
Saat sore menjelang, mereka pulang ke rumah. Zein juga tampak kelelahan. Ia begitu senang hari ini.
Di dalam perjalanan, beberapa diantara mereka tampak tertidur karena kelelahan. Hanya Arkan dan Adrian saja yang tampaknya masih terjaga.
Adrian merebahkan kepala Anindya di bahunya karena saat itu mereka duduk bersama.
Arkan yang duduk seorang diri di samping pasangan itu tampak jengah menatap kemesraan pengantin baru itu. Salahnya sendiri yang tak punya pasangan. Ia lalu melirik ke arah Anne yang duduk seorang diri di belakang kakeknya. Wanita itu tampak tertidur pulas dengan mulut yang sedikit terbuka.
Dia terlihat sangat lelah. Ia ingat jika malam nanti wanita itu masih harus bekerja.
Dia termasuk wanita yang kuat karena mampu hidup mandiri di kota yang asing baginya.
Arkan sejujurnya merasa malu pada dirinya sendiri. Kakaknya membiayai sekolahnya selama ini. Ia juga tinggal di apartemen pemberian kakaknya dengan nyaman.
Berbanding terbalik dengan kehidupan wanita itu yang serba sulit. Sepulang kuliah ia masih harus bekerja untuk menopang kehidupannya. Apalagi ia harus bekerja di klub malam seperti itu. Apapun bisa terjadi di sana.
...Ah! Kenapa aku jadi memikirkannya. Ada apa denganku? Batinnya....
Ia lalu memutuskan untuk ikut tidur untuk mengalihkan pikirannya dari wanita itu.
Sementara Arkan mencoba untuk tidur, Adrian malah terlihat sedang asyik menghujani istrinya dengan kecupan lembut di kepalanya.
Seandainya saja dulu mereka bertemu karena saling mencintai, mungkin pernikahan mereka akan sangat indah. Adrian sempat menyesali tindakan bodohnya yang meninggalkan Anindya sendirian di pesta pernikahan mereka. Ia tak bisa membayangkan betapa buruknya situasi saat itu. Entah berapa banyak orang yang menghinanya saat itu.
Adrian sangat berharap jika saja waktu bisa ia putar kembali. Tentunya ia tak akan menyia-nyiakan momen indah itu begitu saja.
Maafkan aku. Aku tidak akan membuatmu sedih lagi. Kau hanya akan bahagia.
****************
Malam hari sudah tiba. Arkan mengantarkan Anne ke tempat kerjanya sesuai dengan permintaan kakeknya dikarenakan hari sudah malam.
"Terima kasih karena sudah mengantarkan ku, kak!" ucap Anne begitu mereka tiba di depan klub.
"Iya. Jaga dirimu baik-baik. Jika ada masalah, kau bisa menghubungi kakak ipar." pesan Arkan sebelum wanita itu pergi.
"Iya." sahut Anne.
Arkan langsung pergi begitu Anne masuk ke dalam klub itu.
*
Di sisi lain, pada waktu yang sama. Seorang pria dan wanita tampak sedang makan malam bersama di sebuah restoran mewah. Mereka adalah Natasha dan Jackson.
Sesuai permintaannya pada Natasha pagi tadi, setelah seharian menemani wanita itu melakukan pemotretan, Jackson memintanya untuk menemaninya makan malam.
Rasanya sudah lama sekali mereka tidak makan malam bersama seperti ini. Karena Natasha hanya fokus pada pekerjaannya dan Adrian saja.
Jackson jadi merasa terasingkan. Karena itu ia ingin merebut perhatiannya kembali. Karena sejujurnya ia masih menyimpan rasa cinta padanya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan rencanamu untuk menetap di sini?" tanya Natasha padanya.
"Iya. Aku sudah mendapatkan pekerjaan yang cukup menjanjikan di sini. Jadi kemungkinan besar aku akan menetap disini. Lagipula selama kau ada di sini makan aku akan tetap berada di sini. Walaupun aku harus jadi gelandang di jalanan." jelasnya sambil menggoda Natasha.
Natasha mendengus. "Dasar tidak waras."
Jackson malah tersenyum melihat hal itu. Mereka melanjutkan makan malam mereka kembali.
