
"Kau akan pergi besok ?" tanya Arkan pada Anne.
Saat itu mereka sedang berada di sebuah pantai. Anne mengajak Arkan ke sana untuk mengucapkan kata perpisahan padanya.
"Iya! Kau sudah mengetahui hal itu, bukan?" jawabnya.
"Iya! Aku ingat. Aku hanya tidak berpikir kau pergi secepat ini. Bukankah kemarin kau mengatakan akan pergi bulan depan?"
"Iya! Tetapi ada beberapa hal yang harus aku urus di sana. Aku terpaksa mempercepat kepergian ku." jelas Anne lirih.
Ia terlihat berusaha keras menutupi kesedihannya. Ia menahan diri untuk tidak menangis di hadapan pria yang dicintainya itu.
"Begitu? Baiklah! Aku akan mengantar mu nanti." Arkan terlihat sedih.
Sejujurnya ia tak rela jika Anne harus pergi jauh darinya. Bahkan dengan waktu yang tidak sebentar. Mungkin setahun atau dua tahun lamanya. Tetapi ia sudah berjanji pada Anne bahwa ia akan memberinya kebebasan untuk menjalani apapun yang diinginkannya.
Ia akan setia menunggu hingga ia kembali. Lagipula ia bisa kapan saja mengunjunginya. Tetapi tetap saja rasanya akan berbeda jika ia harus berjauhan dengan Anne.
"Baiklah!" sahut Anne. Ia terdiam sejenak. Lalu berkata, " Jika... jika seandainya kau menemukan wanita lain selagi kau menungguku, maka kau bebas untuk mengejarnya. Aku akan melepaskan dirimu asalkan kau bahagia."
Arkan seketika terlihat kesal dengan perkataan Anne.
"Apa kau yang sangat ingin meninggalkan aku?" tanyanya sinis.
"Tidak. Bukan begitu maksudku!" bantah Anne.
"Lalu kenapa kau terus saja mendorongku untuk mengejar wanita lain. Aku sudah sering kali mengatakan padamu bahwa aku hanya akan menunggumu. Tidak perduli berapa lama kau pergi. Jika kau mau, aku bisa menemui mu kapanpun kau menginginkannya."
"Aku tahu itu! Aku hanya tidak ingin kau menyia-nyiakan waktumu demi aku. Aku...! "
"Diam Anne! Aku tidak ingin kau memikirkan hal ini lagi. Aku hanya ingin kau! Sampai kapanpun yang ku inginkan hanya kau. Apa kau dengar! Jika kau mengatakan hal ini lagi, maka aku tidak akan membiarkan kau pergi seorang diri. Aku akan mengikuti mu seperti hantu yang gentayangan.Kau ingat itu! " ancamnya.
"Arkan! " serunya.
Pria itu menatapnya tajam. Seakan ia ingin mengikat wanita itu dengan tatapannya. Agar ia tak pernah pergi kemanapun.
"Iya! Aku mengerti! "
Arkan lalu memeluknya dengan erat. Ia sebenarnya tak siap dengan perpisahan ini. Ia baru saja memulai hubungannya dengan Anne, tetapi wanita itu justru akan pergi jauh darinya. Ia tak rela. Tetapi ia tak bisa memaksakan egonya.
"Aku akan menunggumu!" ucap Arkan.
"Iya! Kau harus menungguku!" balas Anne.
__ADS_1
****************
Beberapa bulan kemudian.... ....
Hari ini semua orang tengah merayakan ulang tahun kakek Zein. Tetapi kali ini pria baya itu hanya ingin merayakan dengan seluruh keluarga saja. Tanpa ada pesta yang besar seperti tahun-tahun sebelumnya.
Zein tampak tersenyum senang. Apalagi di ulang tahunnya kali ini, ia mendapatkan hadiah yang tak ternilai harganya, cicit pertamanya.
"Bisakah aku mendapatkan seorang cicit lagi? Aku benar-benar senang mempunyai cicit." ucapnya antusias.
"Kakek! Apa kakek pikir mendapatkan cicit itu mudah? Itu tidak tersedia di supermarket kakek!" keluh Adrian.
"Kakek juga tahu. Kakek hanya bercanda saja!" sanggah Zein.
"Jika kakek sangat ingin mendapatkan cicit baru lagi, mintalah pada Arkan kakek! Suruh dia segera menikahi Anne." sindir Rossa sambil tersenyum.
Arkan yang mulai di singgung berpura-pura tidak mendengar.
"Anak itu tidak bisa di harapkan. Kekasihnya pun sudah kabur meninggalkannya. Sungguh tidak ada harapan!" timpal Zein memanaskan suasana.
