My Dearest Wife

My Dearest Wife
Terima kasih


__ADS_3

"Aduh!" Anindya tampak mengaduh kesakitan ketika salah satu jemarinya tertusuk jarum sulam.


Sore itu ia berada seorang diri di kamarnya. Sementara Adrian sedang berada di ruang kerjanya sejak siang tadi. Sepertinya ia punya banyak pekerjaan hari ini.


Anindya sedang duduk di sofa sambil berselonjor. Ia sedang menyelesaikan syal yang akan dihadiahkannya pada Zein besok.


"Ah! Akhirnya selesai juga! Semoga kakek menyukainya!" serunya sambil tersenyum puas.


Namun ia tampak berpikir sejenak. Ia tiba-tiba menjadi ragu untuk memberikan syal itu.


"Apa ini tidak terlalu biasa ya. Kakek sudah memberikan begitu banyak padaku. Jika aku hanya membalasnya dengan ini.. apa kakek akan senang?" gumamnya.


Ia lalu meletakkan syal itu di atas meja bufet besar yang ada di sudut kamar. Anindya membuka salah satu laci untuk mencari kotak obat. Ia ingin mengambil plester untuk membalut jarinya yang luka.


"Sudah habis! Ehm... mungkin ibu Sofia punya persediaan. Sebaiknya aku tanya dia. " ucapnya lalu bergegas meninggalkan kamar.


Tak lama setelah kepergian Anindya, Adrian masuk ke dalam kamar untuk mandi. Ia melihat ke sekeliling kamar dan tidak menemukan istrinya.


"Dia pasti ada di bawah. Padahal tadinya sebelum mandi aku ingin.... Ah! Nanti malam saja!" ucapnya lalu membuka kaos yang dikenakannya.


Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi.


***


Anindya tampak tergesa-gesa masuk ke dalam kamar. Bahkan ia tersandung kaki meja yang ada di hadapannya.


Tadi ia secara tak sengaja bertemu dengan ayahnya dan juga Clarissa. Mereka berdua selalu saja memamerkan kemesraan dihadapannya. Anindya serasa tercekik melihat keharmonisan ayah dan anak itu. Ia merasa tak sanggup jika setiap saat harus melihat kedekatan mereka yang tentu saja membuatnya sangat iri.


Jika saja waktu itu....


"Aduh!" ia tampak mengaduh kesakitan ketika pergelangan kakinya tak sengaja tersandung kaki ranjangnya.


Namun tentu saja rasa sakit ini tak sebanding dengan rasa sakitnya kepada ayahnya.


Ia bahkan lupa tujuannya keluar dari kamar. Ia belum sempat meminta plester kepada ibu Sofia. Anindya tak tahan jika harus berlama-lama berada di sana. Akan lebih baik jika ia menghindari berpapasan dengan mereka untuk saat ini.


Anindya lalu duduk di atas ranjang. Ia mengusap pergelangan kakinya yang terasa nyeri.


"Kenapa dengan pergelangan kakimu?" tanya Adrian yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi yang berwarna hitam.


Ia menghampiri Anindya yang duduk di tepi ranjang. Ia lalu duduk di sampingnya.


"Kakiku tadi tersandung!" jawabnya.


"Apa kau tidak bisa berhati-hati!" gerutunya lalu mengangkat kaki Anindya dan meletakkannya di atas pangkuannya.


"Ka... kau mau apa?" tanyanya berusaha untuk menarik kembali kakinya.


"Diamlah! Aku hanya ingin melihat." ucapnya menepis tangan Anindya.


Anindya terdiam. Ia hanya menatap pria yang sedang mencoba mengurut pergelangan kakinya.


"Aww!" Anindya tampak kesakitan ketika Adrian memberi penekanan pada kakinya.


"Apakah sangat sakit?" tanyanya cemas.


Anindya terdiam kembali. Sakit! Tapi tak sesakit rasa sakit yang ada di hatiku. batinnya.


"Apa sangat sakit? Apa perlu menyuruh Arkan untuk memeriksanya?" tanyanya lagi.


"Ha! Tidak perlu. Kakiku hanya terasa sedikit sakit! Sekarang sudah jauh lebih baik. Tidak perlu memanggil Arkan!" tolaknya sambil tersenyum.


