
Hari ketiga di Paris, Perancis.
Anindya sedang menikmati sarapan seorang diri di atas balkon dengan berlatar belakang menara Eiffel. Sementara Adrian masih tertidur pulas di atas ranjang.
"Pagi yang sempurna!" gumam Anindya.
Sarapan pagi ini terdiri dari beberapa jenis roti. Ada croissant, bagel, dan lainnya yang entah apa namanya. Ada juga kentang tumbuk dan salad untuk Adrian karena ia tak terlalu suka roti untuk sarapan.
Sarapan itu termasuk salah satu fasilitas dari hotel ini. Sehingga ia tak perlu repot untuk memesan karena ia tak mengerti dengan bahasa yang mereka gunakan.
Ia hanya tahu pengucapan kata terima kasih dalam bahasa Perancis saja.
Anindya tampak mengoleskan selai di atas rotinya. Lalu ia memakannya sambil melihat pemandangan sekitar.
Sementara itu, Adrian tampak membuka matanya lalu duduk di atas ranjang. Menatap sekeliling mencari istrinya yang sudah tak ada di sampingnya. Lalu ia melihat wanita itu sedang duduk di balkon.
Ia lalu beranjak dari ranjang. Mengenakan kaos yang tergantung di atas sofa. Lalu pergi ke balkon untuk menemui istrinya yang sedang makan.
"Pagi, sayang!" sebuah kecupan lembut mendarat mulus di puncak kepala Anindya.
"Pagi juga, sayang! Terima kasih untuk ciumannya." ucapnya sambil tersenyum.
Adrian duduk di hadapannya. Anindya lalu menuangkan kopi ke dalam cangkir miliknya.
Adrian meminum kopinya. Anindya menawarkan roti padanya, tetapi Adrian menolak.
"Aku makan ini saja." ucapnya sambil memakan kentang tumbuk nya.
"Oh iya! Berapa lama kita di sini?" tanya Anindya.
"Sampai kau bosan!" jawabnya singkat.
"Jika aku tidak pernah bosan bagaimana?"
"Kita bisa tinggal di sini."
"Tinggal di sini? Lalu bagaimana dengan kakek?"
"Kita bawa kakek ke sini. Jika perlu kita ajak semua orang."
"Kau ini ada-ada saja."
Anindya melanjutkan makannya. Namun Adrian merasa seseorang sedang memperhatikan dirinya dari kamar sebelahnya.
Seorang wanita asing yang saat itu hanya memakai piyama handuknya dengan sembarangan hingga menampakan sedikit belahan dadanya. Mungkin ia sengaja melakukannya agar menarik perhatian.
Adrian tampak tidak suka dan memilih untuk terus menatap istrinya yang sedari tadi sibuk dengan rotinya.
"Sayang!" serunya kemudian.
"Hmm.. apa?" tanya Anindya.
"Kemarilah! Duduk di sini?" Adrian tampak menepuk pahanya.
"Kenapa?"
"Duduk saja! Jangan membantah ku."
"Kau ini selalu saja suka seenaknya!"
Anindya lalu beranjak dari kursinya dan duduk di atas pangkuan Adrian.
"Lalu bagaimana kau makan jika kau bersikap seperti ini?" tanya Anindya ketika suaminya itu tak henti mencium pipinya dengan gemas.
"Suapi aku!" pintanya manja.
"Dasar pria tua yang manja!" ejeknya.
"Apa kau bilang! Pria tua yang manja?" keluhnya.
Anindya tertawa . "Aku hanya bercanda. Kau pria tua kesayangan ku."
"Anindya!" serunya mulai kesal.
Anindya mencubit pipinya karena gemas. Adrian terlihat lucu ketika sedang kesal seperti itu.
Semarah-marahnya pria itu, ia tetap saja tak bisa marah pada Anindya. Ia tak pernah tega untuk memarahinya karena itu akan menyakiti hatinya.
Anindya lalu melihat ke sekeliling sambil menyuapi suaminya tersebut.
__ADS_1
Dan tanpa sengaja, Anindya melihat wanita asing tersebut. Ia seketika tahu apa penyebab Adrian tiba-tiba bersikap manja seperti itu.
"Apa karena dia?" tanyanya pada Adrian.
"Hmm... dia terus menatapku sedari tadi. Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu untuk memperingatkannya?"
Anindya tampak berpikir.
"Dia mungkin akan merebut milik mu!" ucap Adrian berusaha untuk memprovokasi Anindya.
"Tidak.Kau hanya milikku." tanpa pikir panjang Anindya mengecup bibir Adrian singkat
Adrian tersenyum lebar. "Hanya begitu caramu menunjukkan kepemilikan mu pada ku?"
"Tentu saja tidak." Anindya kembali menciumnya.
Kali ini cukup lama hingga akhirnya membuat wanita asing tersebut merasa jengah dan akhirnya pergi dari sana. Ia tak berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
Sementara pasangan suami istri tersebut tak memperdulikan apapun lagi di sekitarnya. Seakan seluruh dunia hanya milik mereka berdua.
****************
"Kau mau ku bawa kemana hari ini?" tanya Adrian pada Anindya ketika mereka selesai Bersiap-siap.
"Apa di sini ada taman bermain?" tanyanya.
"Taman bermain? Tentu saja ada? Kau yakin mau ke sana? " tanyanya ragu, karena sejujurnya ia paling anti dengan tempat seperti itu.
"Tentu saja! Aku ingin sekali pergi ke sana. Ayolah!" pintanya penuh harap.
Ia merasa tempat itu terlalu kekanakan. Tetapi mengingat usia istrinya yang masih terbilang muda, tentu itu menjadi tempat yang wajar untuk ia kunjungi. Apalagi dulu ia tak pernah pergi ke tempat-tempat seperti itu.
