
Adrian memasuki kamarnya setelah melihat kakeknya. Di dalam kamar, ia mendapati istrinya sedang tidur di atas ranjang. Sepertinya ia benar-benar menuruti perkataannya. Ia tersenyum senang.
Adrian membuka jas dan dasi kerjanya. Lalu meletakkannya di atas sofa. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, ia masuk ke dalam ruang ganti untuk mengambil pakaiannya.
Setelah menyelesaikan semuanya, ia memutuskan untuk keluar dari kamar karena belum mengantuk. Ia ingin membuat kopi terlebih dahulu sebelum tidur.
Ia bertemu dengan Sofia saat di dapur. Wanita itu sedang membuat kopi.
"Tuan! Kau sudah pulang? Apa tuan ingin dibuatkan kopi?" tanya wanita paruh baya itu.
"Tidak usah. Aku akan membuatnya sendiri. Sebaiknya ibu beristirahat. Ini sudah sangat larut." jawabnya.
"Tidak apa-apa tuan. Kebetulan saya juga belum bisa tidur. Karena itu saya membuat kopi." ucapnya.
"Baiklah jika begitu. Aku akan menunggu di balkon atas." ucapnya.
"Baiklah tuan. Nanti akan saya bawakan ke atas."
Adrian lalu pergi dari sana. Ia naik ke lantai tiga untuk menuju balkon. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak dengan menghirup udara malam.
Sesampainya di balkon, ia duduk di kursi santai yang ada di sana. Ia menatap langit. Malam ini sepertinya tidak akan turun hujan seperti malam-malam sebelumnya. Karena banyak bintang dan bulan yang terlihat di sana.
Tak lama kemudian, Sofia datang membawakan secangkir kopi untuknya. Saat ia hendak pamit, Adrian memintanya untuk menemaninya sebentar di sana. Ia ingin menanyakan keadaan rumah seharian ini pada wanita paruh baya itu. Sofia lalu duduk di kursi satunya.
"Semua terjadi seperti biasanya tuan. Tuan besar kelihatan senang seharian ini karena Anindya menemaninya bermain catur dan berjalan di sekitar taman."
"Hanya itu saja?" tanyanya.
"Iya tuan. Hanya itu saja. Kesehatan tuan tampak membaik sejak Anindya tinggal di rumah ini. Sepertinya tuan sangat menyayanginya." jelas Sofia.
"Apa Anindya selalu menemani kakek seperti itu setiap hari ketika aku tidak ada?"
"Iya tuan. Anindya rutin mengajak tuan besar berjalan-jalan di taman. Ia bilang tuan harus banyak bergerak agar otot tubuhnya tidak kaku. Mereka juga sering bermain catur untuk mengasah otaknya agar tetap berpikir. Ia pernah menanyakan hal itu pada dokter Samuel ketika mengunjungi tuan besar. Anindya menjaga tuan dengan sangat baik." jelasnya.
"Baiklah. Sepertinya aku tidak perlu mencemaskan kakek. Ia sudah mendapatkan penggantiku." ucapnya sambil tersenyum.
"Tidak tuan. Tidak ada yang bisa menggantikan anda. Tuan besar juga sangat menyayangi anda."
"Iya aku tahu itu. Baiklah. Sebaiknya ibu beristirahat. Ini sudah terlalu malam." ucap Adrian pada Sofia.
"Baiklah tuan. Kalau begitu saya permisi dulu. Tuan juga harus beristirahat. Terlalu lama terkena angin malam juga tidak baik untuk kesehatan tuan." pesannya.
"Iya. Aku akan tidur setelah menghabiskan kopi ini." sahutnya.
__ADS_1
Sofia lalu pamit dan pergi dari sana. Meninggalkan Adrian seorang diri. Sementara Adrian masih terlihat menikmati malam yang semakin larut.
*
Setelah beberapa saat berada di atas balkon. Ia memutuskan untuk beristirahat di kamar.
Di kamar, ia melihat Anindya yang sepertinya sangat menikmati tidur di atas ranjangnya. Ia sangat pulas. Adrian naik perlahan ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya. Ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Lalu mencoba untuk tidur.
Namun sebelum ia tidur, ia memiringkan tubuhnya kearah Anindya. Lalu menopang kepalanya dengan sebelah tangannya. Menatap wajah wanita yang sedang tidur pulas itu. Mulutnya bahkan sedikit terbuka saking pulsanya. Ia terlihat lucu saat tidur seperti itu.
