
...MY DEAREST WIFE...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anne tampak bersiap-siap untuk pergi kuliah. Ia mengambil tas dan bukunya lalu keluar dari kamar. Ia tak lupa berpamitan pada Zein dan Sofia sebelum berangkat.
"Kau mau kuliah?" tanya Arkan ketika ia muncul di sana.
"Iya."
"Ayo! Aku akan mengantarmu. Kebetulan aku juga ada urusan di dekat kampus mu." ajak Arkan.
"Ehm.. baiklah!" sahutnya setuju.
Mereka lalu keluar dari rumah. Arkan menggunakan mobil sport nya. Bukan mobil sedan biasa yang selalu ia bawa ketika bekerja.
Mobil ini terlalu menonjol. Bagaimana jika ada yang melihatnya? Batinnya.
"Kenapa diam? Ayo masuk! " perintahnya.
Dengan berat hati, Anne masuk ke dalam mobil.
Di sepanjang perjalanan, Anne hanya diam. Sementara Arkan tampak berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Entah ia sedang berbicara dengan siapa. Tampaknya ia sedang membahas pekerjaan.
Anne mengeluarkan buku dari dalam ranselnya. Kebetulan ia ada ujian hari ini. Ia kembali membaca buku untuk mengingatkannya.
Arkan mematikan ponselnya. Lalu sesekali memperhatikan Anne yang tampak serius membaca bukunya.
"Kau ada ujian hari ini?" tanyanya.
"Iya tuan!"
"Masih memanggilku 'tuan'? " tanyanya.
"Ha.. ehm maksudku kak! " jawabnya gelagapan.
Tak lama kemudian mereka tiba di kampus. Anne tampak canggung karena pria itu memberhentikan mobilnya tepat di gerbang kampus. Saat itu sedang ramai. Dan mobil yang di bawanya sangat mencolok.
"Kenapa tidak turun? " tanya Arkan ketika melihat Anne hanya diam.
"Ehm... tuan eh maksudku kak. Jangan turunkan aku di sini. Apa bisa majukan mobilmu hingga persimpangan jalan di depan sana." pintanya.
"Apa kau malu pergi dengan ku? " tanya Arkan heran.
"Tidak.Bukan begitu. Mobil ini terlalu mencolok. Aku hanya tak ingin orang lain salah menilai ku." Anne tampak tidak nyaman.
Arkan mungkin bisa memahami hal tersebut. Ia lalu menuruti permintaan Anne. Ia melakukan mobilnya hingga persimpangan jalan.
"Terima kasih." ucap Anne setelah Arkan menghentikan mobil tersebut.
"Baiklah! Oh ya! Kau kembali pukul berapa malam nanti? Aku akan menjemputmu." tanyanya sembari memberikan tawaran.
"Ha... tidak perlu repot, kak. Aku bisa pulang dengan bis seperti biasa." tolaknya.
"Aku tidak merasa repot. Kan aku yang menawarkan tumpangan." ucapnya santai.
"Ehm.. tapi!"
"Katakan saja kau kembali pukul berapa? Kau tentu tahu bukan, bahwa aku tidak menerima penolakan."
__ADS_1
Anne tampak tersenyum masam. "Pukul sembilan." jawabnya.
"Baiklah.Aku akan menjemputmu tepat pukul sembilan." Arkan menatapnya tajam.
Anne lalu turun dari mobil. Setelah memastikan mobil Arkan telah hilang dari pandangannya, ia pun pergi.
"Kenapa dia sangat ingin menjemput ku? " gumamnya.
****************
Makan malam baru saja berakhir. Anindya terlihat menemani Zein di ruang santai. Mereka sedang menonton televisi sambil mengobrol.
"Kakek lihat hubungan mu dengan Adrian sudah semakin dekat." ucap Zein.
"Ehm... seperti itulah." ia tampak tersipu malu.
"Kapan kalian akan berbulan madu. Kakek lihat Adrian tidak pernah membicarakan hal itu setelah kalian menikah. Jika Adrian terus menerus di sibukkan dengan pekerjaannya kapan kalian akan memberikan cicit pada kakek."
"Bulan madu? Apa itu perlu dilakukan kakek? Adrian juga sepertinya sangat sibuk akhir-akhir ini." tanyanya.
"Dia juga selalu sibuk setiap hari. Bulan madu setelah menikah itu penting. Kalian sebagai pengantin baru tentu ingin memiliki waktu khusus untuk berdua. Tanpa di sibukkan dengan hal-hal lainnya.Apalagi sebelumnya kalian tidak dekat satu sana lain. Jadi dengan adanya bulan madu, kalian bisa lebih saling mengenal lebih dalam satu sama lainnya. Tidak perlu ke luar negri. Keluar kota selama beberapa hari juga boleh.Nanti kakek akan membahasnya dengan Adrian." jelasnya.
