
...My dearest wife...
Adrian membuka satu kaleng minuman soda yang dibawanya dan meneguknya. Ia tampak menghela nafasnya. Ia memandang lurus kedepan. Laut yang tenang dengan deburan ombak yang tidak terlalu besar sungguh membuatnya merasa damai.
Ia berharap setelah pulang nanti, akan ada keputusan yang akan diambilnya. Entah itu baik untuk kakeknya ataupun untuknya sendiri.
Pantai ini selalu menjadi saksi bisu dari segala kegelisahan hatinya. Bahkan saat ia patah hati, ia juga datang ke pantai ini.
Pantai ini mengingatkannya pada orangtuanya. Dulu saat akhir pekan, jika ayahnya tidak sibuk, mereka pasti selalu membawanya juga Arkan ke tempat ini untuk menghabiskan waktu libur mereka. Rasanya sangat menyenangkan. Selain Arkan, tak ada seorangpun yang mengetahui tentang pantai ini, bahkan Natasha sekalipun. Adrian tidak pernah mengajaknya untuk datang ke sini.
Adrian sungguh merasa dilema. Entah pada siapa ia harus berbagi. Ia tak bisa memenuhi permintaan kakeknya, namun ia takut kehilangan kakeknya jika ia tak menerimanya.
Arrrrgggghhh.... Aku sungguh pusing!
************
Beberapa hari kemudian, Zein akhirnya pulang ke rumah setelah dokter memastikan bahwa pria baya itu sudah sehat sepenuhnya.
Ia merasa lega saat diperbolehkan kembali kerumahnya. Rasanya sungguh tersiksa berada di rumah sakit secara terus menerus. Ia tak punya cukup ruang untuk bergerak bebas. Terlebih ia juga kasihan melihat Anindya dan Sofia yang setiap hari bergantian menjaganya di rumah sakit.
Kedua wanita itu pasti kelelahan. Terlebih kepada Anindya. Wanita itu hampir setiap malam selalu menjaganya. Bahkan terkadang ia lebih memilih tidur beberapa jam di sofa yang ada di kamar perawatan daripada harus pulang dan meninggalkan dirinya. Padahal Sofia sudah memaksanya untuk pulang, namun wanita itu sungguh keras kepala. Namun, jika Adrian yang menemani Zein di rumah sakit, barulah wanita itu pulang ke rumah. Karena jujur saja, semenjak kakeknya berniat untuk menjodohkan mereka berdua, ia menjadi semakin canggung saat berada di sekitar pria itu. Apalagi memikirkan setelah ini, ia akan kembali bekerja dan bertemu dengannya setiap hari di kantor. Sungguh sangat dilema.
Sesampainya di rumah, Adrian mengantarkan Zein ke dalam kamar untuk beristirahat. Sebelum tidur, Zein menanyakan sekali lagi pada Adrian mengenai keputusannya. Kemarin, saat ia menanyakan tentang masalah itu, Adrian selalu saja menghindar dengan alasan bahwa dia tidak boleh terlalu banyak pikiran. Karena itu bisa memicu serangan jantungnya datang kembali.
"Nanti saja kita bicarakan, kakek!" ucap Adrian mulai mengalihkan pembicaraan.
"Adrian! Kakek sudah cukup kuat untuk mendengarkan keputusanmu."
"Apa aku bisa menolak?" tanyanya.
"Kau tentu tahu pasti jika bukan jawaban seperti itu yang kakek harapkan."
"Jika begitu, kakek sudah pasti tahu apa jawabanku." ucap pria itu datar.
"Maksudmu, kau akan menerima perjodohan ini?" tanyanya memastikan. Terlihat rona bahagia di wajahnya.
"Anggap saja seperti itu. Lakukan apapun yang kakek inginkan. Aku tidak akan membantahnya." jelasnya.
"Benarkah! Terima kasih Adrian! Kakek sangat senang mendengarnya." ucapnya senang. "Sekarang kakek tinggal mendengarkan keputusan Anindya. Apa kau bisa memanggilnya sekarang?"
__ADS_1
"Baiklah! Aku akan memanggilnya!" ucapnya.
Adrian lalu keluar dari kamar dan mencari Anindya. Ia meminta Sofia untuk memanggilkan wanita itu sekarang juga sesuai dengan permintaan kakeknya.
Tak lama kemudian, Anindya masuk kedalam kamar Zein dan menemuinya. Adrian juga masih ada disana. Mereka menunggunya.
"Ada apa kakek?" tangannya. Walaupun sebenarnya ia tahu apa tujuan pria baya itu memanggilnya.