Adrian baru menyadari jika wanita yang dinikahinya itu ternyata sangat cantik. Wajahnya yang polos tanpa riasan, menambah kesan cantik alaminya. Kenapa ia baru menyadarinya sekarang.
Namun saat ia memperhatikan wajah Anindya, ada sesuatu yang ia rasakan. Ia tiba-tiba saja ingin menciumnya. Iya, seranjang dengan seorang wanita tentu saja membuatnya berhasrat. Ia adalah seorang pria normal yang tidak pernah menyentuh seorang wanita secara intim. Bahkan tidak dengan Natasha. Berciuman saja tidak pernah. Walaupun dilakukan secara paksa, namun ketika berciuman dengan Anindya, itu adalah keintiman yang ia lakukan pertama kali dengan seorang wanita.
Adrian lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh istrinya itu. Hingga ia kini berada sangat dekat dengannya. Adrian berada diatasnya.
Ia lebih dulu memperhatikan setiap inci wajahnya. Wajah wanita yang dulu tidak disukainya. Kini ia bahkan rasanya tak ingin mengalihkan pandangannya dari wanita yang dinikahinya itu.
Adrian mulai memperhatikan bibir tipisnya yang sedikit terbuka. Semakin lama semakin dekat hingga kini hanya berjarak beberapa inci saja. Ia bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya yang naik turun.
Karena tak bisa menahannya lagi, ia lalu mencoba untuk menyatukan bibirnya dengan bibir Anindya. Namun hal yang tak diduganya terjadi.
Anindya secara tiba-tiba menampar pipinya, hingga membuat Adrian tersadar dari niatnya itu. Ia kaget dan melihat wanita itu. Anindya masih memejamkan matanya. Itu artinya ia masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia pasti sedang mengigau.
Sepertinya ia tersadarkan atas tindakannya itu. Ia lalu menjauh dari Anindya dan berbaring terlentang di sampingnya. Tak lupa ia meletakkan sebuah bantal sebagai pembatas di antara mereka.
Ia tersenyum sejenak lalu berusaha untuk memejamkan matanya. Ia pasti sudah tidak waras. Mungkin ia harus memeriksakan dirinya ke dokter.
****************
Pagi hari menjelang. Adrian terbangun ketika mendapati seseorang memeluknya dengan erat. Orang itu tak lain adalah Anindya.
Wanita itu tampak sangat nyaman saat menempel di dada bidangnya itu. Namun Adrian tak menjauhkan Anindya darinya. Ia malah membiarkannya. Sepertinya ia ingin menjahilinya kembali seperti kemarin.
"Hemm.. setelah menamparku, kini ia malah memelukku dengan erat. Apa dia pikir aku ini bantal." gumamnya.
"Lihat bagaimana kau bangun pagi ini." lanjutnya.
Tak berselang lama kemudian, Adrian mulai merasakan gerakan dari Anindya. Wanita itu tampak menggeliat di atas tubuhnya. Hal itu membuatnya frustasi karena tanpa disadari oleh wanita itu, Anindya telah memancing sesuatu untuk keluar dari tubuhnya.
Namun ia mencoba untuk menahannya. Adrian kembali memejamkan matanya untuk berpura-pura tidur. Membiarkan Anindya dengan rasa malunya setelah menyadari perbuatannya.
Tepat sesuai dugaannya, Anindya lagi-lagi kaget saat melihat dirinya dengan seenaknya memeluk tubuh pria itu. Sepertinya keputusan untuk tidur bersama itu adalah keputusan yang salah. Mereka tak seharusnya tidur seranjang. Karena hal ini bisa saja terjadi setiap hari.
__ADS_1
Namun, saat ia hendak turun dari atas ranjang, Adrian menarik tangannya hingga tubuhnya kembali terjatuh di atasnya.
"A... apa yang kau lakukan? Lepaskan aku! " pintanya.
"Kau mau lari kemana? Setelah memelukku kau mau pergi begitu saja. Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu." ucap Adrian sambil tersenyum sinis.
Anindya tampak takut. Pertanggungjawaban seperti apa yang diinginkan oleh pria itu darinya?
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Ini update kedua untuk hari ini. Semoga suka ya dengan jalan ceritanya.
Tetap sertakan:
like
komentar
vote
rate ya 😄
Terima kasih buat semua pembaca yang udah kasih dukungan.
salam hangat dari
__ADS_1
Thiea 🥰🌹🍎❤