My Dearest Wife

My Dearest Wife
Aku menyayangimu kakek


__ADS_3


Anindya tampak bingung dengan sikap Adrian kepadanya. Apalagi saat ia melihat tato itu di punggungnya pagi tadi. Pikirannya tambah kacau karena tidak mengerti dengan keadaan ini.


Adrian juga bersikap penuh teka-teki kepadanya. Ia menyuruhnya untuk tidur bersamanya setiap malam mulai malam ini. Apa itu artinya ia yang memindahkan Anindya ke ranjang kemarin malam?


Kenapa pria itu tiba-tiba merubah sikap kepadanya. Bukankah ia tak menyukai Anindya selama ini. Namun sejak ciuman pertama mereka waktu itu, sikap pria itu jadi sedikit melunak padanya. Ia mulai banyak bicara pada Anindya. Padahal sebelumnya, Adrian terlihat menjaga jarak darinya.


Lalu bagaimana dengan tato yang dilihatnya. Bukankah itu artinya jika Adrian masih mencintai mantan kekasihnya itu?


Anindya tampak menghela nafas. Rasanya untuk keluar dari rumah ini semakin sulit.


Ia lalu pergi ke dapur untuk menemui lidya. Wanita itu sedang memotong beberapa jenis buah.


"Anindya! Kau mau buah?" tanyanya begitu melihat Anindya masuk ke dapur.


Anindya tersenyum lalu mengambil satu potong buah kiwi dengan menggunakan garpu.


"Kau kenapa? Apa ada masalah dengan tuan muda?" tanyanya sembari menebak.


Anindya tak langsung menjawab. Ia terkadang merasa heran melihat Lidya. Ia bisa dengan mudah menebak jika sesuatu terjadi pada dirinya.


"Bagaimana ibu bisa tahu jika... aku ada masalah dengan tuan Adrian?" tanyanya balik.


"Memangnya kau ada masalah dengan siapa lagi selain dengan suamimu itu saat berada di rumah ini." ucapnya sambil tersenyum.


Anindya juga ikut tersenyum. "Iya! Ibu memang benar."


"Ada apa? Kau bisa bercerita pada ibu jika kau mau. Apa tuan menyakitimu?"


"Tidak bu. Dia tidak menyakitiku. Hanya saja dia membuatku sedikit bingung. Ehm.... apa aku boleh bertanya sesuatu pada ibu? Tapi jangan sampai ada orang lain yang tahu jika aku bertanya. Apa ibu bisa merahasiakannya?"


"Anindya! Kau bisa bertanya apapun pada ibu. Kau tidak perlu cemas, karena ibu akan menjaga rahasia ini baik-baik. Anggap saja jika kau sedang berbicara pada ibumu." ucap Sofia sambil menangkup sebelah pipinya dan tersenyum padanya.


Anindya juga tersenyum padanya. "Terima kasih, bu."


"Baiklah! Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya wanita paruh baya itu.


"Ehm... apa ibu tahu tentang Natasha?" tanya Anindya ragu.

__ADS_1


"Kenapa kau bertanya tentang dia? Apa kau pernah bertemu dengannya? Apa dia menyakitimu?" Sofia tampak cemas.


"Tidak. Dia tidak pernah menyakitiku. Aku hanya pernah bertemu dengannya dua kali. Dan aku juga tidak pernah berbicara padanya. Aku.. hanya ingin tahu sedikit tentang dia. Kenapa ia dan tuan Adrian bisa putus?"


"Anindya jika tentang masalah itu, akan lebih baik jika kau menanyakan langsung pada tuan Adrian. Karena ibu tidak berhak menjelaskan tentang masalah itu padamu. Maafkan ibu. Saat berhubungan dengan tuan, nona Natasha tidak pernah menginjakkan kakinya di rumah ini. Karena.. tuan besar tidak menyukainya. Jadi ibu juga tidak tahu bagaimana sifat nona Natasha itu seperti apa." jelasnya.


"Dia tak pernah sekalipun datang ke rumah ini?" tanyanya sekali lagi mencoba untuk memastikan.


"Iya. Dia tak pernah datang ke rumah ini."


"Jika ia tak pernah datang ke rumah ini, bagaimana kakek bisa tidak menyukainya?" Anindya merasa bingung.