"Tapi kek... "
"Sudah! Tidak perlu tapi-tapi. Serahkan semuanya pada kakek." ucap Zein.
Anindya hanya terdiam.
"Mengapa para pria di rumah ini begitu mendominasi? " gumamnya dalam hati.
****************
Universitas X, 21:00 am.
Ia lalu duduk di halte bis yang berada tak jauh dari kampusnya.
...10 menit......
...20 menit......
...setengah jam.......
...satu jam kemudian......
"Dimana dia? " Anne mulai kesal.
Bis terakhir juga sudah pergi. Ia terpaksa pulang dengan naik taksi. Ia melihat apakah ada taksi kosong yang lewat. Tetapi sudah setengah jam lamanya, belum ada satupun taksi kosong yang lewat.
"Bagaimana caraku pulang. Dia sungguh keterlaluan. Jika tidak bisa menepati janji, kenapa ia harus berjanji padaku?" gumamnya kesal.
Entah kenapa air matanya tiba-tiba saja mengalir saat itu. Mungkin karena ia merasa sangat kesal.
Ia duduk di tepi trotoar. Kampus juga sudah terlihat sepi. Wajar saja karena ini hampir pukul sebelas malam. Ia juga merasa sangat lapar karena ia tadi tidak sempat makan malam lantaran takut jika Arkan menunggu lama.
Ia menghapus air matanya dengan kasar. Apa ia sedang dipermainkan saat ini?
Ia berdiri lagi dan menunggu taksi kosong yang mungkin saja lewat saat itu.
Namun di saat ia menunggu, sebuah mobil yang tidak dikenalinya berhenti tepat di depannya.
__ADS_1
Seorang pria keluar dari mobil itu. Pria dengan plester luka di dahi kirinya. Anne tampak terdiam dengan air mata yang masih mengalir di kedua sudut matanya.Pria itu tak lain adalah Arkan. Mobil itu lalu pergi setelah menurunkan Arkan di sana.
Ia menatap Anne, lalu berjalan kearahnya dengan cepat. Dan hal yang tak di duganya terjadi, Arkan memeluknya dengan erat. Seakan ia sangat merindukan wanita itu.
Anne tampak kaget tapi tak bisa berkata apa-apa. Ia terpaku seketika.
"K-kak!" serunya setelah tersadar.
"Sssttt... jangan katakan apapun, aku hanya ingin memeluk mu sebentar."" ucapnya.
Pria itu tampak merasa lega setelah melihat Anne masih berada di sana. Ia tak memperdulikan raut wajah kesal yang dilihatnya tadi.
Beberapa jam sebelum menjemput Anne, ia mengalami sebuah kecelakaan. Mobil yang dikendarai nya hampir menabrak seorang pejalan kaki yang tiba-tiba melintas di hadapannya. Untungnya ia bisa membelokkan mobilnya kearah berlawanan walaupun akhirnya mobil yang dikendarainya rusak parah di bagian depan karena menabrak tiang listrik.
Walaupun begitu, tidak ada luka parah yang dialaminya. Hanya sobekan kecil pada dahi kirinya. Tetapi tetap saja walaupun kecil, ia mendapat setidaknya lima jahitan di dahinya.
Ia langsung berlari begitu dokter memperbolehkan dirinya pulang. Ia bahkan meminta tumpangan pada sembarang mobil yang dijumpainya.
Ia terlalu mencemaskan Anne. Ia bahkan tak memperdulikan rasa sakit yang kini mulai terasa di seluruh tubuhnya, terutama luka di dahinya yang mulai terasa berdenyut.
Ia sangat takut jika ia mengingkari janji yang dibuatnya pada Anne. Ia juga takut jika wanita itu marah kepadanya.
Ia tak pernah mengingkari janjinya pada siapapun, terutama kepada wanita yang sedang berada di pelukannya saat ini. Apalagi ketika menyadari jika wanita itu tengah menangis saat ini.
"Maafkan aku karena terlambat menjemputmu."
Entah kenapa tangisan Anne malah semakin menjadi. Ia bahkan sampai terisak di pelukannya.
"Maafkan aku!" pinta Arkan dengan tulus sambil mengecup puncak kepalanya.
Dan lagi-lagi ia tak tahu kenapa ia bersikap impulsif seperti itu.
****************
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
__ADS_1
Terima kasih😘💕