
"Bagaimana bisa dia tidak menyukaimu? Kau pasti bersikap kasar padanya kan?" tanya ibunya kesal ketika melihat Anne pulang dengan kabar bahwa pria itu menolaknya.
Bahkan Anne belum sempat menginjakkan kakinya di dalam rumah. Mereka masih berada di teras rumahnya. Untungnya rumah mereka cukup jauh dari rumah penduduk lainnya. Sehingga sekalipun ibunya berbicara keras, tidak akan ada yang bisa mendengarkan. Itu juga yang selalu membuat Anne cemas karena meninggalkan ibunya seorang diri.
"Tentu saja tidak, bu! Bagaimana mungkin aku bersikap kasar pada seseorang yang baru ku kenal. Apalagi ia tidak berniat jahat padaku." sanggahnya sambil bersikap polos. Berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Kau pasti berbohong pada ibu. Ibu akan menanyakannya langsung pada Morgan." ancamnya lalu mengambil ponselnya dan berusaha untuk menghubungi pria itu.
"Hubungi saja jika ibu tidak percaya. Aku sama sekali tidak berbohong pada ibu." ucapnya penuh percaya diri.
Sayangnya Morgan tidak menjawab telponnya. Sebelumnya Anne sudah memperingatkan padanya jika ibunya pasti akan segera menelpon begitu tahu jika pria itu telah menolaknya. Anne memperingatkan Morgan agar pria itu tidak menjawab panggilan telepon dari ibunya.
"Kenapa dia tidak menjawab teleponnya?" gumamnya geram setelah menelpon beberapa kali.
"Mungkin dia malu pada ibu karena sudah menolak ku!" ucap Anne mencoba untuk meyakinkannya.
"Sudahlah! Nanti akan ibu hubungi lagi. Tapi kau jangan coba-coba untuk membohongi ibu. Karena ibu akan segera mencari tahu. Keputusan ibu tidak akan berubah. Kau tetap harus menikah secepatnya. Jika memang Morgan tidak menyukaimu, maka ibu akan mencari pria lain yang mau menikahi mu." ucapnya dengan yakin.
"Ibu! Berhentilah menyuruhku untuk menikah. Aku belum siap untuk menikah. Aku masih ingin menyelesaikan kuliahku dan mengambil gelar S2 ku. Aku juga masih ingin berkarir. Masih banyak hal. yang ingin aku lakukan." sanggahnya.
"Apanya yang tidak ingin menikah? Apa kau berniat jadi perawan tuan. Usiamu sudah tidak muda lagi. Apa kau tahu, Teman-teman seusia mu bahkan sudah memiliki dua sampai tiga anak."
"Apa tiga anak? Mereka menikah di usia berapa?" gumamnya heran.
"Jangan pikirkan itu. Pikirkan dirimu sendiri. Kau harus menikah apapun yang terjadi. Tidak bisa tahun ini, minimal tahun depan kau harus menikah." paksa nya dengan tegas.
"Ibu pikir menikah itu mudah. Aku juga punya impian yang ingin ku kejar. Pokoknya aku belum ingin menikah. Setidaknya hingga aku berusia tiga puluh tahun."
"Apa!! Tiga puluh tahun? Apa kau benar-benar ingin jadi perawan tua. Apa kau tahu usia dua puluh lima tahun saja sudah usia yang rawan bagi wanita untuk menikah. Kau malah ingin menikah di usia tiga puluh tahun. Apa kau sudah tidak waras. Apa kau pikir ada pria mapan yang mau menikah dengan wanita tua. Mereka pasti mencari wanita muda untuk dinikahi. Apa kau tidak kasihan pada ibu. Ibu meminta mu menikah hanya supaya ada yang menjaga mu. Ibu tak ingin kau terus-menerus bekerja untuk membiayai ibu dan juga kuliah mu." wanita paruh baya itu tak hentinya menggerutu dengan geram pada putri tunggalnya yang sangat keras kepala.
"Ibu! Aku sama sekali tidak keberatan dengan semua itu. Itu memang sudah menjadi kewajiban ku sebagai anak untuk mengurus dan membiayai ibu. Ibu tidak perlu mencemaskan aku. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku tidak mau terus menggantungkan hidupku pada seorang pria. Aku ingin berhasil dengan kemampuan ku sendiri. Selama ini aku selalu menuruti perkataan ibu. Untuk yang satu ini tolong jangan memaksaku ibu." pinta Anne penuh harap.