"Mulut memang bisa berbohong, tapi mata tidak bisa. Jika tidak sakit, kenapa kau menangis?" tanyanya ketika melihat air mata yang terjatuh perlahan di sudut matanya.


Adrian menghapusnya. Anindya menundukkan wajahnya karena tak ingin Adrian melihat air matanya. Ia tak sadar jika air matanya mengalir. Betapa bodohnya ia karena tak menyadari hal itu.


"A... aku tidak menangis. Ini hanya debu yang masuk ke mataku." bantahnya.


"Alasan klasik. Katakan padaku apa yang membuatmu sedih?"


"Tidak ada. Aku hanya... aku..." ia tampak bingung harus berkata apa. Tidak mungkin ia mengatakan jika kesedihannya itu menyangkut paman yang ternyata adalah ayah kandungnya.


Melihat istrinya kebingungan, Adrian tampaknya tidak ingin memaksanya. Ia tampak tersenyum sambil mengusap lembut kepalanya.


"Jika kau tak ingin mengatakannya, tidak apa-apa. Aku tak akan memaksamu."


Anindya hanya terdiam menatapnya. Adrian tersenyum lalu beranjak dari tempatnya. Ia hendak mengambil pakaiannya, namun ia berhenti di dekat sofa karena melihat syal yang tergeletak di sana.

__ADS_1


"Apa kau membuatnya?" tanyanya setelah mengambil syal tersebut.


Anindya berdiri dengan cepat dan merebutnya dari tangan Adrian lalu menyembunyikannya di belakang punggungnya.


"Begitulah! Aku ingin memberikannya pada kakek sebagai hadiah. Tapi sepertinya tidak jadi. "


"Kenapa? Apa kau ragu jika kakek tidak akan menyukainya?" tebaknya.


Ia tampak mengangguk menandakan tebakannya benar. Bagaimana pria itu bisa tahu?


Adrian mengangkat dagu Anindya agar dapat melihat wajahnya.


"Jangan meragukan keyakinan mu. Ikuti saja kata hatimu. Jika kau sudah merasa yakin, maka kau tak perlu ragu untuk melakukannya. Sesuatu yang di buat dengan hati pasti akan membuat bahagia orang yang menerimanya." ucapnya.


Anindya tampak tersenyum lega. "Terima kasih!"


Adrian juga tersenyum. Ia ingin pergi, namun teringat sesuatu hingga mengurungkan niatnya.


"Tapi... jika kau masih ragu, ada sesuatu yang pasti akan membuat kakek bahagia di hari ulang tahunnya."


"Apa?" tanyanya penasaran.


Ia tampak menyeringai. Lalu mendekatkan bibirnya di telinga Anindya.


"Seorang cicit." Adrian sengaja mengatakannya dengan nada sensual sehingga membuat Anindya tersipu malu karena mengerti kemana arah pembicaraan pria itu.


Ia tersenyum masam. "Ehm... sepertinya aku.. aku lupa menyiram tanaman. Sebaiknya aku segera ke sana sebelum malam." ia tampak mengalihkan pembicaraan.


Ia lalu hendak pergi, namun Adrian menarik tangannya hingga tubuh mereka saling beradu. Adrian memeluknya dengan erat agar ia tak bisa melarikan diri darinya.


"Adrian! Kau mau apa?" tanyanya.


"Kenapa masih bertanya? Seharusnya kau sudah tahu ini akan berakhir seperti apa." jawabnya.


"Tapi.... "


Adrian tersenyum kembali lalu membenamkan ciuman singkat di bibir tipis wanita itu. Ia melepaskan pelukannya.


"Pergilah! Aku tidak akan melakukan apapun padamu saat ini. Aku benar-benar sedang butuh istirahat."


"Aku bilang aku lelah bukan sakit."


"Apa kau ingin ku pijat?" tanyanya ragu.


"Apa kau bisa memijat?"


Anindya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah jika begitu. Tunggulah di sini, aku akan memakai pakaian terlebih dahulu."


Anindya lalu duduk di atas ranjang sambil menunggu.


