
-Arkan
*
Beberapa hari kemudian...
Suasana rumah sudah kembali seperti semula. Hari ini adalah hari pertama Arkan bekerja di rumah sakit. Ia akan berada di bawah pengawasan Samuel.
Mobil Arkan tampak berhenti di tengah jalan karena saat itu sedang lampu merah. Arkan yang memakai kacamata hitamnya tampak menunggu dengan sabar. Saat itu masih sangat pagi. Mungkin sekitar pukul tujuh pagi. Ia tak mau sampai datang terlambat di hari pertamanya bekerja. Walaupun kakaknya merupakan salah satu pemegang saham di rumah sakit itu. Namun ia tetap disiplin jika berurusan dengan waktu. Ia tak ingin membuat kakaknya kecewa.
Sambil menunggu lampu lalu lintas kembali hijau. Ia memperhatikan orang-orang yang sedang berjalan di zebra cross. Kebetulan ia berada tepat di depan lintasan penyebrangan itu.
Bermacam-macam orang yang melaluinya. Kebanyakan murid-murid sekolah menengah dan juga mahasiswa. Kebetulan tak jauh dari sana ada sebuah sekolah dan universitas.
Tak lama kemudian, lampu kembali hijau. Arkan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatannya sedang.
*
Setibanya di rumah sakit, ia langsung di sambut oleh Samuel, Direktur rumah sakit tersebut.
"Astaga! Kau tidak perlu menyambutku, kak! Aku ini adalah bawahanmu." ucap Arkan sambil memeluk pria berkacamata itu.
"Tadinya aku ingin begitu. Tapi kakakmu terus saja menerorku dengan segala ancamannya. Sehingga aku terpaksa berada disini." sahutnya dengan nada bercanda.
"Kau tidak perlu menanggapinya lain kali."
"Hahaha.. jika aku tidak menanggapinya bisa-bisa ia mempengaruhi semua orang untuk memecatku." ucapnya.
Arkan ikut tertawa mendengarnya.
"Ayo! Aku akan menunjukkan semua bagian rumah sakit ini padamu." ajaknya.
Arkan dengan senang hati mengikutinya.
****************
Anindya tampak sedang menyiram tanaman di kebun belakang. Ia tampak bingung.
Ia teringat kejadian kemarin malam, ketika tiba-tiba Adrian meminta hak nya kembali. Itu adalah kali kedua mereka melakukannya.
Flashback on
"Apa yang kau lakukan?" tanya Anindya ketika Adrian mendekat kearahnya.
Saat itu mereka berdua sudah berada di atas ranjang. Adrian bahkan sudah berada di atasnya, menindih tubuh wanita itu.
"Aku ingin meminta hak ku. Apa kau masih keberatan jika aku ingin melakukannya?" tanyanya balik.
Anindya tampak menggigit bibir bawahnya sembari berpikir dan menatap Adrian untuk beberapa saat. Mencoba untuk meyakinkan dirinya. Apakah ini sudah benar?
Ia menganggukkan kepalanya dengan ragu. Ia sebenarnya masih trauma dengan kejadian pertama mereka. Itu sangat sakit. Apalagi Adrian melakukannya dengan memaksanya.
__ADS_1
"Apa itu akan terasa sakit seperti waktu itu?" tanya Anindya dengan polosnya.
Adrian malah tersenyum ketika mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Anindya.
"Tidak. Kali ini tidak akan terasa sakit."
Mereka lalu melakukannya. Adrian melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuh istrinya itu. Begitupun dengan pakaiannya. Hingga kini tak ada sehelai benang pun yang menghalangi pandangan mereka.
Namun Anindya tampak tak percaya dengan apa yang di lihatnya di tubuh suaminya itu. Tepatnya apa yang terukir indah di dada bagian kirinya. Namanya. Itu benar-benar adalah namanya. Anindya.
Ia bahkan meraba nama itu dengan rasa tak percaya. Adrian tersenyum ketika melihat ekspresi wajah istrinya yang menggemaskan itu.
"Apa kau menyukainya? Itu hadiah untukmu." ucap Adrian.
"Ke.. kenapa kau melakukan hal ini untukku?" tanyanya.
"Bukankah sudah kukatakan padamu sebelumnya, jika aku ingin memulai semuanya dari awal lagi. Aku ingin mempertahankan pernikahan ini dan belajar untuk menerimamu sebagai istriku. Aku melakukan ini agar membuatmu percaya dengan apa yang aku katakan. Apa kau yakin sekarang?" jelas Adrian.
"Lalu bagaimana dengan tato yang ada di punggungmu?" tanyanya ragu.
