
"Apa kau yakin baik-baik saja? Apa perlu ku temani? Aku sangat mencemaskanmu, Natasha!" tanya Jackson begitu mengantarkannya pulang ke apartemen nya.
Wanita itu tampak begitu terpukul. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia seperti baru saja terkena hantaman keras.
"Tidak perlu. Kau pulang saja. Aku baik-baik saja." jawabnya lirih.
"Kau yakin?" tanyanya lagi memastikan.
"Iya. Aku ingin sendiri saja untuk beberapa saat. Pergilah!" jawab Natasha lalu menutup pintu.
Jackson sepertinya mengerti. "Baiklah! Jika ada apa-apa, hubungi aku, ya!" ucap Jackson sebelum ia pergi.
Melihat wanita yang di cintainya terluka, hatinya juga ikut terluka. Sekalipun Natasha hanya menganggapnya sebagai teman, tapi ia tak akan pernah meninggalkannya.
Natasha sebenarnya wanita yang baik. Namun, ia terlalu dibutakan oleh obsesinya untuk memiliki Adrian. Sehingga ia kehilangan akal sehatnya.
Jackson sejujurnya sangat mencemaskan Natasha. Ia takut jika wanita itu melakukan hal yang tidak-tidak pada dirinya sendiri.
Akhirnya Jackson memutuskan untuk menemui Adrian dan mencoba untuk berbicara padanya besok pagi.
Setidaknya hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini.
****************
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Anindya dan Adrian baru saja keluar dari bukit. Mereka menyusuri jalanan yang masih di keliling oleh pepohonan yang rimbun.
Kondisi penerangan lumayan redup saat itu. Hanya ada beberapa lampu penerang yang menyala. Yang lainnya mungkin sedang dalam perbaikan.
Mereka berdua tampak saling diam satu sama lainnya. Tak ada seorangpun yang berniat untuk memulai pembicaraan. Setelah apa yang terjadi tadi, tampaknya keduanya merasa sedikit canggung.
Anindya melirik sekilas ke arah suaminya itu. Pria itu tampak fokus menyetir.
Anindya jadi semakin merasa canggung. Namun sebenarnya ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya saat ini. Apakah Adrian menyimpan rasa padanya? Apakah dia sudah mencintainya?"
"Apa kau ingin menanyakan sesuatu?" tanya Adrian tiba-tiba. Seakan ia mampu membaca pikirannya saat ini.
"Ha! Tidak! Aku tidak ingin bertanya apa-apa." jawabnya.
"Oke!"
Mereka berdua kembali diam. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Anindya bermaksud untuk menanyakan hal yang masih mengganjal di hatinya saat ini pada suaminya.
"Ehm... sebenarnya ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu." ucap Anindya.
"Apa?" tanyanya.
"Ehm.. Kenapa kau... " ucapannya terputus ketika tiba-tiba mendengar suara letusan dari mobil yang mereka tumpangi.
Adrian segera menghentikan mobilnya. Karena merasa ada sesuatu yang salah pada mobil mereka.
"Ada apa?" tanya Anindya penasaran.
"Entahlah! Aku akan periksa dulu. Sepertinya ban mobilku bocor. Kau tunggu saja di sini." jawab Adrian sembari memberi peringatan padanya.
Ia lalu keluar dari mobil dan memeriksa ban mobilnya. Benar apa yang di duganya. Ban mobilnya bocor. Sepertinya karena ia menginjak sesuatu di perjalanan tadi.
__ADS_1
Melihat Adrian tidak kunjung masuk ke dalam mobil, Anindya yang penasaran ikut turun dari mobil.
"Ada apa?" tanyanya menghampiri Adrian.
"Ban nya bocor." jawabnya.
"Apa kau tidak punya ban cadangan?" tanya Anindya.
"Sepertinya ada."
Adrian lalu membuka bagasi mobilnya dan menemukan ban cadangan di sana. Ia lalu mengeluarkannya dari dalam bagasi. Ia juga mengambil dongkrak dan kunci roda.
"Apa kau bisa melakukannya?" tanya Anindya ragu ketika melihat Adrian melakukan hal di luar kebiasaannya itu.
"Kau meremehkan ku? Apa yang tidak aku bisa." ucapnya angkuh.
"Iya. Aku tahu kau bisa melakukan apapun, tuan!"
Anindya lalu diam dan memperhatikan Adrian yang mulai bekerja.