Tak lama kemudian Adrian muncul hanya dengan mengenakan celana panjang saja. Entah kenapa ia selalu suka memamerkan tubuhnya pada Anindya. Atau ia memang terbiasa tidur dengan bertelanjang dada seperti itu sebelumnya.


Ia berbaring tengkurap di samping Anindya. Anindya tampak ragu, ia meletakkan kedua tangannya di atas bahu Adrian yang bidang dan mulai memijatnya. Ini sebenarnya adalah kali pertama ia memijat tubuh seorang pria.


"Apa pijatan ku terasa enak?" tanyanya.


"Lumayan." jawabnya singkat.


"Lumayan? Aku sudah mengeluarkan seluruh tenagaku." keluhnya.


"Jika begitu berusahalah lebih keras lagi."


"Menyebalkan!"


Ia terus memijatnya. Dari bahu turun hingga ke pinggang dengan penekanan yang cukup kuat.


"Kenapa tubuhmu bisa sekeras ini? Rasanya seperti sedang memijat sebilah kayu."


"Itu karena aku rajin berolahraga. Sehingga membuat masa otot ku terbentuk dengan baik. Apa kau tidak menyadari jika tubuhku itu sangat ideal? Kau saja sampai tak bergeming ketika menatap tubuhku, bukan?" sindirnya dengan angkuh.


Bagaimana ia bisa tahu? Anindya tampak tersipu malu.


Tapi.... tubuhnya memang sangat indah! Astaga! Apa yang sedang kupikirkan. Ia menepuk kepalanya dengan pelan.


Adrian lalu berbalik hingga tubuhnya kini berbaring telentang. Anindya tampak salah tingkah karena tak siap menatap bagian depan tubuh pria itu sedekat ini. Apalagi namanya terukir indah di atas dadanya yang bidang.

__ADS_1


"Sekarang pijat bagian depannya juga." ucapnya sambil tersenyum menatapnya.


"Ehm... sebaiknya tidak usah. Aku rasa pijatannya sudah cukup. Kau merasa lelah, kan? Ada baiknya jika sekarang kau tidur. Aku tak akan mengganggumu lagi." ia hendak turun dari ranjang, namun Adrian lebih cepat mencegahnya.


Ia menarik tangannya hingga wanita itu terjatuh di atas dadanya.


"Kau mau apa?" tanya Anindya.


"Temani aku tidur!" jawabnya.


"Tapi.... "


"Jangan membantah. Aku hanya ingin kau temani. Jadi diamlah!" ucap Adrian lalu memeluk wanita itu.


Anindya menurutinya. Saat ini ia bisa mendengar jelas suara detak jantung Adrian. Tubuh pria itu sangat hangat hingga terasa nyaman baginya.


Ia tanpa sadar memainkan jemarinya di atas tato yang berukir namanya.


"Adrian!" serunya.


"Hem!" sahut Adrian yang sedang berusaha untuk tidur dengan memejamkan matanya.


"Kenapa kau menato tubuhmu dengan namaku? Bukankah itu sangat sakit?" tanyanya.


"Menahan sedikit rasa sakit untukmu, rasanya setimpal dengan kesalahanku di masa lalu padamu. Aku hanya ingin kau tahu, jika dirimu sangat berarti bagiku." jelasnya dengan mata terpejam. Ia mengelus kepala Anindya dengan lembut.


"Tapi.. aku tidak ingin kau menyakiti dirimu demi aku."


"Jika kau tak ingin membuatku menyakiti diriku lagi, maka jangan pernah meninggalkanku. Karena jika kau pergi, mungkin aku takkan pernah berhenti untuk menyakiti diriku lebih dari ini."


Anindya menatap mata Adrian yang terbuka. Ia melihat keseriusan dalam matanya. Anindya merasa tak karuan saat ini. Hatinya berdebar tanpa henti. Apa itu artinya jika pria yang berada di hadapannya itu sudah jatuh hati padanya?


"Mengerti, kan?" tanyanya.


Anindya menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih." ucap Adrian.


Ia mencium keningnya. Dan membenamkan kembali wajah Anindya dalam pelukannya.


****************


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap selesai baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕



...My dearest wife...


__ADS_1


__ADS_2