__ADS_1
Ibunya terdiam sejenak. "Kau masih bisa melanjutkan kuliah mu jika kau menikah nanti. Suami mu pasti memberikan izin untuk mu." Ia tetap bersikeras.
"Lalu bagaimana jika ia tidak mengizinkan ku? Bagaimana jika ia tidak bisa membiayai kuliah ku? Membiayai ibu? Pria yang menikah dengan ku tentu juga harus menanggung ibu. Karena ibu tidak punya penghasilan sendiri. Bagaimana ibu? Aku tidak mungkin membiarkan ibu mencari uang lagi di usia ibu yang tidak muda lagi. Apa ibu bisa menjamin semua itu?"
Ibunya kembali diam begitu mendengar serentetan pertanyaan yang di ajukan Anne. Memang benar bahwa selama ini ia menggantungkan hidupnya pada Anne walaupun sebenarnya ia tak tega melihat putrinya itu bekerja keras untuk memenuhi segala kebutuhannya dan juga kebutuhan Anne sendiri.
Ibunya memiliki penyakit asma. Sehingga tidak memungkinkan dirinya untuk bekerja yang terlalu berat. Apalagi beberapa tahun belakangan ini asma nya sering sekali kambuh. Itu sebabnya Anne bekerja keras untuk membiayai ibu juga kuliahnya. Bahkan ibunya menyesal karena telah menambah beban putrinya karena berhutang pada lintah darah hingga akhirnya putrinya juga yang harus membayarnya.
"Bagaimana ibu? Apa ibu bisa menjamin semua itu? Jika bisa maka aku bersedia untuk menikah." tantangnya.
Ibunya hanya diam.
"Ibu. Percayalah kepada ku. Aku hanya ingin membahagiakan ibu. Selama ini kita hidup dalam kesusahan. Setelah ayah meninggal, ibu harus membanting tulang untuk membiayai hidupku dan juga sekolah ku. Aku tidak ingin jika nantinya aku menikah, aku jadi menelantarkan ibu. Aku ingin membuat ibu bahagia. Aku tidak ingin membuat ibu kesusahan lagi. Hanya ibu yang aku miliki di dunia ini. Jadi tolong biarkan aku meraih apa yang aku impikan. Aku ingin sukses dan membuat ibu bahagia. Ibu bisa mengerti, kan?" Air matanya perlahan mulai jatuh membasahi pipinya.
Ibunya juga akhirnya tak kuasa menahan air matanya. Ia hanya tak ingin terus menerus menjadi beban putrinya. Ia tak ingin melihat putrinya kesusahan karena menanggung semuanya seorang diri. Ia terkadang merasa gagal menjadi seorang ibu karena terus menyusahkan putrinya. Ia hanya ingin melihat putrinya menikah dan punya seseorang yang bisa jadi sandaran hidupnya. Hanya itu. Tapi putrinya benar, ia tak bisa menjamin semua itu.
"Lalu bagaimana jika tidak ada pria yang mau menikahi mu ketika kau berumur tiga puluh tahun nanti? Apa yang akan kau lakukan? Bagaimana jika ibu tidak bisa menunggu hingga kau berusia tiga puluh tahun? Siapa yang akan menemani mu nantinya? Jangan terus menerus memikirkan ibu. Ibu sudah tua dan sakit-sakitan. Kapanpun Tuhan bisa memanggil ibu. Ibu hanya tidak ingin kau hidup sendirian hingga tua nanti." tanyanya yang membuat Anne kesal.
Ibunya seketika memeluknya. "Maafkan ibu, sayang! Ibu tidak bermaksud seperti itu."
Ia menepuk punggungnya pelan untuk menenangkan putrinya. Anne memang tidak pernah suka jika ia berucap seperti itu padanya. Siapapun pasti tidak akan suka mendengar hal seperti itu.
"Anne! Ibu hanya ingin ada seseorang yang bisa menjaga mu nantinya. Hanya itu! Ibu hanya cemas jika belum melihatmu menikah. Ibu hanya takut jika kau nantinya malah tidak ingin menikah dan memutuskan untuk melajang seumur hidupmu. Ibu tak ingin hal itu terjadi. Maafkan ibu karena sudah mendesak mu."
Mereka berdua tampak menangis sambil berpelukan.
"Bibi tidak usah cemas. Karena aku yang akan menikahinya!" ucap seorang pria tiba-tiba. Mengagetkan kedua wanita itu hingga membuat pelukan mereka terlepas.
****************
*
__ADS_1
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1