"Kau tentu sudah tahu apa yang akan kakek tanyakan. Ini mengenai perjodohanmu dengan Adrian. Apakah kau bisa menerimanya? Karena Adrian juga sudah menyetujui perjodohan ini."
Apa! Dia menerimanya? Bagaimana mungkin? batinnya bertanya-tanya sambil memandang Adrian heran.
"Anindya!" seru Zein saat melihat wanita itu hanya diam saja.
"Maaf kakek! Anin tidak... tidak... Anin tidak bisa menerimanya kakek. Pernikahan bukanlah hal yang bisa dipaksakan begitu saja. Anin harap kakek bisa menerima keputusan ini. Anin... " ia tak sempat melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba Adrian menariknya keluar dari kamar.
Anindya tampak sangat kaget melihat apa yang dilakukan oleh pria itu.
"Tu.. tuan apa yang kau lakukan?" tanyanya.
Pria itu menariknya hingga mereka berdua berada di salah satu sudut ruangan di lantai satu. Ia menghempaskan tubuh wanita itu hingga merapat ke dinding. Menguncinya dengan kedua tangannya yang ditempelkan ke dinding hingga wanita itu tak bisa lari kemanapun.
"Kau mau apa?" tanya Anindya heran.
"Kau tidak punya hak sama sekali untuk memaksaku. Aku punya hak untuk menentukan jalan hidupku sendiri." bantahnya.
Adrian lalu menjauh dari tubuh wanita itu. Ia tampak membelakanginya.
"Tenanglah! Aku juga tidak menginginkan pernikahan ini. Aku akan menceraikanmu setelah satu tahun pernikahan kita. Sebagai kompensasinya aku akan menanggung semua kesalahan dan membiarkanmu pergi dari rumah ini. Bukankah itu yang kau harapkan?" tanyanya memberi penawaran.
"Iya! Tapi bukankah itu berarti jika kita sudah membohongi kakek?"
"Tentu saja tidak. Bukankah yang kakek inginkan adalah pernikahan. Saat kita berdua tidak menemukan kecocokan dalam pernikahan itu, apakah kakek akan tetap memaksa kita untuk tetap melanjutkan pernikahan ini?"
"Tapi....!"
"Pikirkanlah. Lagipula kau tidak akan rugi apapun disini. Aku tidak akan meminta hakku. Begitupun sebaliknya. Hanya setahun. Setelah itu kau akan bebas. Bagaimana?" Adrian menatapnya tajam.
Anindya tampak berpikir keras. Ia memang berniat untuk keluar dari rumah ini. Namun, bukan dengan cara seperti ini. Tapi jika ia menggunakan cara biasa, Zein pasti tidak akan membiarkannya pergi. Mungkin hal kemarin bisa terjadi kembali.
__ADS_1
"Baiklah! Aku... setuju!"
Adrian mengacungkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Anindya.
Semula Anindya tampak ragu. Namun akhirnya ia menerima uluran tangan itu.
*************
Disisi lain, di sebuah apartemen mewah di tengah kota. Seorang wanita cantik sedang duduk berselonjor diatas ranjang dengan mini night gown berwarna hitam. Dia sedang menatap layar laptopnya. Ia menekan sebuah folder yang berisikan foto-foto dirinya bersama seorang pria.
Pria itu adalah satu-satunya pria yang ada dihatinya. Jika saja waktu itu ia tidak egois memilih karirnya. Tentu saat ia sudah menikah dan mempunyai anak-anak yang lucu dengannya.
Kini setelah ia tahu bahwa pria itu masih sendiri hingga saat ini, ia bertekad untuk mengejarnya kembali apapun caranya. Ia harus kembali bersamanya. Karena itu merupakan tujuan utamanya kembali ke kota ini. Banyak sekali kenangan yang sudah terjadi dengan mereka di kota ini.
Bahkan pria itu mengukir namanya ditubuhnya. Bukankah itu artinya pria itu sangat mencintainya. Ia sedang marah saat ini, mungkin nanti jika kemarahannya sudah mereda, pria itu akan memaafkannya dan kembali padanya.
Ia tak akan menyerah.
*****************
*
*
*
*
*
*
*
Untuk para pembaca setiaku, aku ucapkan banyak Terima kasih karena udah terus mendukung karyaku ini.
Maaf jika ada penulisan kata yang tidak tepat atau tidak sopan. Saya masih berusaha untuk menjadi seorang penulis yang baik.
__ADS_1
Baca terus ya kelanjutan ceritanya. Tetap sertakan like, komen, vote dan ratenya biar novelnya bisa up terus.. 😘😘😘😘