
Dini hari semakin menjelang. Setelah memastikan Anindya tertidur pulas, Adrian beranjak dari ranjang lalu berjalan ke arah balkon kamarnya. Setelah sampai di sana, ia mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang. Sebelumnya ia memastikan sekali lagi bahwa Anindya benar-benar tertidur hingga tak bisa mencuri dengar pembicaraannya.
"Kirim seseorang untuk mengawasi paman.Laporkan padaku seluruh kegiatannya. Bahkan yang tidak penting sekalipun.Apa kau mengerti!" perintahnya dengan arogan kepada seseorang di sebrang.
Ia terlihat sangat marah. Sedari tadi ia mencoba menahan emosinya di hadapan Anindya. Rasanya ingin sekali melenyapkan seseorang untuk melampiaskan amarahnya.
"Kau sudah terlalu menyakiti istriku.Lihat apa yang akan aku lakukan padamu. Jangan salahkan jika aku berbuat di luar batas."
****************
"Anindya! Anindya!" seru seseorang di kegelapan mencoba untuk mengusik tidur lelapnya.
Anindya tampak mengernyit. Namun ia masih terjaga.
"Anindya! Kau tidak seharusnya ada.Kau hanya membawa kesialan bagi semua orang. Kau seharusnya mati! Mati! Kau harus mati!" Kata-kata itu semakin mengusiknya.
Semakin lama semakin dekat. Menciptakan suasana mencekam baginya. Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan kencang. Dadanya terasa sesak. Seseorang mencekik lehernya hingga membuat dirinya kesulitan bernafas. Ia ingin berteriak, namun tenggorokannya terasa tercekat. Ia kepayahan mengeluarkan suaranya.
"To.. tolong! Ja-jangan bunuh aku! Jangan! Aku tidak ingin mati! To... tolong! Tolong aku! " ia berusaha untuk mengeluarkan suaranya.
Tangan itu semakin mencekiknya dengan kuat. Ia mencoba untuk melepaskan tangan itu dengan memukulnya sekuat tenaga. Namun ia tak bisa melepaskannya.
"Anindya! Anindya!" seru seseorang lainnya dari arah yang berlawanan. Mencoba untuk menembus kesadarannya.
"Anindya! Anindya! " Anindya tersentak ketika panggilan itu berhasil menembus bawah sadarnya.
Ternyata Adrian yang memanggilnya. Pria itu tampak mengguncang bahunya dengan keras agar membangunkannya. Anindya sendiri tampak terengah-engah. Deru nafasnya tampak naik turun dengan cepat. Keringat membanjiri di sekujur tubuhnya. Ia terlihat sangat kelelahan.
"Minumlah dulu! " ucap Adrian lalu memberikan segelas air yang baru ia tuang dari dalam pitcher.
Ia membantu Anindya minum. Dalam sekejab air minum tersebut langsung habis dalam sekali tegukan.
Setelah wanita itu tenang, ia baru mengajaknya berbicara.
"Apa kau mimpi buruk?" tanyanya.
Anindya bukannya menjawab, ia malah menatap Adrian dan memeluknya. Ia terlihat sangat ketakutan.
"Tenanglah! Tidak akan terjadi apa-apa padamu. Ada aku di sini." ucapnya sambil mengusap punggungnya untuk menenangkannya.
"Aku bermimpi ada seseorang yang mencekik ku. Dia ingin membunuh ku. Aku sangat takut. Itu terasa sangat nyata." ucapnya terbata-bata sambil mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.
"Tidak apa-apa, sayang! Itu hanya mimpi buruk. Tidak akan ada seorang pun yang bisa melukaimu selagi aku hidup. " ucapnya.
Anindya terdiam. Ia memeluk suaminya dengan sangat erat. Berharap jika semua itu memang benar-benar hanyalah mimpi semata.
****************
Beberapa minggu berlalu. Anindya terlihat sudah membaik. Ia juga sudah bisa berjalan dengan leluasa.
__ADS_1
Adrian selalu menjaganya dengan baik. Ia sangat jarang meninggalkan Anindya. Ia hanya ke kantor jika ada urusan yang benar-benar penting. Selebihnya ia akan mengurus segalanya dari rumah.
Sebenarnya Anindya tak menginginkan hal itu. Tetapi Anindya tahu jika ia tak bisa membantah keinginan suaminya tersebut. Sehingga ia terpaksa membiarkan Adrian melakukan apapun sesuka hatinya.
Anindya juga senang karena sangat di perhatikan oleh suami dan juga keluarganya.