"Aku sudah menghapusnya. Tidak ada lagi hal yang berkaitan dengannya. Kau bisa tenang sekarang. Hanya ada kau." ucapnya dengan yakin.
Anindya tak mampu berkata apa-apa. Ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mencoba memastikan jika ini bukanlah mimpi.
"Apa kau benar-benar yakin? Aku tidak sepadan denganmu. Apa kau tak akan menyesali keputusanmu?" tanyanya lagi untuk memastikan. Entah kenapa ia masih merasa ragu.
"Aku tak pernah seyakin ini sebelumnya. Aku bukanlah tipe pria yang bisa begitu saja mengungkapkan apa yang aku rasakan. Aku hanya ingin kau memahami diriku. Karena inilah aku. Apa kini kau sudah merasa yakin?"
Anindya terdiam sejenak. Ia menatap mata Adrian. Sebelumnya ia tak berani untuk menatapnya seperti ini. Namun, entah apa yang merasukinya hingga berani menatap mata sendu itu secara dekat.
Ia lalu mencium bibirnya dengan lembut. Anindya menerimanya tanpa adanya perlawanan. Malam itu mereka berdua saling menyatu tanpa ada penghalang apapun di antara mereka.
Flashback off
Wajah Anindya bersemu merah ketika mengingat hal itu. Ia jadi malu sendiri. Ia menepuk kepalanya untuk menghilangkan bayangan itu.
Ia melanjutkan menyiram bunga. Untungnya ia hanya seorang diri di sana.
****************
Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. Hari ini Arkan ada janji dengan teman-teman lamanya untuk bertemu di bar.
Mereka teman-teman dekatnya sewaktu sekolah dulu. Sejak Arkan tinggal di Amerika, mereka memang tak pernah bertemu satu sama lainnya.
Kini saat ia kembali, teman-temannya itu sangat senang. Arkan segera menemui mereka ketika tugasnya selesai di rumah sakit.
Namun, saat ia hendak masuk ke dalam bar, seorang wanita menabraknya karena berjalan tergesa-gesa.
"Astaga! Maafkan aku tuan! Aku sedang terburu-buru."pinta wanita itu.
" Tidak apa-apa." jawab Arkan datar.
Ia bahkan tak sempat melihat wajah orang yang menabraknya itu karena wanita itu langsung pamit begitu meminta maaf padanya.
__ADS_1
Ia pun tak menghiraukannya. Ia langsung masuk ke dalam bar.
Sesampainya di dalam. Ia langsung menuju ruangan yang sudah di pesan oleh teman-temannya itu. Sebagian dari mereka juga sudah ada di sana.
Arkan masuk ke dalam dan menemui mereka. Sebagian dari mereka ada yang membawa pasangannya ternyata. Arkan sebenarnya tak terlalu suka dengan hal itu. Ia malas jika berhubungan dengan wanita. Karena secara otomatis mereka akan lebih sibuk dengan kekasihnya daripada membahas mengenai dirinya. Benar-benar membosankan.
Seperti yang ia duga sebelumnya, awalnya mereka memang fokus untuk mengetahui tentang Arkan. Bagaimana harinya selama berada di luar negri. Namun, yang terjadi selanjutnya adalah adegan-adegan romantis yang harus ia tonton di sana. Sepertinya Alkohol sudah mulai mempengaruhi orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
Arkan memang sengaja hanya memesan soda karena besok ia masih harus bekerja. Ia tak mau Alkohol merusak dirinya. Cukup dulu saja ketika ia masih kuliah. Sekarang ia ingin fokus pada karir kedokterannya.
Melihat teman-temannya yang sudah pada sibuk dengan urusan mereka sendiri, Arkan memutuskan untuk pergi ke toilet sejenak untuk menghilangkan rasa bosannya.
Ketika ia membuka pintu, Lagi-lagi ia di kejutkan dengan kemunculan seorang wanita yang sepertinya adalah pramusaji di bar itu. Ia membawa sebuah baki berisi beberapa botol minuman dan makanan ringan.
"Maaf tuan! Saya membawakan minuman lagi." ucapnya.
Sepertinya Arkan ingat jika itu adalah wanita yang menabraknya tadi. Ia menyuruh wanita itu untuk masuk ke dalam. Sementara dirinya pergi ke toilet.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Apa kalian suka dengan bab ini? Jika suka jangan lupa berikan
Like π
komentar π¬
vote
dan rate πΉya.
jangan lupa juga jadiin novel ini sebagai salah satu list favorite kalian ya. biar gak ketinggalan updatenya. Tekan tanda hati β€ .
Thieaπ₯π₯β€
__ADS_1