Satu jam kemudian........
Adrian masih saja berusaha untuk membuka baut-baut ban mobilnya.
"Apa tidak sebaiknya kita memanggil montir saja. Atau menelpon Arkan agar dia menjemput kita di sini?" tanya Anindya memberi usul.
Adrian terlihat sedikit kesal karena tidak bisa mengganti ban mobilnya. Ia lalu melemparkan kunci roda yang di pegangnya karena kesal.
Ia lalu berdiri dan menatap Anindya tajam. Anindya tersenyum masam padanya. Ia lalu mengambil ponselnya dari dalam saku celananya dan mencoba menghubungi seseorang. Entah itu montir atau Arkan.
"Tidak bisa ke sini? Baiklah besok pagi saja." ia lalu mematikan ponselnya.
"Bagaimana?" tanya Anindya penasaran.
Adrian tampak menghela nafas dan menatap Anindya. "Mungkin kita harus bermalam di sini." jawab Adrian.
"Apa!!! Di sini. Tapi.. suasananya... " ucapnya ragu sambil melihat ke sekeliling jalan.
Jalanan terlihat sepi. Tak ada terlihat satu kendaraan pun yang melintasi jalan itu. Di tambah lagi di sisi kanan dan kiri jalan masih di penuhi dengan hutan. Hal itu membuat Anindya merasa takut.
"Lalu! Apa kau bisa mengganti ban mobil ini?" tanyanya.
Anindya hanya menggelengkan kepalanya.
"Masuklah ke dalam. Aku akan mencoba untuk mengganti ban mobilnya kembali." ucap Adrian.
"Aku di sini saja." Sahut Anindya.
"Terserah kau saja!"
Adrian kembali mencoba untuk mengganti ban mobilnya. Sementara Anindya tampaknya sudah mulai mengantuk. Ia tampak menguap beberapa kali.
Ia memutuskan untuk duduk di atas aspal dengan menyandar pada body mobil. Ia duduk bersila sambil sesekali memperhatikan suaminya yang sedang berusaha.
Anindya merasa iba melihat suaminya kesusahan seperti itu. Tapi di satu sisi dia juga senang karena bisa melihat Adrian bersusah payah seperti itu.
__ADS_1
****************
Langit masih terlihat agak gelap. Ini masih terlalu pagi untuk bangun. Tapi tidak untuk Anindya. Ia tersentak dan terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengingat apa yang terjadi kemarin malam.
Kenapa ia bisa berada di dalam mobil. Adrian juga sedang tidur di sampingnya. Setelah tersadar, ia akhirnya bisa mengingat apa yang telah terjadi.
"Jam berapa sekarang?" gumamnya sambil melihat jam di ponselnya. "Masih pukul lima pagi. sampai kapan aku akan berada di sini." lanjutnya.
Ia melihat ke arah Adrian. Tampaknya pria itu sangat kelelahan. Ia tertidur dengan pulas sekali. Ketika memandangnya seperti ini, Anindya merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Namun ia tak tahu apa itu.
Ia mulai menggerakkan tangannya. Ingin menyentuh kepala Adrian dan membelainya dengan lembut.
Ia berhasil melakukanya tanpa membuat pria itu terbangun.
Jika sedang tidur seperti ini, kau terlihat sangat tampan. batinnya.
"Apa sudah puas melihat dan menyentuhku?" ucap Adrian tiba-tiba sambil membuka matanya yang tadi terpejam.
Anindya seketika kaget melihat hal itu. Ia jadi salah tingkah di buatnya.
"Apa maksudmu! Aku tidak menyentuh ataupun melihatmu. Itu... itu hanya perasaan mu saja." ia tertawa pelik.
Adrian tampak menyeringai. Ia lalu menaikkan kursi yang sebelumnya di turunkannya. Lalu duduk dengan tegak.
Ia memperhatikan jam tangannya. Sudah pukul setengah enam pagi. Ia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Kau dimana?.... Baiklah! Akan ku kirimkan lokasinya." ucapnya lalu mengakhiri pembicaraan.
"Kapan kita bisa pulang?" tanya Anindya penasaran.
"Tunggu Romi datang. Dia sedang dalam perjalanan." jelasnya.
"Baiklah!"
Adrian tampak memperhatikan Anindya sekilas. Ia sepertinya mulai menyukai wanita itu.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1