Hari ini Adrian mulai kembali ke kantor seperti biasa. Tetapi ia tetap ingin Anindya datang ke kantor ketika jam makan siang seperti biasanya.
Benar-benar bos yang arogan.
"Apa tidak bisa makan siang di rumah saja? Aku benar-benar merasa tidak nyaman jika mendatangi kantormu setiap hari.Aku tidak ingin di kenal sebagai istri yang terlalu mengekang suaminya hingga mengikutinya kemanapun kau pergi." keluh Anindya ketika sedang memakaikan dasi pada Adrian.
"Memangnya ada yang bilang begitu padamu? Siapa orangnya?Jika ada yang berani bergunjing tentangmu maka aku akan langsung memecatnya."
"Tidak ada. Tetapi aku hanya menduga-duga saja." ia tampak terkekeh.
"Kau ini! Sudah jangan banyak membantah. Ikuti saja apa kataku. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Lagipula aku yang menyuruhmu, bukan! Aku ingin menunjukkan kepada setiap orang bahwa aku tergila-gila padamu." ia mencium bibirnya dengan gemas.
"Baiklah tuan! Aku akan melakukan semua yang kau perintahkan padaku. Aku akan jadi istri yang penurut." ucapnya sambil memakaikan jas dan merapikannya.
"Bagus jika kau mengerti!" Adrian menciumnya kembali.
"Sudah! Berhenti mencium ku. Ayo! Aku sudah sangat lapar." Ia mendorong tubuh kekar itu keluar kamar.
Jika dibiarkan pria itu entah akan melakukan apa lagi padanya.
****************
Setiap pelayan sudah memiliki tugasnya masing-masing. Seperti halnya Anne. Wanita itu sudah bangun sejak subuh tadi.Dan melanjutkan pekerjaannya setelah sarapan.
Ia terlihat memasuki kamar Arkan untuk membersihkannya. Pria itu sudah beberapa hari ini tidak pulang ke rumah karena ada urusan di luar kota. Ia ikut berpartisipasi sebagai relawan untuk membantu para korban bencana banjir di sana.
Setiap hari Anne selalu membersihkan kamar ini.Sebelumnya ia tampak mengganti sprei ranjangnya dengan sprei yang baru.
Saat selesai membereskan ranjang,ia melihat sebuah pigura di atas meja. Pigura itu memajang foto Arkan bersama kakak dan kedua orangtuanya.
Anne mengambil pigura tersebut lalu duduk di tepi ranjang dan menatap foto itu. Pria itu tampak begitu muda. Mungkin saat itu ia masih berusia sekitar lima tahun.
"Ternyata ia sudah terlihat tampan sedari kecil. Sungguh tidak adil!" ia tersenyum lalu meletakkan kembali pigura tersebut di tempatnya.
"Sepertinya ada yang diam-diam mengagumi ku." ucap seorang pria mengagetkan Anne.
Ia langsung melihat ke arah asal suara tersebut. Seseorang yang baru saja dipikirkannya tengah berdiri di depan pintu dengan tangan bersedekap di atas perutnya.
Ia tersenyum simpul sambil menatap Anne yang terlihat salah tingkah.
"T-tuan Arkan!" serunya.
****************
__ADS_1
"Maaf Nyonya! Lift VIP sedang dalam perbaikan. Anda tidak masalahkan jika menggunakan lift umum?" tanya seorang wanita pada Anindya ketika ia tampak menunggu di depan lift VIP.
h iya!Pantas saja ketika aku menekan tombolnya,pintu lift ini tidak juga terbuka. Ternyata rusak. Lift umum juga tidak masalah! Yang penting aku bisa sampai ke atas tepat waktu sebelum seseorang merajuk karena keterlambatan ku." ia terkekeh ketika membayangkan wajah imut suaminya jika sedang merajuk.
Wanita itu lalu pamit dari hadapannya.Anindya lalu kembali menunggu di depan lift umum.
Ketika pintu lift itu terbuka, beberapa orang tampak keluar dari sana. Mereka juga menyapa Anindya karena mengetahui statusnya di perusahaan ini. Anindya membalas sapaan mereka dengan tersenyum ramah. Setelah itu ia langsung masuk ke dalam lift.
Tetapi ketika pintu lift tersebut hampir tertutup, seseorang tampak menahan pintu dengan tangannya agar tidak tertutup.
Anindya melihat kearah orang tersebut. Dia seorang pria. Keduanya tampak saling bertatapan ketika mata mereka bertemu. Anindya tampak tak percaya dengan pandangannya. Pria itu sangat dikenalnya.
"Kak Reyhan!"
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1