My Dearest Wife

My Dearest Wife
Mencintai ku?


__ADS_3

"Apa kau sedang memikirkan aku?" tanya Adrian membuyarkan lamunan Anindya. Ia setengah berbisik di telinganya.


Ia memeluknya dengan erat.


"Iya!" serunya tanpa sadar.


Ia memang sedang memikirkan pria itu. Adrian tampak menjatuhkan kepalanya di pundak istrinya.


"Diam-diam memikirkan aku? Apa kau rindu padaku?" tanyanya yang seketika membuat Anindya tersipu malu setelah menyadari apa yang telah dikatakannya pada pria itu.


"T-tidak." ia berusaha menyangkalnya.


Adrian tampak kesal lalu mencium bagian lehernya yang terbuka dengan keras hingga meninggalkan bekas merah di sana. Tubuh wanita itu seketika menegang ketika bagian sensitifnya di sentuh. Adrian tampaknya menyadari hal itu.


"Jangan tegang! Santai saja!" bisik nya dengan lembut.


Anindya semakin kesulitan untuk menenangkan dirinya. Apalagi ketika Adrian mulai menciumi bagian lehernya yang lain. Ia merasa tubuhnya ini sangat sensitif terhadap sentuhan pria itu. Ia tahu pasti jika saat ini suaminya itu menginginkan hal yang lebih dari ini. Ia tak akan berhenti sebelum memuaskan hasratnya.


"A-Adrian! Apa yang kau lakukan? Ini di kan-tor! Ah!" ucapnya dengan susah payah.


"Sssttt.. Aku memikirkan mu sepagian ini. Aku sudah bersusah payah untuk menahannya. Tapi ketika melihatmu, aku jadi lupa diri." Adrian tampak memainkan jemarinya menyelusuri lekuk tubuh istrinya. "Aroma tubuhmu terasa menyenangkan." bisik nya pelan.


Anindya semakin sulit untuk mengendalikan dirinya. Ia harus memikirkan sesuatu untuk menghentikannya.


"Bagaimana jika ada orang yang masuk?" tanyanya kemudian.


"Tidak akan ada yang berani masuk tanpa izin dariku! Jadi kau tenang saja." Ia membalikkan tubuhnya dan mencium bibirnya dengan lembut.


Adrian menggiringnya hingga merapat ke meja. Lalu mendudukkan wanita itu di atas sana. Ketika ia hendak menciumnya kembali, Anindya menahan mulutnya dengan telapak tangannya.


"Bukankah kau meminta ku untuk membuatkan mu makan siang. Aku sudah susah payah untuk membuatnya. Itu semua akan sia-sia jika sudah dingin." Anindya terlihat memelas.


Adrian jadi tak tega melihatnya. Sepertinya ia selalu kehilangan akal sehatnya jika berdekatan dengan wanita itu. Tapi, ia tak mungkin melewatkan hal yang satu ini begitu saja.


"Tidak masalah! Walaupun dingin, aku akan tetap menghabiskannya. Sekarang biarkan aku memakan hidangan pembukanya terlebih dahulu." Adrian mendorong tubuh Anindya hingga terbaring di atas meja dan kembali menciumnya.


Anindya tampak pasrah. Karena ia tahu jika Adrian sudah memulai maka ia tak akan berhenti di tengah jalan.


****************


Anindya muncul dari dalam sebuah kamar yang ada di ruang kerja Adrian. Ia terlihat sudah mengganti pakaian dengan pakaian baru yang telah disiapkan sebelumnya oleh Adrian. Ia memakai kaos dengan kerah tinggi yang menutupi bagian lehernya. Pakaian itu ternyata mampu menutupi bekas ciuman Adrian yang terlihat jelas di lehernya. Itu akan sangat memalukan jika sampai dilihat oleh orang lain. Ia juga sengaja menggerai rambutnya alih-alih pakaian itu tak berhasil menutupi bekas ciuman itu.


Sepertinya Adrian memang sengaja memilihkan pakaian seperti itu untuknya. Apa mungkin ia memang sengaja menyuruhnya datang hanya untuk melakukan hal itu.


"Kau sudah selesai?" tanya Adrian begitu melihatnya.


Pria itu baru saja selesai makan. Ia sudah terlihat berpakaian rapi seperti tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


"Iya!" jawabnya lalu mendudukkan tubuhnya di samping pria itu.


"Makanlah! Setelah selesai, supir akan mengantarkan mu pulang." perintahnya sambil menyodorkan piring berisi makanan ke hadapannya.


Anindya segera memakannya karena ia memang sudah merasa sangat lapar. Apalagi setelah di mainkan oleh Adrian. Rasa laparnya bertambah dua kali lipat.


"Apa kau meminta ku datang hanya untuk... itu? Kau hanya menjadikan makan siang sebagai alasan saja, kan? " tubuhnya.


Adrian terkekeh. " Tentu saja tidak. Aku memang ingin makan siang dengan mu. Tapi ketika melihatmu, aku tidak bisa mengendalikan diriku. Jadi jangan salahkan aku jika aku lepas kendali." ia berusaha membela dirinya.


"Dasar mesum." ledeknya.


"Apa kau ingin jadi hidangan penutup?" tanyanya mengintimidasi.


"Tidak. Sudah cukup jadi hidangan pembuka saja." nyalinya menciut seketika.


Ia tak mau keluar dengan kursi roda jika harus melakukannya lagi.

__ADS_1


"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku berikan padamu. Aku tidak bisa memberikannya di rumah. Karena kakek ataupun yang lain bisa mengetahuinya."


Anindya tampak bingung. Adrian mengambil sebuah kotak yang sudah diletakkannya di bawah kakinya. Ia lalu memberikannya pada Anindya.


