuangnya. Lalu bagaimana dengan mereka?


Tanpa ia sadari, air mata mulai mengalir dari kedua sudah matanya.

__ADS_1


"Sepertinya begitu Nyonya. Kebanyakan dari mereka mungkin lahir di luar pernikahan. Sehingga kehadiran mereka adalah aib bagi keluarganya. Sekarang ini banyak pasangan muda yang membuang bayi mereka di tengah hutan, ataupun di pintu-pintu panti asuhan seperti belakangan ini." jelasnya.


"Tapi... mereka masih sangat kecil. Kenapa mereka setega itu?" Anindya mengambil seorang bayi lalu menggendongnya ketika telah mendapat izin dari pengurus panti.


"Mungkin karena mereka masih muda dan tidak ingin terbebani dengan tanggung jawab sebagai orang tua." duganya.


"Jika tidak ingin bertanggung jawab, kenapa mereka mau melakukannya. Padahal banyak pasangan lain yang harus menanti bertahun-tahun untuk memiliki seorang anak." ia tak berhenti menatap mata bayi yang sedang didekapnya itu.


Ingin rasanya ia merawat bayi-bayi mungil itu dengan tangannya sendiri. Tapi apa itu mungkin?


Anindya kembali mencium bayi tersebut. Terlihat jelas ketulusan di wajahnya. Adrian yang sedari tadi memperhatikan Anindya, tersenyum. Rasanya ia sudah tak sabar untuk segera memiliki anak dari Anindya.


****************


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕



__ADS_1


__ADS_2