My Dearest Wife

My Dearest Wife
Cemburu


__ADS_3

Ketika pintu lift tersebut hampir tertutup, seseorang tampak menahan dengan tangannya.


Anindya melihat kearah orang tersebut. Dia seorang pria. Keduanya tampak saling bertatapan ketika mata mereka bertemu. Anindya tampak tak percaya dengan pandangannya. Pria itu sangat dikenalnya.


Pria yang sudah hampir satu tahun ini tidak ditemuinya.


"Kak Reyhan!" serunya ketika mengenali pria tersebut.


"Anindya! Apa ini benar-benar kau? " tanyanya tak percaya.


"Iya! Ini aku. " jawabnya sambil tersenyum.


Pria itu tersenyum lalu masuk kedalam lift dan memeluknya. Anindya tampak kaget begitu mendapatkan pelukan tiba-tiba seperti itu.


"K-kak Reyhan! " serunya berusaha untuk menyadarkan Reyhan.


Setelah menyadari perbuatannya, Reyhan seketika melepaskan pelukannya. "Maaf! Aku hanya sangat senang bisa bertemu denganmu." ucapnya sambil tersenyum lebar.


Anindya juga ikut tersenyum.


"Aku masih tak percaya bisa melihatmu di sini. Bagaimana bisa kau berada di kota ini? Dan... kau terlihat sangat berbeda saat ini? " tanyanya penasaran.


"Ehm... bagaimana aku memulainya ya. Ceritanya sangat panjang." ia tampak ragu untuk menjelaskannya.


"Begitu! Ehm... bagaimana jika kita ke kantin yang ada di kantor ini untuk bercerita. Atau kita bisa berbicara di luar kantor. Ada sebuah cafe yang bagus di sekitar sini." usulnya.


"Ehm.. maaf! Aku tidak bisa jika sekarang. Aku sudah di tunggu. Mungkin kita bisa berbicara lain waktu. Kau sepertinya juga harus kembali bekerja, kan? " tolaknya.


"Ah iya kau benar. Aku ingat ada urusan penting yang harus ku kerjakan saat ini. Ehm... begini saja, apa aku bisa meminta nomor ponselmu?"


"Ah iya sebentar." Anindya lalu menyebutkan beberapa angka pada Reyhan.


Pria itu dengan cepat mencatatnya di ponselnya. "Oh iya! Apa kau bekerja di sini?" tanyanya setelah ingat bagaimana wanita itu bisa berada di sini.


"Aku hanya mengantarkan makan siang." jawabnya sembari menunjukkan tas kertas yang dibawanya.


"Untuk siapa?" tanyanya penasaran.


"Untuk suamiku! " jawabnya.


Reyhan tampak tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Ia seketika membeku.


"Suami? K-kau sudah menikah?" tanyanya memastikan.


"Umm iya! Aku menikah beberapa bulan yang lalu." Anindya tampak menjawabnya dengan biasa.


"Dengan siapa?" Ia masih tak percaya.


Ting...


Pintu lift terbuka. Seorang pria sudah tampak menunggu di sana dengan tidak sabaran.


"Akhirnya kau sampai juga. Apa kau tahu aku akan langsung menjemputmu ke bawah jika kau terlambat sedetik lagi." ucap pria itu yang tak lain adalah Adrian.


Reyhan semakin tak percaya dengan apa yang dilihatnya.Pria itu adalah atasannya. Dan kini ia tampak berbicara sangat akrab dengan wanita yang sudah lama dirindukannya tersebut.


"Maaf! Aku juga sudah berusaha untuk datang secepat mungkin. Kenapa kau sangat tidak sabaran." ia tampak menggerutu.


Adrian merangkul pundak Anindya dan membisikkan sesuatu di telinga Anindya.

__ADS_1


"Kenapa pria ini sedari tadi terus menatapmu. Apa ia sudah bosan hidup?"


Anindya seketika teringat pada Reyhan yang masih terdiam di dalam lift.


"Kak Reyhan!Dia adalah suamiku." ucapnya.


Reyhan terlihat pucat. Bagaimana bisa ia menikah dengan atasannya. Pantas saja jika penampilannya kini sangat berbeda. Bahkan jauh berbeda dari penampilannya dulu. Wanita ini tak lagi memakai kaos usang dan celana pendek sederhana. Kini ia memakai pakaian yang bagus, yang mungkin buatan perancang ternama yang harganya sangat mahal. Belum lagi tas mewah serta perhiasan yang ia duga terbuat dari berlian asli.


Ia lah wanita yang dilihatnya tempo hari. Wanita kesayangan atasannya tersebut. Tetapi bagaimana bisa? Padahal ia sudah lama mengharapkan wanita itu. Keputusannya untuk meninggalkan desa dan mengadu nasib ke kota juga untuk mengumpulkan uang agar ia bisa menikahi wanita yang sudah dicintainya sejak lama.


Namun penantiannya selama bertahun-tahun, kini sia-sia. Apa ia masih punya harapan?