"Tuan besar pernah bertemu dengannya sekali. Saat itu ia tidak sengaja bertemu dengannya di sebuah restoran saat tuan besar bertemu dengan temannya. Nona Natasha memperlakukan tuan besar dengan tidak sopan."


"Tidak sopan bagaimana?"


"Saat itu tuan besar tidak sengaja menabrak seorang pelayan yang sedang membawa minuman. Dan naasnya minuman itu terjatuh ke tubuh nona Anindya. Awalnya ia memaki pelayanan itu. Namun tuan besar membela pelayan itu dan meminta maaf kepada nona Natasha karena itu adalah kesalahannya. Namun, bukannya memaafkan tuan besar, ia malah balik memaki tuan. Tapi, tuan malah terus meminta maaf dan juga mengganti rugi pakaiannya yang kotor."


"Lalu?"


"Lalu saat pertama kali tuan muda memperkenalkan nona Natasha kepada tuan. Kau tentu sudah bisa menebak bagaimana kelanjutannya, bukan?" tanya Sofia.


Sofia tersenyum. "Tidak. Tuan besar tidak memberitahukan masalah itu pada tuan Adrian, karena hal itu pasti akan menyakitinya. Sehingga ia hanya bisa menutupinya dari tuan Adrian. Ia sangat menyayangi tuan muda. Karena tuam muda sudah melalui berbagai kesulitan selama ini. Jadi saat ia tahu bahwa tuan muda mencintai wanita itu, ia memaafkan wanita itu." jelas Sofia.


Anindya tersenyum saat mendengarnya. "Kakek benar-benar orang yang baik. Tuan Adrian sangat beruntung memiliki seseorang yang sangat menyayanginya seperti kakek." ucap Anindya.


"Anindya. Apakah ibu boleh meminta sesuatu padamu?" tanya Sofia.


"Tentu saja, bu. Apa itu?"


"Ibu hanya ingin agar kau bertahan dengan pernikahan ini. Karena hanya hal itu yang diinginkan oleh tuan besar. Jagalah tuan muda demi tuan besar. Apa kau bisa melakukan nya?"


Anindya terdiam sesaat. Bagaimana ia bisa menjawabnya. Sementara Adrian ingin mengakhirinya pernikahan ini dalam setahun. Mungin ia harus berbohong.


"Aku.. akan berusaha ibu. Demi kakek."


"Terima kasih Anindya."


Kedua wanita itu hanya tersenyum setelahnya. Anindya sendiri sedang bimbang saat ini. Ia tak tahu sikap apa yang harus ia ambil. Di satu sisi ia ingin semua ini segera berakhir. Namun, di sisi lain ia mulai menyadari jika keluarga barunya ini menawarkan sebuah kehangatan dan kebahagiaan padanya.

__ADS_1


Rasanya ia tak ingin pergi.


****************


Adrian baru saja kembali dari kantor pukul sebelas malam. Ia benar-benar seorang yang gila kerja.


Sebelum masuk ke kamarnya, ia lebih dulu melihat keadaan kakeknya. Ia membuka pintu kamar pria baya itu lalu masuk perlahan ke dalam. Zein sudah tertidur pulas. Ia lalu duduk di tepi ranjang. Memperhatikan pria baya yang sudah menemaninya selama ini. Adrian sangat menyayanginya walaupun terkadang pria baya itu membuatnya kesal dengan permintaan yang tak masuk akal kepadanya. Termasuk saat pria itu memaksanya menikahi Anindya.


Namun, ia tahu jika kakeknya itu hanya ingin melakukan sesuatu yang terbaik untuknya. Hingga akhirnya ia menyetujui pernikahan itu.


Adrian lalu memberikan sebuah kecupan singkat di dahinya yang tampak keriput karena usianya.


Terima kasih karena sudah menemaniku selama ini. Aku akan membahagiakanmu dengan pernikahan ini. Aku menyayangimu kakek. Maafkan jika aku pernah membuatmu kesal.


Adrian merapikan selimutnya. Lalu beranjak dari tempatnya. Ia keluar dari kamar itu dengan perlahan. Sebelum menutup pintu, ia sekali lagi memperhatikan kakeknya itu. Pria baya itu tampak tenang. Ia merasa lega lalu menutup pintu kamar itu dan pergi ke kamarnya.


****************


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


__ADS_1


__ADS_2