"Apa ini?" tanyanya penasaran.


"Bukalah!" perintah Adrian.


Anindya segera membuka kotak tersebut. Ia tampak terkejut setelah melihat isi dari kotak itu.


"Ini.... " ia tak bisa berkata-kata.


Ia mengambil benda pertama yang dilihatnya. Sebuah Akta Lahir yang bertuliskan namanya. Ia membacanya dengan teliti.


"Ini benar-benar milikku?" tanyanya tak percaya.


"Iya. Semua ini milikmu." jawab Adrian meyakinkannya.


Anindya tersenyum lebar. Ia melihat ke dalam kotak itu kembali dan melihat isinya. Ia menemukan sebuah album kecil. Anindya membuka album tersebut dan ia lagi-lagi tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Itu adalah foto dirinya yang masih bayi bersama ibunya.


Ia tak bisa menahan air matanya ketika melihat satu persatu foto tersebut.


"B-bagaimana kau bisa mendapatkan semua ini. Aku pikir semuanya sudah hilang." Ia tersenyum sambil menangis.


"Jangan menangis! Nanti kau tidak bisa melihatnya dengan jelas. " ucap Adrian sambil menghapus air matanya.


Anindya tidak menyangka bahwa suatu hari nanti ia bisa melihat hal-hal yang berkaitan dengan kenangan masa kecilnya kembali.


"Aku tidak punya banyak foto bersama ibuku. Satu-satunya foto yang ku punya hanyalah yang ku pajang di kamar. Aku senang karena bisa melihat foto ini kembali. Aku jadi tahu bagaimana bahagianya ibuku saat memiliki aku." air matanya mengalir tanpa bisa ia bendung kembali.


Adrian memeluknya dan menepuk punggungnya dengan lembut.


"Ibumu pasti bahagia karena sudah melahirkan wanita yang kuat seperti dirimu." ucap Adrian.


****************


Adrian mengantarkan Anindya keluar dari ruangannya. Romi juga sudah berada di sana untuk membawakan barang Anindya.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya memastikan.


"Iya! Aku sudah baik-baik saja. Aku pulang, ya!" pamitnya.


"Ehm.... tunggu! Sepertinya aku terlupa sesuatu!" ia menghentikan Anindya yang hendak keluar. "Romi! Keluarlah lebih dulu!" perintahnya pada Romi.


Pria itu lalu menunggu di luar sesuai dengan perintah atasannya itu. Sepertinya ia tahu apa yang dilupakan oleh pria tersebut.


"Apa yang terlupa?" tanya Anindya begitu melihat Romi keluar.


Adrian menatap Anindya lalu mencium bibirnya. Anindya tampak kaget tapi tidak berusaha untuk mendorongnya.


Pria ini selalu saja bisa mengambil kesempatan.



"Aku lupa mencium mu. Maaf!" ucap Adrian begitu melepas ciumannya. Ia tampak tersenyum lebar .


Sementara Anindya menatap heran padanya. Ia bersikap seolah-olah Anindya sangat mengharapkan ciuman darinya dan merasa sedih karena ia tidak memberikan ciuman perpisahan padanya.


Adrian lalu mengantarkannya hingga ke dalam lift. Pria itu terlihat persis seperti remaja yang baru jatuh cinta.


Tuan terlihat imut ketika sedang jatuh cinta. batin Romi ketika melihat atasannya tersenyum lebar seperti itu.


Pintu lift itu tertutup. Hanya ada Anindya dan Romi saja di dalam lift.


"Sepertinya tuan sangat mencintai anda, nyonya!" Ucap Romi ketika pintu lift itu tertutup.

__ADS_1


"Mencintai ku?"


"Iya. Selama saya bekerja dengan tuan, ia tak pernah tersenyum seperti itu bahkan saat berhubungan dengan nona Natasha." jelas pria berkacamata itu.


"Tidak mungkin! Bukankah dia sangat mencintai Natasha?" Tanyanya tak percaya.


"Mungkin dulu tuan memang mencintai nona Natasha, tapi saya tidak pernah melihat tuan tersenyum setulus itu kepadanya. Dia juga menjadi pribadi yang jauh lebih santai."


"Memangnya dulu dia tidak seperti itu ketika bersamanya?"


"Dulu tuan terlihat lebih serius karena nona Natasha terlalu mendominasi dalam hubungan mereka. Sifatnya yang terlalu pencemburu secara tidak langsung terkesan mengekang kebebasan tuan. Tuan begitu dibutakan oleh cinta, sehingga ia tidak sadar jika nona Natasha melakukan hal itu padanya. Seandainya tuan tersenyum pun itu lebih terkesan dipaksakan. Tapi jika dibandingkan dengan anda, saya rasa tuan jauh lebih bahagia dan lebih bebas saat ini." jelasnya.


"Apa benar begitu?" tanyanya tetap merasa tak yakin.


"Itu benar, nona!" jawab Romi meyakinkannya.


Tapi.. dia tidak pernah mengatakan padaku jika ia mencintaiku."


Ting!


Pintu lift itu terbuka setelah mencapai lantai dasar. Mereka berdua lalu keluar dari sana.


Disaat yang bersamaan pintu lift lainnya terbuka. Seorang pria masuk ke dalam lift satunya.


Pria itu menekan tombol untuk menutup pintu lift. Ia akan pergi ke bagian HRD untuk melapor. Besok pagi ia akan mulai bekerja di perusahaan ini sebagai manajer personalia menggantikan Bimo yang sebelumnya di pecat oleh Adrian.


Namun ketika pintu lift itu hampir tertutup, ia melihat sosok wanita yang terasa familiar baginya.


"Tidak mungkin dia ada di sini." Gumamnya.


****************


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕



__ADS_1


__ADS_2