Namun, Natasha tampak menghentikan kegiatannya itu ketika ia melihat seseorang yang sangat ia kenal memasuki area restoran. Seorang pria dan juga... seorang wanita. Pria itu tampak menggenggam tangan kanan wanita itu seakan ia takut kehilangannya.
Hal itu membuat hatinya sakit. Mereka tak lain adalah Adrian dan... Anindya. Sungguh suatu kebetulan bisa bertemu di tempat ini. Padahal Natasha tidak ada rencana untuk mengikutinya seperti yang sebelumnya selalu ia lakukan.
Namun sepertinya Adrian tak menyadari kehadirannya di restoran itu. Mereka berdua duduk di meja yang letaknya tak jauh dari meja Natasha.
Jackson yang menyadari hal itu, menatap Natasha dengan serius. Ia rasanya ingin sekali tahu apa yang sedang di pikirkan wanita itu saat ini.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya cemas karena melihat wanita itu hanya diam saja.
Ia harus menunggu beberapa saat untuk mendengar jawaban dari Natasha karena wanita itu terlihat sedang berpikir.
Natasha lalu tersenyum sinis. "Tentu saja aku baik-baik saja. Memangnya kau pikir aku akan kenapa? Menangis tersedu-sedu dan berlari pulang ke rumah? Itu bukan tipeku." jelasnya.
"Iya aku tahu itu. Tapi kau hanya diam saja ketika melihat mereka. Karena itu aku berpikir jika mungkin saja kau merasa terganggu dengan hal itu." sahut Jackson.
"Aku sama sekali tidak merasa terganggu karena aku lah si pengganggu itu." ucapnya sinis sambil kembali melirik Adrian.
*
Sepertinya Adrian menyadari kebingungan istrinya. Ia memesan dua menu pada pelayan. Anindya merasa lega setelah pelayan itu pergi setelah mencatat pesanan mereka.
"Maaf! Aku tidak begitu paham dengan bahasanya." jelasnya tanpa di tanya.
"Aku sudah tahu itu. Jadi aku tidak masalah dengan hal itu." ucap Adrian.
"Baiklah!" Anindya sebenarnya tidak nyaman berada di tempat ini karena ia tidak biasa dengan suasananya.
Ia juga merasa takut jika Adrian malu karena dirinya. Ini kali pertama dalam hidupnya makan di tempat yang mewah seperti ini.
Ia sempat merasa terkejut ketika Adrian tiba-tiba saja mengajaknya keluar. Bahkan pria itu memintanya untuk berdandan malam ini. Ternyata ia mengajaknya ke tempat mewah seperti ini. Anindya terlihat sangat gugup ketika berada di tempat-tempat seperti ini. Apalagi yang makan di restoran ini kebanyakan dari kaum atas. Sudah pasti dirinya juga harus beradaptasi dengan baik di sini.
Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan telah datang. Adrian memesan dua steik daging untuk makan malam mereka.
Jika hanya makan steik saja bukan hal yang berat bagi Anindya karena ia pernah memakannya di rumah.
Namun, entah karena gugup atau apa, rasanya kenapa memotong daging itu terasa sulit sekali. Apa daging itu terbuat dari karet?
Anindya tampak berusaha keras memotong daging itu. Hingga ia tak sadar membuat gesekan keras di piringnya. Ia bahkan tak menyadari tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
Namun Adrian bukannya malu malah tersenyum ketika melihat usaha keras istrinya itu. Ia lalu memotong steik miliknya menjadi potongan-potongan kecil dan memberikannya pada Anindya. Setelah itu ia menggantikan dengan steik milik Anindya.
Anindya menatap suaminya itu dengan heran.
"Makanlah!" perintahnya dengan lembut.
Anindya seketika tersenyum padanya. Walaupun dengan hal sederhana, namun itu sungguh berarti baginya.
Ia pun memakan steik nya dengan lahap.
Bahkan para tamu yang menatapnya dengan aneh tadi, kini ikut tersenyum melihat kemesraan pasangan itu.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Apa kalian suka dengan bab ini? Jika suka jangan lupa berikan
Like π
komentar π¬
vote
dan rate πΉya.
jangan lupa juga jadiin novel ini sebagai salah satu list favorite kalian ya. biar gak ketinggalan updatenya. Tekan tanda hati β€ .
Thieaπ₯π₯β€
__ADS_1