My Dearest Wife

My Dearest Wife
Kehujanan


__ADS_3


Anindya baru saja terbangun dan ia tidak mendapati Adrian berada disampingnya. Bahkan saat ia mencari ke setiap sudut rumahnya, ia juga tak melihat pria itu.


Kemana dia? Dia tidak meninggalkan aku disini, kan?


Anindya lalu mandi dan pergi kerumah ibu Sari setelah berpakaian. Ia ingin menanyakan perihal keberadaan suaminya pada wanita itu. Barangkali saja wanita paruh baya itu mengetahui keberadaannya.


"Selamat pagi, bu!" sapa Anindya begitu melihat wanita paruh baya itu dirumahnya.


"Pagi, sayang! Kau baru bangun, ya!" tebaknya.


"Iya. Aku sulit tidur kemarin malam. Jadi aku bangun kesiangan pagi ini." jelasnya.


"Iya. Itu hal yang wajar untuk pengantin baru sepertimu. Dulu ibu juga suka bangun kesiangan karena ulah pamanmu." ucapnya sambil tersenyum malu.


"Maksudnya bagaimana, bu? Aku tidak mengerti!" Anindya tampak bingung.


"Kau ini pura-pura tidak tahu saja. Iya seperti yang dilakukan suamimu setiap malam." jelas Sari.


Anindya mengkerutkan keningnya. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud wanita paruh baya itu. Akhirnya ia hanya tersenyum saja padanya.


"Oh ya, bu! Apa ibu melihat tuan Adrian? Eh maksudku suamiku? " tanyanya.


"Oh! Dia sedang pergi dengan pamanmu."


"Dengan paman? Kemana?"


"Ke pantai. Mereka akan menjala ikan. Apa suamimu tidak berpamitan padamu. Ah iya. Kau pasti belum bangun. Karena mereka sudah berangkat sejak subuh tadi." jelasnya.


"Bagaimana bisa ia pergi bersama paman? Apa paman yang mengajaknya?"


"Iya. Tadi pamanmu melihat suamimu sedang duduk di luar seorang diri. Lalu paman menghampirinya. Suamimu mengatakan pada paman jika ia tidak bisa tidur. Lalu pamanmu mengajaknya untuk menjala ikan dan dia mau. Jadi mereka pergi." Jelasnya.


"Dia mau? Benarkah? " Anindya semakin tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Dia seorang presdir dari perusahaan besar. Apa ia bisa melakukan pekerjaan berat seperti itu? Sebenarnya pria itu sedang kerasukan apa beberapa hari ini? Sifatnya benar-benar sulit ditebak.


****************


Matahari semakin terik. Hal itu menandakan jika hari sudah siang. Adrian dan yang lainnya memutuskan untuk kembali ke daratan. Tangkapan mereka lumayan banyak hari ini.


Adrian terlihat senang sekali hari ini. Ia mendapatkan sebuah pengalaman baru. Ternyata menjadi seorang nelayan itu tidaklah mudah. Butuh kerja keras dan usaha. Tak perduli hujan ataupun panas. Mereka tak pernah sedikitpun terdengar mengeluh. Padahal beberapa diantara mereka sudah berusia paruh baya.


Adrian merasa salut dengan kekompakan mereka. Ia jadi berpikir, mungkin saat ia sudah tua nanti, ia ingin tinggal di tempat seperti ini untuk menghabiskan masa tuanya. Tentunya bersama orang yang dicintainya.


Namun, ia jadi teringat pada Anindya. Sosok wanita yang sebelumnya asing baginya. Jika saja dia tak bertemu dengannya, mungkin ia tak akan pernah tahu bahwa diluar sana ada kehidupan yang seperti ini.

__ADS_1


Sejak kecil hingga dewasa, ia selalu dimanjakan dengan segala kemewahan yang didapatkannya. Bahkan saat meninggalpun, orangtuanya meninggalkan banyak harta padanya yang sebenarnya cukup untuk membiayai hidupnya dan adiknya walaupun ia tak bekerja.


Mengingat hal itu membuatnya merasa bersyukur. Ia tak akan menyia-nyiakan uangnya untuk hal yang tak penting.


"Nak Adrian! Mari kita pulang. Istri dan bibimu pasti sudah menyiapkan makan siang untuk kita." Ajak Wisnu.