****************


"Siapa dia?" tanya Adrian ketika berada di ruangannya pada Anindya.


Ia terdengar sedang kesal.


"Aku kan sudah mengatakan jika ia adalah temanku sewaktu di desa. Aku juga sudah menganggapnya seperti kakak kandung ku sendiri." jelasnya.


"Apa ia juga menganggap dirimu sebagai adiknya?"


Anindya tampak ragu. "Ehm... Sepertinya begitu. kenapa kau terlihat kesal? Kau tidak sedang cemburu, kan?" tanyanya.


"Aku memang cemburu. Aku tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain selain diriku. Kau hanya milikku. Aku tidak sudi membaginya dengan pria lain." jawabnya berterus terang.


Anindya tersenyum. Lalu mengalungkan tangannya di leher suaminya tersebut.


"Jika kau cemburu padaku, apa itu artinya kau sudah jatuh cinta padaku?" tanyanya.


"Tentu saja." jawabnya.


"Apa kau belum bisa mengatakannya padaku?" tanya Anindya. Terdengar nada kekecewaan di dalam suaranya.


Adrian menatap wajah sendu itu. Lalu mencium keningnya.


"Maaf! Kau tidak kecewa padaku, kan?"


"Aku kecewa. Sangat kecewa." ia pura-pura merajuk dan memalingkan wajahnya.


"Apa kau tidak tahu bahwa kau terlihat sangat menggemaskan jika merajuk seperti itu." godanya.


Anindya pura-pura tidak perduli. Ia duduk di atas sofa dan mengeluarkan makan siang Adrian dari dalam tas lalu menyajikannya.


Wanita itu benar-benar menggemaskan. Ia tampak menyeringai.


Adrian ikut duduk di sampingnya. Memiringkan tubuhnya agar bisa leluasa menatap istri kecilnya itu.


Ia lalu kembali mendekat pada Anindya dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Tahu tidak. Sudah dua minggu ini aku tidak menyentuhmu. Rasanya sungguh menyiksa. Aku ingin sekali melakukannya. Apa kau bersedia, sayang.?" tanyanya sambil menggigit telinganya dengan lembut.


Hal itu membuat Anindya merasa geli. Adrian suka sekali bermain di area telinganya karena tahu jika itu bagian sensitifnya.


"Adrian!" serunya.


"Ayolah! Aku benar-benar menginginkannya. " bujuknya sambil memainkan tangannya di atas paha istrinya dengan perlahan.


Anindya semakin salah tingkah. Tubuhnya seketika meremang.

__ADS_1


Anindya menolaknya. Ia tak ingin lagi melakukannya di dalam kantor. Itu sungguh memalukan. Dengan terpaksa Adrian menyetujuinya dan menahan hasratnya hingga malam nanti.


****************


Arkan baru saja menyelesaikan makan siangnya. Setelah kembali dari luar kota pagi tadi, ia memutuskan untuk mengambil cuti hari ini. Ia ingin beristirahat saja di rumah. Ia sungguh memerlukan tidur yang cukup karena kurang tidur beberapa hari belakangan ini.


"Bagaimana keadaan di sana?" tanya Zein di sela-sela istirahat siangnya.


Ia sedang berada di kamar bersama Arkan. Pria itu sekalian memeriksanya.


"Keadaannya cukup stabil. Untungnya tidak ada yang mengalami luka serius di sana. Hanya cedera ringan. Jadi beberapa relawan bisa kembali. Minggu depan kami akan kembali mengunjungi tempat itu untuk mengecek kondisi mereka dan menyalurkan beberapa bantuan." jelasnya.


"Syukurlah jika seperti itu. Kakek sangat bangga pada kedua cucu kakek. Kalian sangat perduli pada orang yang sedang kesusahan. Sungguh sangat mirip dengan mendiang ibu kalian."


Arkan tampak tersenyum.


"Ehm.. kakek! Jika aku ingin menikah, apa kakek akan merestui pernikahanku?" tanyanya.


"Tentu saja kakek akan merestui mu."


"Jika ia tidak berasal dari keluarga yang status kedudukannya tidak tinggi apa tidak masalah?" tanyanya ragu.


"Asalkan wanita itu baik dan bisa membuatmu merasa nyaman juga bahagia, kenapa tidak. Kakek juga tak ingin mengekang mu"


"Anindya juga tidak berasal dari keluarga berada. Tapi kakek menerimanya. Memangnya siapa wanita itu? " tanyanya penasaran.


Arkan tampak tersenyum malu hingga memalingkan wajahnya.


"Apa ia salah satu pelayan kita?" sepertinya Zein sudah bisa menebak siapa orangnya.


"Ehm... nanti jika waktunya sudah tepat, aku akan mengenalkannya pada kakek." jawabnya.


"Baiklah! kakek tidak akan memaksamu.


****************


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.

__ADS_1


Terima kasih😘💕



__ADS_2