Ia ingat Anindya pernah pergi sekali bersama Anne ke wahana bermain seperti itu. Dan ia menghabiskan waktu seharian berada di sana.
"Baiklah! Apapun yang kau inginkan."
"Terima kasih, sayang!" ucapnya lalu mengecup pipinya karena terlalu senang.
Sikapnya sangat mirip seperti anak kecil yang senang karena di ajak jalan-jalan.
****
Perjalanan menuju wahana permainan tidak terlalu jauh dari hotel. Tidak sampai satu jam.
Ia tampak sangat senang. Adrian yang tadinya merasa risih ketika berada di sana, kini juga terlihat menikmatinya.
Mereka kini mencoba menaiki roller coaster .
"Kau yakin ingin naik ini? Ini berbeda dari yang sebelumnya kau naiki?" tanya Adrian memastikan.
"Iya aku sangat yakin." ucapnya.
"Baiklah! "
Mereka lalu menaikinya. Adrian benar. Ini jauh berbeda dari roller coaster yang pernah dinaikinya bersama Anne tempo hari.
Ini jauh lebih mengerikan. Hingga membuatnya tak berhenti berteriak. Sementara Adrian tampak biasa saja.
"Aaaa.... aku mau turun!" teriaknya sambil menangis.
Roller coaster itu berhenti ketika waktu habis.
"Kau tak apa-apa? Aku sudah memperingatkan mu sebelumnya." tanya Adrian cemas ketika melihat wajah Anindya yang tampak pucat.
"Aku tak apa-apa.Aku hanya merasa mual." jelasnya.
"Ayo turun! Aku akan membelikan minuman untukmu." ajak Adrian.
Mereka lalu turun dari sana. Adrian mengajaknya untuk beristirahat sejenak di taman sementara ia membelikan minuman dan makanan ringan untuk Anindya.
Entah kenapa Anindya merasa perutnya tidak nyaman.Tetapi mungkin itu karena wahana yang ia naiki tadi.
"Nanti juga akan baik-baik saja!" ia menenangkan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian Adrian kembali. Dan membawa satu kantong plastik penuh dengan makanan kecil dan minuman.
Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil satu botol minuman dan meminumnya. Ia juga memakan cemilan yang di belikan oleh Adrian karena merasa lapar.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanyanya cemas.
"Iya.Aku sudah merasa jauh lebih baik." Jawab Anindya.
__ADS_1
"Lain kali dengarkan perkataan ku. Apa kau mengerti?" ia tampak menggerutu pada istrinya keras kepalanya itu.
"Iya! Aku akan mendengarkan mu lain kali. Jangan marah! Aku hanya penasaran ingin mencobanya." bujuknya.
"Dasar nakal!" hardiknya.
Anindya hanya tersenyum padanya.
Hari tanpa terasa berlalu begitu cepat. Tanpa di sadari petang sudah hampir menyapa menandakan malam akan segera dimulai.
Adrian tampak berjalan bergandengan dengan Adrian di salah satu taman di kota itu. Malam hari biasanya lebih ramai dari pada siang hari. Karena suasana kota itu terasa lebih indah saat malam hari.
Lampu-lampu yang hidup bersamaan membuat suasana kota terlihat lebih indah dan hidup.
Banyak pasangan muda yang mengunjungi taman tersebut. Beberapa juga datang bersama anak-anak mereka.
"Kau tahu kenapa Paris di sebut sebagai kota cinta?" tanyanya pada Anindya.
"Tidak.Memangnya kenapa?"
"Karena banyak pasangan yang menyatakan cintanya di sini. Sebagian lagi datang untuk melamar pasangannya di sana!" jelas Adrian sambil menunjuk menara Eiffel yang terlihat di pandangan mereka.
"Oh ya!"
"Iya.Jika kita belum menikah, mungkin aku akan melamar mu di sini."
Anindya hanya tersenyum. Ia tahu jika pernikahan mereka terjadi karena perjodohan yang di paksakan.
Terapi ia sudah melupakan hal itu dan menerima Adrian sepenuhnya. Bahkan memberikan hatinya sepenuhnya untuknya.
"Jadi.. untuk menggantinya. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Apa?" Anindya tampak penasaran.
"Je t'aime, Anindya! " Adrian mengatakan sesuatu dalam bahasa Perancis.
"Ha! Kau bilang apa? Aku tidak mengerti?" Anindya tampak bingung.
Adrian tersenyum.
"Je t'aime ! Yang artinya aku mencintaimu Anindya!" jelasnya.
Seketika Anindya terkesiap ketika mendengar hal itu. Ia sudah menantikan saat-saat ini sejak lama. Kini ia bisa mendengar kata itu keluar dari mulut Adrian.
"Benarkah!"
"Iya! Maaf jika aku baru mengatakannya sekarang. Aku bukan tipe pria yang bisa dengan mudah mengatakan perasaan ku pada seseorang. Aku butuh waktu. Terima kasih karena mau bersabar menunggu ku. Dan kini dengan penuh keyakinan aku bisa mengatakan bahwa aku mencintai mu. " Ucapnya.
Anindya tak kuasa menahan air mata bahagianya. Ini yang ia harapkan selama ini. Akhirnya ia mendapatkannya dengan cara seperti ini. Ia tak bisa lagi menggambarkan bagaimana bahagia dirinya saat ini.
Entah karena suasana yang terasa romantis atau karena perasaan yang sudah saling berbalas, Adrian mengakhiri hari ini dengan sebuah ciuman lembut di bibirnya.
Begitulah cara mereka mengakhiri malam yang romantis ini. Hanya satu harapnya, semoga cinta ini bertahan selamanya.
*******************
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1