"Iya paman." sahutnya.


****************


Tak terasa sudah malam kembali. Adrian dan Anindya kini berada di sebuah lapangan yang luas. Ditengah lapangan itu terdapat sebuah mesin proyektor yang memantulkan adegan film pada sebuah layar besar berwarna putih.


Mereka berdua sedang menonton film. Anindya dan Adrian memilih duduk di bawah pohon karena tempat itu jauh dari keramaian.


Mereka hanya berdua saja disana. Mereka sengaja menjauh dari kerumunan karena Adrian tidak menyukai hal itu.


Anindya membeli satu kotak popcorn dan minuman soda. Di sekitar sana memang banyak orang yang menjajakan makanan ringan ataupun berat. Sekalian bisa sambil menikmati film yang sedang diputar. Karena sebagian dari mereka juga membawa serta keluarganya. Mungkin hanya itu saja cara mereka untuk menikmati hidup.


Disini tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi dengan harga terjangkau. Hanya ada pasar malam dan layar tancap ini saja. Selebihnya jika mereka punya uang lebih, mereka harus keluar dari desa jika ingin melihat mall, atau tempat hiburan lainnya.


"Apa kau sering ke sini?" tanya Adrian.


"Tidak."


"Kenapa?"


"Memangnya kau sesibuk apa?" tanya Adrian sambil tersenyum sinis.


"Sekolah dan bekerja. Jika ada hari libur aku akan mencari pekerjaan paruh waktu. Ketika nenek sakit, aku lebih tidak punya waktu lagi. Jikapun ada, aku lebih memilih menggunakannya untuk menjaga nenek daripada menghabiskan uangku dengan pergi ke tempat ini." ucapnya lirih sambil memakan popcorn nya.


"Kau tidak pernah pergi kemanapun selama ini?"


"Iya." jawab Anindya singkat.


Adrian kembali diam. Mereka berdua tampak fokus pada pikirannya masing-masing. Bukan lagi fokus pada film yang sedang diputar saat itu.


Udara terasa semakin dingin. Sepertinya akan turun hujan lagi malam ini.


"Sebaiknya kita pulang. Sepertinya akan turun hujan." ajak Anindya sembari melihat kearah langit.


Adrian juga mengikutinya, melihat ke langit. Wanita itu sepertinya benar. Ia pun mengiyakan ajakannya.


Namun belum berapa lama mereka berjalan, hujan deras turun. Membuat sekujur tubuh mereka basah kuyup. Karena jarak ke rumah masih lumayan jauh, akhirnya mereka memilih untuk berteduh di sebuah pohon besar.


Anindya menggigil kedinginan akibat tubuhnya yang basah. Ia berjongkok untuk menahan rasa dingin yang mulai menjalar keseluruh tubuhnya.


Adrian yang menyadari hal itu tampak bingung. Ia tidak mungkin memeluknya. Ia juga tak memakai jaket. Hanya sweater yang melekat ditubuh kekarnya itu. Jika ia memberikannya, ia yang akan kedinginan.

__ADS_1


Sepertinya tidak ada cara lain. Ia lalu berjongkok dan memeluknya. Anindya sontak kaget karena tiba-tiba saja pria itu mendekapnya. Ia menoleh ke arahnya.


"Apa.. yang kau lakukan! Lepaskan aku! " seru Anindya sambil meronta agar bisa melepaskan pelukannya.


"Sudah diamlah! Atau aku akan melakukan hal yang lebih dari ini." ancamnya.


"Melakukan apa?"


Adrian sejenak menatapnya, sehingga kedua mata mereka saling bertemu. Hal itu membuat Adrian kembali memikirkan hal yang seharusnya tidak ia pikirkan. Apalagi suasananya sangat mendukung.


"Aku bilang diam. Jangan banyak bertanya." keluhannya sambil menatapnya tajam.


Kenapa dia jadi marah. Seharusnya aku kan yang marah. Gerutu Anindya dalam hatinya.


Namun, akhirnya ia menyerah. Membiarkan pria itu memeluknya. Karena... ia merasa hangat saat berada dalam dekapan pria itu.


Sial. Kenapa tubuhku tiba-tiba terasa panas. batin Adrian.


****************


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*




source by Pinterest

__ADS_1


__ADS_2