"Jika dariku tidak ada harapan! Kakek minta saja pada pasangan yang sudah jelas ada harapan." gerutu Arkan.
"Lihatlah! Baru di ledek sedikit sudah merajuk." sindir Zein.
"Aku tidak merajuk kakek!" bantah Arkan.
Namun tiba-tiba saja Zein merasa jantungnya sakit seakan berhenti berdetak. Ia mencoba untuk menahannya agar keluarganya tidak merasa cemas.
Rasa sakit itu berlangsung sepersekian menit. Untungnya tak ada seseorang pun yang menyadari hal tersebut.
Setelah rasa sakitnya hilang, ia mulai bersikap biasa. Hal ini sebenarnya sudah cukup lama ia rasakan. Rasa sakit yang selalu berulang, selalu ia sembunyikan dari semua orang.
Ia mungkin sudah menyadari jika hidupnya tak akan lama lagi. Ia kini sudah siap jika sewaktu-waktu Tuhan memanggilnya. Ia merasa jika kedua cucunya telah berhasil melanjutkan hidup mereka. Menemukan pasangan yang tepat bagi mereka. Membentuk dunia mereka sendiri. Kini ia bisa melepaskan mereka dengan hati tenang.
Zein kini hanya bisa menikmati sisa waktunya dengan penuh kebahagiaan. Ia tak ingin ada kesedihan lagi setelah ini.
****************
"Kakek! Biar aku bantu ke kamar!" usul Adrian sambil memapah Zein menuju ke kamarnya.
"Kakek ternyata sudah semakin tua. Berjalan saja harus di papah!" sindirnya.
"Iya.Setidaknya kini aku bisa melihat sisi lemah kakek!" ledek Adrian sambil tersenyum.
"Kau ini selalu saja meledek kakek." gerutunya.
Adrian lalu mengantarkannya ke dalam kamar. Ia juga membantunya berbaring di atas ranjang. Adrian lalu menyelimuti pria baya itu hingga setengah tubuhnya.
__ADS_1
"Aku kakek juga mau ku bacakan dongeng sebelum tidur?" canda Adrian.
"Kenapa hanya membacakan cerita, kenapa tidak sekalian bernyanyi saja? Kau sangat suka meledek kakek, ya! Jika kakek pergi kau pasti akan sangat merindukan kakek." ia bergerutu dengan geram.
"Kakek! Jangan bicara sembarangan! Aku tidak suka mendengarnya." Adrian tiba-tiba kesal pada kakeknya itu.
"Iya! Kakek tahu! Tetapi suatu saat itu pasti akan terjadi, bukan?" ucap Zein.
"Aku rasa kakek sudah lelah! Omongan kakek semakin tidak jelas. Istirahatlah!" perintah Adrian.
Zein lalu tersenyum melihat cucu kesayangannya tersebut. Ia lalu memegang kedua tangannya.
"Adrian! Jaga istri dan anakmu dengan baik. Sayangi mereka seperti kau menyayangi kakek dan Arkan. Kini kau bukan lagi seorang anak atau cucu. Tetapi kau adalah seorang suami dan ayah. Kakek sebenarnya tidak perlu menasehati mu karena kakek yakin kau akan melakukan yang terbaik. Kakek lega karena kau sudah menemukan kebahagiaan mu sekarang. Arkan juga. Kalian semua sudah menemukan jalan hidup kalian masing-masing. Kakek kini bisa bernafas dengan lega. Kakek sudah berhasil memenuhi amanat orang tua kalian. Mungkin sudah waktunya bagi kakek untuk beristirahat. Hiduplah dengan bahagia. Kakek sangat menyayangi kalian semua. Jika nanti kakek tidak lagi bersama kalian, maka ingatlah jika kakek akan selalu ada di hati kalian. Mengawasi kalian dari sana." ucap Zein.
"Apa yang kakek bicarakan? Aku sudah katakan sebaiknya kakek istirahat. Jadi tutup mulut dan tutup mata kakek. Oke! " perintah Adrian tegas.
"Kenap kau sangat suka memerintah? Baiklah! Kakek akan tidur!" ucap Zein mengalah.
Pria baya itu menutup matanya. Adrian mengawasinya hingga ia benar-benar tertidur. Ketika nafasnya mulai berrhembus teratur,ia pergi keluar dari kamar dengan perlahan. Membiarkan Zein beristirahat.
Namun setelah kepergian Adrian, pria baya itu membuka matanya.Ia menangis. Mungkin ini memang sudah waktunya. Waktunya untuk beristirahat.
****************
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
__ADS_1
Terima kasih😘💕